
Kamila menonton sambil mengusap-usap kepala Arkan, Arkan memejamkan matanya Kamila tersenyum melihat Arkan yang tidur, dia mengusap pipi Arkan.
Air mata Kamila kembali mengalir. Dia buru-buru menghapusnya takut Arkan belum pulas. Kamila mendengar deru nafas
Arkan sudah teratur dia melihat kepada Arkan, pemuda itu sudah tidur. Kamila mengusap pipi kekasihnya itu.
"Lo kalo lagi tidur lucu Ar. Ganteng banget lagi, gemes deh!"
Cup...
Kamila mencium pipi Arkan gemas dia tersenyum saja, Arkan itu sangat tampan menurutnya ya walaupun kadang ngeselin.
"Arkan gue minta maaf belum bisa jujur sama lo, gue bingung harus apa Papah nyuruh gue ngasih racun ke makanan Bunda sama ayah racun yang pelan-pelan bisa bunuh mereka. Gue gak mau dan gak bisa. Kalo Lo tau Lo bakalan benci gue gak sih? Gue takut lo ngejauh dari gue kalo Lo tau gue punya racun buat keluarga Lo. Gue gak mau! Gue sayang lo Arkan!" Kamila membalas pelukan Arkan semakin merapatkan dirinya dengan Arkan.
"Gu-gue minta maaf Arkan, gue tau gue salah gak bilang sama lo! Gue takut lo marah, gue gak mau kehilangan lo!" Kamila menghentikan ucapannya, ia kembali menangis.
Saat ini hatinya terasa begitu sakit. la sedih sekali.
"Racun itu emang gak langsung bunuh Bunda sama Ayah. Tapi, kalo dikasih terus-terusan mereka bakalan sakit trus meninggal dunia. Gue gak mau kehilangan Bunda sama Ayah. Gue gak tau harus ngapain sekarang." kata Kamila lirih dia gemetar karena menangis.
"Gue gak mau ke rumah lo Arkan, gue gak mau! Gue takut! Gue malu! Gue malu sama orang tua lo, gue terlahir dari keluarga yang jahat. Gue gak sebanding sama lo!" Air mata Kamila terus menangis, air matanya sudah deras Kamila saat ini memang merasa serba salah.
la tidak mau meracuni Alisha dan juga Marvin. Dia ingin supaya keluarga Arkan tetap aman. Tetapi, Reynald selalu menekannya. Kamila sempat berpikir bagaimana jika ia saja yang meminum racun itu. Bukannya jika dia sudah tiada, gak akan ada alasan lagi untuk Reynald menjahati keluarga Arkan.
Arkan tidak tidur dia mendengar semua tangis Kamila. Pemuda itu mati-matian menahan diri agar tidak membunuh Reynald malam ini juga. la ingat perkataan Daren untuk menyiksa musuhnya pelan-pelan.
Reynald harus membayar semua yang ia perbuat kepada Kamila. Arkan tidak peduli jika Reynald nanti mengemis menangis darah sekalipun.
Kamila menciumi wajah Arkan dia takut berpisah dari Arkan. Tangis Kamila semakin menyayat hati. Kamila menangis sambil memeluk Arkan.
"Gue tau Lo ga suka dibohongin. Tapi, kali ini gue terpaksa bohong sama lo. Maafin gue, Arkan. Sumpah demi apa pun juga gue cinta banget sama lo, gue sayang sama lo."
Cup....
__ADS_1
Kamila mencium pipi Arkan sambil memejamkan matanya.
"Maaf Arkan!"
Setelah puas menyatakan isi hatinya, Kamila merebahkan diri di samping Arkan sambil memeluk Arkan erat seakan tidak ada hari esok. Kamila menarik selimut, jadilah mereka tidur di dalam selimut yang sama seperti suami istri.
Arkan yang pura-pura tidur ikut memeluk Kamila dia menciumi kepala Kamila. Bahkan saat tidur pun air matanya Kamila masih mengalir.
Arkan mengusap pipi Kamila pelan dia menyeringai, senyum mengerikan Arkan terbit. Arkan mengeluarkan pisau dari sakunya dia tersenyum.
