Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
46. Perasaan Kamila


__ADS_3

Akhirnya ia memutuskan untuk menonton drama Korea dari ponselnya. Biasanya jika dia menonton maka dia akan tidur dengan sendirinya.


Tetapi, tiba-tiba saja Kamila menangkap ada bayangan melintas di balkon kamarnya. Kamila terkejut dia


memperhatikan bayangan itu, lagi-lagi semakin dekat.


"Apa itu? Masa iyah setan. Ini bukan malem jumat kan?" gumam Kamila.


Perlahan ia pun bangkit dan kembali menyalakan lampu kamarnya. Lalu ia mengambil tongkat baseball yang ada di sudut kamarnya.


Setelah itu, perlahan ia membuka pintu balkon dengan perasaan cemas. Tetapi, saat melihat siapa yang muncul ia pun menarik napas lega.


"Arkan!"


"Rusuh ya lo, ngapain di sini?" tanya Kamila berbisik.


la takut jika ada yang mendengar suaranya.


Kamila bingung, bagaimana bisa Arkan berada di balkon kamarnya. Sedangkan kamar Kamila berada di lantai dua.


Tiba-tiba saja Arkan langsung terjatuh Kamila menahan Arkan.


"Ett dah si Arkan!"


Kamila memapah Arkan dan membawanya masuk ke dalam kamar dia takut jika kelamaan nanti malah ada yang melihatnya.


"Aelah nih bocah gak tau diri apa gimana, gak sadar apa dia kalo berat gini. Keberatan dosa kayaknya!" gerutu Kamila.


"Mana pake acara pingsan lagi, udah tengah malem juga! Dasar bocah sableng bukannya pulang," maki Kamila.


Kamila membawa Arkan ke kasurnya dan pada saat itu ia mencium bau alkohol.


"Si panjul mabok ... pantesan aja. Duh, ini anak bikin gara-gara aja. Sialan!" maki Kamila lagi.


Kamila pun bergegas mengunci pintu kamar dan kembali mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang lebih redup agar tidak ada yang curiga.


Kemudian ia pun duduk di sisi tempat tidurnya. Kamila tersenyum melihat Arkan


yang memejamkan matanya. Tangan


Kamila terulur untuk memegang


wajah Arkan.


Kamila merasa geli melihat Arkan yang tertidur seperti bayi. Perlahan ia mengusap kepala Arkan dengan lembut.


"Lo kalo lagi anteng gini aneh deh, tapi lo ganteng banget, manis banget lo!" ucap Kamila.


"Tapi kenapa sih kalo. Lo kalo lagi bangun nyebelin banget gue kan kesel. Lo bikin emosi mulu."


Kamila terus tersenyum melihat wajah


tenang Arkan. Kamila tilba-tiba menghela nafasnya, matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kenapa lo diemin gue? Gue kangen lo Arkan, kalo boleh jujur gue juga suka sama lo. Tapi gue gengsi bilangnya!"


Kamila mengusap sudut matanya lalu terkekeh.


"Duh untung lo lagi gak sadar, kalo sadar gue malu ngomong gini," kata Kamila sambil mengusap pipi Arkan perlahan.


Ia tidak mau sampai pemuda itu terganggu


tidurnya.


"Kita pacaran gak sih sebenernya? Eh tapi itu lo yang maksa tau," ujar Kamila.


Kamila melihat ke jam dinding, hari mulai larut, Kamila tersenyum pada Arkan.


"Udah malem, lo tidur sini. Besok pagi baru pulang, jangan diemin gue yah Arkan! Gue gak bisa dijauhin sama lo." Kamila mengusap kepala Arkan dengan lembut.


Kamila menyelimuti Arkan dan membiarkan pemuda itu tidur di kasurnya. Setelah itu, Kamila berjalan menuju meja belajarnya. Dia memutuskan tidur di kursi meja belajarnya.


Untung saja kursi itu bisa dibuat sedikit turun sehingga Kamila bisa tidur dengan nyaman meski hanya di kursi.


Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus, Kamila rupanya sudah tidur dengan nyenyak. Tiba-tiba saja Arka membuka


matanya saat di rasa Kamila sudah pulas, Arkan pun turun dari kasur dia berjalan ke arah Kamila sekarang gantian Arkan yang memandangi wajah Kamila, gadis itu terlihat kelelahan. Arkan tersenyum kepada Kamila.


"Maaf gue pura-pura mabuk, kalo gak gini lo pasti udah ngusir gue!" kata Arkan.


