Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
71. Begadang Bareng


__ADS_3

"Ayo cepet Mil nanti keburu ada yang liat!" Arkan menarik tangan Kamila yang berusaha naik ke atas balkon.


Setelah tadi mereka makan di luar sekarang mereka kembali ke kamar.


"Huft.. Akhirnya!" jar Kamila.


Arkan langsung menarik tangan Kamila masuk dia takut ada yang melihatnya nanti malah jadi malapetaka untuk Kamila.


Arkan menutup pintu balkon dan menguncinya.


"Udah malem Mil tidur besok sekolah," kata Arkan.


"Iyah sebentar!" jawab Kamila dia duduk di sofa begitu juga Arkan.


Arkan menarik kepala Kamila agar bersandar di pundaknya, