
Tanpa mendengar jawaban Arkan terlebih dahulu, Livia pun langsung memanggil Reynald.
Mengetahui jika Arkan yang datang Reynald pun bergegas keluar.
"Om, Kamila ada?" tanya Arkan sambil menyalami tangan Reynald.
"Kamila tadi pergi belum pulang." kata Reynald.
"Saya telepon nggak diangkat-angkat, Om," jawab Arkan.
"Coba telepon lagi," kata Reynald.
Arkan pun langsung mengeluarkan ponsel dan menelpon Kamila. Tapi, ternyata ponsel Kamila berdering di atas, pertanda bahwa gadis itu tidak membawa ponselnya.
"Aduh kayaknya dia nggak bawa hp, itu kedengeran dari atas."
"Ya udah, nggak apa-apa deh, Om, biar saya yang cari Kamila," kata Arkan.
"Iya Nak Arkan. Om minta tolong ya, hari sudah mau sore. Om khawatir karena tadi Kamila tidak bilang mau ke mana," kata Reynald.
Reynald tidak mungkin mengatakan jika tadi Kamila pergi karena bertengkar dengannya. Karena itu sangat kebetulan sekali jika Arkan pergi mencari Kamila.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Arkan pun segera pamit kepada Reynald. la pun langsung mengemudikan motornya dan pergi mencari Kamila.
Arkan menyusuri jalan-jalan di mana Kamila sering pergi, termasuk ke danau tempat biasa mereka berkumpul. Tetapi Kamila tidak ada di sana.
Hari sudah mau malam, Arkan masih belum menemukan Kamila.
"Bas, lo sama anak-anak mencar deh. Tolong bantu gue cari Kamila," kata Arkan akhirnya kepada Bastian melalui telepon.
"Emang si Kamila kenapa?" tanya Bastian.
"Gue tadi ke rumahnya, dan kata bokapnya Kamila pergi dari rumah. Dia nggak bilang mau ke mana. Gue rasa dia pasti ribut sama bokap atau nyokapnya. Hp nya ada di kamar dia. Jadi gak bisa dihubungin, gue takut ada apa-apa. Gue tadi udah car, tapi
belum ketemu. Jadi kalian bantu gue
cari," kata Arkan.
"Oke, gue langsung blang sama anak-anak untuk bantu cari Kamila," jawab Bastian.
Arkan pun langsung menutup sambungan telepon, kemudian ia langsung mencari kembali keberadaan Kamila.
Cukup lama Arkan mencari Kamila tapi belum ketemu, Arkan melihat ke jam tangannya, sudah jam delapan malam. Arkan sudah gusar dia khawatir kepada Kamila.
__ADS_1
"Aduh Mil, lo ke mana sih?"
Namun ketika dia dalam perjalanan pulang. la seperti melihat Kamila sedang berjalan memasuki komplek perumahannya. la pun
langsung berhenti.
"Kamila!" panggilnya.
Orang itu menoleh. Ya benar, ternyata Gadis itu adalah Kamila. Arkan langsung menghentikan motornya lalu turun dari motornya.
Saat melihat Arkan mendekat, Kamila langsung memeluk Arkan dengan air mata di pipinya.
"Lo dari mana? Gue sama anak-anak nyariin lo, kok malah ada di sini? Lo mau ke rumah gue?"
Kamila menganggukkan kepalanya perlahan. Arkan memeluk Kamila dengan lembut sambil mengusap kepalanya pelan.
"Tadi gue jalan kaki dari rumah, gue lupa bawa hp. Yang gue pikirin cuman ke rumah lo aja, gue gak tau mau ke mana," kata Kamila sambil sesenggukan.
Arkan menghapus air mata Kamila dengan lembut.
"Ssstt udah-udah, sekarang kita ke rumah gue, bentar gue telpon anak-anak dulu gue mau bilang lo udah ketemu," kata Arkan.
Kamila menganggukan kepalanya dia masih setia memeluk Arkan. Arkan pun tidak masalah. Arkan segera mengambil ponsel dari sakunya, kemudian ia menelpon Bastian dan memberi kabar jika
Kamila sudah ada bersamanya supaya
Selesai menelpon, ia langsung menghampiri Kamila dan menyuruh
Kamila naik ke boncengan.
"Sebenernya kenapa lo pergi dari rumah sampai bokap lu sendiri nyariin?"
