Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
193. Kondisi Arkan


__ADS_3

Kecepatan yang sangat tinggi membuat Arkan sulit mengendalikan motornya. Tubuh Arkan terpental dia menabrak truk yang tiba-tiba saja melintas di depannya.


"ARKAAAN!" jerit Kamila.


Kamila berlari menghampiri Arkan. Diikuti Daren dan Bastian, Kean serta Sean menghampiri Arkan. Kamila terkejut melihat Arkan yang sudah bersimbah darah.


"ARKAAAAN! Kalian jangan diem aja, telepon ambulans!" pekik Kamila.


Dengan sigap Daren langsung menelepon ambulance karena sangat berbahaya mereka membawanya sendiri dengan mobil karena kepala Arkan mengeluarkan banyak darah.


"Arkan bangun Arkan! Gue gak mau kehilangan lo Arkan! Arkan gue mohon?!" Kamila menangis air matanya mengalir sangat deras.


"Arkan gue mohon buka mata lo Arkan, lo pasti kuat, lo gak boleh pergi dari hidup gue!"


Kamila terus saja meraung sambil mengguncang tubuh Arkan.


"Arkan gue mohon buka mata lo kasih tau ke gue kalo lo baik-baik aja, kalo sampe lo ninggalin gue. Gue mau ikut sama lo Arkan!"


"Arkannnn gue mohon buka mata lo!"


"Sabar Kamila tenang dulu sebentar lagi ambulans datang," kata Daren.


"Gue takut Arkan kenapa-kenapa. Darahnya banyak banget, dia juga gak sadar," kata Kamila dengan sesenggukan.


"Gue udah telepon Ayah sama Bunda. Mereka nanti langsung ke rumah sakit," kata Kean.


Tidak lama kemudian ambulans pun datang dan Arkan segera dibawa, Kamila pun ikut di dalam ambulans itu bersama Darren.


Sementara Sean, Kean dan Bastian mengikuti ambulance dengan motor mereka.


Saat ambulance sudah tiba di rumah sakit bertepatan dengan kedatangan Alisha dan juga Marvin.


"Bunda?! Hiks..."


Kamila langsung menghampiri Alisha dan meraung dalam pelukan wanita itu.


"Ini salah Mila Bunda ini salah Mila! Mila nggak bisa jaga Arkan!" seru Kamila.


Alisha mengusap air mata Kamila,'Udah Sayang jangan nangis ini bukan salah kamu, sekarang kamu tenang yah. Biar Arkan diberi pertolongan terlebih dahulu."


"Pasien harus segera dioperasi, di mana keluarganya?" tanya dokter yang merawat Arkan.


Kamila dan Alisha yang sedang berpelukan melepas pelukan mereka saat mendengar suara dokter.


"Saya ayahnya!" sahut Marvin.


"Kondisi anak Bapak harus segera ditangani dan harus dioperasi malam ini juga kepalanya mengalami pendarahan. yang sangat hebat. Silahkan menandatangani surat ini," kata dokter itu.

__ADS_1


Tanpa basa basi Marvin langsung menandatangani surat itu.


"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dokter," jawab Marvin.


"Baik Pak, semoga operasinya bisa berjalan lancar!"


"Aamiin!"


Semuanya mengaminkan Ucapan Dokter itu.Marvin mendekati semua teman Arkan dia tidak tau apa yang terjadi.


"Sebenarnya ada apa, ini? Kenapa Arkan bisa seperti ini? Dia balapan lagi?" tanya Marvin.


Daren pun langsung menjelaskan apa yang sudah terjadi kepada Marvin tanpa diberi bumbu ini dan itu. Termasuk juga saat Erik yang menantang Arkan terang-terangan.


"Kayaknya Erik emang sengaja, Arkan juga salah. Seharusnya dia gak usah nurutin nafsunya sendiri. Anak itu emang susah ngontrol emosinya!"


Daren menganggukan kepalanya dia setuju dengan ucapan Marvin.


"Tadi Daren langsung nelpon Kamila Om. Tapi ternyata Daren gak bisa nahan Arkan lebih lama lagi. Maaf Om!" kata Daren dengan tatapan menyesal.


"Ini bukan salah kamu Daren!" kata Marvin.


"Kean kamu juga di sana kenapa gak bilang sama Ayah?" tanya Marvin kepada Kean.


Kean menundukan kepalanya, "Maaf Ayah! Kita semua udah berusaha buat ngalangin Arkan. Awalnya Arkan baik-baik aja tapi tiba-tiba ada mobil truk. Sopirnya langsung kabur. Kean minta maaf Ayah!"


"Sean juga minta maaf Ayah! Tapi tadi Bang Bastian sempet ngeliat plat mobilnya... lyah kan Bang? Lo inget gak?" saut Sean.


