Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
67. Perdebatan Antara Ayah Dan Anak


__ADS_3

"Aku udah tahap menginput semua data, klien dan kolega perusahaan Reynald, dan aku akan mengancam Laras!"


Marvin membelakan matanya tidak percaya.


"Arkan kamu neror Laras?"


Arkan menganggukan kepalanya.


"Apa kamu gila? Kamu udah seperti psycopath yang terobsesi dengan Kamila. Kenapa kamu berani buat keputusan sebesar ini tanpa minta izin kepada Ayah dulu Arkan? Minimal kamu ngomong sama Ayah jangan main hajar begini!"


Marvin memijit pelipisnya yang terasa pusing. Kelakuan putranya ini benar-benar di luar nalar.


"Aku gak terobsesi dengan Kamila Ayah, aku bukan psycopath!" jawab Arkan tegas.


"Terserah kamu, sekarang kembalikan data-data itu kepada Reynald, Ayah akan membatalkan investasi Ayah di perusahaannya. Ayah gak mau rugi berurusan dengan orang licik seperti Reynald," kata Marvin.


"Enggak! Aku gak akan balikin data datanya sampai misi aku selesai."


Arkan tidak mau, dia sudah berjalan sejauh ini dan hal itu tidaklah mudah.


"Kembalikan Arkan!" Suara Marvin sudah mulai meninggi.


"Enggak! Aku gak mau, jangan paksa aku?!"


"Arkan kamu harus kembalikan datanya, masalah Kamila nanti kita pikirkan caranya untuk menolong dia" kata Marvin berusaha bernegosiasi dengan Putranya itu.


Tetapi, Arkan tetap menggelengkan kepalanya.


"Enggak Ayah! Aku bisa aja balikin data itu, tapi sampai kapan pun aku gak akan balikin data itu, biar aja biar sekalian bangkrut perusahaannya kalo Ayah gak jadi


investasi ke sana!" ujarnya.


BRAKH!


Marvin menggebrak meja, putranya itu sudah tidak bisa di ajak bicara pelan lagi,


"Kembalikan Arkan atau-"


"Atau apa? Ayah mau ngancem aku?"


"Kalo kamu gak mau mengembalikannya, Ayah gak akan merestui hubungan kamu dengan Kamila!"


Duar....


Bagai mendapat musibah dadakan saat Marvin membahas restu, Arkan terkejut dengan ancaman sang Ayah.


"Gak bisa begitu! Ayah gak fair kalo gitu!"


Anak dan Ayah itu terus berdebat sengit mempertahankan ego masing-masing.

__ADS_1


"Fair! Kamu yang sudah salah jalan Arkan! Ayah gak pernah ngajarin kamu untuk berbuat seperti ini! Ayah minta kembalikan datanya!" ujar Marvin penuh penekanan.


"Enggak akan Ayah!"


"KEMBALIKAN ARKAN?!"


Tangan Marvin terangkat untuk menampar Arkan.


Arkan menahan tangan itu, dengan tatapan sengitnya. Marvin terkejut dengan perlakuan Arkan. Alisha yang sedari tadi


mendengar perdebatan itu lalu masuk ke dalam ruangan Marvin dia terkejut karena melihat Marvin yang mau menampar Arkan.


"Ayah! Arkan!"


Alisha berusaha menangahi dia tidak mau sampai mereka menjaga jarak akibat masalah ini. Arkan yang melihat ibunya lantas langsung melepas tangan Marvin.


"Apa yang kalian lakukan, anak sama Ayah bertengkar itu gak lucu! Kamila itu anak baik, sejak ada Kamila, Arkan banyak berubah Ayah! Kamila itu membawa dampak positif," ujar Alisha kepada suaminya itu.


"Iya, tapi bukan dengan merugikan orang lain juga, Bund. Apa salah nya sih rembukan dulu sama kita soal masalah begini. Jangan seenak udel sendiri aja," kata Marvin dengan kesal.


Alisha memang lebih sering mengomel kepada Arkan, tapi jika Marvin yang sudah marah itu berarti masalah nya sudah besar. Marvin dan Arkan itu sama keras nya, kedua nya akan selalu berambisi untuk


mendapatkan apa yang mereka mau


walaupun dengan cara-cara yang tidak banyak orang pikirkan.


