Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
95. Rasa Yang Begitu Besar


__ADS_3

"Kalo nginep di rumah Bunda. Lo juga kenapa tadi kayak kesurupan lari-lari


ngejar gue, kan gue udah pamit," kata


Kamila sambil mengusap wajah Arkan yang berair.


"Loh, Ayah bilang tadi lo mau ke luar kota."


"Kalo gak digituin, kamu mana mau ngejar Kamila, Bang."


Alisha tiba-tiba saja melangkah masuk sambil mendelik ke arah anak sulungnya itu.


"Kemarin aja ngambek ga mau ngomong sama Kamila, giliran ditinggal nangis-nangis kayak anak TK, udah ngalahin Kayla kalo udah nangis," ledek Alisha.


Kamila hanya menahan tawa melihat wajah Arkan yang terlihat kesal.


"Bunda mah, tega sama anak sendiri," kata Arkan.


"Bodo amat, suruh siapa ngambekan kayak bayi. Nyebelin tau gak kamu itu, Bang. Ayah kamu aja bandel ga segitunya. Pengen rasanya Bunda masukin lagi kamu ke perut


Bunda!" Omel Alisha.


"Tapi, Bun ak-"


Arkan tidak bisa bicara lagi karena Kamila menjejalkan bubur ke dalam mulutnya. Sehingga mau tidak mau ia makan dan tidak bisa membantah lagi ucapan Alisha. Nasib... Nasib, kapok kan?


"Makan Arkan!" kata Kamila.


"Pelan dong Yang buru-buru amat!" ucap Arkan.


"Gue harus pulang Arkan!"


"Enggak?! Lo pulang ke rumah Bunda aja, biarin kalo Kakek Nenek lo ke hotel, lo harus ngurusin gue ini kan gara-gara lo!" ucap Arkan memeluk lengan Kamila.


"Posesif amat Om," saut Marvin yang tiba-tiba masuk.


"Udah ayo Ayah keluar, anak kamu itu lagi sensi, pengen sama pawangnya!"


Alisha mendorong Marvin keluar sedangkan Kamila tertawa sambil menyuapi Arkan.


"Makan yang banyak yah bayi besar!" ujar Kamila.


Arkan terus menatap wajah Kamila, Kamila yang merasa diperhatikan pun tersenyum.


"Kenapa sih?" tanya Kamila.


"Cantik," ujar Arkan.


"Gue emang cantik,"jawab Kamila dengan percaya dirinya sambil tertawa.


"Dih gak jadi gue muji lo!"


"Yaudah gue pergi nih?!" ancam Kamila.


"Coba aja kalo berani! Sebelum lo pergi, gue bakalan bikin lo hamil biar gak bisa ke mana-mana!" balas Arkan.


Kamila tertawa dia mengusap rambut Arkan. Lalu mencium pipi Arkan.


Cup...


"Kamila-nya Arkan gak akan ke mana-mana, janji!"


...****************...

__ADS_1


"Duh, Nenek sama Kakek minta maaf, gara-gara kita gak pamit, kamu jadi salah paham," kata Nenek Marina nenek Kamila.


Arkan menggelengkan kepalanya, " Saya pikir Kamila mau Nenek sama Kakek bawa ke luar kota," jawab Arkan seperti anak kecil.


Untuk pertama kalinya pemuda itu bertingkah seperti balita di mata Kamila. dan kedua orang tuanya.


"Nenek sama Kakek mana tega misahin kalian berdua, Nenek tau kamu sangat mencintai cucu Nenek yang cantik ini!" kata Marina sambil mengusap kepala Kamila.


"Betul itu, terima kasih yah Arkan. Kamu sudah mau mencintai Kamila begitu besar," kata Kakek Frans sambil menepuk bahu Arkan.


"'Saking besarnya sampe mau bunuh orang loh, Om. Eh pas ditinggal pawangnya nangis kejer kayak mau ditinggal ke mana aja," ledek Marvin.


"'Ayah..." gerutu Arkan.


Melihat wajah Arkan yang kesal membuat semuanya yang ada di ruangan itu tertawa. Siapa yang tidak akan tertawa jika melihat pemuda sesangar Arkan yang tidak takut untuk membunuh orang lain tetapi takut


ditinggal Kamila. Persis seperti anak kucing yang ditinggal induknya.


"Mau ngambek lagi? Kalo iyah nanti Bunda biarin aja Kamila pergi keluar kota. Sekalian Bunda juga ikut biar kamu sendirian," kata Alisha.


"Ish Bunda tega sama aku," cicit Arkan.


"Gak cocok lo Ar ngambek kayak anak perawan bikin malu aja, nyali doang gede," saut Bastian sambil tertawa.


"Kamila pergi Arkan gila sih fiks gue yakin," ledek Daren yang sedang bermain game tanpa melepaskan matanya dari layar ponselnya.


Kalau saja dia tidak lemas ingin rasanya ia memukul Daren. Anal laki-laki kok mulutnya lemes amat. Apes! Arkan tidak mau melepas genggamnnya dari Kamila dia tidak mau Kamila pergi dia tidak mau sendirian.


"Ini kenapa tangan gue gak dilepas?" tanya Kamila.


"Nanti lo pergi lagi, enak aja gue udah panas-panasan lo pergi," ujar Arkan dengan manja.


Alisha tertawa kecil melihat kelakuan putranya itu.


"Hadeh, udah ah ayo Ayah kita pulang aja, biarin si Arkan sama Kamila aja dia kalo sama pawangnya mau sakit juga pasti sembuh!" ajak Alisha kepada Marvin membuat Arkan terkekeh.


