Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
53. Proyek Besar Reynald


__ADS_3

Senyum Kamila langsung mengembang, dia sebenarnya bingung dari mana Arkan tau dia tadi hanya makan sedikit.


Tapi itu tidak penting sekarang dia tengah


merasakan jantung yang berdebar sangat kencang.


Mereka keluar dari mobil, Arkan langsung menggandeng tangan Kamila. Lagi-lagi senyum Kamila harus mengembang dengan sendirinya.


Pipinya sudah berwarna merah merona menahan detak jantungnya agar Arkan tidak mendengarnya.


***


"Cie, mau ke mana nih pagi-pagi?" tanya Alisha saat melihat putranya itu sudah siap ke sekolah dengan rapi.


Padahal biasanya Arkan harus dibangunkan dulu baru dia mandi dan bersiap.


"Paling mau jemput calon mantu," celetuk Marvin.


Alisha menatap Arkan.


"Kamu mau jemput Kamila?" tanyanya.


"Menurut Bunda?" kata Arkan sambil terkekeh.


"Ditanya malah balik tanya, mau dipotong uang jajan?" ancam Alisha.


Arkan tertawa kecil lalu mencium pipi Alisha.


"Kan pacar aku Cuma Kamila aja, Bund. Masa jemput yang lain," ujar Arkan.


"Awas kamu, Kamila itu anak baik-baik. Jangan aneh-aneh. Jangan berani nyakitin dia. Urusannya sama Bunda," kata Alisha.


Arkan hanya bisa menepuk dahinya.


"Yang anak Bunda itu aku atau Kamila, sih? Kok aku di sini berasa jadi anak tiri ya?" kata Arkan.


"Kamila! Kamu anak tiri!" jawab Alisha kesal.


"Ih Bunda jahat deh, Arkan gak like!"


"Udah sana berangkat, hati-hati di jalan. Jangan kebut-kebutan!" tutur Alisha.


"Iyah Bunda, Kean sama Sean masih di atas, nanti minta tolong bilangin yah Bund aku mau jemput bini dulu," kata Arkan menyalami tangan Alisha lalu Marvin.


"Bini! Bini! Sekolah dulu yang bener!"


Marvin hanya bisa tertawa geli mendengar perdebatan ibu dan anak itu.


Arkan benar-benar menjemput Kamila. Jika biasanya ia hanya menunggu Kamila keluar, kali ini ia dengan berani langsung mengetuk pintu rumah.


"Cari siapa?" tanya Laras ketus saat melihat Arkan, Kebetulan wanita itu yang membuka pintu.


"Cari Kamila lah masa cari anaknya Tante!" jawab Arkan.


"Kamila gak ada," jawab Laras.

__ADS_1


"Siapa Mah?"


Belum sempat Arkan menjawab Laras, Reynald keluar yang memang akan berangkat ke kantor. Dan saat melihat Arkan, ia pun langsung tersenyum hangat.


"Eh, Arkan. Mau jemput Kamila, ya? Mah, tolong panggilin Kamila yah, biar Arkan masuk dulu," kata Reynald.


Lelaki itu langsung merangkul Arkan dan membawanya masuk ke ruang tamu.


"Satu kosong Tante!" ujar Arkan saat melewati Laras.


Arkan masuk ke dalam dengan smirknya, Laras hanya menatapnya sinis. Tetapi, wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa selain


memanggil Kamila.


"Om senang sekali ternyata kamu adalah anaknya Pak Marvin. Titip Kamila loh, Nak Arkan," kata Reynald.


"Kalo sama saya Kamila selalu aman. Om jangan khawatir," jawab Arkan.


Kedua lelaki beda generasi itu pun asik berbincang-bincang membahas pekerjaan. Arkan sudah mengetahui seluk beluk perusahaan sang ayah.


Karena memang dia pada dasarnya adalah anak yang pintar maka Arkan pun bisa nyambung saat berbicara dengan Reymald.


"Heh, tuh pacar kamu dateng. Dasar gatel," kata Laras kepada Kamila.


Tentu saja dengan suara pelan karena takut ketahuan oleh Reynald.


Kamila hanya mengerutkan dahi, tetapi ia pun melangkah turun tanpa menjawab sepatah kata pun.


Sementara Livia yang tahu ada Arkan


hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal.


Mereka bahkan tengah membahas perusahaan, Kamila terkejut karena Arkan paham dengan perusahaan keluarganya.