"Ini semua malah gara-gara Papah. Papah nggak mau kalau aset perusahaan jatuh ke tangan orang lain. Jadi menurut Papah supaya aset perusahaan itu nggak jatuh ke
siapa-siapa gue sama lo harus nikah. Jadi aset perusahaan tetap milik keluarga gue. Papah gak mau kalo sampai aset itu nantinya hilang. Gue ngerti sih perusahaan itu dulu dibangun dari uang almarhum
Mamah jadi mungkin Papah gak mau kalo sampai kehilangan perusahaan. Tapi, gue gak mau nikah cepeet-cepet"
"Gue mau aja Mil kalo nikah muda, tapi kalo dadakan gini malah buat gue gak yakin Mil!" kata Arkan.
"Gue gak mau, gue masih mau sekolah gue masih mau kuliah, kerja!" ujar Kamila kembali menangis dia memeluk Arkan di atas motor.
"Kawin aja dulu gimana Mil!" kata Arkan.
__ADS_1
"Arkaaan serius!" seru Kamila sambil sesenggukan.
"Iyah Sayang maaf bercanda."
Arkan sengaja mengatakan hal itu supaya Kamila bisa teralihkan dan tidak bersedih lagi.
Tetapi dalam hati ia sangat menyayangkan kenapa Reynald bisa memiliki ide untuk menikahkan mereka secepatnya. Padahal ayah Arkan sudah bersedia untuk
menyuntikkan dana ke perusahaan itu. Hal itu membuat Arkan menjadi curiga kepada Reynald.
Arkan pun langsung membawa Kamila ke rumahnya. Dan ketika melihat Kamila, Alisa pun langsung memeluk gadis itu.
"Kamila! Kenapa nangis? Arkan kamu ngapain dia? Ini pasti gara-gara Arkan. Hayo ngaku kamu!" omel Alisha kepada Arkan sambil memeluk Kamila dengan erat.
Arkan langsung mengerucutkan bibirnya, kemudian ia pun menatap sang Bunda dengan wajah memelas.
"Ibundaku Sayang, bukan aku yang bikin Kamila nangis. Tapi tadi waktu aku nemu dia di jalan, dia udah nangis," lapor Arkan.
"Nemu, kamu pikir barang apa? Ini anak kalo ngomong suka sembarangan," kata Alisha sambil menoyor kepala Arkan.
Terkadang, ia memang sangat merasa sangat gemas dengan kelakuan anak lelaki satu-satunya itu.
"Duh Bund, nggak pakai ditoyor juga kepalanya. Ini difitrahin loh diazanin sama Ayah. Bunda malah toyor-toyor aja," protes Arkan.
"Ya abis, kamu kan emang suka nyebelin. Sekarang cerita sama Bunda kenapa Kamila sampai nangis gini? Lihat nih bajunya aja sampai kotor. Sayang,kamu diapain sama Arkan?"
"Heran yang anaknya kan gue kenapa lo yang diperhatiün mulu sih Mil?" kata Arkan sambil mencolek dagu Kamila.
"Iya soalnya kamu nyebelin jadi Bunda nyalahin kamu bukan nyalahin orang lain. Udah sekarang bawa Kamila masuk. Mila kamu mandi di kamar Bunda. Nanti bunda kasih baju ganti. Yuk jangan nangis kayak gini. Bunda jadinya panik," kata Alisha
dengan penuh kasih sayang.
Wanita cantik itu pun langsung
membimbing Kamila menuju ke kamarnya. Kemudian ia memberikan handuk bersih kepada Kamila.
"Kamu mandi dulu, muka kamu tuh udah kusut, baju kamu kotor begini. Bunda ambilin kamu baju, ya."
Kamila hanya mengangguk kemudian ia pun melangkah menuju ke kamar mandi yang ada di kamar pribadi Alisha. Kemudian ia menyalakan shower air hangat dan mulai mengguyur tubuhnya.
Kamila merasa sangat lelah setelah berjam-jam ia berjalan kaki tak tentu arah. Sampai akhirnya ia ditemukan oleh Arkan saat menuju ke rumah kekasihnya itu.
Setelah mandi, Alisha memberikan pakaian yang baru kepada Kamila. Gadis itu sampai
__ADS_1
terbelak kaget.
"Bunda, kok ini baju baru sampai ada dalemannya segala? Emang Bunda beliin lagi buat aku? Kapan belinya?" tanya Kamila.