
"Kamila, kamu harusnya merasa beruntung punya pacar sesayang itu sama kamu, dan keluarganya menerima kamu! Bicarakan dengan dia saya yakin dia akan membantu
kamu!" ujar Adelia lagi.
Kamila mendengarkan setiap saran yang dokter Adelia katakan. Hingga tak terasa dia sudah menghabiskan waktu tiga jam
bersama dengan Adelia.
"Berapa biayanya, Dok?" Tanya Kamila.
Dokter Adelia menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah, ini nomor telepon saya. Kapan pun kamu butuh teman untuk bercerita, kamu bisa hubungi saya. Anggap saya sebagai kakak perempuan kamu. Saya juga tidak punya adik perempuan," kata dokter
cantik berkulit kuning Langsat itu sambil tersenyum. Kamila meneteskan air mata haru. Begitu banyak orang yang baik
mengelilingi hidupnya. Tetapi, kenapa ayahnya sendiri tidak bisa mencintainya dia? Kamila kembali merasa terluka.
"Inget pesan saya tadi, ya. Jangan memendam semua sendiri. Kejujuran adalah yang terbaik. Kamu harus jujur kepada kekasih kamu," kata Adelia.
"Dokter yakin?" tanya Kamila.
"Saya yakin, semua akan berjalan dengan baik!" jawab Adelia.
Kamila menghembuskan nafasnya, "Baik Dok saya akan mencoba bicara dengannya, semoga saja dia mau membantu saya."
"Aamin!"
"Usia Dokter berapa?" tanya Kamila.
"Saya sudah tiga puluh ke atas!" jawabnya sambil tersenyum sangat manis.
"Wah Dokter masih keliatan muda, dokter sama seperti ibunya pacar saya dia sangat cantik! Saya pikir dokter masih dua puluh tujuh tahun!"
Adelia tertawa, "Apa saya terlihat semuda itu?" tanyanya.
Kamila menganggukan kepalanya, "Sangat Dok... Dokter terima kasih sudah mau mendengarkan saya!" ujar Kamila.
"Sama-sama! Boleh saya liat tangan kamu?" tanya Adelia.
Kamila menunjukan tangannya, dokter itu tersenyum dia mengusap tangan Kamila.
"Bersih, jangan sakiti diri kamu yah! Kalo kamu butuh tempat cerita saya siap mendengarkan nanti kita bertemu lagi."
Kamila menganggukan kepalanya, "Terima kasih Dok kalo begitu saya permisi!"
__ADS_1
"Sama-sama, kalo ke sini lagi tangannya harus tetap bersih yah, Kamila! Masih banyak orang yang menyayangi kamu!"
Sementara itu, Arkan saat ini sedang kebingungan. Tadi, ia sempat ke rumah Kamila dan nekad memanjat ke balkon, tetapi Kamila tidak ada.
la pun mencari Kamila ke danau, gadis itu tidak ada. Arkan benar-benar pusing. la pun
memutuskan untuk kembali dulu ke sekolah dan meminta bantuan teman temannya. Sementara ponsel Kamila sendiri tidak bisa dihubungi.
"Ketemu?" tanya Kean saat melihat Arkan yang memarkir motornya di dekat gerbang sekolah.
"Engga, tadi gue nekat ke rumahnya. Tapi, dia gak ada di rumah. Gue cari ke danau gak ada juga. Gue gak tau harus ke mana lagi cari dia. Dia kayak ilang aja gitu," jawab Arkan putus asa.
Daren menepuk bahu sahabatnya itu, "Kita cari sama-sama. Ayo kita bantuin si Arkan cari Kamila!"
Bastian dan yang lain segera menganggukkan kepalanya. Mereka pun berkendara bersama untuk mencari Kamila.
Arkan berharap Kamila akan baik-baik saja tidak melakukan hal yang akan membuat Arkan sangat marah.
Arkan mencari Kamila ke mana-mana belum juga ketemu. Namun, saat di dekat lampu merah Sean melihat Kamila. la pun
segera berteriak memanggil Arkan.
"Baaang! Itu Kamila, bukan?" teriaknya.
