Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
92. Dendam Livia


__ADS_3

"Masih ngambek?" tanya Kamila menggoda Arkan.


"Bukan urusan lo!"


"Semalem yang dateng ke kamar terus meluk-meluk siapa yah?" tanya Kamila iseng.


"Udah sana ke sekolah nanti telat, gak ada yang belain lo," sinis Arkan.,


Kamila terkekeh dia mendekati Arkan yang sedang bermain ps, Kamila naik ke pangkuan Arkan lalu tersenyum Arkan mengalihkan wajahnya tidak mau menatap Kamila.


Kamila melingkarkan tangannya di leher Arkan.


"Ganteng, I love you too! Semalem belum gue jawab!"


Tolong sekarang selamatkan jantung Arkan, Kamila terlihat begitu menggenmaskan.


Kamila tertawa dia menangkup wajah Arkan yang memerah.


"Abang Arkan salting nih!" kata Kamila.


"Kamila!" geram Arkan.


"Iyah sayang!" jawab Kamila semakin membuat Arkan sulit menahan Arkan menarik pinggang Kamila agar semakin dekat dengannya, Arkan mendekatkan wajahnya dengan wajah Kamila.


"Lo yang ngegoda gue Kamila! Lo harus terima akibatnya!" Arkan semakin mendekatkan wajahnya dan itu membuat Kamila semakin takut.


Kamila menjauhkan kepalanya dari Arkan tapi Arkan menahannya. "Kamila ayo berangkat, Ayah udah mau berangkat nih!" Suara Alisha terdengar dari luar.


Mwah...


Kamila mencium pipi Arkan lalu turun dari pangkuan Arkan karena lilitan Arkan di pinggangnya mengundur.


"Kapan-kapan yah!"


Mwah...


Kamila lagi-lagi mencium pipi pemuda itu dengan gemas. Lalu lari keluar kamar.


Arkan menyunggingkan senyumnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gadis itu emang harus dikasih pelajaran!"


"Lo kenapa bikin gue jatuh cinta terus tiap hari sih Mil! Bisa gila gue lama-lama!"

__ADS_1


...****************...


Sekarang sudah seminggu berlalu, Kamila tetap masih berada di rumah Arkan, Alisha yang menginginkan Kamila tinggal bersama mereka.


Bahkan kakek dan nenek Kamila pun merasa sangat bersyukur karena Kamila ditolong oleh keluarga Arkan.


Mereka secara khusus datang dan menitipkan Kamila kepada Marvin dan juga Alisha.


Kayla tentu saja sangat senang dengan kehadiran kakak perempuannya itu. Gadis kecil itu selalu menempel ke mana pun Kamila pergi. Bahkan terkadang tidur pun maunya bersama Kamila.


Sementara Arkan belum berubah dia masih sama saja dingin kepada Kamila, Arkan tidak benar-benar marah dia hanya mau memberi Kamila pelajaran.


Tapi terkadang pemuda itu akan menyelinap masuk ke kamar Kamila untuk tidur, dia pasti selalu mengatakan marahnya dipending dulu. Kamila juga tidak masalah yang penting setiap malam Arkan akan berada di sampingnya.


Saat ini pulang sekolah, Kamila melihat Arkan sudah pulang lebih dulu sejak hari itu Arkan dan Kamila tidak pernah pulang bersama. Kamila menghela napasnya dia sudah berusaha sesabar mungkin.


Kamila yang sedang berjalan di koridor menghentikan langkahnya, dia ingat besok ada tugas yang harus di kumpulkan, Kamila juga baru ingat buku tugasnya ada di rumahnya, Kamila berniat untuk pulang ke sana mengambil buku setelah itu dia akan


kembali ke rumah Arkan.


Kamila tidak memberi kabar kepada Alisha ataupun Arkan karena tidak akan lama juga. la tidak mau tinggal berdua saja bersama Livia di rumah itu. Bisa darah tinggi.


Kamila naik taxi menuju rumahnya, dia sebenarnya takut, ada banyak trauma di sana tapi mau bagaimana lagi, Kamila harus mengambil buku-bukunya.


Kamila naik ke atas menuju kamarnya, dia mengambil semua buku-bukunya lalu keluar lagi dari kamarnya.


