
Kamila menggelengkan kepalanya
"Enggak!"
Kamila memeluk Arkan lagi dan itu membuat pemuda itu tertawa saja, Kamila
sungguh menggemaskan.
"Mau di sini?" tanya Arkan.
"Enggak, tapi mau nemenin lo. Tapi juga di kelas hari ini ada kuis gimana dong?" tanya Kamila manja dia menyandarkan kepalanya ke pundak Arkan membuat Arkan tertawa.
"Ya udah sana ke kelas, nanti istirahat mau ke sini ya ke sini aja, tapi kabarin dulu," kata
Arkan kepada Kamila.
"Beneran?" tanya Kamila.
"Iyah Sayang, udah sana."
Arkan merapikan rambut Kamila agar tidak
berantakan.
"Jangan aneh-aneh loh di sini, kalo samape aneh-aneh gue ngambek tujuh hari tujuh malem," ancam Kamila membuat Arkan tertawa.
"Aduh bawelnya Sayang ini, iyah Sayang gak akan aneh-aneh udah sana nanti ada guru di marahin," ujar Arkan.
Kamila pun akhirnya mengalah ia membiarkan Arkan tetap di rooftop. Lalu ia pun melangkah turun. Pada saat ia turun ternyata Daren dan Bastian masih ada di tangga.
"Kalian berdua ngapain ngejogrog di sini kayak anak ilang," kata Kamila.
"Kagak, kita nungguin lo. Kita kan kepo lo sama Arkan ngomongin apaan," kata Bastian.
Padahal, keduanya merasa cemas. Takut jika Arkan dan Kamila bertengkar lalu Arkan mengamuk. Selama ini hanya Daren yang paling bisa meredakan emosi sahabatnya itu. Jadi, dia memutuskan untuk menunggu.
Tapi, ternyata Kamila berhasil meredakan seorang Arkan yang mirip singa itu.
"Katanya dia masih mau sendiri. Ya udah gue ke kelas dulu ya. Kalian juga ke kelas, jangan ikutan bolos kayak Arkan. Udah mau lulus juga masih aja males belajar," kata Kamila mulai mengomel.
Bastian dan Darren hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Kamila. Kemudian mereka pun langsung melangkah mengikuti Gadis itu untuk menuju ke kelas.
"Gue pikir si Arkan bakalan ngamuk kayak biasa. Luar biasa pawangnya sekarang, Kamila bisa buat Arkan tenang," kata Bastian kepada Daren.
"Gila sih si Kamila, mantep gue kasih lima jempol buat dia!" lanjutnya.
"Pawangnya Arkan, kenapa? Lo mau punya pawang juga? Pawang ujan atau pawang kebun binatang?" Bastian merengut kesal,
"Sialan lo, gue mau jadi pawang duit aja lah
biar cepet kaya," kata Bastian.
Kamila sudah kembali ke kelasnya. Sementara Daren dan Bastian juga memutuskan untuk tidak membolos.
Sebenarnya, mereka adalah anak-anak yang pintar. Hanya saja, mereka memang sedikit ngeyel. Sehingga sering bolos dan bandel.
__ADS_1
"Si Arkan gimana?" Tanya Kean.
"Amanlah. Pawangnya udah ketemu tadi pawangnya juga udah di kelas. Biarin aja dia tenang dulu di atas. Entar juga kalo udah tenang dia bakalan turun," kata Daren.
Ya, Daren sangat hapal bagaimana kelakuan Arkan. Dia sangat yakin jika Arkan nantinya juga akan tenang kembali. Dia hanya butuh walktu untuk berpikir.
Daren sendiri sebenarnya tidak begitu setuju untuk membuat Reynald bangkrut. Menolong Kamila dan menekan Laras masih bisa melakukan cara yang lain. Tetapi, Arkan memang sangat keras kepala. Apa yang ia inginkan harus terlaksana.
Sebagai teman yang baik, Daren hanya bisa mendukung dan mengingatkan jika Arkan sudah kelewat batas.
***
Malamnya, Arkan memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Dia masih kesal dengan Ayahnya.
"Kalian jangan bilang Bunda sama Ayah kalo gue gak pulang, ya?" Kata Arkan kepada Kean dan Sean.
"Lo mau ke mana malam begini?" tanya Kean.
"Gue males tidur di rumah."
