Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
105. Peringatan Dari Arkan


__ADS_3

Ketika sampai di sekolah, Arkan mengantarkan Kamila sampai ke kelasnya, lalu memanggil Naya.


"Nay, gue boleh gak pesen sesuatu ama lo?" tanya Arkan.


"Kenapa?"


"Lo gak perlu tau apa alesannya kalo ada yang ngajak Kamila pergi tapi lo ga ikut jangan dibolehin yah, terus kalo ada yang ngasih makanan buat Kamila jangan di terima itu buat lo aja. Dan gue juga minta tolong ke mana pun Kamila pergi lo harus sama dia minimal ngabarin gue."


"Hah?!"


"Jangan hah heh hoh, hah heh hoh aja Nay, lo bisa kan bantu gue?" kata Arkan.


"Dikira gue baby sitternya Kamila," kata Naya.


Arkan menghela napas panjang lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari dompetnya, kemudian memberikannya kepada Naya.


"Ini buat tambahan jajan lo, asal jagain Kamila," kata Arkan.


Naya hanya terkikik geli, "Gue ga minta loh, ya," kata gadis itu.


"lyaaa!"


Setelah selesai dengan Naya, Arkan berjalan menuju ke lapangan kali ini tidak ada guru daripada Arkan bolos dia ingin bermain basket saja.


"Arkan sebentar!" Saat di tengah koridor Rena mencegatnya.


"Gue tau lo nyuruh Naya sama temen-temen lo biar Kamila jauhin gue, kenapa sih lo sebenci itu sama gue padahal kan gue cuman mau temenan


sama Kamila," kata Rena.


Arkan bersidekap dada, "Malaikat gak akan pernah cocok temenan sama iblis," jawab Arkan dingin, lalu pergi begitu saja.


Sedangkan Rena mengepalkan tangannya sambil menatap Arkan yang berjalan menjauh.


'Sialan! Awas aja lo. Kalo lo gak bisa jadi milik gue. Orang lain juga gak akan bisa milikin lo' kata Rena dalam hati yang bergemuruh.


Arkan tidak peduli dengan Rena yang sedang emosi karena itu bukan urusan Arkan juga.


Saatjam pulang, Arkan dan teman temannya masih bermain basket. Arkan melihat Kamila ada di pinggir lapangan sedang tersenyum, ia memang sudah berpesan supaya Kamila tidak jauh dari pengawasannya.


"Ngapain?" tanya Arkan.


"Nunggu doi!" Senyum Arkan mengembang dia melempar bola kepada teman-temannya lalu berjalan mendekati kekasihnya itu.


"Harusnya tunggu di kelas aja nanti gue yang ke sana!" seru Arkan.


Tetapi, tiba-tiba, Arkan membelakan matanya saat melihat ada sebuah pot bunga hendak jatuh dari lantai atas.


"KAMILAAA, AWAAS!!"


Kamila melihat ke atas ada pot hendak jatuh, Arkan berlari dengan cepat, lalu mendorong Kamila sehingga keduanya jatuh bersamaan dengan posisi Arkan yang memegang kepala Kamila jadi tangan Arkan yang berada di bawah kepala Kamila.


"Lo baik-baik aja? Ada yang luka?" tanya Arkan.


Arkan mencari luka di tubuh Kamila namun nihil. Arkan benar-benar khawatir. Arkan memeluk Kamila erat dia berkata untung Kamila baik-baik saja.


"Enggak papa Arkan!" Arkan bernafas lega, "Lain kali hati-hati Mil, perhatiin sekeliling!


Sekarang pulang aja yu," ajak Arkan


kepada Kamila.


"Tapi-"


"Gak ada tapi," kata Arkan.


Dengan wajah menahan emosi ia pun segera menarik tangan Kamila. Hari ini untungnya ia membawa mobil karena Alisha yang cemas melarangnya membonceng Kamila.


