Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
87.Arkan Yang Penuh Dendam


__ADS_3

Alisha yang kebetulan hendak melihat Arkan berteriak hisetris saat dua laki-laki kesayangannya bergulat adu


otot.


"Ayah apa-apaan ini! Kamu mau anak kamu mati?!" teriaknya.


"Lepas?!" Alisha menarik tangan Marvin tapi laki-laki itu tidak mau melepasnya.


"Ayah, kamu mau bunuh Arkan? Dia udah lemes gitu?!"


"Biarin aja, anak ini gak bisa di kasih tau baik-baik, pake hati gak mau didengerin emang harus di kasarin dulu baru sadar?!" seru Marvin emosi.


"Lepas Ayah! Bunda bakalan marah sama Ayah kalo sampe Arkan kenapa-kenapa?!" ancam Alisha.


Setelah Alisha berusaha menarik Marvin,


laki-laki dua anak itu menjauh dari Arkan dia menatap anaknya kesal penuh emosi.


Arkan bangkit dia melihat Kamila masih menangis di depan pintu, Arkan menatap Kamila tajam dia berlalu begitu saja.


Melihat anaknya hendak pergi, Alisha langsung bangkit berdiri dan bergegas menghampiri.


"Arkaaaan! Kamu diem di sini jangan pergi!" teriak Alisha.


Arkan tidak peduli dia kembali berjalan meningalkan halaman belakang.


"Arkan, dengerin gue! Gue minta maaf!" Saat ia melewati Kamila, Kamila memegang tangan Arkan tapi Arkan menyentaknya dia pergi begitu saja.


Arkan naik ke atas menuju ke kamarnya dia membuka lemari dan laci dia mengambil pistol serta pisau yang ada di sana dan memasukannya ke dalam jaket serta celananya.


Arkan lalu menyambar kunci motor yang ada di sofa. Arkan keluar dari kamarnya dia


membuka pintu dan berjalan menuju tangga, tapi ternyata Kamila mengejar


Arkan sampai ke atas.


Arkan melihat Kamila datar dia tidak memperdulikan wajah sedih Kamila.


"Arkan jangan pergi?!" Kamila terus mengejar Arkan kembali ke lantai bawah.


Tanpa memperdulikan Kamila Arkan terus saja berjalan.


"Arkan, Lo mau ke mana? Gue mohon, gue minta maaf," kata Kamila sambil menarik tangan Arkan.


"Minggir Lo!" bentak Arkan.


"Enggak mau, gue gak akan biarin lo ke mana-mana. Gue gak mau Lo kenapa kenapa Gue minta maaf, Arkan. Lo ga sayang lagi sama gue?"


Arkan tak menjawab, tangannya mengepal menahan amarah yang bergejolak. Kamila memeluk Arkan dia menangis histeris dia benar-benar takut, Arkan sangat marah kepadanya. Kamila membuka kepalan tangan Arkan. Arkan berusaha melepas pelukan Kamila tapi Kamila semakin

__ADS_1


memeluknya erat.


"Arkan gue minta maaf, gue janji gak akan bohong-bohong lagi, gue janji Arkan janji!" Kamila menangis dalam pelukan Arkan.


"Lepas Kamila!" seru Arkan tertahan emosi.


"Enggak! Arkan maaf!"


"Gue kecewa sama lo Kamila!"


Arkan sama sekali tidak membalas pelukan Kamila.


"lyah gue tau, ini semua salah gue, harusnya gue gak gini Arkan!" Arkan menutup matanya menahan gejolak di hatinya.


"MINGGIR KAMILA?!" bentak Arkan, kali ini suaranya lebih menggelegar membuat Kamila memundurkan langkahnya.


"Arkan takut!" lirih Kamila dia kembali memeluk Arkan.


"Lepas!" ujar Arkan sakrastik.


"Lo gak tau rasanya jadi gue Kamila! Gue yang selalu ada buat lo, gue yang selalu ngelindungin lo! Tapi dengan gampangnya lo lebih milih cerita sama orang lain dan ternyata itu Tante gue sendiri! Gue kecewa karena lo lebih percaya sama Tante Rara yang baru ketemu sama lo, sedangkan gue yang statusnya pacar lo aja gak tau apa-apa kalo gue gak nyari tau sendiri!"


"Udah cukup Kamila?! Lepasin gue! Nanti lo bisa luka?!"


Arkan mendorong Kamila agar menjauh dia tidak mau menyakiti Kamila.


