Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
108. Kabar Duka


__ADS_3

"Arkan!" Kamila masih bergetar sambil memanggil nama Arkan.


"Mil jangan bikin gue khawatir!" Arkan terkejut saat melihat Kamila menjatuhkan ponselnya dan berteriak.


Dengan khawatir ia memegang pundak Kamila.


"Mila hey!" panggil Arkan lagi.


"Ada apa? Kok muka lo langsung begitu?" tanya Arkan.


Kamila menoleh dengan wajah yang sudah basah oleh air mata ia pun langsung memeluk Arkan.


"Sstt... Kenapa Sayang?"


"Kakek sama Nenek kecelakaan di jalan tol waktu mereka mau pulang dari kantor ke rumah. Ini Bunda yang telepon, kita disuruh pulang," kata Kamila.


Arkan juga tak kalah terkejut saat mendengar apa yang dikatakan Kamila. Arkan langsung mengambil ponselnKamila yang jatuh, kemudian ia pun meraih tas Kamila.


 "Ayo, kita pulang sekarang. Ayah sama Bunda pasti udah beres-beres duluan," kata Arkan.


Arkan dan Kamila pun bergegas pulang, selama dalam perjalanan Kamila terus menangis tanpa suara.


Hanya ada air mata yang mengalir di pipinya. Hal itu membuat Arkan bertambah panik dan khawatir.


"Sayang jangan nangis terus, percaya sama yakin kalo Kakek sama Nenek pasti baik-baik aja, percaya deh!" ujar Arkan sambil mengusap tangan Kamila.


"Gu-gue takut Arkan! Gimana kalo mereka ninggalin gue juga kayak Mamah. Hiks!"


"lh jangan bilang gitu!" tegur Arkan.


Sesampainya di rumah, Kamila disambut oleh pelukan Alisha. Wanita itu berusaha untuk menguatkan Kamila.


"Kamila Sayang!" Alisha mengusap-usap pundak Kamila dengan sayang.


"Bundaaa. Kakek sama Nenek bakalan baik-baik aja kan?" tanya Kamila yang menangis dalam pelukan Alisha.


"lyah, Sayang! Mila sabar yah, Ayah udah pesen tiket pesawat buat kita, kita ke bandara. Sekarang kalian ganti baju, untuk baju Mila sama Arkan udah Bunda beresin, gak mungkin kalian pake baju sekolah," kata Alisha kepada Kamila dan Arkan.


"Iyah Bund, aku sama Kamila ganti baju dulu.. Ayo Mil!" Arkan menarik tangan Kamila agar segera masuk ke rumah.


Kamila dan Arkan pun bergegas menuju kamar mereka masing-masing, untuk berganti pakaian dan membawa apa yang ingin mereka bawa ke Jogja. Mereka ke bandara diantar oleh sopir yang ada di rumah mereka.

__ADS_1


Sementara Sean dan Kean akan bertugas menjaga rumah. Arkan dan Kamila sudah selesai dengan bajunya mereka turun ke bawah.


"Kean, Sean! Tante minta tolong kalian jaga rumah yah, kalo kalian mau ngajak Daren atau Bastian ke rumah ya ke rumah aja biar kalian juga gak kesepian!"


Kean dan Sean mengangguk bersamaan, "lyah Tante, Tante gak usah khawatir!" seru Kean.


"Mbok juga ada di rumah kalo mau makan jangan keseringan beli, minta Mbok buat masak, di kulkas ada banyak makanan sama sayur juga, pokoknya kalian jangan sampe kekurangan! Om sama Tante gak lanma, setelah semuanya selesai kita pasti pulang!" kata Alisha kepada Kean dan Sean.


Kean dan Sean merasa terharu karena begitu baiknya keluarga Arkan, bahkan saat mereka hendak keluar kota pun masih memikirkan orang lain agar nyaman berada di rumah mereka. Jika di pikir-pikir Kean dan Sean hanya numpang hidup di rumah Arkan, tapi Alisha dan Marvin sangat menyayangi mereka.


"lyah Tante, semua bakalan baik-baik aja, Daren sama Bastian nanti kita hubungi biar ke sini," jawab Kean.


"Terima kasih, yah .. kami pergi dulu," kata Alisha.


"Thanks yah Bro!" Arkan menepuk bahu kedua sahabatnya itu.


"'Kalem Bang, lo jaga Kamila aja dia pasti sedih banget!" kata Sean membuat Arkan menganggukan kepalanya.


Setelah berpamitan mereka pun bergegas berangkat, orang kepercayaan Marvin sudah menunggu di bandara. Dia juga yang menyediakan tiket untuk mereka berempat dan kebetulan pesawat take off 1 jam lagi sehingga mereka tidak perlu menunggu lama.


Setelah beberapa waktu di dalam pesawat mereka landing dengan selamat di Yogyakarta. Dan orang kepercayaan Marvin di sana sudah menjemput mereka.


