
Marvin menempatkan Arkan di ruangan WIP. Tampak Alisha sedang duduk di samping ranjang Arkan sambil menggenggam tangan pemuda itu.
"Mila!" Alisha tersenyum saat melihat Kamila masuk ke dalam.
"Sini Sayang, siapa tau kalo kamu ngomong sama Arkan dia bakalan sadar!" kata Alisha.
Kamila memandang Alisha dengan wajah penuh air mata kemudian ia memeluk Alisha dengan erat.
"Maafin Mila Bunda, ini semua salah Mila! Kalo aja Mila gak hadir di tengah-tengah keluarga kalian semua tidak akan terjadi," kata Kamila.
Alisha menarik nafas kemudian membelai rambut gadis cantik di hadapannya.
"Ngomong apa sih! Gak ada yang nyalahin kamu, semua ini murni kecelakaan Sayang. Bunda udah berkali-kali bilang ke Arkan buat gak balapan. Tapi dia masih aja bandel. Mungkin dengan begini Tuhan negur Arkan biar Arkan berenti bandel. Arkan itu anak yang kuat, Bunda yakin Arkan pasti bangun," kata Alisha
menenangkan Kamila.
Sebenarnya dari sudut hati yang terdalam, Alisa juga merasa khawatir dengan kondisi Arkan. Tetapi ia berusaha untuk berpikir positif. la yakin Arkan masih memiliki semangat untuk hidup dan pasti akan bangun.
Perlahan Kamila pun menghampiri Arkan kemudian menggenggam tangan pemuda itu dengan. Kemudian Gadis itu menunduk dan membisikkan sesuatu di telinga Arkan.
"Lo harus bangun Arkan! Gue minta maaf kalo selama ini suka bikin lo kesel Kalo lo gak mau bangun gue gak mau tinggal sama lo lagi. Gue juga mau nyari cowo buat gantiin lo!"
***
Sudah dua minggu sejak kejadian itu, Arkan masih terbaring di rumah sakit dia belum sadarkan diri. Kamila dengan setia selalu menemani Arkan.
"Ar sampe kapan lo mau tidur begini sih? Lo bukan putri tidur ayo bangun. Besok udah ujian akhir Arkan masa lo gak mau ngajak gue jalan-jalan malem ini! Ayo bangun gue mau jalan ke mana pun asal sama lo!" kata Kamila kepada Arkan.
Daren dan Bastian yang juga ada di ruangan itu hanya bisa saling pandang.
Mereka sangat mengerti bagaimana perasaan Kamila saat ini.
"Kalau lo nggak mau bangun gue cari pacar lain nih!" kata Kamila dengan gemas bercampur sedih.
Pada saat mengucapkan kalimat itu air mata Kamila pun menetes. Sungguh saat ini Kamila merasa sangat sedih dengan keadaan Arkan. Biasanya ada yangya omelin setiap hari, tetapi sudah dua minggu ini rumah pun terasa sepi. Bahkan Kayla pun merindukan abangnya itu.
__ADS_1
"Lo bilang lo bakalan selalu ada buat gue, lo juga bilang lo gak akan bikin gue nangis, lo bakalan nurutin apa aja yang gue mau! Sekarang gue mau nagih janji lo Arkan, gue mau lo bangun!"
Suara Kamila terdengar parau dia memegang tangan Arkan, Kamila menutup wajahya dengan tangan Arkan.
"Bangun Arkan!" lirih Kamila.
Daren mendekati Kamila dia memegang bahu Kamila.
"Yang sabar Mil, gue yakin kok sekarang ini Arkan dengar semua doa-doa kita. Cuman Si Panjul ini manja nggak mau bangun-bangun," kata Daren.
"Ini semua salah gue. Seharusnya malam itu gue nggak izinin dia pergi."
"Lo bukan Tuhan yang tau masa depan orang. Berhenti nyalahin diri lo sendiri, Mil. Yang penting sekarang kita berdoa buat kesehatan Arkan," kata Bastian.
"lya gue ngerti. Oh ya Ini udah malam, kalian berdua pulang aja gih. Gue nggak apa-apa kok nungguin Arkan di sini," kata Kamila.
