Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
122. Hampir


__ADS_3

"Busyet LO cewek apa cowok sih. Casing doang pake rok," kata Arkan.


"Heh, upil naga! Mentang-mentang kakak kelas Lo mau nindas adik kelas? Enak aja! Ga ada, Lo sekarang ke lapangan!"


Lily memang sangat tegas, dia tidak peduli siapa. Meski dia tau siapa Arkan tetapi gadis itu adalah gadis yang termasuk bukan fans pemuda itu.


Bagi Lily, Arkan itu bukan tipe lelaki untuk dikejar. Apa lagi pemuda itu terkenal tengil setengah mati.


"Lo jadi murid badungnya naudzubillah, amit-amit ngidam apa emak Lo dulu," gerutu Lily sambil membawa Arkan ke lapangan.


"Eh, orang-orangan sawah, gini-gini gue bibit unggul, makanya ganteng," kata Arkan.


"Hih najis! Kok bisa yah Kak Kamila betah pacaran sama lo, kalo gue sih ogah. Tiap hari bikin darah tinggi!"


"Mimpi lo, lagian juga gue gak mau sama lo, gue udah punya Yayang Mila tersayang, cewe lain mah lewat!" jawab Arkan penuh percaya diri.


"Huek..." Lily berlagak ingin muntah.


"Hamil lo! Mual-mual begitu?!" Arkan yang jahil terus saja mendebat osis itu.


Arkan di bawa ke lapangan, Kamila terkejut saat melihat Arkan, Arkan mengedipkan sebelah matanya kepada Kamila. Kamila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kak nih cowo lo bandel banget manjat-manjat tembok udah kayak titisan tokek sama anakan monyet lepas dari kandang," adu Lily kepada Kamila.


"Heh memunah ganteng gini dibilang anakan monyet!" seru Arkan tidak terima.


Kamila tentu saja terkikik geli mendengar perkataan Lily dan perdebatan Arkan.


"Haha, bawaan Ly, maklum. Oiya btw thanks yah udah di seret ke sini," kata Kamila.


"Noh baris sana, Kakak kelas kok hobi bolos, yah Kak Kamila!" ujar Lily penuh emosi.


"Yeee anakan kodok!" gerutu Arkan.


Kamila tertawa saja dulu juga Arkan hobi sekali memancing emosinya.


Lily memang cukup dekat dengan Kamila. Setelah menyuruh Arkan berbaris, gadis berambut sebahu itu pun segera mengatur barisan yang lainnya.


Sementara Kamila berkeliling mencatat nama-nama yang telat.


"lh!" Kamila terlihat kesusahan karena bukunya terus saja bergerak.


"Sini Sayang!" Arkan yang peka dia menarik tangan Kamila, dia memberikan punggungnya agar Kamila menjadikan punggung Arkan sebagai alas supaya bukunya tidak bergerak terus.


"Jadiin meja nih, ikhlas gue demi pacar tersayang!" kata Arkan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Kamila tertawa kecil sambil mencubit lengan Arkan. Ini namanya pacaran berkedok di hukum.


"Makasih ya," katanya.


Senyum Kamila mengembang, dia mencatat nama-nama dengan punggung kekasihnya itu.


"Yang," panggil Arkan.


"Kenapa?" saut Kamila.


"Itu temen Lo busyet galaknya udah kayak singa. Lebih galak dari Lo dulu," kata Arkan.


Kamila tertawa geli, mendengar Arkan mengomel.


"Lily emang galak anaknya. Dia kan guru karate juga udah sabuk hitam."

__ADS_1


"Mana ada cowok yang mau sama cewek galak begitu. Yang ada ngeri mau deket udah ditendang duluan," kata Arkan.


"Cocok sama Kean, bisa langsung jadi jinak tuh anak kalo sama Lily," kata Kamila.


"Sama Daren aja, Daren kaku dia bar-bar makan hati si Lily!"


Sontak saja Kamila dan Arkan tertawa bersamaan seakan dunia milik berdua.


Kamila sudah selesai dia berdiri di samping Arkan sambil menutup pulpennya.


"Oiya lo nanti disuruh hormat ke bendera sampe istirahat, gak papa kan? Bandel sih pake acara telat," kata Kamila.


Arkan tertawa kecil, lalu mengusap tangan Kamila.


"Gak papa gue udah biasa dijemur. Kalo pun lo yang dihukum gue rela gantiin lo, biar item sekalian!"


Kamila tertawa dia ikut gemas dengan Arkan.


Setelah itu, diumumkan untuk mereka semua yang telat agar hormat kepada bendera.


Kamila menunggu Arkan dipinggir lapangan karena pemuda itu sedang dihukum.