Kamila menuju pintu keluar tapi dia terkejut karena mendengar suara tangis seseorang, Kamila mencari sumber suara ternyata Livia berada di dapur gadis itu sedang memegang pisau.


Prang....


Tanpa berpikir panjang, Kamila segera berlari ke arah Livia dan menendang pisau di tangan Livia.


"Livia?! Gila lo? Ngapain mau bunuh diri segala, inget dosa Livial?!" teriak Kamila.


Livia menatap tajam Kamila, saat ini ia begitu membenci gadis di hadapannya itu.


"Ga usah sok baik dan sok suci. Lo emang jahat! Lo udah ngancurin keluarga dan hidup gue!" teriak Livia tak kalah kencang.


"Mulut lo gak di sekolahin apa gimana? Mata lo buta? Ini semua ulah nyokap lo sama bokap gue yang serakah! Lo pikir gue gak hancur tiap hari kalian siksa mati-matian! Mikir?!" bantah Kamila.


"Lo pikir gue peduli, gue tetep bakalan nyebut lo perusak keluarga orang Kamila! Anak pembawa sial!" sungut Livia tajam.


"Jaga mulut lo Livia, masih untung lo gak ikut dipenjara sama nyokap lo, mending tobat deh renungin kesalahan lo?!"

__ADS_1


"Gue gak peduli Kamila?!"


Mereka berdebat sengit, hingga Livia mengambil pisau lagi sekarang dia mengarahkannya kepada Kamila, Kamila membelakan matanya, Kamila terus memundurkan langkahnya.


"Lo harus mati! Gak masalah kalo gue harus masuk penjara, tapi yang penting gue bisa bunuh Lo!"


Kamila menggelengkan kepalanya, "Sadar Livia! Dengan lo bunuh gue itu gak akan nyelesain masalah, gue gak masalah lo gak suka sama gue. Tapi lo harus inget gue juga sodara tiri lo!"


"Hahaha, gue gak sudi punya saudara tiri kayak lo Kamila!"


"Gue bisa aja maafin lo Liv, buang piso itu Livia?!"


Livia masih kekuh dengan tindakannya.


Tapi sementara itu Arkan yang sudah berada di rumah dia mencari ke sekeliling rumah sedari tadi dia tidak melihat Kamila. la bingung, biasanya gadis itu akan gencar terus menerus datang ke kamarnya.


"Bang, lagi apa? Kok kayak orang bingung? Kamu butuh sesuatu?" tanya Alisha bingung saat melihat putranya itu seperti mencari sesuatu.


Saat melihat ibunya sontak saja Arkan langsung menggelengkan kepalanya, dia gengsi jika harus mengakui dia sedang mencari Kamila.


"Bunda pikir ada apa, oiya kamu liat Kamila gak Bang? Dia belum pulang. Biasanya dia udah nyampe rumah duluan sebelum kamu," kata Alisha.


"Kamu di sekolah liat Kamila?" tanya Alisha.


"Ada kok Bund, masa iyah belum pulang?" tanya Arkan memastikan.


"lyah Arkan!"


Perasaan Arkan tiba-tiba saya menjadi tidak enak, "Arkan keluar dulu Bund sebentar!" pamit Arkan menyalami tangan ibunya.


Mendengar jika Kamila belum pulang, tanpa menunggu lebih lama Arkan langsung melenggang pergi dia mengemudikan motornya secepat kilat perasaannya tentang Kamila sangat tidak baik saat ini.


Di perjalanan Arkan merogoh sakunya dia menghubungi teman-temannya.


"Sean bilang sama yang lain bantu gue cari Kamila, tuh anak belum balik Bunda nyariin, perasaan gue gak enak!" kata Arkan.


"Oke siap Bang!" jawab Sean dari sebrang sana.


Arkan mencari Kamila ke mana-mana, dia berusaha fokus ke sekeliling tapi Arkan tidak menemukan Kamila begitu juga teman-temannya.


Dalam pikiran Arkan saat ini tertuju pada rumah Kamila, Arkan putar balik dia mengabari teman-temannya agar ke rumah Kamila.


Saat sampai di rumah Kamila Arkan berlari masuk dia membuka pintu betapa terkejutnya Arkan saat melihat Livia tengah menodongkan pisau kepada Kamila, Kamila terlihat menahannya sedangkan Livia akan menusuk Kamila.

__ADS_1


__ADS_2