
"HAHAHA sangat manis!" Saat itu Risa tertawa.
"Bawa dia?!"
"Abang, Ayah Bunda!" Arkan dan yang lainnya sangat terkejut.
Ternyata dia membawa Kayla sebagai sandera. Alisha dan Marvin juga terkejut. Kayla menangis, Arkan benar-benar tidak habis pikir.
"Bundaaa, Ayah, Kay takut!" jerit Kayla.
"Kay! Mas! Itu Kayla!" kata Alisha kepada Marvin.
"Lepaskan anak saya, Kayla tidak ada urusannya, jangan ganggu dia!" teriak Alisha.
"Hahahhaa! Alisha-Alisha! Anak ini sama seperti Kamila! Tidak berguna. Risa tertawa terbahak-bahak, ia memang sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
"Bundaaaa Kay takut! Hiks..."
"Lepasin Kayla, Risa! Kita bisa bicarakan baik-baik," kata Marvin.
"Hahaha tidak semudah itu!" jawab Risa dengan tawanya.
"Vin, Kayla! Ini gimana?" tanya Alisha dengan mata berkaca-kaca.
"Sabar Bund!"
"Risa apa yang kamu mau? Lepaskan Kayla dan saya akan menuruti apa yang kamu mau!" ujar Marvin.
"Hahaha lemah! Kalian semua lemah gara-gara anak kecil!" kata Risa meledek.
"Lepaskan putri saya, Risa!"
Risa menatap Alisha tajam, "Dasar perempuan lemah! Gak punya nyali, saya akan melepaskan anak ini asal kamu mau bersujud di kaki saya," kata Risa remeh.
"Mamah, jangan kelewatan!" bentak Heri.
Risa menatap nyalang ke arah Heri sambil melotot kesal.
"Anak durhaka! Bukannya bantu ibu sendiri. Kamu memang gak bisa diandalkan!" kata Risa emosi.
"Cukup, sekarang lepaskan anak-anakku, Risa!" kata Marvin.
"Mudah Marvin suruh istri kamu bersujud di kaki saya!" jawab Risa.
"Mah!" tegur Heri.
"DIAM KAMU!" bentak Risa kepada Heri.
"Ayo sujud di kaki saya jika ingin anak kamu kembali, saya tidak menerima bayaran, kamu sujud semua urusan kelar!"
Arkan meremas tangannya sendiri dia mengepalkan tangannya menahan segala emosi yang bergejolak.
"Alisha! Sujud di kaki saya ata-"
"CUKUP?!" bentak Arkan membuat semuanya terjengkit kaget.
"Diam Arkan! Biarkan saja!" Alisha berjalan mendekati Risa ini semua demi putrinya.
Risa yang melihat itu tertawa senang.
"Hahaha, kaum rendahan! Alisha yang biasanya anggun sekarang akan bersujud di kaki saya, derajat saya lebih tinggi dari kamu Alisha!"
Risa terus-terusan menghina Alisha, Arkan tidak bisa melihat ibunya menangis.
"Kamila!"
Arkan memeluk Kamila dia mencium kepala Kamila.
"Tutup mata lo Mil! Jangan buka mata sebelum gue yang suruh buka."
Kamila menggelengkan kepalanya,"Jangan gila Arkan! Gue gak mau!"
"Lakuin Kamila!" kata Arkan dengan nada tingginya.
"Gue gak ma-"
__ADS_1
Terlihat Alisha hendak bersujud di kaki Risa dan...
Dor....
"ARGH!"
Arkan melepas pelatuknya tepat mengenai punggung Risa. Risa berteriak kesakitan.
"'ARKAN!" Semuanya berteriak saat melihat kejadian itu.
"Bunda gak akan pernah sujud kepada manusia, dia bukan Tuhan!" kata Arkan dingin.
"Arkan udah cukup Nak!" kata Alisha.
"Kurang ajar!"
Risa mengambil pistol yang ada di tangan anak buahnya dan mengarahkannya pada Arkan.
Dor...
Dor...
Sebelum Risa menembak Arkan, Arkan kembali menembakan peluru itu tepat di pundak Risa, mata Arkan menahan amarah.
"Gue gak sebaik itu Risa buat ngampunin lo!"
Dia melepas pelukan Kamila, Kamila membuka terkejut saat Risa berlumuran darah.
Arkan mengeluarkan pisaunya dari saku dia berjalan mendekati Risa.
"Arkan, udaaah!" teriak Kamila menahan Arkan.
"Diem Kamila! Diem di situ, ini urusan gue bukan urusan lo!" Arkan mendorong Kamila.
Arkan menarik kerah baju Risa dan menariknya.
Sretttt.....
"ARGH!"
Sekarang Darah mengalir di pipinya membuat semuanya terkejut.