"Apa gak merepotkan, Nak Alisha?" tanya Marina.


"Nggak dong, Tante. Kita sekarang pulang aja. Kamila tolong jaga Arkan ya? Kalo dia nakal kamu telepon bunda, biar Ayah jemput kamu. Biarin dia sendiri," kata Alisha.


Kamila tertawa kecil mendengar perkataan Alisha.


"Bunda tenang aja, Arkan ga bakalan rewel kali ini, udah jinak" jawab Kamila.


"Kalo rewel kebangetan. Timpuk aja kepalanya," jawab Alisha.


Kakek dan Nenek Kamila hanya tersenyum melihat moment itu. Mereka merasa tenang sekarang melepas Kamila.


Usia mereka sudah tua dan jujur saja mereka tidak bisa memantau Kamila dengan maksimal. Tetapi, Marvin dan Alisha begitu baik mau merawat Kamila.


Tak lama kemudian, semua orang pun pulang. Tinggal Kamila dan Arkan di kamar perawatan itu.


"Lo gak malu nangis kayak tadi?" tanya Kamila.


Arkan menggelengkan kepalanya, lalu memeluk Kamila, "Enggak! Gue gak mau lo pergi!"


"Manja."


"Biarin kan cuma sama lo manjanya." Arkan mengerucutkan bibirnya sebal.


"Halah, tapi kemarin ngambeknya lama," kata Kamila.


"Enggak kok, kan tiap malem ngambeknya dipending Yang, pengen peluk kangen. Ngambeknya cuman siang aja!" ujar Arkan kepada Kamila.

__ADS_1


"Iyah sih tapi tetep aja kan sedih di cuekin begitu!"


Arkan menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.


"lyah deh, maaf yah Sayang. Lagian lo pake acara bohong-bohong terus padahal lo tinggal cerita aja ke gue masalahnya apa, gue gak akan ninggalin lo Mil! Kalo gue udah niat ninggalin lo lo, dari awal aja pas gue tau keluarga lo berantakan?!" kata Arkan.


"Gu-gue juga salah, maaf! Gue gak akan bohong lagi, tapi lo juga harus janji gak boleh lepas kendali kayak kemaren. Lo membahayakan banyak orang Arkan!" ucap Kamila membuat Arkan terdiam namun setelahnya dia tersenyum.


"lyah Sayang, janji! Lo juga harus janji selama di rumah gue. Lo harus betah kalo gue selalu jadi kayak maling!" kata Arkan membuat Kamila tertawa.


"Lo gak di mana-mana kayak maling Ar, padahal itu rumah lo sendiri!" kata Kamila.


"Biarin aja, janji jangan nyembunyin apa pun lagi dari gue Mil?"


Kamila menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, "Janji!"


Setelah puas berbincang Kamila masih setia menemani Arkan di dalam kamar inap, Kamila sudah mengantuk padahal masih jam delapan malam.


Beberapa kali ia menguap karena mengantuk.


"Lo ngantuk? Sini disamping gue," kata Arkan sambil menggeser tubuhnya dia ingin Kamila tidur di sampingnya.


Tetapi Kamila langsung menggelengkan kepalanya.


"Enggak, gue di sofa aja. Itu luas juga sofanya," tolaknya.


"'Samping gue aja Mil, biar deketan sama gue," kata Arkan memaksa.


"Enggak mau Arkan!"


"Ya udah, kalo gitu gue gak mau makan. Biarin aja gue di sini terus," kata Arkan lagi sambil mengerucutkan bibirnya.


"Dih ngancem begitu, iyah deh iyah. Gue udah ngantuk juga padahal masih jam delapan!" Kamila pun naik ke atas dia tidur di samping Arkan.


Arkan mengusap kepalanya agar tidur dengan tenang. Kamila menyembunyikan


kepalanya di dada Arkan, Arkan mencium kepala Kamila dengan sayang. Cinta Arkan begitu besar untuk Kamila.


"Mil!" panggil Arkan.


"Hm..."


"Enggak, udah tidur. Istirahat!" Arkan kembali mengusap-usap kepala Kamila.


Arkan mendengar nafas teratur milik Kamila dia melihat gadis itu sudah pulas.


Ceklek..


Saat Kamila sudah tidur Arkan melihat Daren masuk ke dalam.


"Belum balik lo?" tanya Arkan.


Daren menggelengkan kepalanya, ''Gue mau balik cepet atau enggak, gak ada bedanya Ar. Rumah kosong," jawab Daren sambil tertawa.


"Si anjir bener juga, gue pikir lo ikut balik sama yang lain," kata Arkan lagi.


Pemuda itu tertawa kecil, sambil berjalan mendekati Arkan.


"Gue lagi nunggu instruksi," kata Daren.


Arkan menganggukan kepalanya, antara dirinya dan Daren itu seperti memiliki hubungan khusus. Terkadang mereka bisa menebak jalan pikiran masing-masing tanpa harus bicara.


Mungkin karena persahabatan mereka yang sangat kental membuat mereka saling mengerti satu sama lain. Arkan mengerti bagaimana sifat Daren begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


"Lo tu lain kali jangan kayak kemaren lagi. Anak orang lo marahin. Gak bisa tahan emosi. Marah boleh, tapi kontrol lah mulai sekarang. Dengan Lo berbuat kayak gitu Lo nyakitin perasaan orang yang Lo sayang. Gak liat si Kamila sampe kudu minum obat dari psikiater?" kata Daren panjang lebar.


Menasehati Arkan memang harus mencari timing yang tepat karena sifatnya yang sangat keras kepala itu sangat sulit luluh.


__ADS_2