Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
63. Kekhawatiran Kamila


__ADS_3

"Betul Pak Marvin jika perusahaan bangkrut bagaimana dengan Kamila?" kata Laras ikut menimpali.


'Cih Nenek sihir. Kamila ada gue, ada keluarga gue, dia mah gak akan kekurangan, itu mah lo yang serakah' batin Arkan berdecih sinis.


Arkan memegang tangan Kamila dan itu membuat senyum Reynald mengembang, Kamila membawa keberuntungan.


"Arkan bagaimana? Mau membantu Pak Reynald mengelola perusahaan nya?" tanya Marvin.


"Mau Yah, biar aku sambil belajar juga. Tapi untuk surat perjanjian biar aku yang buat!" jawab Arkan.


"Bagaimana Pak Reynald apa setuju dengan keinginan Arkan?"


Reynald menganggukan kepala nya, dan itu membuat Arkan semakin bahagia.


'Selangkah lagi, semua nya adadi genggaman gue. Maaf Kamila ini semua gue lakuin demi lo!'


****


Kamila dan Naya baru saja selesai makan di kantin sekolah. Tiba-tiba saja saat mereka melewati koridor dan melihat ke arah gerbang, tampak beberapa security


berjaga-jaga di gerbang.


"Eh Mil, Lo tau gak sih kalo sekolah kita lagi ada masalah sama anak sekolah Resense?" kata Naya.


Kamila mengerutkan dahinya sambil menggelengkan kepala.


"Resense? Kok bisa? Kayak nya kita baik-baik aja deh selama ini gak ada masalah apa pun," ucap Kamila.


"Aduh Mil lo belajar terus sih, ketinggalan berita kan. Katanya anak sekolah kita ada yang kena begal anak sekolah Resense, sekarang guru-guru lagi proses mediasi sama pihak sekolah. Gue berharap semoga


berhasil deh, kalo gagal gue yakin


rombongannya cowo lo pasti ikut turun tangan," kata Naya menjelaskan.


Mendengar Arkan yang turun tangan Kamila menjadi khawatir, tanpa sengaja mereka juga melewati kelas nya Arkan. Kamila pun menyempatkan diri untuk mengintip ke kelas itu untuk mencari Arkan.


Ketika melihat kelas itu kosong Kamila pun merasa sangat berdebar-debar. la takut jika Arkan akan terlibat tawuran lagi. Rasa nya ia sangat khawatir, tidak tega melihat


wajah pemuda yang ia cintai bonyok


dan memar-memar.


Kamila pun segera mengeluarkan ponsel nya dan menghubungi Arkan.


Kamila : Lo di mana?


Arkan: Kenapa? Kangen ya? Gue ada di rooftop, nanti kalau bel bunyi juga pasti masuk ke kelas. Lagi tanggung nih ngerokok sama anak-anak.


Membaca jawaban dari Arkan membuat Kamila mengembuskan napas penuh kelegaan. Ternyata pemuda itu tidak tawuran, setidak nya Arkan ada di rotroof bersama teman-teman nya.

__ADS_1


"Muka lo kayak khawatir gitu, lo gak mau Arkan gelut lagi?" tanya Naya.


Kamila menganggukkan kepala nya.


"Iyahlah gak mau gue dia kenapa-kenapa, nanti bonyok gue Juga yang repot!" kata Kamila.


"Udah ah kelas yo, bentar lagi bell," ajak Kamila.


Dan betul saja,saat mereka melangkah masuk ke dalam bell tanda istirahat sudah habis pun. berbunyi.


Pelajaran setelah istirahat di kelas Kamila adalah pelajaran bahasa


Indonesia.


"Bu saya permisi ke toilet sebentar yah!" ujar Kamila sambil mengacungkan tangannya.


"Silahkan, jangan lama-lama Kamila!" jawab Bu Aryati.


"Baik Bu," jawab Kamila.


Kamila keluar dari kelas untuk menuju toilet, dia sudah tidak tahan.


Brukh...


Ketika ia sedang berjalan dengan cepat tanpa sengaja ia menabrak bahu seseorang dan saat ia mendongak ternyata pemuda yang sangat ia cintai sedang tersenyum ke arah nya.


"Mau ke mana Yang? Buru-buru amat!" tanya Arkan.


"Tau, kenapa? Khawatir yah?" kata Arkan sambil menggoda Kamila.


"Pake nanya, awas yah kalo sampe lo ikut-ikutan, terus masuk kantor polisi lagi, gue keplak kepala lo biar makin miring otak lo!" ancam Kamila.


"Sadis amat sih Yang, ya ampun masa sama pacar sendiri begitu," kata Arkan mencubit pipi Kamila.


"Ya abisnya lo rese bilang enggak-enggak tapi tetep dilakuin aja kuping gue panas udah kebal denger kata-kata lo yang begituan!"


Arkan tertawa kecil mendengar perkataan lalu mengacak rambut.


Plak...


"Ish ngagetin aja sih!"


Secara reflek la pun memukul Arkan dan mengerucutkan bibir nya.


"Aduh sakit Mil, main keplak aja," sungut Arkan.


"Lo ngintip gue ya?" kata Kamila dengan sebal.


"Enggak Sayang."

__ADS_1


"Terus, ngapain di situ?" tanya Kamila.


"Coba deh Mil jangan negatif thinking terus sama gue, gue sengaja nunggu lo di sini gue antisipasi takut lo kekunci di dalem. Kalo kekunci Siapa yang mau nolong lo? Seenggak nya kalau ada gue di sini, gua bakalan denger kalo lo teriak," kata Arkan.


Kamila hanya mencerbikkan bibir nya kemudian mendelik sinis kepada Arkan.


"Alah alesan lo banyak amat, udah ayo ke kelas. Bell udah dari tadi lo baru mau ke kelas!" ajak Kamila.


"Mager belajar Yang," jawab Arkan.


"Mager terus, mau jadi apa nanti nya?" tanya Kamila sebal.


"Jadi suami lo lah," kata Arkan sambil mencolek dagu Kamila.


"Gue gak mau punya suami bego," celetuk Kamila membuat Arkan tertawa.


"Gue gak bego Kamila cuman males aja," ujar Arkan gemas.


"Apa bedanya coba!"


Kamila dan Arkan pun berjalan beriringan menuju ke kelas mereka.


"Lu gausah ikut ikutan masalah sekolah yg ribut sama resense"


"Tenang aja Mil, gue gak akan ikut."


"Pret... Gak percaya gue," kata Kamila tidak percaya.


"Percaya deh Mil sekali aja," kata Arkan lagi.


"Gak mau, lo pasti ikut kan?" Arkan menggelengkan kepalanya,


"Enggak Sayang, beneran deh gak akan ikut."


"Tap-"


"Kamila."


Baru saja Kamila hendak menjawab Arkan lagi guru bahasa Indonesia memanggil Kamila.


"Lo duluan aja, gue dipanggil guru!"


"Iyah, duluan yah," kata Arkan.


Dia berlalu pergi dari sana. Kamila menyuruh Arkan ke kelas duluan, karena ia takut jika nanti dia terkena hukuman.


"Kamu dari mana Kamila?" tanya Bu Aryati.


"Maaf, Bu. Kan saya tadi udah bilang mau ke toilet."

__ADS_1


"Terus, kenapa bisa bareng sama Arkan?" tanyanya.


"Tadi, waktu saya habis dari toilet dia ada di situ, Bu. Mungkin dari toilet juga. Jadi, kami barengan ke kelas, kan kelasnya sebelahan," Jawab Kamila.


__ADS_2