"Enggak Arkan enggak?!"


"Gak! Ini bukan Arkan pacar gue, Arkan gak pernah kasar sama gue!"


"Gue emang bukan pacar lo, gue gak pernah lo anggep ada?!" jawab Arkan.


"'Sekarang minggir biar gue balesin dendam lbu lo ke si brengsek itu?!" bentak Arkan.


Kamila menggelengkan kepalanya, "Lo boleh pukul gue atau apa aja, tapi gue gak akan biarin lo pergi sekarang," kata Kamila lagi.


"DIAM KAMILA?!"


Arkan sudah tidak mempan dirayu oleh siapa pun. Dengan sekuat tenaga ia mendorong Kamila hingga gadis itu terempas ke belakang.


Untung saja, Rara yang ada di sana dengan sigap menangkap tubuh Kamila sehingga gadis itu tidak sampai jatuh.


"Arkan," lirih Kamila.


Tapi Arkan tidak peduli sedikit pun. Arkan pun langsung keluar dari rumahnya. Melihat hal itu, teman-temannya ikut menyusul Arkan ke depan. Mereka tahu bagaimana kelakuan Arkan apabila sedang marah.


Apalagi Daren dia tau betul Arkan pasti berbuat ulah, dia benar-benar sudah emosi tingkat tinggi.


Bastian membelakan matanya saat melihat sesuatu di saku belakang celana Arkan, "Woy lo semua, susul si Arkan dia bawa pistol itu anjir dia pasti mau bales dendam!" teriak Bastian.

__ADS_1


Teriakan itu membuat semuanya terkejut.


Daren yang mendengar itu dia berusaha nmenghalangi Arkan.


"Ar sadar Ar, jangan pergi waktu keadaan marah!"


"Minggir Ren, gue gak ada urusan Sama lo?!"


"Inget Kamila, inget Tante Alisha mereka sedih liat lo begini?!" ketus Daren dengan nada tingginya.


Arkan melihat ke arah Alisha ibunya memberikan tatapan permohonan pada dirinya, Arkan lalu menatap Kamila benar saja gadis itu terlihat sangat ketakutan.


Arkan merentangkan tangannya kepada Kamila, Kamila yang melihat itu tanpa pikir panjang langsung berlari memeluk Arkan dia senang Arkan mau menahan amarahnya.


Kamila memeluk Arkan erat, Arkan memeluk Kamila sambil mengusap-usap kepalanya dia menciumi puncak kepala Kamila.


"Maaf udah buat lo takut!"


Kamila menggelengkan kepalanya, "Enggak


Arkan jangan minta maaf, gue yang salah!"


Arkan melepas pelukannya dia mengusap air mata Kamila, Alisha dan yang lainnya nampak haru melihat itu.


Arkan melihat luka disudut bibir Kamila, "Ssshhhh!" Kamila meringis sakit saat Arkan menyentuhnya.


"Gue balesin dendam lo Kamila!"


Arkan langsung membalikan tubuhnya kembali berjalan keluar.


"Enggak Arkan Enggak," teriak Kamila.


Daren kembali mengejar Arkan dia menarik baju Arkan membuat Arkan menghentikan langkahnya


"Ar lo belum sadar juga?!"


"Minggir Ren! Ga ada yang bisa halangin gue sekarang! Gue mau bajingan itu mati malam ini juga!" bentak Arkan sambil mendorong Daren sekuat tenaga sehingga pemuda itu tersungkur jatuh.


Marvin dan Alisha tentu saja terkejut mereka tidak menyangka Arkan semenakutkan itu.


Arkan menatap kepada semua orang datar dia lalu menutup helmnya. Dan mulai menyalakan motornya. Melihat hal itu, Marvin langsung menelpon satpam di depan rumahnya agar menutup gerbang.


BRAKH!


Tapi siapa sangka Arkan malah menendang pagar itu hingga terbuka dan membuat satpam itu terkejut. Kekuatan Arkan seakan menjadi sangat kuat, bahkan gerbang besi pun tidak bisa menghalangi Arkan lagi.


Marvin memijit pelipisnya Arkan kenapa jadi seperti dirinya, tapi kali ini Arkan lebih parah lagi.


"Kita suSul Arkan, kita gak bisa biarin Arkan sendiri dia pasti mau ke rumah Kamila," kata Daren sambil bangkit berdiri.

__ADS_1


Pemuda itu langsung berlari ke arah motornya memakai helm dan bergegas menyusul Arkan.


__ADS_2