Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
85. Arkan Marah


__ADS_3

Reynald menoleh ke arah putrinya dan mencengkram bahu Kamila dengan keras.


"Papah gak mau tau, nanti malem kamu harus meracuni orang tua Arkan! Buat mereka mati langsung!" teriak Reynald kesal.


"Pah! Sadar Pah! Kamila gak mau sampe kapan pun Mila gak mau ngeracunin mereka, mereka udah baik banget sama Kamila!" jawab Kamila dengan tubuh yang bergetar.


"Kurang ajar! Dasar anak gak tau di untung?!"


PLAK!PLAK!PLAK!


Reynald menampar Kamila menerus. Mata Reynald memerah menahan amarah.


"Pah sakit," lirih Kamila memegangi pipinya yang terasa perih.


Laras dan Livia yang melihat itu sama sekali tidak membantunya.


"Kamu mau lakuin itu atau Papah bunuh kamu?!" tunjuk Reynald tepat di wajah Kamila.


"Bunuh aja, Pah ... bunuh aja aku biar aku ketemu mamah di surga. Aku hidup juga percuma, jadi lebih baik mati di tangan Papah dari pada menghianati Arkan!" teriak Kamila sambil berlinang air mata.


Arkan yang melihat dari cctv emosinya terbakar dia sudah tidak sanggup lagi melihat penderitaan Kamila.


Prak!


Arkan menutup laptopnya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang keras.


Sambil tersenyum smirk, dia memutar pistol yang ada di tangannya. Lalu, dia mengirimi Kamila pesan jika nanti malam Arkan jemput ada acara di rumahnya dan Alisha mau Kamila datang.


Reynald yang melihat ponsel Kamila berbunyi langsung menyambar ponsel itu.


"Tuh, kebetulan banget, dia ajak kamu ke rumahnya. Dandan yang cantik dan jangan lupa bawa racunnya biar sekalian kamu racunin semua keluarga anak itu," kata Reynald.


"Tapi Pah-"


BRAKH!


Tanpa mendengar jawaban Kamila, Reynald pun keluar dari kamar anak gadisnya itu sambil membanting pintu. Kamila hanya bisa menangis sedih karena ulah Reynald.


Kamila ingin sekali melawan, tapi ia tidak berdaya. Rasanya sangat sakit nafas Kamila sudah mau habis.


Malamnya Arkan menjemput Kamila. Arkan terlihat sangat datar tidak ada sapaan manis untuk Kamila.


"Kami pergi dulu, Om," kata Arkan datar kepada Reynald.

__ADS_1


"lya, hati-hati ya, Nak. Kalo menginap juga gak apa-apa," jawab Reynald dengan hangat.


Arkan memaki Reynald dalam hatinya, 'Dasar lblis!"'


"lyah!"


Setelah berpamitan, Arkan langsung membalikkan tubuhnya tanpa menggandeng tangan Kamila, sehingga


gadis itu menyusul dari belakang. Kamila merasa bingung ada apa dengan Arkan. Tidak biasanya Arkan bersikap seperti itu. Arkan biasanya akan langsung menggandeng Kamila.


"Arkan," panggil Kamila.


Arkan menatap Kamila tajam dan itu membuat nyali Kamila menciut.


"Lo ke-kenapa?" tanya Kamila sedikit gugup karena di tatap tajam oleh Arkan.


"Punya otak kan? Pikir aja sendiri," kata Arkan sakrastik.


Mendengar jawaban Arkan yang begitu dingin, Kamila pun tidak bertanya lagi. Kamila berpikir mungkin Arkan sedang tidak bagus moodnya.


Saat mereka sampai di rumah Arkan, Kamila mengerutkan dahinya. Arkan keluar dari mobil tanpa mengatakan apa pun kepada Kamila.


Kamila memaklumi, Kamila keluar dari mobil suasana rumah terlihat sepi, memang ada beberapa motor diparkir di sana. Tetapi, tampak tidak ada banyak orang di dalam.


"Anaknya Bunda datang. Bunda kangen banget sama kamu," kata Alisha.


"Iya, Bunda. Mila juga kangen sama Bunda. Oya, katanya ada acara, tapi kok sepi?" tanya Kamila.


"Acaranya dimulai kalo lo udah dateng, oiya ada yang mau ketemu juga sama lo," seru Arkan dia terlihat membawa sebuah laptop di tangannya.


