
PLAK! PLAK!
Kamila terkejut saat menerima tamparan dari Livia. la baru saja membuka pintu saat Livia menampar nya.
"Auww... Lo kenapa sih? Baru juga gue buka pintu! Gak bisa apa ya gue tenang sehari aja di rumah padahal ini rumah gue sendiri!" ujar Kamila kesal sambil memegangi pipi nya yang merasa perih.
"Hah? Rumah lo? Sadar diri deh lo tuh cuman numpang!" kata Livia sombong.
"Harus nya lo yang sadar diri, lo sama nyokap lo yang numpang di sini "Kurang ajar!"
Plak...
Livia kembali menampar Kamila membuat gadis itu kembali merasakan sakit.
Kamila yang sudah sangat muak dengan kelakuan saudari tiri nya itu tak mau kalah langsung membalas tamparan Livia.
PLAK! PLAK!
"Lo udah gila ya? Sampe kapan lo mau nyiksa gue terus? Gak putus tangan lo!" maki Kamila.
"Dasar murahan, lo tau gue suka sama Arkan tapi lo berani-berani nya gaet dia sampe dia mau jemput lo! Sialan?!"
"Arghh..."
Livia menjabak rambut Kamila kencang, Kamila tidak mau kalah dia juga menjambak rambut Livia dengan keras sehingga gadis itu mengaduh kesakitan.
"Kalo lo suka sama Arkan ya bilang sama dia kenapa harus gue!" ujar Kamila kesal.
"Lo berani jambak gue? Mamaaaah!" teriak Livia.
"Iyah gue berani! Lo pikir selama ini gue diem aja karena gue takut! Enggak!" Kamila semakin kencang menarik rambut Livia.
Laras yang sedang berada di dapur bergegas menuju ruang la terkejut saat melihat Kamila sedang menjambak rambut Livia.
"Anak sialan! Lepaskan tangan kotor kamu dari anak saya!" teriak Laras sambil menarik Kamila dari Livia.
Karena tangan Kamila yang menjambak rambut Livia dengan kuat, maka ketika Laras menarik tubuh Kamila, rambut Livia pun tercabut sehingga ia menangis kesakitan.
"Dasar anak kurang ajar! Apa kamu sudah gila?! Berani-berani nya kamu kepada anak saya!"
"Iyah aku gila! Aku muak dengan kalian berdua, seharus nya Papah gak pernah nikah sama perempuan gak punya hati seperti kamu!" tunjuk Kamila kepada Laras.
entah setan Arkan yang pindah kepada Kamila atau bagaimana sekarang Kamila berani menatap mata Laras.
"Kalian berdua itu cuman benalu gak usah berlagak jadi bunga! Seharusnya yang pergi dari sini bukan aku tapi kalian! Ini rumah almarhum Mamah!" teriak Kamila kesal.
__ADS_1
"Kurang ajar! Dasar anak pembawa sial?!"
Laras pun hendak memukul Kamila, tetapi dengan berani Kamila menangkap tangan Laras kemudian mengempaskan nya dengan keras.
"CUKUP!"
Lagi-lagi Kamila menunjuk tepat di wajah Laras.
"Aku gak mau main fisik ke Tante karena aku menghargai Tante sebaga istrinya Papah, tapi kalo Livia aku gak akan segan-segan buat rusakin muka sok lugunya itu!"
"ANAK SAMA IBU SAMA AJA, PEREMPUAN GILA! KALIAN MEMUAKAN?!" jerit Kamila
Suaranya menggema di seluruh rumah.
BRAKH...
Tanpa peduli dengan rambut dan pakaian nya yang kusut, Kamila pun keluar dan membanting pintu rumah itu dengan keras.
Laras dan Livia terkejut, selama ini Kamila selalu saja diam dan mengalah. Tapi, mendadak ia seperti orang kesurupan dan membalas pukulan Livia serta Laras.
Seperti nya setan dari tubuh Arkan benar
berpindah kepada Kamila.