Besok ujian akhir sudah dilaksanakan, malam ini Kamila ingin berada di kamar rawat Arkan. Tiada hari tanpa menangis dia terus berdoa untuk Arkan.
"Ya udah gue sama Bastian harus pulang, kata Kean, dia udah di jalan mau ke sini," kata Daren.
Daren dan Bastian pergi meninggalkan Kamila sendiri. Arkan memang ditempatkan di ruang VVIP sehingga tidak bercampur dengan pasien yang lain. Di ruangan itu juga ada tempat tidur dan televisi.
Kamila tidak pernah beranjak dari ruang
perawatan itu kecuali ke sekolah. Sebagai gantinya Bastian, Daren, Kean dan Sean akan bergantian menemani Kamila di rumah sakit. Biasanya mereka akan tidur di sofa sementara Kamila di atas kasur.
Tetapi, malam itu Kamila tertidur di samping Arkan dia tidur sambil duduk. sambil menggenggam tangan.
Ceklek..
Alisha datang dia ikut sedih, Kamila terlihat sangat terpukul badannya juga semakin kurus matanya sembab. Kamila terlihat menggenggam tangan Arkan Erat. Alisha mendekatinya.
"Mila, kamu pindah tidurnya di kasur. Besok kamu kan sekolah dan harus ujian. Bunda nggak mau kamu ikutan sakit juga. Atau kamu mau pulang aja tidur di rumah di sini ada Bunda," kata Alisha.
Kamila menggeliat kemudian tersenyum kepada Alisha lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidur di sini aja, Bunda. Aku gak mau tidur di rumah aku mau sama Arkan," kata Kamila.
"Kalau gitu kamu pindah ke kasur Jangan tidur sambil duduk nanti malah sakit badannya," kata Alisha.
"Iyah Bunda!"
Kamila pun menuruti perintah Alisha. Gadis itu bangkit berdiri kemudian pindah ke kasur yang ada di kamar itu.
Pagi harinya Kamila yang berada di sekolah terlihat sangat lesu, sejak Arkan dinyatakan koma Kamila seperti mayat hidup dia hanya akan bicara jika di ajak bicara tapi dia lebih banyak diam. Saat ujian pun Kamila hanya fokus pada soalnya.
Saat jam istirahat, Kamila baru saja
mengantar kertas ujian ke kantor, Kamila berjalan gontai menuju kelasnya, di kelas Naya berusaha untuk menghiburnya begitu juga Daren dan yang lainnya tapi itu sangat tidak mempan.
"Mila, lo sadar gak kalo lo sekarang kurus banget? Gue yakin kalo Arkan sadar dia bakalan nggak suka liat lo kayak gini Kamila," kata Naya.
"Gue mana bisa makan banyak kalo gue tahu Arkan juga lagi sakit. Lihat dia nggak bangun-bangun kayaknya gue ngerasa gemes sendiri. Gue pengen bangunin dia, tapi ga bisa," kata Kamila dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sabar ya," kata Naya mengusap pundak sahabatnya itu.
Kamila mengusap air matanya," Gue keluar dulu!"
Kamila merasa kesal sendiri, dia bangkit lalu pergi meninggalkan kelas. Kamila ternyata duduk di belakang sekolah dia menekuk kakinya dia menangis dia rindu. Arkan bayang senyum Arkan membuatnya semakin terpukul.
"Arkan!" lirih Kamila dengan air mata yang mengalir.
"Kapan lo bangun, gue kangen!" lanjutnya.
"Gue sayang sama lo Arkan!"
"Hiks... Gue gak mau lo pergi Arkan, lo hidup gue Arkan, kalo lo pergi gue mau ikut sama lo aja. Lo gak ada gue gak punya tujuan hidup lagi, kelurga gue berantakan, lo satu-satunya tujuan gue masih bertahan hidup!"
"Arkan hiks... Lo jahat! Gue sedih Arkan, gue pengen nangis, tapi dari kemarin gue nangis terus cape Arkan! Lo harus bangun Arkan!"
"Gue gak sanggup hidup tanpa lo Arkan!" bisik Kamila sedih.
__ADS_1