Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
151. Rencana Menyusul Ke Bali


__ADS_3

Kamila mengusap air matanya kasar, "Lo egois Arkan! Susah kalo ngomong sama orang egois kayak lo! GUE BENCI SAMA LO?!" Kamila memekik kemudian langsung mematikan Arkan terkejut dengan teriakan


Kamila. Kamila terlihat sangat marah.


"ARGHHH SIALAN!" Arkan mengacak rambutnya frusatasi, dia ikut kesal dengan Kamila, ada apa dengan kekasihnya itu.


Selama ini Kamila tidak pernah bersikap seperti itu Arkan yakin memang ada yang tidak beres.


"Shitt.. Bangsat!" maki Arkan.


Daren yang baru saja masuk terkejut mendengar umpatan Arkan.


"Kenapa lo? Habis video call sama Kamila malah ngumpat gitu, ada masalah apa?" tanya Daren kepada Arkan dia duduk di samping Arkan.


Arkan menoleh, "Ada yang ngadu domba gue sama Kamila, ada yang ngirim foto gue katanya sama cewe, terus ada yang ngirim foto Kamila pulang sama Dika tadi dan itu emang bener!"


Arkan bersandar di sofa sambil menghela nafasnya, "Kamila marah banget sama gue gara-gara gue sama cewe padahal lo tau sendiri kan gak ada yang lain selain Kamila! Gue juga sebenernya emosi tau Kamila dianterin Dika, tapi gue lebih emosi lagi sama orang yang ngadu domba hubungan


gue!"


"Bangsat!" umpat Arkan.


"Arghh Kamila!"


"Terus lo mau gue ngapain?" kata Daren kepada Arkan.


Pemuda itu merasa sedikit kesal karena melihat Arkan uring-uringan sendiri. Biasanya, jika ada masalah Arkan selalu bisa bersikap tenang dan memikirkan langkah selanjutnya.


Tetapi kali ini entah mengapa akan terlihat grasak grusuk. Mungkin ini yang dinamakan cemburu buta.


"Gue sebenernya pengen balik ke Jakarta tapi gak mungkin besok ada tanding, lo bisa sadap hp nya Kamila dari jarak jauh kan, gue mau tau siapa yang ngirim foto ke Kamila, gue yakin gak cuman satu foto. Makanya Kamila marah banget sama gue, gue yakin itu pasti pesan berantai!"


Daren menganggukan kepalanya," Aman, masalah gitu mah kecil, nanti kalo dapet nomornya langsung gue lacak, lo tenangin diri, Kamila juga gak mungkin selingkuh sama cecunguk modelan Dika! Selera Kamila gak serendah itu!" ujar Daren sambil


terkekeh.


Arkan tertawa dia pun mengganggukan kepalanya kemudian ia menepuk bahu Daren.


"Gue minta tolong sama lo, gue gak mau hubungan gue sama Kamila hancur, gak ada yang spesial di mata gue selain Kamila!"


Darren hanya tersenyum kecil dia tau betapa bucinnya Arkan kepada Kamila, kemudian ia pun langsung membuka laptopnya.


Arkan memejamkan matanya sambil bersandar di sofa.


"Gue gak akan ngelepasin orangnya gitu aja Kamila! Sampe kapan pun lo juga gak akan bisa pergi dari hidup gue! Gue bakalan basmi habis tikus-tikus yang berani ganggu hubungan gue sama lo!"


"Lo cuman punya gue Kamila! Maaf selalu bikin lo nangis! Gue pastiin orang itu bakalan ngegali kuburannya sendiri!"

__ADS_1


***


"Hiks... Hiks... Lo jahat Arkan!"


Alisha yang hendak ke kamar Kamila terkejut mendengar Kamila terisak kecil, apa gadis bertengkar dengan Arkan tadi dia ijin ke kamar karena Arkan menelpon. Alisha menempelkan telinganya di daun pintu. Gadis itu sepertinya memang tengah


menangis.


Ceklek...


"Kamila!" Alisha membuka pintu kamar Kamila.


Saat Alisha masuk kamila buru-buru menghapus air matanya.


"Bunda!" kata Kamila terkejut.


Kamila mengusap sudut matanya sambil tersenyum. Tetapi Alisha sempat melihat air mata Kamila. Alisha tau gadis itu pasti


bertengkar dengan Arkan, tapi Alisha berusaha bersikap bijaksana ia tidak langsung bertanya melainkan duduk di samping Kamila dan tersenyum.


"Tadi nelpon Arkan kan? Arkan gimana di sana?"


"Arkan baik-baik aja kok Bund, tadi katanya dia abis main di pantai," jawab Kamila sambil tersenyum.


"Mila pucet banget, kamu baik-baik aja kan Sayang?" tanya Alisha di mengusap rambut Kamila.


Alisha menghela nafasnya dia tersenyum berusaha tidak tau apa-apa, "Yaudah sekarang Mila istirahat aja ya, Bunda juga mau ke kamar. Ayah pasti udah selesai kerja!" kata Alisha.