Melihat jika gadis pujaannya itu sedang berjalan di trotoar, Arkan pun segera putar balik. la pun langsung mendekati Kamila. Dia memarkirkan motornya di pinggir jalan.
Kamila terkejut, "Heh, main peluk-peluk aja, ini di jalan tau malu!" kata Kamila sambil mendorong tubuh Arkan.
Gadis itu benar-benar terkejut karena tiba-tiba Arkan datang dan langsung memeluknya.
"Akhirnya Lo ketemu juga Mil. Kita udah cariin Lo dari tadi," kata Bastian.
"Kalian bolos?"
"Cuma si Arkan yang kabur jam istirahat buat cari Lo," jawab Daren.
Kamila menghela napas panjang, ia merasa lega. Tidak enak jika sampai semua teman Arkan bolos sekolah hanya karena dirinya.
"Yaudah gue sama yang lain balik duluan, bicarain baik-baik jangan pake emosi!" kata Daren sambil menepuk bahu Arkan.
Arkan menganggukan kepalanya, ia mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah dan memberikannya kepada Daren.
"Ni buat kalian makan siang, gue cabut ya!" Kata Arkan.
Dia pun segera membawa Kamila pergi sementara yang lain pergi ke base camp Gravendal.
__ADS_1
"Lo abis dari mana sih? Kenapa gue chat ga dibalas? Terakhir hape Lo malah mati," kata Arkan sedikit kesal.
"Emm... tadi gue ke makam Mamah," jawab Kamila singkat.
Arkan menghela napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Entah mengapa ia sangat yakin jika Kamila sedang berdusta kepadanya dan menutupi sesuatu.
"Kenapa lo ga bilang sama gue kalo mau ke makam nyokap Lo? Gue kan bisa nganterin," kata Arkan.
"Gue cuma lagi pengen sendiri aja, dan gue ga mau Lo bolos terus," jawab Kamila.
"Mil, gue cowo lo. Kalo ada apa-apa bilang, gue pasti bakalan bantu lo sebisa gue," kata Arkan.
"Kalo gue bilang Bokap gue jahat, lo percaya gak?" tanya Kamila ragu.
"Kok lo bisa bilang dia jahat?" Arkan balik bertanya.
"Ya gue kan cum-"
Kruuuk!
Arkan tertawa kecil saat mendengar bunyi perut Kamila. la sangat yakin jika Kamila belum makan.
"Laper Yang?" tanya Arkan.
Kamila menganggukan kepalanya.
"Kita makan dulu, ya," kata Arkan.
Di taman Arkan mngajak Kamila makan bakso. Arkan melihat mata Kamila membengkak. Dia mengusap mata Kamila perlahan.
"Mil., Lo cerita sama gue ada apa? Gue yakin kalo sekarang ini Lo lagi nyembunyin sesuatu dari gue."
"Gak ada, Arkan. Gue cuman sedih inget almarhum Mamah gue aja. Gue lagi berpikir kalo aja Mamah masih ada kayaknya gue gak akan sesedih ini. Bener kata orang-orang, lebih enak ga punya bapak daripada ga punya ibu," kata Kamila.
Arkan menghela napas panjang, ia merasa was-was. Kamila saat ini tampak sangat putus asa. Apa sebaiknya ia menikahi Kamila saja?
"Jangan bilang gitu, Mil. Kan Lo punya gue, ada bunda gue juga yang sayang banget sama Lo. Jangan sedih gini. Udah baksonya dimakan dulu," kata Arkan.
Kamila yang memang kelaparan pun langsung memakan baksonya. Sementara Arkan berpikir dengan keras.
"Mau ke rumah ketemu sama Bunda?" tanya Arkan. Tetapi, Kamila menggelengkan kepalanya.
"Kita jalan-jalan aja, ya?" kata Kamila.
Arkan pun mengangguk dan mengikuti keinginan kekasihnya itu. Mereka pun berjalan-jalan hingga waktu menunjukkan pukul 8 malam.
__ADS_1
Sebelum mengantarkan Kamila pulang, Arkan kembali mengajak Kamila makan. Kali ini ia mengajak Kamila makan nasi goreng kambing. Kamila tanpa banyak bicara memakan nasinya.