Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
72. Bunda Yang Cemas


__ADS_3

"Akhirnya!" seru Kamila senang.


"Ya ampun Mil, sekarang lo mau ke kantin atau tidur?" tanya Naya.


"Lo ke kantin sendiri aja, ya. Gue mau tidur aja, Nay," kata Kamila.


Naya pun menganggukkan kepala. Gadis itu langsung mnenuju ke kantin, sementara Kamila langsung tidur di kelas dengan menggunakan tangan sebagai bantalnya.


Jika Kamila sedang tidur maka Arkan dan teman-temannya berada di rooftop sambil merokok.


"Jadi, gue gak perlu ngelakuin apa-apa? Data perusahaan itu gak usah gue balikin?" tanya Daren kepada Arkan.


Arkan menggelengkan kepalanya.


"Gak usah. Sejauh ini udah tanggung banget. Gue tau kalo cepat atau lambat juga Ayah bakalan setuju sama gue. Lagian Bunda juga gak akan tinggal diem kalo gue gak balik ke rumah," kata Arkan.


Daren hanya menggelengkan kepalanya. Sahabatnya ini memang sangat keras kepala.


"Ya udah terserah lo aja deh, yang penting lo bisa jaga diri, gak usah aneh-aneh!"


Arkan hanya menganggukkan kepalanya. Ya, ia tidak akan mengalah begitu saja.


"Gue turun duluan mau nyari Ayang." Setelah menghabiskan sebatang rokok, Arkan pun langsung turun.


la mencari Kamila ke kantin tetapi gadis itu tidak ada. Dia melihat Naya tengah makan di kantin, Arkan mendekati Naya.


"Nay cewe gue mana?" tanya Arkan.


"Kamila di kelas, dia tidur," kata Naya menjawab pertanyaan Arkan.


"Oke, thanks ya," kata Arkan.


Setelah itu dia berjalan ke arah kelas kamila dia melihat gadis itu tengah tidur. Arkan pun langsung masuk.


Pemuda tampan itu duduk di samping Kamila. Dia tersenyum memperhatikan Kamila yang tidur. Tak lama kemudian Arkan pun ikut meletakan kepalanya dimeja.


"Cantik!" ucap Arkan.


Arkan merapikan rambut yang menutupi wajah Kamila, dia tersenyum senang. Arkan juga sejujurnya mengantuk. Arkan memegang tangan Kamila yang berada di atas meja. Akhirnya Arkan ikut memejamkan matanya. Dan tak lama kemudian hanya dengkuran halus dari mereka berdua yang terdengar.


Kamila membuka matanya dia tersenyum melihat Arkan yang tidur dia tau Arkan tadi merapikan rambutnya, Kamila memandang


wajah Arkan. Perasaan Kamila tiba-tiba menjadi tidak enak.


Kamila memejamkan matanya.

__ADS_1


"Semoga semuanya baik-baik aja yah Ar!"


***


"Kamu gak khawatir gitu anak kamu ke mana? Sampe Kean sama Sean aja gak tau, Arkan di mana. Bunda gak bisa kayak gini. Ayah harus tanggung jawab!" kata Alisha pagi itu kepada Marvin saat laki-laki itu tengah bersiap untuk ke kantor.


"Loh kok jadi Ayah sih, dia kan waktu itu pulang terus pergi lagi paginya gak tau ke mana, dia udah dewasa Bund harus belajar dari kesalahannya," kata Marvin.


"Gak gitu Ayah, mau gimana pun Arkan itu putra kita, aku yang ngelihirin dia bertaruh nyawa terus sekarang dia pergi kamu diem aja! Dia anak kita kalo dia salah ya dibimbing bukan di abaiin gitu aja!"


Marvin menghela nafasnya.


"Masa iyah sih Bund, Kean sama Sean gak tau!"


"Bunda tiap hari nanya, Bunda telpon kepala sekolah juga Arkan gak ada di sekolah, mereka emang nakal Vin. Kamu juga dulu gitu, tapi aku percaya kok sama mereka. Mereka gak akan aneh-aneh! Sekarang kamu tanggung jawab anak aku pergi dari rumah," kata Alisha kesal.


Marvin hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya lagian si Arkan kalo ngambil keputusan suka gegabah, seenaknya sendiri," kata Marvin.