***
Langkah Kamila tanpa sadar membawa nya ke arah Danau yang waktu itu ditunjukan oleh Arkan. Jarak antara rumah Kamila dan Danau itu lumayan jauh, tapi Kamila berjalan tanpa sadar dan tidak lelah.
Dia duduk di kursi kayu dekat pohon itu dia menatap ke depan dengan tatapan sendu. la merasa sangat sakit hati, kenapa hidupnya menyedihkan? Dia pintar tapi dia
tidak bahagia, dia cantik tapi tidak
ada yang menyayangi nya.
Papahnya tidak pernah tahu apa yang menimpa nya selama ini. Padahal sejak awal, Kamila tidak pernah mau memiliki ibu tiri, tetapi papahnya tetap saja menikahi wanita jahat itu.
Kamila berjalan ke tepi danau dia melihat wajahnya dari air yang bersih itu, sungguh menyedihkan. Kamila mengusap kasar air matanya dan mulai berteriak.
"LIVIA SIALAN! LARAS GILA! LO BERDUA GILA?!" teriak Kamila sambil menangis sesegukan.
Kamila menutup wajahnya air mata nya semakin mengalir dia menatap air Danua itu dengan tatapan kosong.
"Mamah, kenapa Mamah pergi?bPapah sekarang nggak sayang aku lagi. Papah cuman peduli sama omongan Nenek sihir itu. Aku sendirian Mah. Aku gak punya siapa-siapa lagi, Kamila mau ikut Mamah aja!"
Entah takdir baik dari Tuhan atau bagaimana, Arkan berada di sana. Dia dan anggotanya memang berniat pergi ke bukit itu. Arkan menyuruh semuanya diam
__ADS_1
padahal baru saja Arkan memarkirkan motornya.
Arkan mendengar suara teriakan yang sangat familiar.
"Lo semua denger gak sih ada yang teriak? Bukan dedemit kan yah?" tanya Arkan.
"Ngaco! Mana mungkin dedemit jam segini, ini masih siang woy!" seru Kean.
"Gue denger juga kok, kayak nya dari danau ada yang teriak," kata Daren.
"Gue kayak kenal suaranya," ujar Arkan.
Arkan tanpa basa basi di berlari naik duluan, dia melihat ada seorang gadis dengan baju seragam yang sama tengah berteriak sambil menangis.
"Kamila!" gumam Arkan.
Arkan terkejut saat melihat itu, dia tidak tau apa yang terjadi pada gadis itu padahal tadi siang dia baik-baik saja.
"MAH AKU GAK SANGGUP LAGI! AKU BENCI HIDUP MAH! SEMUANYA JAHAT! AKU BENCI DIRI AKU SENDIRI MAH, AKU GAK SEKUATITU BUAT HIDUP DI DUNIA!"
"MAH BAWA AKU PERGI! AKU SAKIT MAH, FISIK SAMPAI MENTAL AKU RUSAK JADI BUAT APA AKU HIDUP!"
Kamila terus berteriak mengeluarkan
kesedihannya dia sangat hancur tidak
punya tujan hidup lagi. Hati Arkan sangat teriris mendengar kata-kata Kamila yang
sangat menyedihkan.
Beruntung nya danau itu sedang sepi, jadi tidak ada yang mendengar nya. Kamila menangis dia sudah tidak sanggup untuk hanya sekedar bernafas, Kamila melihat Danau itu memiliki arus yang lumayan deras.
Kamila sudah tidak mau hidup dia mau tenang bersama dengan ibunya.
"Mah, Kamila mau ikut Mamah aja yah, Kamila udah gak kuat lagi," kata Kamila.
Kamila pun memantapkan hati dan berniat untuk melompat ke danau. Arkan terkejut saat melihat Kamila hendak melompat dia berlari menyusul Kamila, Arkan menarik
tangan Kamila. Kamila terkejut saat ada yang menarik tangan nya.
"Gila lo!" bentak Arkan.
"Lepasin gue! Gue mau mati! Lepasiiin!" teriak Kamila.
"Gue mau ikut Mamah aja!"
__ADS_1
Kamila memberontak tapi tentu saja tenaganya kalah dengan Arkan.