"Kita langsung ke lokasi, Pak?" tanya sopir kepada Marvin.


"Apa nggak sebaiknya kita langsung ke rumah sakit aja, Yah?" kata Arkan.


"Masa ke rumah sakit bawa barang-barang segini banyak?"


"Kan barang-barangnya bisa ditaro di mobil," kata Arkan sambil menoleh ke arah Kamila. la tidak tega melihat Kamila terus-menerus menangis.


"Iya Ayah, kayaknya kita langsung ke rumah sakit aja biar barang-barang kita ada di mobil. Masnya kan bisa nunggu daripada kita nggak tenang juga dengan kondisi Kakek sama Keneknya Kamila," kata Alisha.


Marvin pun mengalah, mereka langsung menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung bertanya kepada resepsionis di mana kakek dan nenek Kamila dirawat.


Rupanya kakek dan neneknya Kamila ada di ruang ICU. Keadaan keduanya cukup parah, banyak selang dan peralatan medis


lainnya yang terpasang di tubuh keduanya.


"Bagaimana dengan keadaan Kakek dan Nenek saya, Dok? Apakah mereka masih bisa diselamatkan?" tanya Kamila.

__ADS_1


"Kondisi mereka saat ini sedang kritis, karena usia mereka juga yang sudah tua. Jadi daya tahan tubuhnya sudah cukup lemah. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa kami tim Dokter sudah melakukan yang terbaik, selanjutnya hanya bisa memasrahkan kepada Tuhan," kata dokter.


"Apa kami bisa melihat kondisi pasien?" tanya Alisha.


"Boleh, silahkan ... mereka juga sudah menunggu. Tadi pasien memanggil nama Kamila. Apakah yang bernama Kamila ada?" kata dokter.


"Saya Kamila, saya cucu mereka." Dokter itu pun menganggukan kepalanya.


"Kalo begitu silakan masuk, pasien sudah menunggu," kata dokter.


Kamila Arkan pun langsung masuk ke dalam ruang rawat. Ketika melihat cucunya datang, tangan Nenek Kamila langsung menggapai ke arah cucunya itu. Kamila langsung memeluk neneknya sambil menangis.


"Nenek sama Kakek kenapa? Nenek kan udah janji kalo Nenek sama Kakek bakalan sehat terus. Kenapa Nenek sekarang sakit? Nenek bohong sama Mila," kata Kamila.


Senyum Marina terbit dia memegang wajah cucunya, "Nenek baik-baik aja kok, Nenek seneng kamu sudah mau datangjenguk Nenek!"


Marina mengusap rambut panjang cucu kesayangannya itu.


"Kakek kenapa bohong sama Mila, Mila ngambek yah!" kata Kamila dengan suara parau menahan tangis.


"Loh kok ngambek sih, Kakek baik-baik aja kok, Mila gak usah khawatir!" kata Frans berusaha menenangkan Kamila.


"Tapi Kakek sama Nenek ada di rumah sakit, itu namanya kalian gak baik-baik aja, Mila sedih!" Air mata Kamila kembali meluruh.


Marina tersenyum, "Kamu sangat mirip dengan lbu kamu Sayang, Kamila sekarang sudah besar harus bisa jaga diri yah, Arkan itu laki-laki yang baik, kalian harus selalu rukun yah, Nenek percaya sama Arkan!"


Kamila menganggukan kepalanya, " lyah Nek, Arkan emang baik banget sama aku, tapi Nenek tau aku lebih baik lagi kalo Nenek sama Kakek ada di samping aku, kalian ikut ke Jakarta aja yah!"


Marina mencium kepala cucunya itu, "Sayang tau kan kalo semua yang datang akan pergi?"


"Enggak! Nenek gak boleh pergi, Mila gak mau Nenek pergi. Enggak!" seru Kamila yang kembali menangis memeluk Marina.


Kamila melihat ke arah Marvin dan Alisha, "Marvin, Alisha! Terima kasih sudah mau datang, apa boleh kalo saya minta satu permintaan kepada kalian?"


Marvin dan Alisha kompak menganggukan kepalanya, "Boleh Tante silahkan, akan kami lakukan," jawab Alisha.


"Tante titip Kamila yah, rasanya Tante udah gak kuat lagi. Sekarang Kamila udah gak punya siapa-siapa selain kalian, jadi Tante mau titip Kamila pada kalian," kata Marina


dengan terbata-bata.


"Enggak Nek enggak! Nenek ngomong apa sih, Mila beneran marah nih yah?!" kata Kamila sedih.

__ADS_1


"Tante jangan bilang begitu, saya dan suami saya pasti akan selalu menjaga Kamila, tapi Om sama Tante juga harus sembuh, Dokter sudahmengusahakan yang terbaik. Cuma tinggal Om sama Tante yang harus semangat buat sembuh, demi Kamila!" kata Alisha dengan lembutnya.


__ADS_2