Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
118. Nikah Muda Tak Disetujui


__ADS_3

"Aduh gue ketinggalan padahal gue mau mau liat!" ujar Naya.


"Ih, kalian bener-bener ya jahat banget iseng, terus kepikiran lagi ngerjain orang kayak gitu," kata Kamila.


Teman-temannya itu masih sibuk membahs perbuatan mereka.


"Alah dia aja nggak mikirin orang lain ngapain Kita mesti mikirin dia sih?" kata Bastian lagi.


"Bener tuh Bas, gue setuju makanya tadi gue sengaja kasih sambel yang banyak biar dia tahu kalo mulut dia itu nyebelin dan berhenti ngoceh," kata Kean.


Kamila hanya tertawa kecil semakin lama ia merasa jika teman-teman Arkan semakin usil dan jahil persis seperti Arkan.


Arkan juga dulu pertama kali mendekati Kamila sangat menyebalkan, tapi sekarang menjadi orang yang sangat Kamila sayangi.


Arkan itu hidupnya, saat Arkan menaikan sedikit nadanya saja itu membuat Kamila takut.


Saat sampai di rumah Kamila bingung karena ada mobil lain, saat Kamila masuk Kamila melihat Kakek dan Neneknya Arkan atau Mamih dan Papihnya Alisha.


Chandra dan Tifah Kamila menyalami semuanya.


"Loh ini Kamila kan? Lagi main di sini atau gimana kok pulang sekolah bisa barengan sama Arkan?" tanya Chandra.


"Enggak Pih sekarang Kamila tinggal bareng-bareng di sini sama aku dan Marvin, Arkan, Sean, sanma Kean ... nggak apa-apa rumah Ini kan besar masih cukup buat nampung banyak orang. Biar rame," kata Alisha.


"Loh emangnya orang tuanya Kamila ke mana?" tanya nenek Tifah kepada Alisha.


Karena melihat Papi dan maminya bingung akhirnya Alisa pun menceritakan apa yang sudah terjadi terhadap Kamila kepada kedua orang tuanya itu.


Mendengar cerita dari Alisha hati Tifah pun tersentuh ia kemudian menyuruh Alisha untuk memanggil Kamila.


"Nenek manggil Mila?" tanya Kamila menghampiri nenek Tifah.


Tifah pun kemudian langsung memeluk gadis itu


"Nenek sudah mendengar dari bunda dan ayah kamu yang sabar kamu ya Nak. Tinggal aja di sini, tapi kalo si Arkan nyebelin dan bikin kamu nggak betah, kamu boleh kok tinggal sama nenek dan kakek. Rumah kami juga besar, kakek sama nenek pasti akan menjaga kamu. Si Arkan ini suka jail anaknya," kata Tifah.


"Eh, Nenek sembarangan mau bawa Kamila. Nggak... nggak boleh, Kamila nggak boleh tinggal di mana-mana dia harus tinggal di sini, enak aja," protes Arkan.


"Tuh kan, Mamih denger apa kata anaknya. Dia posesif banget, cemburuannya nggak ada dua. Persis sama kayak ayahnya," adu Alisha kepada ibunya itu.


"Iya buah itu kan jatuh nggak jauh dari pohonnya, Sha. Jadi wajar aja kalau bucinnya Marvin itu nular ke anaknya. Makanya Arkan sekarang bucin banget sama Kamila. Udah deh Mila kamu tinggal sama nenek sama kakek aja ya. Nggak usah tinggal di sini nanti kamu diisengin terus sama si Arkan. Biarin aja dia kangen sama kamu," kata nenek Tifah sengaja menggoda Arkan.

__ADS_1


"Mana boleh Mih. Kemarin aja kita ke Jogja.... padahal si Kamila masih mau di sana sebentar. Eeh, si Arkan nggak mau pulang duluan, kekeuh Kamila juga harus ikut pulang," kata Alisa lagi


"Duh, Bunda jangan buka kartu dong," protes Arkan wajahnya sudah memerah.


"Ya .. Emang kenyataan kayak gitu Bang. Kamu mana bisa sih jauh dari Kamila. Nih kemarin tuh ya Mih, si Arkan kesel sama Kamila kan terus dia pura-pura marah udah gitu nggak mau ngomong sama Kamila. Pokoknya si Kamila didiemin eh giliran Kamila mau dibawa sama kakek neneknya dia nangis bombay udah kayak anak balita


ngeraung-raung bilang, 'jangan pergi ya Mil, aku minta maaf, kata Alisha


menirukan perkataan Arkan tempo hari. Mendengar cerita anaknya Chandra dan Tifah langsung tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak menyangka jika Arkan secinta itu kepada Kamila.