***

__ADS_1


"Anak Bunda udah pulang, gimana di sekolah?" tanya Alisha saat melihat Arkan dan Kamila sudah pulang.


"Mil anteng di rumah jangan keluar kalo sendirian, ketauan gue biarin aja nanti gue kasih hukuman biar lo gak ngebantah terus!"


"Aku pergi dulu sebentar Bund, ada yang harus aku selesain!"


Tanpa menunggu jawaban dari Alisha dan Kamila lagi, Arkan pun bergegas pergi. Arkan mengganti mobil menggunakan motor kesayangannya. Sekarang Arkan berada di atas gedung kosong, tidak jauh dari base camp.


Kepulan asap terbang kemana-mana Arkan memasukan tangannya ke saku celana seragam sekolahnya. Wajahnya tampak memerah menahan amarah.


Tak lama kemudian, Bastian dan Kean datang sambil menyeringai.


"Gue bawa pesenan lo," kata Bastian.


Arkan membalikan tubuhnya dan saat ia melihat Rena diseret oleh Bastian dan Kean, pemuda itu pun tersenyum.


"Halo *****! Apa kabar? Seneng kan bisa ketemu gue di tempat sepi?" kata Arkan sambil membuang rokoknya.


Arkan mencengkram pipi Rena kencang, "Lo yang udah mancing emosi gue Rena!"


"Gue gak suka lo sama Kamila?! Kalo lo gak sama gue jadi orang lain juga gak usah sama lo?!"


"AAKHHH!" Cengkraman Arkan semakin kuat membuat Rena memekik kesakitan.


"Gila! Lo emang gila dari dulu, manusia ga punya hati, psiko!" teriak Rena.


"Berulang kali gue peringatin sama lo, jangan pernah berani nyentuh cewe gue seujung rambut pun. Tapi lo seakan mengabaikan peringatan dari gue?Sekarang gue gak peduli, mau lo cewe atau cowo gue bakalan buat perhitungan sama siapa pun yang nyakitin Kamila?!" kata Arkan.


Arkan menarik lengan Rena kencang dia tau kalo tadi yang menjatuhkan pot kepada Kamila itubadalah Rena. Arkan mendorong Rena ke bawah.


"AARGHHH!" Rena berpegangan pada dinding pembatas.


"Arkan gila! Gue gak mau mati!" Rena melihat ke bawah, sangat tinggi jika jatuh maka Rena pasti akan langsung hancur berkeping-keping.


"Hahahah. Lo pikir gue peduli? Gak akan ada yang mau nolong perempuan ular kayak lo!" seru Arkan marah.


Arkan kembali mencengkram pipi gadis itu sekarang kuku Arkan seakan menembus kulit Rena.


"ARGHHH! GILA?!"


Tiba-tiba saja Arkan menginjak tangan gadis itu hingga Rena berteriak kesakitan.


"Kamila cewe gue, *****! Sakit harus dibales sakit!" seru Arkan marah.


Bastian, Kean, Sean serta Daren terkejut melihat betapa sadisnya Arkan.


"Ampun Arkan! Sakit, gue gak mau mati?!"


"Hahaha dunia gak baik buat lo Rena?!" Arkan tertawa sambil menyeringai sangat mirip dengan. psycopat.


Aura di sekelilingnya sudahbtidak enak. Daren yang melihat hal itu langsung menarik tubuh Arkan menjauh.


"Anjin* lepas Daren! Gue belum puas?!" berontak Arkan.


"Cukup, Ar! Lo tadi cuman bilang mau kasih dia pelajaran, bukan mau bunuh dia," kata Daren.


"Biarin gue bunuh aja lah sekalian!" seru Arkan berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Daren.


Tetapi, Daren tidak mengindahkannya. Pemuda itu membawa Arkan menja


"Kalian tolong dia, jangan sampe tuh cewe mati. Gue urus Arkan dulu," kata Daren kepada Bastian, Kean dan Sean.


