Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
106. Ambisi Rena


__ADS_3

BRAKH!


"Arkan sialan!" Seru Rena.


Rena membanting tasnya di meja kerja sang Ayah. Danu yang sedang bekerja


langsung menatap putri tunggalnya itu


sambil mengerutkan dahinya.


"Kamu ini kenapa sih, dateng-dateng marah-marah? Papah lagi kerja, bisa nggak kalau kamu bersikap lebih baik?" kata Danu sedikit kesal.


"Aku tuh udah ngelakuin segala macem cara. Padahal aku udah cari tahu dia sekolah di mana. Dan aku juga udah berusaha deketin dia. Tapi, ternyata dia udah punya yang lain, mana dia sayang banget sama cewenyaĮ" cerocos Rena kesal.


Danu mengerutkan dahi, kemudian ia menarik tangan anaknya supaya duduk di sampingnya.


"Kamu ini lagi ngomongin siapa sih?" tanya Danu.


"Ya Arkan-lah, Pah. Siapa lagi kalau bukan dia? Aku mau pulang ke Indonesia cuman gara-gara aku mau ketemu sama dia. Sampe hari ini, dan sampe detik ini belum ada laki-laki yang bisa bikin aku jatuh cinta kecuali Arkan," jawab Rena.


"Ya terus kalau misalkan dia udah punya pacar, kamu mau apa? Udahlah laki-laki itu bukan cuman dia. Teman Papah banyak kok yang anak pengusaha kaya, ganteng dan pastinya juga mereka mau sama kamu. Kenapa sih harus ngejar-ngejar Arkan?" kata Danu.


Sejak dulu ia tahu jika putrinya itu sangat mencintai Arkan. Dan la juga sudah mencoba untuk merayu Marvin supaya mau menjodohkan anak-anak mereka. Tetapi Marvin menolak dengan alasan bisnis is bisnis tidak ada hubungannya dengan perjodohan.


"Aku cuman mau Arkan Pah, dia itu sempurna."


"Ren, udahlah jangan terlalu memaksakan sesuatu, lagipun Arkan udah punya pacar jangan diganggu lah," kata Danu berusaha menasehati putrinya.


"No! Aku mau Arkan. Oiya Papah lihat ni, tangan aku ini ulah Arkan. Dia marah banget gara-gara aku celakain pacarnya. Jadi dia bales aku sampe tanganku sakit kayak gini," kata Rena memperlihatkan tangannya yang terluka kepada Danu.


Danu yang mengetahui sifat putrinya itu hanya bisa menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. la tau betul jika Rena sudah menginginkan sesuatu maka dia akan terus mengejarnya.


"Kan tadi Papah udah bilang kalo dia udah punya pacar ... Ya udahlah. Apa lagi dia cinta banget sama pacarnya. Kamu ngapain sih ngejar-ngejar dia lag Papa kira tiga tahun kita di luar negeri kamu udah bisa ngelupain si Arkan ternyata kamu masih aja inget-inget dia" kata Danu kesal.


"Pah... Arkan itu keliatan keren waktu bucin sama cewenya, aku juga mau ngerasain cintanya Arkan pasti lebih bagus lagi."


Rena tidak mau mendengar nasihat Ayahnya dia tetap kekuh ingin Arkan. Danu pun akhirnya mengangkat tangan.


"Ya sudahlah, kamu istirahat sana. Papah masih harus kerja. Masalah Arkan nanti kita pikirkan lagi. Papah nanti mencari waktu untuk bisa bertemu sama Pak Marvin dan membicarakan masalah perjodohan itu. Siapa tahu saja kali ini dia mau menerima perjodohan ini," kata Danu.


Sedangkan di tempat Arkan sekarang dirinya masih berada di kamar Kamila. Waktu menunjukan pukul tiga pagi tapi dua sejoli itu belum tidur mereka malah menonton drama korea dari ponsel Kamila dengan Kamila yang bersandar di dada Arkan.


"Gak tidur Mil? Harus sekolah loh," kata Arkan.

__ADS_1


"Nanti deh ini lagi seru," jawabnya.


Arkan melingkarkan tangannya di pinggang Kamila, Kamila merasa nyaman berada di dalam pelukan Arkan. Arkan menciumi rambut Kamila dengan gemas.


"Mil kalo gue ajak nikah mau?" Kamila yang tengah fokus menonton langsung terkejut.


"Lo ngelamar gue?"


Arkan terkekeh dia menggelengkan kepalanya, "Gue nanya Mil, gue gak mau


ngelamar lo kayak gini!"


Kamila menganggukan kepalanya," Emang Bunda sama Ayah setuju?" tanyanya.


"Gue gak tau, urusan itu nanti gue yang bilang. Lo dulu mau atau enggak?" kata Arkan membalikan pertanyaannya.


"Gue kalo lo ajak nikah ya mau kan nanti juga pasti nikah."


"Bukan gitu Mil maksud gue lo mau nikah muda? Dalam waktu dekat?"


