Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
33. Semakin Curiga


__ADS_3

Plak...


Kamila spontan memukul pundak Arkan,


"Siapa juga yang pacaran terus nikah sama lo!"


"Yaudah tunangan aja gimana? Kalo lo minta nikah sekarang nanti gue kena keplak Bunda!"


"Bacot Arkan! Gue gak mau!" Kamila menempelkan plester di dahi Arkan.


"Gue bukan cowo romantis yang ada di drakor yang sering lo tonton Mil, tapi kalo ada yang berani nyentuh lo seujung kuku aja gue bakalan bales dia lebih dari sepuluh


kali lipat!" kata Arkan.


Kegiatan Kamila terhenti seketika, dia menatap wajah Arkan, mencari kebohongan di mata pemuda tengil itu namun nihil Arkan sangat bersungguh sungguh mengatakan nya.


"Apa sih Arkan!" kata Kamila.


"Gue serius Kamila!"


Jantung Kamila sudah tidak aman, detaknya sudah tidak beraturan apa dia juga mulai menyukai Arkan.


"Lo bilang sama gue siapa yang udah nyakitin lo, gue pastiin orang itu bakalan sujud buat minta maaf sama lo!" kata Arkan dengan serius.


Senyum Kamila mengembang, Gue baik-baik aja, kalo suatu saat nanti lo tau tentang gue.


"gue mohon jangan gegabah jangan ambil keputusan sendiri!" kata Kamila.


Dia mengobati sudut bibir Arkan sambil tersenyum, baiklah sekarang Kamila tidak mau menahan apa pun tentang perasaannya, Arkan sudah sering berkorban nyawa untuknya.


"Kenapa senyum begitu?" tanya Arkan.


Kamila menggelengkan kepalanya.


"Gak papa, emang kenapa? Senyum salah marah-marah salah!" kata Kamila sedikit ketus.


Arkan terkekeh


"Lo cantik kalo senyum begitu!"


"Gak baper gue Arkan abis itu lo pasti bilang, kalo di liat dari atas monas!"


Arkan tertawa terpingkal-pingkal mendengar gerutuan Kamila.


"Diem Arkan, gue lagi bersihin lukanya!" kata Kamila.


Arkan menghentikan tawanya dia tersenyum melihat wajah Kamila yang dekat dengannya. Kamila melihat ke samping pada saat itulah Kamila melihat betapa akrabnya Daren dengan anak-anak


panti asuhan itu.


"Daren itu suka sama anak-anak ya gue nggak nyangka. Padahal di sekolah dia cool banget," kata Kamila masih sambil mengobati luka-luka Arkan.


Arkan tersenyum.

__ADS_1


"Daren itu yatim piatu, dia gak punya orang tua mereka kecelakaan, Daren itu dari panti asuhan. Orang tuanya yang sekarang itu orang tua angkat, tapi mereka sering bolak balik luar negeri jadi Daren sering ditinggal katanya gak mau ikut. Itu kenapa dia sering


nginep di rumah gue atau basecamp


karena dia sendiri!"


Kamila mengangguk-anggukan kepalanya.


"Pantes sih dia kaku banget!"


"Eh jangan salah Mil dia itu pinter jadi dia sering bantu bokapnya buat benerin sistem IT kalo ada kesalahan, orang tuanya itu selalu kirim uang setiap bulan buat biaya


hidupnya Daren," kata Arkan menjelaskan.


Kamila terdiam, ternyata di balik ke berandalan dan kebandelan teman temannya Arkan mereka memiliki kisah sendiri-sendiri.


"Udah selesai, jangan kena air dulu deh nanti basah lagi!"


Setelah lukanya diobati, Arkan pun mengambil kapas ia hendak mengobati luka Kamila. Namun pada saat ia hendak mengusap bibir Kamila yang luka Gadis itu menjauhkan wajahnya.


"Enggak usah. Gue nggak apa-apa cuman kena tampar doang kok tadi," kata Kamila.


Tetapi, Arkan tanpa sengaja melihat ada luka yang lain di pipi Kamila. Pemuda itu mengerutkan dahinya.


"Perasaan gue selalu liat ada bekas luka di tubuh lo Mil, kemaren tangan terus kepala lo sekarang di pipi, lo habis ngapain sih?" tanya Arkan.


"Enggak, gue cuman jatoh kok," jawab Kamila gugup.


"Jatoh? Nggak mungkin jatoh terusterusan. Kemarin lo bilang kepentok pintu, terus jatoh. Masa setiap hari lo luka-luka terus?


Kamila membeku dia benar-benar gugup apalagi Arkan tadi sudah berkata akan membalas siapa pun yang menyakiti Kamila.


"Mil," panggil Arkan.


"Iyah," jawab Kamila.


"Lo di siksa sama Ibu tiri lo?" tanya Arkan.


Kamila hanya diam dia bingung harus menjawab apa.


"Kamila," panggil Arkan dengan nada tegasnya.


Krukkk.. Krukk..


Kamila menunjukan cengirannya saat perutnya berbunyi.


"Laper," keluh Kamila kepada Arkan.


Arkan menghela nafasnya dia bangkit dari duduknya.


"Ayo cari makan!" ajak Arkan.


Kamila menganggukan kepalanya dia bernafas lega karena Arkan tidak lanjut bertanya.

__ADS_1


"Jangan seneng dulu Mi,, gue gak lanjut nanya karena lo laper. Gue gak mau lo kelaperan, tapi kalo sampe gue tau siapa yang udah buat lo begini, lo udah liat kan gue aslinya gimana?" bisik Arkan di telinga Kamila membuat bulu kuduk Kamila berdiri


merinding.


Kamila mematung dia benar-benar terkejut dengan ancaman Arkan.


"Kamila ayo cari makan, lo mau mati kelaperan! Gue gak mau mati belum kawin terus nikah sama lo?!" teriak Arkan.


Kamila memutar bola matanya malas pemuda itu memang berubah-ubah. Kamila mengejar langkah Arkan.


"Kawin dulu kan, nikahnya nanti" kata Arkan.


"Auwww sakit Mil!" Arkan mengaduh kesakitan saat Kamila mencubit pinggangnya.


"Lagian, gak usah mulai deh!"


Arkan terkekeh melihat wajah Kamila.


"Gue suka liat lo marah-marah!" kata Arkan sambil mencolek dagu Kamila lalu berlari


meninggalkan Kamila.


"Arkan! Gila lo?!"


"Iyah Mil, I love you juga." jawab Arkan sambil tertawa.


"Arkan sinting! Gak nyambung!"


***


Malamnya Arkan sedang merenung dibalkon rumahnya. Tadi sore ia mendapatkan siraman rohani dari sang Bunda karena Arkan pulang dengan keadaaan babak belur.


Alisha jelas merasa kesal karena lagi-lagi Arkan pulang dalam keadaan babak belur. Tetapi, amarah Alisha sedikit mereda saat Arkan mengatakan jika ia terpaksa baku


hantam karena hendak menyelamatkan Kamila.


Entah mengapa sejak pertama melihat Kamila, Alisha sudah menyukai gadis itu. Terlebih suaminya juga pernah bercerita jika ia pernah mengantarkan Kamila


bersama Arkan.


Arkan duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya sambil merokok. Sementara waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, semua teman Arkan masih bermain PS di kamarnya.


Daren yang melihat Arkan duduk sendirian sambil merokok lantas mendekatinva, dia duduk di kursi. Di antara semua temannya yang lain, Daren memang sahabat Arkan yang paling mengerti dan paling peka


dengan yang lainnya.


"Kenapa lo?" tanya Daren kepada Arkan.


"Enggak ada apa-apa," jawab Arkan tanpa menatap Daren.


"Halah. lo mau boong sama gue. Lo nggak akan bisa boongin gue," kata Daren.


Arkan hanya terkekeh, ia memang dekat sekali dengan Daren. Dibandingkan dengan yang lain memang Daren yang paling bisa ia ajak bicara.

__ADS_1


Arkan menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Gue bingung sama si Kamila. Gue sering banget liat bekas luka di muka sama tangan dia. Dia bilang jatoh, tapi masa jatoh tiap hari. Gue curiga dia disiksa sama nyokap tirinya. Lagian aneh banget, si Livia kan tiap hari bawa motor, kenapa mereka gak bareng aja coba?" kata Arkan.


__ADS_2