"Iyah Bunda, Mila juga mau tidur udah malem!" kata Kamila kepada Alisha.


"Selamat malam Sayang!" Alisha mencium pucuk kepala Kamila.


"Selamat malam Bunda!" Kamila memeluk Alisha dengan erat.


Air matanya kembali menggenang di


matanya. Alisha masih berpura-pura tidak


tau apa-apa dia keluar kamar Kamila dia


berjalan menuju kamarnya.


Ternyata, di sana ada Marvin yang tengah bermain ponsel. Saat melihat kedatangan Alisha, Marvin pun langsung tersenyum kemudian menepuk-nepuk kasur di sampingnya tanda supaya Alisa duduk di sebelahnya. Marvin meletakan ponselnya di atas nakas.


"Sini Bund sama Ayah, jangan sama anak-anak terus, Ayah juga kan mau manja sama Bunda!" kata Marvin dengan manja.


"Ayah ih udah tua juga malu sama umur!" kata Alisha, dia duduk di samping Marvin.

__ADS_1


Marvin hanya terkekeh geli mendengar perkataan sang istri. Dia memeluk istrinya dengan manja lalu meletakan kepalanya di paha Alisha. Alisha mengusap kepala Marvin yang berada di pahanya.


Marvin memperhatikan wajah istrinya sudah bertahun-tahun berlalu tidak ada yang berubah dari wajahnya.


Marvin mengerutkan dahinya, "Ini muka Bunda kenapa kok kayaknya asem banget, ada sesuatu? Ada masalah Bund?" tanya Marvin.


Terlihat Alisha menghela nafasnya, "Tadi Bunda dari kamar Kamila, dia kayaknya abis nangis deh. Tadi Bunda sama dia duduk di ruang tamu terus Arkan nelpon dia pamit ke kamar, pas Bunda ke kamarnya dia kayak habis nangis gitu. Bunda yakin deh dia habis berantem sama Arkan, tapi Bunda gak tau kenapa," kata Alisha.


Marvin bangkit dari rebahannya, "Udah Ayah duga semua ini pasti bakalan terjadi!"


Alisha mengerutkan dahinya," Maksud Ayah?"


"Hubungan jarak jauh itu susah Bund, apalagi Arkan itu keras kepala. Ayah udah ngewanti-wanti kalo ini pasti bakalan terjadi!" kata Marvin.


"Jadi sekarang harus gimana Yah? Kita gak mungkin kan ikut campur urusan anak-anak, tapi kita juga gak mungkin diem aja liat mereka berantem gitu!"


Marvin menghela nafasnya dia mengusap kepala Alisha, "Yaudah besok kita susul aja Arkan ke Bali biar semuanya selesai, Ayah udah nyesuain jadwal Ayah, Kay juga libur kan!"


Alisha terkejut saat suaminya mengatakan itu, "Beneran Yah?" tanya Alisha.


Marvin menganggukan kepalanya, " lyah Bunda. Ayah juga gak mau hubungan Kamila sama Arkan rusak, mau gimana pun Kamila sekarang jadi tanggung jawab kita. Dia anak yang baik, kalo pun nanti Kamila gak sama Arkan, kita tetep jadi walinya Kamila, kita harus jadi orang tua buat Kamila!"


"'Ayah tau Arkan itu keras kepala banget, Ayah gak mau semuanya hancur, Kamila itu cuman punya Arkan! Ayah yakin!" lanjutnya.


Alisha menganggukan kepalanya," Bunda setuju sama Ayah! Kita harus bantu Arkan sama Kamila, jangan gara-gara masalah sepele semuanya hancur!"


"Ya udah masalah selesai kan Bund sekarang kita tidur. Ayah tuh capek pengen dipeluki sama Bunda," kata Marvin dengan manja.


Alisha terkekeh dia mencubit lengan suaminya dengan gemas," Manjanya gak ilang-ilang!"


***


Keesokan harinya Alisha baru saja turun dari lantai atas dia terkejut melihat Kamila sudah ada di dapur dia mendekati gadis itu yang sedang menyiapkan sarapan di meja.


"Pagi Bunda!" sapa Kamila riang.


"Pagi Sayang, ini Mila yang masak?" tanya Alisha terkejut.


"lyah Bunda," jawab gadis itu. Alisha mengusap rambut Kamila,"


"Rajin banget anak Bunda jam segini udah masak!"


Kamila tertawa kecil, "Bunda bisa aja. Aku lagi gak ada kerjaan Bund. Hari ini juga kan libur gak sekolah, jadi aku masak aja udah kebangun juga!"


"Terima kasih yah Sayang!" kata Alisha.


"Sama-sama Bunda, oiya Ayah sama Kay mana?"

__ADS_1


"Kay sama Ayah bentar lagi juga turun masih di kamar tadi." Kamila menganggukan kepalanya.


__ADS_2