
Arkan baru saja keluar dari kelasnya saat jam istirahat. Arkan keluar bersama teman-temannya menuju rooftop. Seperti biasa, ia dan teman-temannya ingin merokok di atas tanpa ketahuan oleh guru tentu saja.
Saat hendak ke rooftop di lapangan dia melihat semua osis tengah berkumpul, Arkan mengerinyitkan dahinya heran dia melihat Dika sedang menutupi kepala Kamila dengan tangannya karena panas.
Arkan bersidekap dada dia memperhatikan Kamila dengan tajam. Melihat hal itu Darren langsung menyenggol Arkan.
"Sadar Ar sadar, kenapa lo? Sabar deh jangan emosi lagi di sekolah, inget sama janji lo," kata Daren.
Arkan menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sejak malam minggu kemarin ia sudah menahan diri untuk tidak menghajar Dika habis-habisan.
Tetapi, sepertinya pemuda itu selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Setiap kali ada Kamila, ia selalu mencari perhatian dan mendekati Kamila. Padahal, la tahu jika Kamila itu adalah kekasih Arkan.
"Tuh anak kayaknya emang sengaja mau mancing emosi gue deh, malem minggu kemaren dia sengaja banget nahan Kamila di depan toilet, padahal Kamila udah bilang alau dia sama gue. Terus sekarang kalian lihat deh, dia sengaja banget kan cari perhatian si Kamila. Maksudnya tuh anak apa coba? Mau perang sama gue?" kata Arkan dengan emosi.
"Lo tanya baik-baik aja, nggak semua masalah harus diselesaiin pake kekerasan, Ar. Lo kan udah tau kalau selama ini lo sering kelepasan. Tante lo bilang apa sama lo jaga emosi santuy lah Ar," kata Daren.
Arkan menatap sahabatnya dengan tajam, sebenarnya ia juga tidak mau emosi tetapi jika memang seperti sengaja memancing emosinya.
"Weitsss kalem Ar kalem, gue cuman ngingetin yang baik buat lo!" kata Daren.
"Kalo menurut gue selama si kamila gak ngerespon ya biarin aja sih. Harusnya si Dika tau malu. Kecuali kalau cewek lo ikut-ikutan ngerespon baru lonhajar dah. Gue perhatiin Kamila malah risih dideketin sama si Dika," kata Keanb berusaha menenangkan.
Dari kejauhan memang Arkan melihat jika Kamila sedikit risih dengan perlakuan Dika kepadanya. Tetapi, Dika seperti pasukan tidak tahu malu yang. terus mendekati Kamila.
Kamila yang sedang berbincang dengan anggota lainnya merasakan aura-aura yang mencekam. la merasa seperti ada yang memperhatikan dari kejauhan. Dan rupanya Lili yang lebih dahulu menyadari hal itu. Gadis tomboy itu langsung mencolek. Kamila.
"Kak, cowok lo kayaknya lagi ngeliatin ke sini deh. Lihat aja tuh tatapan matanya tajam gitu udah kayak mau makan orang," kata Lily.
Kamila yang tersadar langsung menatap ke arah Arkan dan seketika ia menyadari jika Dika ada di sebelahnya sedang menutupi kepalanya. Kamila pun langsung menjauhkan diri dari Dika.
Kamila membelakan matanya saat melihat Arkan bersama teman-temannya berada di pinggir lapangan.
"Lo sengaja ya, Dik? Dari tadi lo tau kan kalo Arkan berdiri di situ terus lo deketin gue?" kata Kamila.
Dika hanya menggelengkan kepalanya sambil menyeringai.
__ADS_1
"Enggak, yaudah lah Mil gak usah baper. Kita kan dari tadi di sini ngobrol rame-rame bukan berduaan, Cowok lo aja yang posesif, masa ngobrol rame-rame dia cemburu," kata Dika mencoba membantah.
"Bacot lo!" seru Kamila sebal.
Dia sudah tidak peduli dengan imagenya
sebagai osis. Kamila langsung merasa tidak enak, ia pun segera menghampiri Arkan.
"Arkan!" panggil Kamila.
Namun, Arkan malah pergi saat Kamila hendak mendekatinya, sehingga Kamila kembali berteriak memanggil Arkan.
"Arkan! Lo mau ke mana? Gue mau ngomong!" seru Kamila panik.
Gadis itu tidak mau terjadi salah paham antara dirinya dan Arkan. Dia sendiri tadi tidak menyadari kalau Dika berdiri di dekatnya apalagi sampai hendak memegang kepalanya.