Alisha terdiam dia memikirkan kata-kata Marvin, dia membenarkan ucapan suami nya, dia melihat kepada putra nya yang masih diam.


berusaha menenangkan sang anak.


"Ga bisa Bunda, Arkan sudabh berjalan sejauh ini dan itu gak mudah" kata Arkan.


Alisha menggelengkan kepala nya dia menangkup wajah putra nya itu.


" Arkan, Ayah sedang emosi, kembalikan saja data nya. Bunda gak mau Ayah dan anak bertengkar apalagi sampai berjauhan. Bunda mohon sama kamu Sayang!"


Alisha tau anak dan Ayah itu sama-sama keras kepala, kali ini Alisha harus. merayu sang anak. Arkan memegang tangan Alisha


yang berada di pipinya lalu Arkan menggelengkan kepala nya.


"Enggak Bund, jangan memohon kepada


Arkan. Bunda itu malaikat gak pantes


mohon-mohon sama Arkan, Arkan minta maaf, kali ini gak bisa ngikutin kemauan Bunda," jawab Arkan sendu dia tetap pada pendirian nya.


"Tuh kan liat anak kamu itu Bund makin hari makin-makin kelakuan nya!" saut Marvin dengan emosi.


Arkan menatap Marvin sengit, Arkan langsung pergi begitu saja dari ruangan Marvin dengan emosi yang tidak stabil.

__ADS_1


"Arkan!" panggil Alisha.


Arkan berjalan meuju meja makan, Kean dan Sean yang sedang makan terkejut saat Arkan menyambar tas nya dan pergi begitu


saja. Kean dan Sean bukan tidak mendengar perdebatan Marvin dan Arkan.


Apalagi Marvin mengancam tentang hubungan nya dengan Kamila itu semakin membuat Arkan emosi.


"Arkan!"


Arkan tidak menggubris panggilan ibu nya.


"Tante ada apa?" tanya Kean berusaha berpura-pura tidak tau.


"Arkan dan Ayah nya bertengkar!" jawab Alisha.


"Kean, Sean! Tante minta tolong, kalian jaga Arkan ya. Jangan sampai anak itu nekad," kata Alisha kepada Kean dan Sean.


"Iya, Tante. Kami ngerti," jawab Kean.


Mereka pun segera berpamitan dan menyusul Arkan. Mereka pun segera menyusul langkah Arkan setelah Alisha


meminta kedua nya untuk menjaga


Arkan.


Kean dan Sean kevwalahan mengimbangi laju motor Arkan.


Terlihat Arkan membawa motornya seperti orang kesetanan.


"Wooy Arkan! Lo belum mau mati kan! Turunin kecepatan motor lo!" Teriak Kean kepada Arkan saat pengemudi lain mulai memaki Arkan karena pemuda itu benar-benar ugal-ugalan.


Tetapi, Arkan seolah tuli. Ia tidak mau mengikuti apa kata Kean. Kean dan Sean pun terpaksa mengikuti Arkan. Mereka takut Arkan kenapa-kenapa, pemuda itu jika sedang emosi hal buruk saja bisa dia


lakukan.


Arkan mengemudikan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, rahangnya mengeras mengingat Ayah nya tidak akan memberi restu kepada Arkan dan Kamila.


Arkan masuk ke dalam parkiran sekolah dia memejamkan mata nya menahan semua rasa kesalnya, Arkan memukul motor nya kesal.


"Arghh sialan!"


"Arkan," panggil Kean.


Kean turun dari motor dia mendekati Arkan tapi pemuda itu langsung pergi begitu saja.


Kamila yang sedang bertugas osis tersenyum saat melihat Arkan.


***

__ADS_1


"Pagi!" Sapa Kamila dengan riang.


Tetapi, Arkan pergi begitu saja menjawab apa yang dikatakan oleh Kamila, tidak ada sapaan pagi juga. Wajah Kamila berubah sedih sehingga Kean langsung menghampiri gadis itu.


__ADS_2