Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
75. Seperti Ibu Sendiri


__ADS_3

"Gue ingetin lagi sama kalian, siapa yang berani ganggu Kamila, bakal berurusan sama gue," seru Arkan.


Arkan pun menarik Kamila keluar dari kelas, dia membawa Kamila ke parkiran. Kamila yang ditarik oleh Arkan tampak sulit


mengimbangi langkah besar Arkan.


"Naik!" kata Arkan.


Dia menyuruh Kamila naik ke atas motor. Arkan hendak membawa Kamila pergi.


Tin... Tin...


Digerbang sekolah satpam mencegat Arkan agar tidak perginkarena ini masih jam sekolah. Tetapi Arkan terus membunyikan klaksonnya agar satpam membukakan pintu.


Tin... Tin...


Tidak ada yang bisa meredam emosi Arkan jika sudah begitu.


Tak lama kemudian, Bastian dan. kawan kawan tampak berlari menghampiri mereka.


"Udah, Pak. Bukain aja pintunya daripada nanti makin ribet urusannya" kata Daren.


"Iya, Pak. Paling besok si Arkan dipanggil sama kepala sekolah, biarin aja," kata Bastian.


Satpam sekolah yang sudah sepuh itu menggelengkan kepalanya.


"Nanti kalo bapak yang kena marah gimana?" katanya.


"Udah, bukain aja. Nanti, kalo ditanya bilang aja kami yang maksa," kata Kean.


"Beneran ini ya, nanti bapak gak akan dipecat kan?"


"Aman, Pak. Saya sama temen-temen saya yang tanggung jawab," kata Daren meyakinkan.


Satpam yang bernama Pak Supri itu pun akhirnya mengalah. la pun segera membukakan pintu gerbang untuk Arkan dan Kamila.


Dan begitu gerbang dibuka, motor Arkan pun langsung melesat kencang. Kamila memeluk Arkan dengan erat, ia merasa sangat ketakutan karena Arkan membawa


motornya di atas kecepatan rata-rata.


"Arkan hati-hati!" Arkan tidak menggubris panggilan itu.


"Arkan gak baik bawa motor waktu emosi, berenti dulu yah!" pinta Kamila.


Dia berharap Arkan mengurangi kecepatan. Tetapi, emosi Arkan yang sedang naik ke ubun-ubun membuatnya tidak peduli. Hingga akhirnya mereka pun sampai di rumah Arkan.


Alisha yang sedang berada di teras tentu saja kaget saat melihat sang anak sudah pulang. Tanpa bicara Arkan naik ke lantai dua meninggalkan Kamila.


"Dia kenapa, Mil?" tanya Alisha.


"Nanti Mila jelasin yah Bund, sekarang Mila mau susulin Arkan dulu!" kata Kamila.


"Yaudah sana susulin aja, takut aneh-aneh tuh anak!" ujar Alisha.

__ADS_1


Kamila berlari mengejar Arkan, dia berusaha menggapai Arkan.


"Arkan jangan begini," kata Kamila.


"Arkan!"


Brakh...


Arkan membanting pintu kamar lalu menguncinya. Kamila yang berada di depan pintu terkejut saat Arkan membantingnya.


Arkan masuk ke dalam kamar mandi, dia memutuskan untuk mandi agar kepalanya dingin.


Kamila pun langsung merasa sedih dia menghela nafasnya, Kamila kembali turun dengan wajah murung. Alisha mendekati Kamila yang menitikan air matanya dia pun


memeluk Kamila.


"Sayang!" kata Alisha.


"Arkan kalo lagi marah emang gitu, dia pasti lagi mandi. Nanti abis mandi dia juga bakalan nemuin Mila dia gak akan bisa marah sama kamu percaya deh sama Bunda!" kata Alisha sambil mengusap rambut Kamila.


"Iya, Bunda," jawab Kamila lirih.


"Yaudah sekarang Mila duduk dulu tenangin diri Mila, nih di minum ysh! Bunda mau liat Kay dulu," kata Alisha.


"Terima kasih Bunda!"


Kamila duduk di sofa dengan gelas di tangannya. Kamila melamun dia merasakan sedih terlebih mengingat ibunya dihina.


'Apa iyah gue anak pembawa sial makanya Mamah pergi duluan' batin Kamila sedih.