Kamila hanya mengerutkan dahi. Kamila melihat ke sekeliling dia tidak melihat siapa pun yang tidak dia kenal.


"'Siapa?" tanya Kamila.


"Om Tante, ini Kamila!" kata Arkan.


Dua orang itu mendekati Kamila, Kamila membelakan matanya dia sangat terkejut.


"Do-dokter Adelia?"


Rara dan Adelia itu memang orang yang sama. Rara Adelia, Rara sengaja memakai nama Adelia, karena menurut Rara nama Rara sangat menyakitkan dan itu menyangkut masa lalunya yang amat sangat kelam.


"Gue punya satu kejutan lagi Mil!" Kamila semakin dibuat terkejut saat melihat

__ADS_1


Arkan lalu membuka rekaman cctv tentang Reynald yang mengancam Kamila. Melihat hal itu, Kamila tersentak kaget. Ternyata Arkan sudah tau semuanya.


"Arkan!" ujar Kamila pelan, matanya sudah berkaca-kaca.


"Kenapa Kamila?" lirih Arkan.


Kamila menggelengkan kepalanya.


"Arkan," panggil Kamila lagi. Dia takut Arkan marah kepadanya.


"Jawab gue kenapa Kamila?" Nada bicara Arkan terkesan biasa saja tapi penuh penekanan.


"Ar, gu-gue!"


"KENAPA LO HARUS BOHONG SAMA GUE KAMILA?! UDAH BERAPA KALI GUE BILANG GUE GAK SUKA DIB0HONGIN!" bentak Arkan.


Arkan benar-benar murka kali ini. Dan untuk pertama kalinya Arkan benar-benar membentak Kamila. Dan itu membuat Kamila sedikit memundurkan langkahnya, tangannya bergetar ketakutan.


Kemudian, Arkan menarik paksa tangan Kamila agar mendekat kepadanya Arkan mengambil sesuatu dari saku Kamila dia menunjukan sebuah serbuk.


"Ini! Ini racun Kamila! Kenapa lo bohong?!"


Alisha terkejut saat mendengar kata racun yang dibawa Kamila. Arkan memberikan hasil lab kepada Alisha serta Marvin. Keduanya benar-benar terkejut ternyata memang benar itu adalah racun.


"Itu hasil lab Kamila! Kalo gue gak pasang cctv di kamar lo gue gak akan tau apa-apa, gue merasa jadi orang bodoh yang lo bego-begoin?!" teriak Arkan.


Arkan terus membentak dan memarahi Kamila, emosinya sudah tidak bisa di bendung lagi. Melihat hal itu Alisha langsung menarik tangan Arkan.


"Arkan jangan kayak gini, Kamila ketakutan. Dia begini pasti punya alasan tersendiri," kata Alisha memperingatkan Arkan dia takut putranya lepas kendali.


Wanita itu tidak mau Arkan menjadi lebih marah lagi. Namun, Arkan yang emosi tidak mendengarkan Alisha lagi.


"Apa Bunda?! Belain aja terus, dia salah masih Bunda belain aja! Aku anak Bunda, aku yang selalu berusaha ngelindungin dia tapi apa Bund balesannya! Dia gak pernah mau terbuka sama aku!"


Tatapan Arkan kembali tertuju pada Kamila dia menatap gadis itu tajam, "Gue sayang sama lo Mil! Tapi lo berkali-kali bohongin gue, kalo bukan gue yang cari tau sendiri lo gak bakalan bilang! Lo malah dateng ke psikolog walupun dia Tante gue sendiri! Tapi gue kecewa Kamila?!"


"LO GAK PERNAH NGANGGEP GUE ADA KAMILA?! JADI BUAT APALAGI HUBUNGAN INI KAMILA," bentak Arkan dengan raut wajah marahnya, terlihat urat-urat di leher Arkan bermunculan menandakan pemuda itu sangat marah.


"GUE GAK SUKA DIBOHONGIN KAMILA, KALO DARI AWALLO GAK MAU SAMA GUE LO HARUSNYA GAK USAH TERIMA GUE! ARGHHH!"


Tangan Arkan terangkat dia hendak memukul Kamila tapi langsung Arkan


hempaskan lagi. Marvin terkejut melihat

__ADS_1


emosi putranya. Kamila menutup matanya takut.


__ADS_2