"Niatnya Arkan kan baik Ayah, kamu harusnya nasehatin dia bukan malah nentang hubungan Arkan sama Kamila. Aku ikut kesel sama kamu, Kamila itu anak yang baik, awas aja kalo Arkan gak pulang terus ngelakuin hal-hal yang aneh, itu salah Ayah! Ayah harus tanggung jawab!" ujar Alisha dengan tegas lalu meninggalkan Marvin sendiri di kamar.


Marvin hanya bisa mengelus dada. Kalau istrinya sudah bicara seperti itu dia mau bilang apa? Tapi, memang dalam hatinya juga merasa khawatir pada putranya.


Alisha berulang kali menghubungi Arkan tapi pemuda itu tidak mau mengangkatnya bahkan dia malah terkadang mematikan


ponselnya, itu bentuk pemberontakan


Arkan terhadap Ayahnya.


Selama ini Arkan selalu menurut kepadanya tapi kenapa saat Arkan menginginkan Kamila Ayahnya malah menolak dan menentang. Di situlah Arkan merasa sangat kesal.


Siang itu, Arkan sedang mengemudikan motornya. Dia baru saja mengantarkan Kamila pulang dan hendak kembali ke base camp.


Namun di perjalanan, Arkan melihat ada seorang wanita . Arkan menyipitkan matanya dia terkejut saat melihat siapa wanita itu. Arkan menghentikan motornya.


"WOYY! SIALAN LEPASIN GAK?!" seru Arkan langsung turun dari motornya.


"Anak kecil gak usah sok jadi pahlawan lo!"


BUGH!


Tanpa berpikir panjang, Arkan segera menghajar orang itu. Bagaimana mungkin ia bisa tinggal diam jika yang diganggu itu adalah ibunya sendiri.


Arkan menghajar habis-habisan preman itu.

__ADS_1


"Berani lo nyakitin nyokap gue abis lo sama gue!" Arkan menarik tangan preman itu lalu


membantingnya ke jalan.


"Am-ampuun!" teriak orang itu.


Dugh...


Arkan menendang perut orang itu.


"Pergi lo, sebelum gue bikin mampus di sini," bentak Arkan.


Tanpa berpikir dua kali, preman itu pun langsung lari tunggang langgang. Alisha terkejut bukan main, ini pertama kalinya dia melihat Arkan bergulat langsung.


Putranya itu terlihat sangat ganas saat memukul preman itu. Lebih ganas dari Ayahnya. Setelah selesai dengan premannya, Arkan menoleh ke arah Alisha dia menyambar bukunya yang ada di jalan lalu di masukan ke dalam saku celananya, Arkan menghampiri sang Bunda. Alisha pun langsung memeluk putranya.


"Arkan! Kamu ke mana aja!"


"Bunda kangen, Ayah juga nyariin kamu seminggu gak pulang kamu kemana aja. Sean dan Kean juga gak tau! Ini kamu juga pake baju sekolah siapa, katanya gak ada di sekolah!"


Plak...


"Dicariin ke mana-mana gak ada, seminggu gak pulang gak ada di base camp!" Alisha memukuli Arkan membuat pemuda itu meringis.


"Aduh Bund, aduh sakit!"


Plak... Plak..


"Bandel kamu kabur dari rumah, kamu baik-baik aja kan? Makan teratur kan?" tanya Alisha beruntun, air matanya sudah menetes.


"Bund jangan nangis ah nanti dosa Arkan makin banyak soalnya buat nangis Bunda!" Arkan mengusap air mata ibunya itu.


"Bunda sedih, kamu baik-baik aja kan?"


Arkan menganggukan kepalanya.


"Aku gak papa Bund, aku makan kok kan Atm aku gak diblok sama Bunda," ujar Arkan sambil terkekeh.


Plak...


Alisha kembali memukul pundakputranya, "Kamu masih bisa ketawa abis kabur, sekarang pulang yah, Ayah juga nyarin kamu dia gak akan nentang hubungan kamu dengan Kamila lagi!"


Arkan menggelengkan kepalanya.


"Enggak Bund, Arkan gak mau pulang. Ayah pasti bakalan marah sama aku!" kata Arkan.

__ADS_1


__ADS_2