"Ke kelas aja, nanti istirahat gue susul!" Arkan menyuruh Kamila ke kelas saja karena Arkan sampai jam istirahat.


Kasian Kamila jika harus menunggu Arkan.


"Beneran ga apa-apa?" tanya Kamila.


"Iyaa Lo ke kelas aja gih, gue mau berjemur dulu," jawab Arkan ngeyel.


Akhirnya, karena hari ini ada pelajaran Kimia, Kamila kembali ke kelas. Kamila tidak mau ketinggalan pelajaran.


Saat jam istirahat Kamila berjalan terburu-buru menuju lapangan dia mau


memberikan minum untuk Arkan.


"Ke mana lo?" tanya Naya.


"Nyari cogan!" jawab Kamila sambil tertawa.


Kamila keluar dari kelas, dia ingin melihat Arkan. Saat ini Arkan pasti haus.


BRUKH!


Tapi saat Kamila berjalan tergesa-gesa hendak turun tangga dia menabrak seseorang. Orang itu menahan pinggang Kamila. Kamila melihat siapa yang menolongnya dan ternyata Arkan yang menahan pinggangnya.


"Mau ke mana sih Sayang, buru-buru amat hm?" kata Arkan menggoda.


Kamila diam saja dia menatap mata Arkan dalam. Arkan terkekeh.


"Huft!" Arkan meniup bulu mata Kamila membuat gadis itu tersadar dan melepas tangan Arkan dari pinggangnya.


"Ganteng yah? Terpesona?" tanya Arkan dengan percaya dirinya.


"Pede lo!" seru Kamila membuat Arkan terkikik.


Arkan merapikan rambut Kamila, " Tadi mau ke mana? Kok buru-buru?" Kamila tersenyum.


"Mau ketemu lo" jawab Kamila dengan wajah merona.


"Aduh baper Abang Neng!" jawab Arkan sambil memegangi dadanya.

__ADS_1


Tawa keduanya pun meledak seketika.


"Minum dulu!" Kamila langsung memberikan sebotol minuman kepada Arkan yang langsung diteguk habis oleh


pemuda itu.


"Makasih sayang, tau aja gue haus."


"Terima kasih kembali Abang Arkan!" ujar Kamila sambil tertawa.


Arkan mengacak rambut Kamila lalu merangkul gadis itu.


"Sekarang mau ke mana?" tanya Arkan.


"Kita makan dulu, yuk. Di taman sekolah aja, gue bawa bekel makanan, yang tadi bawa dari rumah," kata Kamila.


"Meluncur Sayang!"


Mereka berdua pun segera berjalan menuju ke taman sekolah. Kemudian mereka makan bersama masakan yang sudah Kamila masak tadi pagi.


Hanya mie goreng Jawa saja tetapi, bagi Arkan itu sudah sangat nikmat sekali.


Kamila menyuapi Arkan, "Enak?"


Arkan mengangguk-anggukan kepalanya, "Enak dong, masakan calon bini gak mungkin gak enak!"


Senyum Kamila mengembang, " Tadi ngambil apa di rumah?"


"Ada lah Sayang, buat belajar kok!" jawab Arkan.


Kamila menelisik wajah Arkan, " Bohong kan?"


"Enggak Sayang!"


"Muka lo, muka-muka tukang ngibul soalnya!" celetuk Kamila.


"Parah lo sama cowo sendiri juga!" Arkan berpura-pura merajuk.


"Haha bercanda, sini-sini peluk!" kata Kamila.


Kamila memeluk Arkan dari samping begitu juga Arkan.


"Eh... Apa nih ngeganjel?" tanya Kamila.


Arkan langsung melepas pelukannya, "Pulpen Yang ini tadi yang gue ambil di rumah!" Arkan dengan sigap menunjukan pulpen di saku jaketnya.


"Oh gue kira apa? Tapi rajin amat pulang ngambil pulpen doang." Kamila kembali menyuapi Arkan. Arkan tertawa saja.


"Mil, kok kayaknya nih taman ada yang berubah yah tapi apa gitu," ujar Arkan.


"Masa sih?" Kamila menelisik sekeliling.


Arkan membelakangkan jaketnya, dia diam-diam mengambil pisau dan pistolnya lalu dipindahkan ke saku sebelahnya saat Kamila sibuk melihat ke sekeliling.


"Oh itu bunga dari kelas satu di tanem di situ!" tunjuk Kamila.


"Eh iyah baru sadar gue!" kata Arkan.


Kamila kembali menyuapi Arkan lagi dengan pelan.


"Hampir aja!" gumam Arkan.

__ADS_1


__ADS_2