"Mila, kok kamu gak bilang Arkan ini anaknya Pak Marvin? Papah kan lagi mengajukan kerjasama dengan perusahaan Ayahnya Arkan," kata Reynald.


Kamila mengerutkan dahinya bingung sambil menatap Arkan.


"Perusahaan Pratama Pah yang projek besar itu?" saut Laras.


Reynald menganggukan kepalanya.


"Iyah Mah. Ini Arkan penerusnya nanti!"


Laras juga tak kalah terkejut karena dia juga tau perusahaan itu adalah gabungan dari dua perusahaan raksasa.


"Kok lo gak bilang kemaren?" kata Kamila kepada Arkan.


"Urusan cowo, cewe gak boleh kepo," kata Arkan.


Reynald mengelus kepala putrinya dengan lembut.


"Papah berharap kamu baik-baik dengan Arkan, kalo bisa sampai menikah," ujar Reynald sambil tertawa.


"Jadi boleh ya Om, kalo nanti selesai sekolah sava lamar Kamila?" tanya Arkan usil sambil melirik Kamila.

__ADS_1


Reynald langsung tertawa senang mendengar perkataan Arkan.


"Ya jelas boleh, dong. Kamu boleh banget ngelamar Kamila. Om malah seneng, setuju kok. Om memberi restu. Kamu jaga Kamila


baik-baik, ya. Dia ini anak kandung om, setelah Mamahnya meninggal, Kamila lebih banyak diem," ujar Reynald ada nada sedih di dalamnya.


Arkan menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum.


"Saya pasti jaga Kamila baik-baik, Om. Ayah dan Bunda juga sudah setuju kok dengan hubungan kami," kata Arkan.


"Om senang mendengarnya!" "Ya udah, kita berangkat sekarang, nanti terlambat," kata


Kamila kepada Arkan.


Laras dan Livia yang mendengar percakapan itu hanya bisa mendelik iri. Arkan tersenyum, ia merasa sangat senang, nasib perusahaan Reynald ada di tangan perusahaan Marvin. Itu membuat Arkan lebih mudah memberi hukuman pada Laras nantinya.


Arkan tersenyum licik kepada Laras, sekarang kendali keluarga Kamila ada di tangannya.


"Kami pamit dulu ya, Om," kata Arkan.


Arkan dan Kamila pun menyalami Reynald dengan sopan. Namun, Arkan tidak mau menyalami Laras. la hanya melewati wanita itu dengan wajah datar.


"Hati-hati di jalan yah," kata Reynald melepas kepergian Arkan dan Kamila.


Kamila merasa sangat senang sekali. Wajahnya bersemu merah saat ia berada di boncengan motor Arkan.


"Tumben banget lo jemput gue ke rumah? Pake acara masuk ke dalem segala. Gue kaget kok lo bisa dekat sama Papah," kata Kamila.


"Kemaren kan udah bilang gue ke kantor, nah Om Reynald ada di sana," jawab Arkan.


"Terus kenapa tumben jemput gue?" tanya Kamila.


"Kangen!" Wajah Kamila kembali memerah.


"Auww.." Kamila mencubit lengan Arkan sehingga pemuda itu mengaduh kesakitan.


"Sakit Mil!" ujar Arkan.


Kamila terkekeh dia mengusap lengan Arkan yang tadi dia cubit.


"Nah gitu kek di elus-elus, ini di cubit!"


"Oiya Mil, itu si Nenek sihir masih sering mukulin lo?" tanya Arkan.


"Enggak! Eh tapi aneh deh!"


"Aneh gimana?" tanya Arkan.


Kamila mendekatkan kepalanya ke pundak Arkan. Arkan memegang kepala Kamila agar dagunya bersandar di pundaknya. Kamila tersenyum.


"Aneh gimana Sayang, ih ditanyain juga?" kata Arkan lagi.


"Oh iyah, kemaren kan gue pulang nih pas buka pintu Tante Laras pegang sapu kayak mau mukul gue. Gue pikir dia mau mukul


tapi gak jadi gitu. Dia malah ngusir gue ke kamar gitu aja," adu Kamila kepada Arkan.

__ADS_1


Arkan hanya tertawa kecil dia mengusap kepala kamila yang ada di pundaknya.


"Ya iyalah gak berani, sekali lagi dia nyakitin lo! Bakal ada satu kali goresan lagi yang lebih gumamnya dalam hati. menyakitkan!"


__ADS_2