"lyah Om saya ingat!"


"Berikan kepada Om nomor polisinya, Bastian," kata Marvin.


Bastian pun langsung menyebutkan beberapa angka kepada Marvin. Marvin langsung mencatat nomor polisi itu di ponselnya dan mengirimkan kepada polisi kenalannya untuk diselidiki.


Kamila dan Alisha duduk di ruang tunggu dengan Kamila yang berada di dalam pelukan Alisha. Naya sudah pulang tadi ibunya menelpon jika ini sudah larut malam.


"Kamu pulang dulu yah ganti baju, liat tuh baju kamu darah semua!"


Kamila menggelengkan kepalanya, "Enggak Bunda! Mila mau nunggu Arkan aja!"


"Tapi Mil-"


Setelah menunggu beberapa waktu pintu ruang operasi terbuka.


"Pak Marvin, bisa kita bicara?" Tanya dokter.


Perkataan Alisha terpotong dia dan Kamila bangkit.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi putra saya?" tanya Marvin.


"Operasinya berhasil. Tapi ... Anak Anda mengalami koma keadaannya saat ini berada di ambang antara hidup dan mati!"


Duar.....


Bagai disambat petir, Kamila seperti di sambar petir yang membuat dirinya tewas.


"Ko-koma Dok?" tanya Alisha dengan suara yang bergetar.


"Benar! Benturan di kepalanya cukup keras sehingga mengakibatkan penggumpalan darah di dekat otaknya. Kami sudah berhasil mengoperasinya. Tetapi pasien mengalami koma, dan saat ini kita hanya bisa berdoa supaya pasien bisa diberikan kekuatan dan sadar kembali," kata dokter.


Air mata Kamila mengalir dia merasa amat sangat bersalah, Kamila berlari keluar rumah sakit.


"Kamila!"


Alisha terkejut saat Kamila pergi begitu saja saat setelah mendengar Arkan yang koma.


"Biar Kean aja Bund!?"


"Sini Sayang, siapa tau kalo kamu ngomong sama Arkan dia bakalan sadar!" kata Alisha.


Kamila memandang Alisha dengan wajah penuh air mata kemudian ia memeluk Alisha dengan erat.


"Maafin Mila Bunda, ini semua salah Mila! Kalo aja Mila gak hadir di tengah-tengah keluarga kalian semua tidak akan terjadi," kata Kamila.


Alisha menarik nafas kemudian membelai rambut gadis cantik di hadapannya.


"Ngomong apa sih! Gak ada yang nyalahin kamu, semua ini murni kecelakaan Sayang. Bunda udah berkali-kali bilang ke Arkan buat gak balapan. Tapi dia masih aja bandel. Seharusnya lo di sana sama Bunda,


temenin Arkan. Sekarang dia butuh lo!" kata Kean lagi.


Kamila menoleh banyak jejak air mata di wajahnya, "Gue kayaknya emang pembawa sial Kean. Semua orang yang deket sama gue pasti kena masalah!" kata Kamila sambil menangis.


"Lo ngomong apa sih Mil. Lo anak baik. Semua sayang sama lo, gak ada yang namanua pembawa sial. Arkan kecelakaan karena emang udah takdirnya. Tapi kalo gue yakin emang ada mau nyelakain Arkan! Ayah lagi nyelidikin lo gak usah khawatir!"


Kamila langsung mengerutkan dahinya, "Kenapa lo yakin banget yang nyelakain Arkan?"


"Area di base camp itu Aman Mil, selama ini kita balapan gak pernah ada mobil gede lewat, karena rata-rata sopir mobil gede itu udah tau kalo di sana banyak orang balapan, mereka gak sampai ada kecelakaan. Jadi menurut gue ini semua gak mungkin, kita semua curiga kalo ini ulah Erik. Erik dateng ke base camp dia nantang Arkan. Lo kenal Arkan kan lo tau sendiri gimana keras kepalanya cowo lo, dia gak akan mau harga dirinya diinjek-injek!"


"Maksud kalian semua ini udah direncanain sama Erik?"


"Kemungkinan besar begitu. Sekarang lo balik aja ke dalem sama Bunda. Kata dokter orang yang lagi koma itu bisa denger apa yang diomongin sama orang disekitarnya. Siapa tau kalo lo ngajak ngomong, Arkan bisa sadar!"


"Gue takut Kean, gue ngerasa bersalah!"jawab Kamila.


"Lo gak salah Mil! Sekali lagi lo ngomonggitu gue tinggalin beneran lo sendirian!" ancam Kean kesal.

__ADS_1


"Ya jangan! Yaudah gue masuk!"


Kamila mengikuti perkataan Kean. Dia pun langsung beranjak kemudian mengikuti langkah Kean menuju ke kamar rawat Arkan.


__ADS_2