Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
76. Ambisi Reynald


__ADS_3

Malam harinya Arkan sengaja berjalan kaki dekat tempat tinggal Alex dan Silvana. Pemuda itu memang belum puas jika belum melihat musuhnya menderita. Dan ia


berencana untuk membalas perbuatan Silvana dan Alex.


Tak lama kemudian, Arkan tersenyum melihat sebuah motor melintas. Yang ia tunggu akhirnya tiba juga. Arkan menutup kepalanya dengan kupluk hoodie. Arkan


melempar sesuatu kejalanan dan....


Brakh...


Arkan melempar paku membuat ban motornya pecah. Terlihat Silvana dan kekasihnya jatuh dari motor mereka menabrak pohon.


"Woy!" teriak Alex.


Arkan tersenyum senang dia melihat Silvana dan Alex melihat ke arahnya Arkan menyunggingkan senyum liciknya lalu mengacungkan jari tengahnya dan pergi dari sana dengan berjalan kaki. Terlihat sangat misterius.


Paginya di sekolah, Kamila mengerinyitkan dahinya heran saat melihat kaki Silvana pincang. Wajah Akex juga terlihat ada luka, sepertinya mereka baru saja kecelakaan.


Namun, Kamila tidak peduli. Dia masuk ke dalam kelasnya, Silvana menatap Kamila dengan tatap permusuhannya. Dia akan membuat perhitungan dengan gadis itu.


"Apa lo liat-liat?" kata Kamila.


"Gue punya mata, dasar cewek gila," maki Silvana.


"Gue masih waras!" ujar Kamila kesal.


Naya yang melihat hal itu langsung menengahi.


"Lo kalo gak mau gue laporin sama kepala sekolah atau wali kelas diem aja. Asal lo tau, kemarin ada yang rekam kejadian waktu lo labrak Kamila. Kalo lo macem-macem, gue laporin. Videonya ada sama gue!" kata Naya dengan nada penuh ancaman kepada Silvana.


Mendengar hal itu, Silvana pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Liat aja, kalian bakalan gue balas," kata Silvana.


"Bales aja kalo lo mau berurusan sama Arkan! Dia gak akan segan-segan buat ngerobek mulut lo! Perkara gitu mah encer kalo buat Arkan!" seru Naya membuat Kamila


terkejut mendengarnya.


"Nay," panggil Kamila.


"Duduk Mil, setan gak usah diladenin bikin nambah dosa!"


Mereka pun segera duduk di bangku mereka.


Pada saat jam istirahat, Kamila pergi ke kelas Arkan. Tadi, mereka berangkat bersama dan Arkan sudah berjanji alkan belajar hari ini dengan baik di kelasnya.


Dan saat Kamila masuk ia senang sekali karena melihat Arkan dan teman-temannya duduk manis sambil mencatat pelajaran.


"Nah, gitu dong. Kalo kalian manis gini kan gue seneng liatnya," kata Kamila.


"Waah Bu bos dateng, bawa makanan, ya?" kata Bastian sambil menunjuk bungkusan yang dibawa Kamila.

__ADS_1


Arkan dengan cepat langsung memukul pundak Bastian dengan gemas.


"Ini jatah gue, lo tau aja kalo ada makanan," kata Arkan.


"Heh, udah kalian gak usah berantem. Gue bawa banyak kok," kata Kamila.


"Asik Bu bos mah terbaik!" saut Kean. Bastian dan Kean langsung berhigh five dengan gembira.


Sementara Daren hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan random kedua sahabatnya itu.


"Ini gue bawa siomay, ada hakau, odeng, pempek. Banyak deh, bisa dimakan bareng-bareng," kata Kamila.


Gadis itu pun membuka kotak makanan yang ia bawa.


"Nyengir lo banyak makanan," ujar Arkan.


"Harus lah Ar. Anggep jatah preman, gara-gara kalian berdua kabur kemaren kita kena hukum di lapangan sama Pak Yusuf" kata Kean sambil mengambil siomay lalu


memakannya.


Ya memang, kemarin Pak Supri melaporkan mereka karena Arkan kabur. Akibatnya, Kean, Daren dan Bastian terpaksa lari keliling lapangan sebanyak sepuluh kali.


"Maaf yah, lagian si Arkan ngajak gue kabur!" kata Kamila.


"Kok gue sih," jawab Arkan.


"Ya emang lo!" Arkan mengacak rambut Kamila gemas.


"Kalo di suapin baru mau," jawab Arkan sambil menaik turunkan alisnya.