Namun tiba-tiba saja saat Kamila melamun, Kamila terkejut ada yang memeluknya dari samping. Arkan memeluk Kamila sambil menduselkan kepalanya di ceruk leher Kamila.


Kamila tersenyum dia merasakan hatinya sedikit membaik saat melihat Arkan.


"Rambutnya masih basah gak dikeringin dulu?" kata Kamila sambil memegang rambut Arkan yang basah.


"Gue minta maaf, ya?" kata Arkan kepada Kamila.


"Lo gak salah Ar, tapi gue takut tiap liat lo marah-marah kayak tadi," jawab Kamila dengan sedih.


Arkan melepas pelukannya dia menangkup wajah Kamila.


"Mil, kalo gue lagi emosi gue cuman butuh waktu bentar aja buat sendiri, gue gak mau nyakitin orang yang gue Sayang gara-gara emosi!"


Kamila menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Iya, tapi kan gue takut," jawab gadis itu.


Arkan merubah posisinya dia merebahkan kepalanya di atas paha Kamila.


"Basah Arkan rambutnya nanti masuk angin," kata Kamila.


"Gak papa, mending lo elus-elus gue. Ngantuk pengen tidur," kata Arkan kepada Kamila sambil membawa tangan Kamila ke

__ADS_1


kepalanya.


"Idih, tadi kayak singa, giliran di rumah begini manjanya kayak anak kucing," ujar Kamila.


"Singanya jinak kalo sama Mila," kata Arkan membuat Kamila tertawa.


Kamila dengan cepat mencubit hidung Arkan dengan gemas. Alisha yang melihat itu hanya tersenyum. Arkan tidak bisa marah pada orang yang dicintainya.


"Aduuuh, nih anak. Tadi pulang ngamuk ngamuk sekarang malah kayak anak kucing," kata Alisha sambil berjalan mendekat.


Wajah Kamila langsung bersemu merah, ia malu sekali kepada Alisha. Sementara Arkan cuek saja.


"Ih elus-elus Mil!" katanya kepada Kamila.


Tetapi Alisha langsung menarik tangan pemuda itu.


"Kamu pikir pahanya Kamila gak pegel apa kamu jadn bantal," kata Alisha.


"Ih, Bunda mah gak bisa liat anaknya seneng," protes Arkan. Dia


kembali merebahkan kepalanya ke paha Kamila


Alisha bersidekap dada, "Bunda kawinin nanti mau?"


"Mau banget Bunda sekarang juga gak papa Bund," jawab Arkan senang.


Alisha pun langsung menyentil dahi Arkan dengan jarinya dengan gemas sehingga pemuda itu pun meringis kesakitan.


"Aduh Bunda..." Arkan mengusap-usap dahinya.


"Jadi, kalian sekarang jelasin tadi kenapa kalian pulang lebih awal? Arkan juga marah banget. Bunda yakin ini Arkan pasti yang maksa Kamila buat pulang," kata Alisha


menuduh Arkan.


"Bunda mah sudzon terus!"


"Ini semua karena Arkan belain Mila, Bunda," jawab Kamila cepat.


Gadis itu tidak mau jika Arkan dimarahi oleh Alisha. Sehingga ia pun membela Arkan dengan menceritakan semua yang sudah terjadi.


"Kenapa harus bawa-bawa orang tua? Dia gak sadar nanti dia juga bakalan dipanggil sama yang kuasa!"


"Emang keterlaluan banget teman kalian itu. Lain kali kalo begitu lagi kamu tinggalin aja, Mila. Gak perlu diladenin. Untuk soal ibu jangan kamu masukin ke dalem hati.


Bunda ini ibu kamu juga. Jadi, jangan kamu dengerin kalo ada orang yang bilang kamu gak punya ibu," kata Alisha.


"Kalo ada yang nanya mana Ibu kamu, Mila telpon Bunda nanti Bunda yang dateng!"


Mata Kamila berkaca-kaca dia terharu mendengar itu, "Bunda mau peluk tapi ada Arkan!"


Alisha menarik tangan Arkan agar bangun dia lalu memeluk Kamila.


"Aduh Bunda! Kaget!" gerutu Arkan.

__ADS_1


Kamila tertawa melihat Arkan yang berada di sofa sebelah.


"Bunda makasih yah, dari Bunda. Mila bisa ngerasain kasih sayang dari seorang Ibu!"


__ADS_2