Kamila tertawa kecil dia mengusap pipi Arkan, "Gue tau lo laki-laki yang bertanggung jawab, gue mau!"


Senyum Arkan mengembang dia mempererat pelukannya pada Kamila. Dia amat sangat menyayangi gadis ini.


"Nanti gue bilang sama Ayah, semoga Ayah gak nolak deh. Dulu aja Ayah sama Bunda nikah waktu SMA, langgeng aja sampe sekarang tuh!" kata Arkan.


"Cinta gue buat lo juga lebih besar Mil, lo itu segalanya buat gue. Gue gak mau lo kenapa-kenapa. Lo lecet sedikit gue patahin tulang orang yang buat lo lecet!" Kamila terkekeh dia menduselkan kepalanya ke dada bidang Arkan.


"Iyah deh iyah, gue udah ngantuk pengen tidur."


"Yaudah tidur sini!" Kamila memeluk Arkan. Kamila berada di samping Arkan dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arkan.


Selang beberapa lama terdengar deru nafas yang beraturan, itu Kamila sudah tidur, Arkan mematikan ponselnya dia membenarkan posisi tidur Kamila. Arkan ikut tidur di samping Kamila sambil memeluk Kamila erat.


Tok... Tok...


"Arkan! Arkan!" Kamila menggoyangkan tubuh Arkan.


"Kamila bangun!" Terdengar suara Alisha dari luar.


Hari sudah pagi, Arkan dan Kamila terkejut karena Alisha mengetuk pintu kamar Kamila.


"Ada Bunda, pindah ke kamar sana" Arkan membuka matanya dia langsung melompat dari kasur.

__ADS_1


"Gue ke kamar dulu!"


Mwah..


"Love you!"


Arkan mengecup bibir Kamila lalu berlari keluar dari kamar Kamila. Kamila memegang bibirnya yang dicium Arkan. Kamila bangkit dari kasur dia berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"lyah Bunda!" Kamila membuka pintu, terlihat wanita cantik tengah tersenyum kepadanya.


"Mila, tumben kamu bangunnya siang? Padahal dari tadi lho Bunda ketok-ketok kamar kamu. Kamu ngapain aja?" tanya Alisha kepada Kamila.


"Maaf Bunda, semalam Kamila nonton drama Korea sampai jam tiga pagi karena nggak bisa tidur jadinya kesiangan deh," jawab Kamila.


"Astaga Mila. Lain kali kalo nggak bisa tidur jangan dibawa nonton. Kalau kamu bawa nonton ya tambah nggak bisa tidur, karena kamu nontonin film," kata Alisha


Kamila hanya tersenyum malu kemudian menganggukkan kepalanya, " lyah Bunda, maaf!"


"Ya sudah sana kamu mandi. Udah mandi turun ke bawah sarapan ya. Bunda mau bangunin si Arkan dulu dia pasti belum bangun jam segini, kebiasaan itu anak," kata Alisha.


Wanita cantik itu pun kemudian melangkah ke kamar Arkan. Karena pintu kamar Arkan terkunci. la pun membuka pintu kamar itu dengan kunci duplikat yang ada, terdengar suara gemercik air ternyata Arkan sedang


berada di kamar mandi.


Tak lama kemudian Arkan dan Kamila pun sudah siap di meja makan. Mereka sarapan bersama dan siap untuk pergi ke sekolah.


"Bunda aku bawa motor aja ya biar cepet. Sean sama Kean juga bawa motor masa pakai mobil terus," kata Arkan.


"Emang kalau pakai mobil kenapa? Ayah kan belin mobil itu buat kamu pake bukan kamu biarin di garasi gitu aja," jawab Marvin sambil mengoleskan selai ke rotinya.


"Enak pakai motor, Yah. Bisa sat set sat set, kalau pakai mobil itu pas macet nggak bisa ngebut," kata Arkan.


"Cubit aja Mila Kalau dia masih kebut-kebutan di jalan," sahut Alisha kepada Kamila.


Kamila hanya terkikik geli mendengar calon mertuanya itu memarahi Arkan sementara yang dimarahi hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


"Boleh yah plissss..."


"Bawa mobil Abang!" seru Alisha.


Pada akhirnya pun Arkan terpaksa mengikuti perintah Alisha untuk membawa mobil, dengan alasan Kamila masih sakit dan Alisha khawatir jika Arkan kebut-kebutan di jalan raya.


Mereka tiba di sekolah sepuluh menit sebelum bel berbunyi dan pada saat itu Rena juga baru datang dengan diantar oleh ayahnya.

__ADS_1


Gadis itu pun dengan penuh percaya diri dan tanpa malu dia menghampiri Kamila lalu menggandeng tangan Kamila dengan akrabnya. TetapibArkan langsung menepiskan tangan Rena dari Kamila.


"Nggak usah dekat-dekat cewe gue sana jauh-jauh, mau ngapain?" kata Arkan ketus kepada Rena.


__ADS_2