Tetapi Chandra dan Tifah pun tidak masalah karena mereka melihat jika Kamila adalah anak yang baik dan juga Sopan.


"Jangan bilang kalian mau nikah muda juga kayak Ayah sama Bunda?" kata Chandra kepada Arkan dan Kamila.


Ditanya begitu Arkan langsung mengerucutkan bibirnya.


"Mana boleh sama ayah orang kemarin aja aku minta dikawinin nggak boleh," jawab Arkan.


"Nikah Arkan! Nikah, bukan kawin otaknya mesum terus!" kata Alisha sambil menjewer kuping anaknya itu hingga mengaduh kesakitan.


"Aduh iyah Bund nikah!" Arkan memegangi telinganya yang dijewer ibunya.


"Emang Mila mau nikah muda sama Arkan dia itu suka bikin kesel loh," kata Marvin.


Kamila tertawa dia menganggukan kepalanya, "Mila udah gak punya siapa siapa Ayah, Arkan sekarang hidup Mila, kalo Arkan mau nikah. Ayah sama Bunda setuju, Mila mau!"


****


Siang itu Arkan kembali menemui sang ayah. la membawakan segelas kopi untuk Marvin. Melihat anak lelakinya itu membawakan kopi untuknya tentu saja. Marvin merasa kebingungan.


Hari itu Marvin memang merasa lelah sehingga ia memutuskan bekerja dari rumah saja.


"Ada angin apa nih tumben amat kamu bawain Ayah kopi. Biasanya juga Bunda yang bawain kopi. Mau minta apa?" kata Marvin.


"Ish, Ayah mah begitu ... Aku kan niatnya bawain minuman buat ayah. Baik loh anaknya ini," jawab Arkan sambil meletakan kopi itu di meja Marvin.


"Ayah nggak percaya. Kamu biasanya kalo kek gini suka ada udang dibalik batu," jawab Marvin.


"Ngapain udangnya ngumpet di balik batu," sahut Arkan ngeyel.


PLETAK!

__ADS_1


Dengan gemas Marvin pun memukul putranya itu.


"Heran deh Ayah, kamu ngeselin kek gini itu turunan siapa sih?"


"Turunan Ayahlah, masa turunan tetangga, itu berarti aku anak tetangga,' kata Arkan sambil terkekeh.


"Ngaco kamu, bibit yang Ayah tanem tuh unggul makanya kamu seganteng ini!" ujar Marvin penuh percaya diri.


Arkan mengusap-usap dagunya," Hm. Kalo Ayah bibitnya unggul aku juga dong aku mau nanem di Kamila ah"


 "Ayah Bunuh kamu kalo berani begitu sama Kamila sebelum menikah!" ancam Marvin.


"Ayah sadis kayak Bunda!"


Marvin hanya bisa geleng kepala melihat tingkah Sang anak.


"Udah ah, Ayah lagi banyak kerjaan. Kamu mau apa sih, Bang?" tanya Marvin lagi.


Arkan menghela napas panjang dan mengembuskannya Perlahan.


"Ayah, aku mau nikah sama Kamila ya? Lagian bentar lagi juga kelulusan. Apa salahnya kalo Kita nikah muda? Ayah sama bunda juga dulu nikah muda, kan?" kata Arkan.


Marvin bersidekap dada, Arkan belum menyerah ternyata, anak sulungnya ini memang keras kepala luar biasa. Tetapi, Marvin langsung menggelengkan kepalanya.


"Enggak, Arkan. Nanti aja kalo kalian udah sama-sama lulus. Emang kamu kira nikah itu gampang? Nikah muda gak semulus itu, Ayah sama Bunda juga dulu banyak masalah," jawab Marvin.


"Ish, Ayah..."


"Sekali engga ya tetep enggak," kata Marvin.


"lh... Ayah mah gak asik!"


Dengan mengerucutkan bibirnya, pemuda itu pun segera keluar dari ruangan kerja Marvin.


Arkan tidak marah dia hanya kesal, ada apa dengan Ayahnya itu mengijinkan untuk menikah saja tidak boleh.


Saat Arkan hendak mengambil minum dia melihat ibunya tengah duduk sendiri di dekat taman.


Arkan berinisiatif, sambil membawakan segelas jus jeruk, Arkan pun menghampiri Alisha.


"Bunda... Lagi ngapain? Kok sendirian, ini aku bawain jus jeruk. Siang gini pasti enak banget minum jus dingin " kata Arkan.

__ADS_1


__ADS_2