
"Engak Arkan jangan Arkan, gue mohon. Biar dia jahat kayak gitu, dia tetap ayah kandung gue," kata Kamila sambil bersimpuh memeluk kaki Arkan.
"Berdiri Kamila lo gak seharusnya kayak gini!" Arkan menarik lengan Kamila agar gadis itu bangkit.
"Gak usah sok belain saya! Kamu itu gak pernah saya anggap anak. Asal kamu tau, ibu kamu meninggal karena nyelamatin kamu waktu bayi. Dulu, saya gak pernah mau punya anak, tapi kamu malah lahir. Jadi, saya mau buang kamu ke sungai. Dan ibu kamu mau sok jadi pahlawan nolong kamu. Jadi, dia berhasil selamatin kamu tapi dia kebawa arus."
"Waktu itu saya mau buang kamu lagi, tapi kakek kamu datang. Jadi, saya pura-pura sedih sehingga semua aset jatuh ke tangan kamu. Demi harta itu saya rawat kamu. Karena jika tidak mana bisa saya kuasai harta yang ada selama ini!" kata Reynald membongkar semuanya.
Bagai disambar petir Kamila terdiam dia yang awalnya ingin bangkit kembali terduduk lemas lagi, sudah tidak ada air mata kali ini. Dia benar-benar terkejut dengan semua ini bagitu juga Arkan.
Arkan melihat Kamila melepas pegangannya di benar-benar merasa syok.
Arkan yang melihat itu langsung mengepalkan tangannya dia kembali. melihat ke arah Reynald.
Bugh!
Arkan kembali memukuli Reynald dia benar-benar sangat marah.
"Biadap! Lo manusia gila! Bahkan di saat gue mau bunuh lo aja, Kamila masih ngebela lo tapi apa jawaban lo! Udah bau tanah masih banyak tingkah?
"Arkan udah Arkan!" Kamila menarik Arkan agar berhenti memukuli Reynald.
"Jangan nangis Kamila, sekarang lo pilih nih tua bangka bau tanah mau gue kirim ke neraka pake cara apa?!"
Arkan benar-benar seperti kesetanan sudah tidak sadar siapa dirinya.
Kamila diam saja dia terus menangis, Arkan geram sekali.
"Kelamaan Mil, sekarang gue lempar pisau ini ke jantungnya gue pastiin tepat ke jantungnya sekalian pistolnya biar gak mubazir gue bawa-bawa?!"
Saat Arkan hendak melempar pisau ke arah jantung Reynald dengan tangan satu lagi yang akan menekan pelatuk pistol.
"ARGHHH!" teriak Arkan. Tiba-tiba saja ada benda tajam menusuk di lengannya.
Arkan merasa tubuhnya seketika lemas ternyata Rara membawa dokter Ari dan dokter Ari menyuntikan obat penenang kepada Arkan.
Pisau dan pistol yang Arkan pegang jatuh, Arkan terduduk lemas.
__ADS_1
"Arkan!" Kamila memegang Arkan yang lunglai, Kamila kembali menangis dan memeluk Arkan yang berada di lantai. Arkan tersenyum dia mengusap kepala Kamila.
"Jangan nangis Mil!" Arkan mengusap air mata Kamila.
"Arkan gue yang minta maaf, lo tenang yah gak ada yang perlu lo bales lagi gue baik-baik aja!"
"Gue takut lo marah lagi Arkan, jangan tinggalin gue!" Kamila memeluk Arkan.
"Ssstttt cantiknya Arkan gak boleh nangis!" Arkan kembali mengusap wajah Kamila.
"Lo nakal Mil gue harus ngehukum lo, tapi sekarang gue lemes banget mau tidur bentar nanti bangun baru gue kasih hukuman buat lo karena udah bohong sama gue!"
"Maaf."
...****************...
Setelah Arkan pingsan terlihat Kamila masih terus memeluk Arkan dia mengusap wajah kekasihnya itu, kata-kata Arkan yang ingin menghukum terus terngiang-ngiang.
Kamila menciumi Arkan dia takut nanti saat Arkan bangun dia akan marah kepada
Tak lama kemudian, polisi pun datang dan mengamankan Reynald juga Laras. Rupanya, sejak dalam perjalanan Marvin sudah menghubungi polisi yang menjadi kenalannya sehingga para polisi datang tepat pada waktunya sesaat setelah Arkan tidak sadarkan diri.