"INI PERINGATAN BUAT LO SIALAN. SEKALI LAGI LO GANGGU KAMILA GAK AKAN ADA AMPUN, *****!" teriak Arkan sebelum Daren membawanya pergi.


Daren pun segera membawa Arkan ke base camp, sementara Kean, Sean dan Bastian mengurus Rena.


Daren tidak mau Arkan kembali lepas kendali, Daren tau Rena salah tapi akan lebih salah Arkan kalo Rena sampai mati. Setelah di base camp Daren memberi siraman rohani kepada Arkan.


***

__ADS_1


Hari sudah malam setelah mandi Arkan menutup pintu kamar lalu menguncinya. Arkan keluar dari balkon dia melompat ke balkon kamar Kamila dan membuka pintu kamarnya.


Kamila sudah tidur sejak selesai makan malam dan bicara dengan Rara. Perlahan Arkan mendekati Kamila ia pun membelai rambut Kamila dengan lembut.


"Enghhhh, Arkan!" ujar Kamila.


"iyah Sayang!"


Kamila membuka matanya dia tersenyum melihat Arkan, lalu menarik Arkan ke dalam pelukannya.


"Dari mana? Malem banget pulangnya!" kata Kamila dengan suara khas bangun tidur.


Cup...


Arkan mencium pipi Kamila, "Dari base camp Sayang, udah gih tidur lagi!" Kamila menggelengkan kepalanya,


"Enggak mau! Mau peluk," katanya manja.


Arkan terkekeh dia membetulkan posisi tidurnya, Arkan tidur di samping Kamila, gadis itu langsung saja memeluk Arkan.


Arkan membelakan matanya saat melihat sesuatu.


"Sayang!"


"Hmmm," saut Kamila.


"Kancingnya kebuka, renda biru!" kata Arkan sambil terkekeh.


Kamila membelakan matanya dia melihat ke arah piyamanya. Kamila dengan segera mengancingnya.


"Arkaannn! Malu..." rengek Kamila dia sangat malu.


"Gak papa Sayang!" Arkan memeluk Kamila.


Kamila mendongak, Arkan mengusap pipi Kamila yang memerah sambil tertawa.


"Kenapa Sayang, hm?" Kamila menggelengkan kepalanya.


Tatapan mata Arkan tiba-tiba saja tertuju pada bibir Kamila. Arkan mengusapnya pelan, Arkan menmajukan wajahnya, Kamila memejamkan matanya.


Arkan tersenyum saat mendapat sinyal dari Kamila.


"Nghh.. Mmphh!"


Dan pada akhirnya dua bibir itu bersatu saling berpangutan. Arkan menarik tengkuk Kamila agar semakin memperdalam ciumannya.


"Arkan!" lirih Kamila menepuk dada Arkan.


Arkan melepas pangutannya saat di rasa Kamila hendak kehabisan nafas, senyum Arkan lagi-lagi mengembang melihat Kamila yang bernafas tersenggal-senggal.


"Cantik!" Arkan mengusap bibir Kamila yang membengkak.


"Mwahh!" Arkan mengecup bibir Kamila singkat.


"Makasih, ini pertama buat lo dan buat gue!" ujar Arkan.


"Arkan," panggil Kamila.


"Kenapa?"


"Gue baper!" Kamila memeluk Arkan menyembunyikan wajahnya, tentu saja itu sangat menggemaskan bagi Arkan.


Arkan melepas pelukannya dia menangkup wajah Kamila.


"Mmphhh!" Arkan menyesap bibir Kamila gemas kenapa sangat candu begitu pikir Arkan.


"Lo bahagia sama gue?" tanya Arkan kepada Kamila.


"Banget! Lo hidup gue Arkan!" jawab Kamila serius.

__ADS_1


Arkan mengusap bibir kekasihnya itu, "Always?"


"'Selalu, lo orang yang paling gue Sayang!"


__ADS_2