"Gue janji Kamila, gue gak akan biarin si brengsek itu hidup dengan tenang, pisau ini yang bakalan jadi saksi darah! Dia bakalan lebih menderita dari lo Kamila?!"
...****************...
"Pasti Dokter Adelia?"
Kamila terkekeh, "lyah nih Mbak, saya udah kangen sama Dokter Adel!"
"Sebentar yah saya daftarkan dulu."
Setelah selesai reservasi Kamila berjalan ke arah ruangan Adelia.
Tok... Tok...
"Permisi Dokter Adel!" Kamila membuka pintu ruangan Adelia.
Senyum Adelia mengembang saat melihat siapa yang datang.
"Kamila, udah berapa kali aku bilang jangan panggil Dokter, anggap saja aku ini Kakak kamu!" kata Adelia sedikit gemas.
Kamila tertawa di masuk ke dalam ruangan Adelia lalu duduk di sofa yang telah disediakan. Ini adalah pertemuan Adelia dan Kamila untul kesekian kalinya.
Semenjak bersama Adelia Kamila menjadi lebih rileks. Seperti biasa, Adelia sangat baik dalam menyambut Kamila.
__ADS_1
Sejak pertama kali bertemu dengan Kamila, ia juga merasa sangat senang dan sayang kepada Kamila. Adelia seperti melihat dirinya di masa lalu. Dan ia ingin sekali melindungi Kamila.
"Iyah Kakak dokter, ini aku bawa makanan biar gak bosen juga," ujar Kamila sambil meletakan tote bag di meja Adelia.
Adelia terkejut karena Kamila membawa banyak makanan.
"Udah aku bilang juga kalo ke sini gak usah bawa apa-apa, liat kamu dateng dengan keadan baik-baik aja aku udah seneng kok!"
Kamila menggelengkan kepalanya, "Aku suka kok bawa makanan buat Kak Adel... Ih ya ampun aku masih canggung deh manggil Kakak!"
Adelia dan tertawa bersama, Kamila nyaman sekali berada di dekat Adelia, selain dengan Arkan, Kamila juga suka bersama Adelia.
Mereka berbincang layaknya Kakak dan Adik, Kamila merasa senang karena Adelia sangat baik kepadanya. la merasa seperti menemukan seorang kakak perempuan.
"Kamila, kamu udah cerita sam pacar kamu tentang masalah ini?" tanya Adelia.
Kamila menggelengkan kepalanya perlahan.
"Belum Kak, aku takut kalo nanti cerita dia bakalan ninggalin aku. Aku gak mau kehilangan dia, Pacar aku itu suka nekad Kak, aku takut dia bakalan berbuat yang aneh-aneh dan..."
Kamila tidak meneruskan ucapannya. la mulai menangis sedih. Kamila benar-benar mencintai Arkan dan keluarganya. Tapi, Kamila takut jika Arkan tau dia akan memutuskan hubungan dengan Kamila. Saat ini yang Kamila miliki hanyalah Arkan.
Tadinya ia berpikir jika ia masih memiliki ayah untuk tempatnya bersandar. Tapi ternyata Reynald dan Laras sama saja.
Adelia menepuk bahu Kamila, " Kamila kamu harus percaya sama aku, pacar kamu itu sayang banget sama kamu. Kakak yakin dia pasti membantu kamu."
"Nanti, aku belum siap Kak!" Adelia mengelus rambut Kamila perlahan.
"Sabar, ya. Kamu gadis yang kuat dan tegar. Kamu pasti bisa," kata Adelia.
"Terima kasih, Kak." Kamila memeluk Adelia dengan erat dia menyayangi Adelia.
"Sama-sama, Kamila."
__ADS_1
Setelah puas bercerita, Kamila pun pamit pulang. Sebenarnya ia masih betah bercerita kepada Adelia. Tetapi, pasien Adelia sudah menunggu di luar, sehingga Kamila juga tidak bisa egois.
Sementara itu di tempat lain, Reynald sedang mengadakan rapat besar-besaran. Marvin yang notabanenya pemegang saham terbesar merasa dirugikan karena data kerja sama perusahaan lenyap begitu saja tanpa jejak.