"Arkan udah!" teriak Alisha.
"MAMAH!"
"DIAM DI SITU!" Arkan menodongkan pistol ke arah Heri membuat pemuda itu mengurungkan niatnya.
Arka kembali menarik kerah baju Risa dengan emosi membludak.
PLAK!
SRETTT.....
"ARGGHHH SAKIT?!" teriak Risa kesakitan.
Arkan menyeringai, "Itu buat lo yang udah nginjek-nginjek harga diri Bunda gue!" kata Arkan.
Arkan menggoreskan pisau lagi dan menampar lukanya.
"Ukirannya kurang bagus Risa, gimana kalo sekali lagi? Gue bisa gambar mawar!"
"Enggak Arkan! Sakit!"
PLAK!
"KE MANA SIKAP AROGAN LO SIALAN!" Arkan menampar Risa lagi.
"Bangun anjin"!"
BRUKH!
Mata Arkan memerah seperti orang kesetanan dia melempar Risa tepat di kaki Alisha.
"Minta maaf lo sekarang sama Bunda gue!" kata Arkan.
__ADS_1
"Bunda, aku gak pernah ngelakuin hal rendahan, sekarang aku bawa pelakunya sujud di kaki Bunda! Maaf aku gak bisa bawa mayatnya!"
Alisha menggelengkan kepalanya, Bunda percaya Arkan Bunda percaya!" kata Alisha dia menitikan air matanya.
"'Arkan sayang Bunda, sekarang ijinin Arkan buat nyelesain semuanya!"
Lagi-lagi Alisha menggelengkan kepalanya, "Enggak Abang, enggak! Udah cukup semuanya udah selesai, Kayla juga udah sama Ayah!"
"Arkan udah! Tahan emosi kamu!" kata Marvin.
"Maaf Bunda!" jawab Arkan.
Tatapan Arkan menajam saat melihat Risa yang mulai lemas karena tembakan Arkan.
"SINI LO?!" Arkan kembali menarik Risa.
Arkan menginjak perut Risa lalu kembali mengarahkan pisau kepada Risa yang sudah terkapar tak berdaya.
"Gue gak suka ada yang ngusik keluarga gue, terlebih lagi Bunda! Lo berani macem-macem sama Bunda atau orang yang gue sayang, lo bakalan mati di tangan gue RISA?!"
"Ar-Arkan lepas!" Arkan mencekik leher Risa dengan emosi, urat-urat di leher Arkan terlihat.
"Arkan, udah. Kamu harus tahan emosi kamu, dia udah gak bisa apa-apa. Biar polisi aja yang ngurus semuanya!" kata Alisha. Dia berusaha memegang tangan putranya itu.
BRUKH!
Arkan menggelengkan kepalanya. Dia melepas Risa membuat wanita itu jatuh.
"Enggak Bunda, dia udah nyakitin Bunda sama Kamila?!" kata Arkan sambil melepas tangan Alisha
"Bunda gak papa Bang, udah yah sekarang lepasin!"
"Maaf Bunda gak akan ada ampun untuk kali ini!"
Arkan kembali menginjak perut Risa membuat wanita itu batuk-batuk.
"Biadap kamu Arkan! Gak punya hati!" seru Risa.
"Hati gue gak berlaku buat manusia gila kayak lo!" jawab Arkan.
"Angkat tangan jangan bergerak!" Tiba-tiba polisi datang mereka menodongkan pistol kepada anak buah Risa. Daren tadi berinisiatif menelepon polisi agar cepat selesai.
Arkan menyeringai, "Sampai jumpa lagi Risa!"
Dor....
"ARKAN SIALAN?!" "ARKAN?!" teriak Risa.
Arkan kembali menembakan peluru kepada Risa. Senyum Arkan mengembang.
"Gue bakal bunuh lo Arkan!"
"ARGH!" Arkan berteriak sangat kencang. Risa menusukan pisau ke dada Arkan tidak ada yang tau kapan dia bangkit.
Brukh!
Risa jatuh tak berdaya. Arkan memegangi dadanya yang keluar darah. Tangan Arkan berlumuran darah.
"Arkan!" Kamila memeluk Arkan.
"Arkan pendarahan, ayo ke rumah sakit" Kamila panik melihat Arkan terluka.
"Gue gak papa, masih kuat berdiri!" kata Arkan.
"Arkan, darah kamu banyak!" Arkan tersenyum kepada ibunya itu.
Dia memegang tangan Alisha dan Kamila, tangan Arkan yang berlumuran darah membuat tangan Alisha dan Kamila kotor dengan darah.
"Bunda sama Kamila itu orang yang Arkan sayang, Arkan udah bales semua rasa sakitnya!"
Arkan menyerahkan diri kepada polisi.
BRUKH!
"ARKAN?!"
__ADS_1