"Udah gue duga Mil, perasaan lo sama kayak gue, kita pacaran lah enak aja orang lo punya gue. Gue gak mau lo diambil sama manusia yang lebih waras dari gue!" ujar Arkan sambil tertawa kecil.


"Sorry Mil kalo gue suka usil, abisnya lo gemesin kalo lagi marah," kata Arkan berbisik.


Rasanya Arkan ingin selalu menjaga Kamila, dan memastikan gadis itu baik-baik saja.


Cup...


Perlahan, Arkan mengecup kening Kamila dengan sangat lembut.


Dia juga mengecup pipi Kamila pelan.


Arkan mengangkat Kamila lalu memindahkannya ke kasur. Kamila yang merasa terusik lantas menduselkan kepalanya ke dada Arkan, pemuda itu terkekeh.


"Arkan!" panggil Kamila.


"Iyah Sayang," jawab Arkan.


"Jangan diemin gue lagi!" Kamila kembali diam dia sudah tidur lagi tadi sepertinya hanya mengigau.


Arkan membaringkan Kamila ke atas kasur lalu mengusap kepalanya.


"Mimpi Indah Sayangnya Arkan! Gue janji setelah hari ini setiap luka yang Nenek sihir itu kasih ke lo. Bakalan gue bales seribu kali lipat!"


"Lo milik gue Kamila, gak akan ada yang bisa jahatin lo lagi!"


Arkan memutuskan untuk tidak tidur, dia terus bermain game sepanjang malam. Sesekali dia melihat Kamila, takut gadis itu terusik dalam tidurnya.

__ADS_1


Arkan duduk di pinggir kasur sambil menemani Kamila. Waktu semakin berlalu, Arkan tidak mengantuk sedikit pun. Dia


terus bermain game sesekali mengusap kepala Kamila.


"KAMILA!"


Tiba-tiba suara teriakan Laras di depan pintu kamar membuat Arkan mematikan ponselnya, dia langsung berlari ke arah kamar mandi.


"KAMILAAA, BANGUN!"


Kamila yang sedang tidur terkejut. la mencari Arkan di tempat tidur tidak ada. Ia melihat kaca kamarnya sedikit terkena angin sehingga Kamila berpikir Arkan


sudah pulang. Kamila bingung bagaimana dia bisa ada dikasur.


"Kamillaa! Bangun! Pake acara kunci pintu lagi, bangun!"


Kali ini Laras berteriak sambil menggedor pintu kamar Kamila. Karena berisik, Kamila pun langsung menyalakan lampu dan


membuka pintu.


Plak...


Laras menampar pipi Kamila kencang, Arkan yang mendengar itu dari kamar mandi lantas mengepalkan tangannya.


"Bagus ya, udah jadi ratu berapa hari? Mentang-mentang ada Papah kamu! Sekarang juga bangun, beres-beres, sikat kamar mandi!"


"Tapi ini senin, Tante. Aku gak mau terlambat," bantah Kamila.


"Kamu pikir saya peduli?! Bangun!"


Laras langsung menyeret Kamila tanpa ampun hingga gadis itu pun mau tak mau mengikuti langkah Laras.


Ternyata ketika di bawah, Livia sudah menunggu dan ia pun menjambak rambut Kamila dengan keras.


"Auwww.. Sakit Livia!"


"Ini balasan gue waktu itu lo udah mukul dan jambak rambut gue!" teriak Livia seperti orang kesetanan.


Plak..


"Ini juga balesan dari gue karena lo udah gatel sama Arkan?!"


"Sak-sakit Tante, Livia!"


Bugh... Bugh...


Laras memukul punggung Kamila dengan sapu menimbulkan suara yang kencang.


"Sekarang kamu mau ngadu sama siapa? Papah kamu gak ada! udah ke Bandara dari jam empat. Jadi sampai Papah kamu pulang, siapin diri buat jadi samsak tinju!" kata Laras sambil memukul dan menendang Kamila dengan keras.


"Aduh!" jerit Kamila kesakitan.


Arkan yang mendengar keributan tersenyum dengan smirknya. Dia pun keluar dari kamar mandi dan berjalan mengendap-endap.

__ADS_1


Arkan keluar dari kamar Kamila dan dia menuju tangga. Betapa terkejutnya Arkan saat melihat dari lantai atas Kamila sedang


dipukuli oleh Laras dan Livia. Arkan lagi-lagi mengepalkan tangannya dia berusaha menahan seluruh emosinya.


__ADS_2