Kamila tahu jika Dika sudah sejak lama menyukai dirinya, tetapi Kamila tidak pernah memberi harapan kepada Dika.
Karena memang Kamila tidak pernah memiliki hati atau perasaan kepada sang ketua 0SIS itu.
"Arkan!" Seru Kamila semakin panik saat melihat Arkan tidak juga menoleh ke arahnya.
"Tunggu Ar! Gue bisa jelasin!" kata Kamila berusaha menghentikan langkah Arkan.
"Eitssss.. Mau ke mana Bu Bos!"
Melihat hal itu, teman-teman Arkan langsung mencegah Kamila. Mereka mencekal tangan Kamila, mereka takut
Arkan lepas kendali, dan terjadi keributan.
"Gue mau nyusul Arkan! Lepas!" ketus Kamila.
"Gak usah di kejar Mil dia lagi kesel, lo ke kelas aja sama Bastian bentar lag kayaknya bell, si Arkan pasti bolos. Biar gue sama Kean yang ngomong sama Arkan, lo tau kan sifatnya kayak gimana, lo harus sabar!" kata Daren menahan Kamila untuk mengejar Arkan.
"Arkan marah sama gue, sumpah gue gak tau kalo si Dika begitu di samping gue, gue gak tau kenapa dia begitu padahal dia tau gue udah punya Kan, gue juga udah berusaha ngehindar tapi dia berusaha deketin terus," kata Kamila.
__ADS_1
"Gue tau, gue paham. Tapi si Arkan kan beda orangnya dia suka pake otot. Biar gue bantu lo kasih pengertian ke dia, sekarang lo ke kelas aja atau ke kantin deh sama Bastian gue yang bayarin aman gue traktir! Tapi inget jangan deket-deket sama si Dika takut lo di makan doang sama si Arkan!" katabDaren.
Kamila pun menganggukkan kepalanya dan berlalu bersama Bastian.
Sementara, Daren, Kean dan Sean menyusul Arkan ke rooftop. Tetapi, mereka terkejut karena Arkan santai mengisap rokok dengan santai sambil bersandar di tembok.
"Ngapain lo? Santai amat sendirian di sini?" tanya Daren sambil duduk di samping Arkan.
"Gue gak bisa lama-lama di sana, kalo gue di sana gue gak bisa jamin tuh muka si ketos songong kaga biru-biru kena tonjok gue!" jawab Arkan dengan santai.
"Gila yah lo gue pikir lo ngambek sama Kamila. Kasian tuh cewe, dia panik liat lo pergi gitu aja," ujar Kean sedikit kesal kepada Arkan sedangkan pemuda itu hanya terkekeh.
"Kayaknya lo nggak perlu kepancing deh sama hal-hal kecil yang kayak tadi. Lain kali kalo si Dika deketin Kamila, Lo jalan terus peluk si Kamila depan si Dika. Kalo perlu Lo cium deh sekalian. Biar si Dika tau kalau Kamila itu beneran punya lo, yakecuali kalau urat malunya udah putus dia pasti
bakalan mepet Kamila terus," kata Daren.
"Bener apa yang Bang Daren bilang Bang, kalo lo keliatan berantem sama Kamila si songong itu pasti seneng. Yang ada dia nanti manfaatin kondisi dan keadaan, berlaga kayak pahlawan kesiangan terus deketin si Kamila habis itu jelek-jelekin lo," kata Sean ikut menimpali.
Arkan melihat kepada teman-temannya, "Coba aja kalo berani macem-macem terus ngambil Kamila dari gue, gue bakalan buat perhitungan yang gak akan pernah dia lupain seumur hidupnya!" kata Arkan dengan datar.
Semuanya menatap Arkan ngeri pemuda itu tidak pernah bermain-main dengan kata-katanya.
"Udah lah sekarang lo susul deh si Kamila, lo harus nunjukin ke Dika, kalo hubungan kalian baik-baik aja. Tadi gue suruh Bastian anter Kamila ke kelasnya, udah sana pergi," kata Daren.
Arkan mengganggukan kepala kemudian ia membuang rokoknya lalu berjalan meninggalkan teman-temannya. Pemuda itu bergegas menuju ke kelas Kamila.
Pada saat ia sampai di kelas Kamila. Ternyata, gadis itu sedang duduk berdua bersama Naya. Arkan pun segera
menghampiri Kamila.
"Tuh, pangeran Lo dateng, Mil. Gue keluar dulu deh, nanti malah jadi obat nyamuk," kata Naya.
Kamila tersenyum mendengar
perkataan sahabatnya itu.
__ADS_1