Kamila mencebikkan bibirnya kemudian ia pun menyuapkan potongan pempek ke dalam mulut Arkan.


"Tolong hargain yang jomblo," protes Kean.


"Mana pake suap-suapan lagi, gustii ... jiwa jomlo gue meronta-ronta," timpal Bastian.


"Protes mulu gue abisin juga nih makanan," kata Daren.


Kean dan Bastian pun langsung mingkem dan melanjutkan makan mereka. Melihat itu, Arkan dan Kamila tertawa.


"Oiya Ar tadi pagi gue liat Silvana sama si Alex bonyok terus pincang jalannya. Kayaknya mereka abis kecelakaan deh," kata Kamila sambil menyuapi Arkan.


Daren yang mendengar itu langsung melihat ke arah Arkan, pemuda itu terlihat santai. Daren paham itu pasti ulah Arkan.


"Biarin aja, karma instan itu," saut Daren.


Arkan tertawa kecil lalu mengusap rambut Kamila dengan penuh kasih sayang.


"Gak usah dipikirin, orang yang nvakitin lo bakalan ikut ngerasain sakitnya lebih dari yang lo rasain, tinggal nunggu waktunya aja!"


...****************...

__ADS_1


BRUKH!


Suara bantingan berkas membuat satu ruangan bergema, Reynald mengacak rambutnya frustasi dia kesal sekali mendapat tagihan kartu kredit yang sangat banyak rata-rata yang menggunakannya adalah Laras.


"Belanja apa aja sih sampe segini banyak? Gak tau apa yang nyari duit sampe pusing. Dia malah enak-enakan aja belanja. Heran,


dikasi hati kok malah minta jantung. Lama lama gue cerai juga tuh perempuan!" Maki Reynald kesal.


"Ada apa, Pak?" tanya seorang anak buahnya yang kebetulan melewati ruangannya.


"Gak apa- apa. Saya lagi ngomong sendiri. Kamu balik kerja aja!" Perintah Reynald.


Anak buahnya itu langsung pergi karena takut terkena marah lagi. Sementara Reynald melanjutkan pekerjaannya sambil mengomel. Ia merasa sangat kesal karena dana yang diberikan oleh Marvin seolah tidak cukup. Padahal Marvin memberikan


investasi dana senilai lima milyar rupiah. Lebih untuk menutupi kerugian yang diderita oleh Reynald.


Baru saja keadaan perusahaannya membaik tapi sekarang ada saja masalahnya. Sekarang masalahnya adalah Laras.


Padahal selain perusahaan yang saat ini ia pegang, Reynald juga memiliki retail mini market dari brand ternama.


Tetapi, keuntungan mini market tidak jelas lari ke mana sehingga setiap bulan hanya bisa untuk memutar modal dan menggaji


karyawan saja .


Merasa pusing, Reynald memutuskan untuk pulang saja. Saat pulang dari kantor dia masuk ke dalam rumah lalu membanting pintu dan berteriak memanggil Kamila.


Brakh!


"Kamilaaa!" teriaknya.


Kamila yang sedang menelpon Arkan lantas berlari ke bawah tanpa mematikan panggilannya.


"Sebentar yah!" kata Kamila kepada Arkan.


Kamila berlari secepat mungkin dia melihat Reynald sudah pulang.


"Ada apa sih, Pah teriak-teriak? Mila sampe kaget," kata Kamila.


"Kamu sama Arkan masih berhubungan?" tanya Reynald.


Kamila menganggukan kepalanya,


"Iyah Pah masih ada apa?"


"Bagus, Papah mau kalian menikah muda. Papah gak peduli walaupun kedua orang tuanya gak setuju kalian nikah muda. Tapi, Papah mau kalian menikah. Kalo perlu kamu hamil sama dia, biar orang tuanya ga


bisa nolak! Kalo dia gak mau, Papah akan cari keluarga lain yang kaya raya dan punya anak laki-laki yang mau menikah sama kamu secepatnya!" teriak Reynald.


Kamila membelakakan matanya. Bagaimana bisa seorang ayah mengatakan hal itu kepada anaknya sendiri. Orang lain tidak ada yang mau anaknya menikah karena kecelakaan, ini malah anaknya


disuruh hamil duluan.

__ADS_1


"Papah ini sadar gak sih sama apa yang Papah bilang? Orang tua lain gak akan mau anaknya nikah karena kecelakaan. Ini malah disuruh hamil duluan. mila sama Arkan belum siap!" jawab Kamila.


__ADS_2