Semua bukti sudah Marvin berikan. Termasuk rekaman cctv yang diberikan Daren.
"Tolong diurus orang ini, Mas Agung. Dia sudah menyiksa putri kandungnya sendiri dan berusaha untuk memberikan racun kepada saya dan istri saya," kata Marvin kepada Kompol Agung Subrata.
"Siap, Pak. Kami akan segera memproses keduanya."
"Dia juga yang menyebabkan istrinya meninggal dunia karena percobaan pembunuhan terhadap putrinya yang masih bayi tujuh belas tahun lalu, Pak. Saya memiliki videonya, tadi saya sempat merekam pengakuannya," kata Daren kepada Agung.
"Baik untuk proses selanjutnya nanti akan kami kabari lagi!"
***
Arkan membuka matanya dia terkejut karena tangannya dikat di kepala ranjang. Tak berapa lama Marvin datang membawa air. Arkan menatap sang ayah dengan tatapan tajam penuh rasa kesal.
"Ayah. Kenapa aku diiket kayak gini sih, aku mau bikin perhitungan sam bajingan itu!" Seru Arkan.
__ADS_1
Marvin menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.
"Ayah gak bisa, kamu udah keterlaluan Arkan kamu gelap mata, kamu emang terlihat seperti jagoan, tapi Ayah gak bangga sama sekali, Ayah ngajarin kamu buat marah sewajarnya aja bukan sampe mau bunuh orang gitu. Kamu boleh kesel, marah, kecewa tapi inget semua yang berlebihan itu gak baik! Ayah gak mau tau ini terakhir dan pertama kalinya Ayah liat kamu bersikap begini?!" tegas Marvin kepada putra sulungnya itu.
"Dia jahat sama Kamila Ayah, Kamila itu sama pentingnya kayak Bunda, aku gak bisa diem aja liat orang yang aku sayang di siksa habis-habisan. Sama kayak Ayah yang gak terima kalo ada yang jahatin Bunda!" jawab Arkan tidak mau kalah.
"Arkan sekarang kita hidup di jaman apa? Sekarang udah gak ada hukum rimba. Sekarang ada yang namanya polisi sama penegak hukum. Ayah gak suka kamu main hakim sendii, sebelum bertindak pikirin dulu konsekuensinya!"
Arkan mendengus kesal dia masih emosi jika mengingat Reynald yang menghina Kamila.
"Pistol kamu Ayah sita, Reynald sama Laras udah di penjara. Semua bukti udah Ayah serahin ke polisi, Ayah sudah mengajukan tuntutan dengan pasal percobaan pembunuhan."
Arkan menganggukan kepalanya dia menatap Ayahnya seakan ingin bertanya sesuatu.
"Kamila gimana Ayah?" tanya Arkan.
Marvin tersenyum, "Untuk sementara waktu Kamila akan tinggal di sini sampai dia pulih dari traumanya, kamu jangan macem macem selama Kamila di sini!"
Ceklek...
Tidak lama kemudian pintu terbuka, terlihat Alisha dan Kamila masuk ke dalam kamar sambil membawakan makanan.
Marvin langsung menatap Alisha dan menganggukkan kepalanya. Melihat itu, Marvin pun mengerti, ia segera bangkit dan keluar dari ruangan itu bersama Marvin membiarkan Kamila dan Arkan berdua saja.
"Ar lo baik-baik aja? Ada yang sakit?" tanya Kamila.
"Hati gue sakit, sana pergi. Gue gak mau ketemu sama pembohong yang gak pernah ngehargain gue!" kata Arkan.
Kamila mendekati Arkan, Arkan sama sekali tidak mau melihat Kamila dia sikapnya juga dingin.
"Ar gue bisa jelasin semuanya, tapi gue mohon jangan kayak gini, gue takut Arkan!" kata Kamila.
"Keluar! Gue ga mau denger apa apa lagi dari pembohong kayak Lo! Pergi!" bentak Arkan.
Kamila mendekati Arkan dia memeluk Arkan, Arkan berusaha memberontak tapi sulit karena tangannya di ikat.
"Gue minta maaf, gue sayang sama lo."
__ADS_1