"Kita ikut," kata Kean.
Arkan langsung menggelengkan kepalanya.
"Gue ke rumah Kamila."
Kean dan Sean pun hanya menggelengkan kepalanya. Mereka cukup mengerti jika saat ini Arkan butuh jeda.
"Jangan aneh-aneh lo Ar, belum sah!" kata Kean.
"Aman! Gue gak akan ngerusak cewe mana pun apalagi Kamila!"
Setelah berpamitan kepada Kean dan Sean, Arkan pun segera pergi. la menuntun motornya menjauh dari rumah, baru menyalakannya sehingga orang di rumah tidak tau kepergiannya.
Dan tidak lama kemudian ia pun tiba di rumah Kamila. Dari jarak beberapa meter, Arkan sudah mematikan mesin motornya. Arkan memarkirkan motornya di tempat
parkir komplek rumah Kamila.
Arkan melompat ke atas balkon Kamila dengan bermodalkan tali. Arkan membuka pintu menggunakan kawat, sudah seperti
maling.
Senyum Arkan mengembang saat melihat seorang gadis tengah bergelung dengan selimut, matanya tertutup rapat terlihat tenang. Kamila tertidur sangat tenang.
Arkan pun masuk ke dalam, tapi sebelum itu dia menutup pintu balkon serta gordennya. Lalu, ia berjalan ke arah pintu masuk dia mengunci pintu itu takut ada yang masuk.
Perlahan, Arkan mendekati kamila senyumnya mengembang, dia mengelus kepala Kamila.
"Lagi tidur aja keliatan cantiknya, apa pun halangannya gue bakalan selalu ada buat lo Mil. Gue yakin Ayah gak sungguh sungguh bilang dia gak ngerestuin kita!"
Cup...
Arkan mencium kening Kamila.
" Selamat tidur Sayang!"
__ADS_1
Arkan kemudian berjalan ke arah sofa. Dia memutuskan untuk tidur di sofa kamar Kamila. Arkan memejamkan matanya dia berharap hari esok akan lebih indah.
Tiba-tiba menjelang tengah malam Kamila terbangun dari tidurnya karena haus.
"Arg-"
Kamila langsung menutup mulutnya, betapa terkejutnya Kamila saat melihat ada yang tidur di sofa. Kamila turun dari kasur dia mendekat ke arah sofa. Gadis itu
bernafas lega saat melihat yang tidur
itu ternyata Arkan.
Kamila mengusap kepala Arkan, Arkan yang baru saja tidur lantas merasa terusik dia membuka matanya.
"Mil," ujar Arkan dengan suara seraknya.
"Lo gak pulang?" tanya Kamila.
Arkan menggelengkan kepalanya.
"Enggak, gue males di rumah. Lo kenapa bangun?" tanya Arkan.
"Gue haus mau minum. Pas liat sofa ada orang. Gue pikir siapa taunya Lo, bikin kaget aja," kata Kamila.
"Gak apa-apa kan gue tidur di sini? Percaya deh gue gak akan ngapa-ngapain Lo," kata Arkan,.
"Iya, gue percaya."
"Ya udah sana minum, abis itu tidur lagi," kata Arkan.
Kamila meminum air yang ada di atas nakas, rasanya lumayan lega. Kamila tidak kembali ke kasur dia duduk di bawah sofa.
"Eh... Kok gak tidur lagi?" tanya Arkan.
"Mau di sini dulu, lo tidur aja!" kata Kamila.
Arkan tersenyum dia mengusap kepala Kamila, rasanya Arkan memang sudah tergila-gila dengan Kamila.
"Udah malem Sayang, besok sekolah kan?" tanya Arkan.
"Gue mau di sini dulu."
Arkan mengusap kepala Kamila yang berada di bawahnya.
"Lo masuk dari mana?" tanya Kamila.
"Pintu lah," jawab Arkan.
"Ih maksudnya pake apa Arkan, kan pintunya gue kunci."
Arkan merogoh saku jaketnya dia menunjukan sebuah kawat.
"Anjir udah kayak maling aja, Ar!" kata kamila sambil terkekeh.
"Iyah gimana, gue gak mau ke basecamp di sana banyak setannya nanti gue malah mabuk gak jelas. Mau ke rumah lo gak punya kunci yaudah jadi maling aja," katanya.
__ADS_1