
"Dapet!" Arkan yang sedari tadi memperhatikan ponselnya lantas langsung mendekat ke arah Daren.
"Di mana?"
"Gue dapet lokasinya, tempatnya gak jauh dari sini, ayo kita ke sana sekarang sebelum Kamila di apa-apain!" kata Daren kepada Arkan.
"Bener kata Daren, kita harus ke sana sekarang. Kasian Kamila, Bunda jadi khawatir," kata Alisha dengan wajah yang begitu panik.
Alisha memang sudah khawatir ketika Kamila menghilang. Wanita itu sangat takut jika terjadi sesuatu kepada Kamila.
Daren menemukan lokasinya melalui pesan itu, mereka semua lantas bergegas ke sana. Semua teman Arkan juga ikut meluncur menuju lokasi.
Sementara itu Kamila yang sedang bersama Risa terpaksa harus menerima
tamparan demi tamparan dari Risa. Wanita itu seperti orang yang sakit jiwa. Terkadang marah dan tertawa sendiri.
"Kamila!" Rena mencengkram pipi Kamila yang sudah terasa perih akibat tamparan.
"Sekarang Rena harus tau kalo saingan terberatnya sebentar lagi mati," kata Risa sambil tertawa.
Wanita itu pun segera mengambil ponselnya dia melakukan panggilan video dengan Rena.
"Halo anak Mamah!" sapa Risa dengan senyum mengembang.
"Halo Mah, Mamah lagi ngapain itu,m Kenapa tempatnya gelap.... Mah itu siapa yang dibelakang Mamah?" tanya Rena saat melihat sang ibu menelepon dan ada seorang gadis di belakangnya.
"'Kamu pasti senang Sayang. Lihat kan? Ini Kamila, dia sudah ada di tangan Mamah, sebentar lagi Mamah akan membunuhnya demi kamu, Sayang!" kata Risa sambil menunjukan Kamila kepada Rena.
Rena yang melihat Kamila sedang terikat tentu saja panik. Gadis itu memang sedang dalam pengobatan. Dan semakin hari ia semakin sehat.
"Apa yang Mamah lakuin! Kamila gak salah Mah!" kata Rena ikut panik.
"Dia salah Sayang, dia sudah hadir di tengah-tengah kamu dan Arkan, harusnya gadis ini tidak pernah ada di dunia!" jawab Risa ketus.
"Enggak Mah, Rena yang salah. Rena yang selalu maksa Arkan dan selalu menyakiti Kamila!"
Rena bahkan sudah menyadari jika apa yang selama ini ia lakukan kepada Kamila itu salah maka dari itu dia kembali ke Us untuk menjauhi Arkan dan Kamila.
"Mah, udah yah! Mamah ngapain sih nyulik Kamila, dia anak baik Mah. Rena mohon lepasin dia," pinta Rena memohon.
"Kamu gak salah nyuruh Mamah lepasin perempuan ini? Gara-gara dia kamu sama Arkan gak jadi tunangan. Dia harus dapet hukumannya, hukuman atas semua yang udah di lakuin ke kamu, Sayang!" jawab Risa.
"Enggak Mah, Rena gak papa kok. Rena udah sembuh, lagian selama ini kan emang Arkan yang gak mau nerima Rena jadi buat apa Rena maksain Arkan, Mah! Arkan bahagia sama Kamila. Mamah gak usah ngelakuin hal yang aneh-aneh, lepasin Kamila Mah!" kata Rena.
"Kamu keterlaluan Rena! Mamah gak akan pernah lepasin perempuan ini karena dia yang sudah menghancurkan hidup putri Mamah!" kata Risa penuh amarah.
"Tapi Mah-"
PRANG!
Mendengar ucapan Rena, Risa pun marah. Dengan penuh emosi dia membanting ponselnya lalu menatap kepada Kamila. Lalu mendekati Kamila.
PLAK!
"Dasar perempuan sialan! Kamu ngasih guna-guna apa pada anak saya sampai dia belain kamu?! Perempuan licik!"
SRETTTT...
"Arghh! Tante gila! Bener yang seharusnya berobat itu Tante bukan Rena?!" teriak Kamila.
Risa mengambil pisau lalu menggoreskan ke pipi Kamila membuat darah mengalir Kamila meringis sakit.
"Saya tidak peduli! Pipi kamu sangat mulus Kamila, bagaimana kalau satu lagi!"
__ADS_1
SRETTTT...
"ARGH!" Darah segar kembali mengalir di pipi Kamila membuat gadis itu berteriak kesakitan.
BRAKH!
Tiba-tiba saja, pintu terbuka menampilkan banyak orang yang sangar familiar, yaitu keluarga Arkan dan teman-temannya.
"KAMILA?!" teriak Arkan saat melihat kead aan kekasihnya itu.
"Mah apa yang Mamah lakukan, lepasin Kamila! Udah cukup Mah, apa yang Mamah lakuin itu salah," kata Heri.
"Kamu? Kenapa kalian bisa ada di sini?" kata Risa.
"Hentikan semuanya Risa, kamu gila!" kata Marvin.
"Tante, apa yang Tante lakuin sama Kamila?!" Arkan terkejut melihat darah yang berada di pipi Kamila.
"Wah-wah pangeran berkuda putih juga datang! Selamat datang tuan muda Arkan yang terhormat!" ujar Risa meledek Arkan.
"Lepasin Kamila Tante! Jangan gila, atau saya akan melakukan hal yang lebih dari ini!" seru Arkan.
"Hahaha saya gila? Kamu semua harus menonton pertunjukan di mana menantu kalian akan saya bunuh! Ini semua balasan dari saya untuk Rena!"
"Serang mereka!" Titah Risa pada anak buahnya.
BUGH!
BRAKH!
Mereka semua bergulat sedangkan Alisha terus memukuli anak buah Risa menggunakan kayu.
Daren, Bastian, Kean dan Sean juga ikut memukuli mereka.
"Bau anjir!" saut Kean.
"Lo kayak gak pernah mandi Om! Kayak si Kean!" kata Sean.
Pletak!
Kean menyentil kepala adiknya itu, "Malu gue punya adik kayak lo!"
"Gue juga malu punya kakak kayak lo!" kata Sean.
Daren hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dalam genting tiga rusuh itu masih bisa tertawa.
Semua anak buah Risa sudah terkapar tidak berdaya. Risa yang melihat itu panik dia kembali mengangkat pisau yang ada di
tangannya.
"ARGH! ARKAN?!" teriak Kamila.
"KAMILA?!"
"Kamu sakit jiwa, Risa!" teriak Alisha kesal saat melihat darah di pipi Kamila lagi.
"Saya gak gila! Kamu jangan sembarangan! Saya bisa melakukan apa saja sekarang kepada Kamila. Bahkan saya bisa membunuh gadis ini sekarang juga!" pekik Risa sambil menggoreskan pisaunya.
"RISA ANJIN*!"
"GUE UDAH GAK BISA PAKE SOPAN SANTUN LAGI SIALAN?!"
Arkan semakin marah saat Risa menggores pisau di tangan Kamila. Arkan murka dia mendekat, dan mengeluarkan pistolnya.
__ADS_1
Marvin dan Alisha tentu terkejut kapan pistol itu ada pada Arkan, padahal mereka sudah menyembunyikannya.
"Sebelum lo bunuh Kamila, gue duluan yang bakalan bunuh lo, *****!" kata Arkan sambil menodongkan pistolnya.
"Ar, kontrol Ar! Tahan!" seru Daren saat melihat mata Arkan yang memerah menahan amarah.
Pemuda itu merasa khawatir jika Arkan akan melakukan hal yang nekad.
"Sini kamu! Saya gak takut!"
"Lepasin Kamila, atau gue bunuh lo sekarang juga!" ancam Arkan.
"Haha anak bau kencur kayak kamu bisa apa?!"
DOR!
BRAKH!
Arkan melepas pelatuknya hingga mengenai sebuah kursi.
"Lepasin Kamila?!" kata Arkan dingin.
"Gak akan pernah!"
Arkan dan Risa terus berdebat, Risa menodongkan pisau kepada Kamila. Dan Arkan kembali menodongkan pistolnya.
Arkan mendekat dengan tatapan menghunusnya.
"Jangan mendekat atau saya bunuh Kamila?!" Risa hendak menusukan pisau ke pipi Kamila.
Arkan menatap Risa tajam. Risa yang melihat tatapan itu sebenarnya takut. Arkan semakin mendekat dan itu membuat Risa semakin menusukan pisaunya.
"Ssshhhh... Arkan!" Kamila merasakan perih yang amat sangat.
"Nikmati saja Kamila?!" seru Risa.
"ARGH!" Kamila berteriak sakit.
"Hentikan!" teriak Arkan, Arkan benar-benar hendak menarik pelatuknya.
Kamila panik, "Engga Arkan jangan! Inget keluarga lo, gue gak papa!" kata Kamila sambiil menahan rasa sakit.
"Gak usah sok jadi pahlawan, cewe sialan!" kata Risa.
Srett...
"ARGH sshhh, sakit Tante!" Air mata Kamila mengalir.
"ANJIN*"
BRUKH!
PLAK
Arkan murka saat Kamila berteriak kesakitan. Tanpa berpkir panjang, Arkan
berlari menerjang Risa dia menampar wajah wanita itu.
"Apa yang sakit Mil?" Setelah Risa jatuh Arkan melepas ikatan pada Kamila.
Kamila memeluk Arkan erat. Kamila menunjuk pipinya.
"Ssshhh. Sakit Arkan!" Arkan menyeka darah yang mengalir di pipi Kamila.
__ADS_1
Sungguh Arkan tidak bisa seperti ini, hatinya bergejolak.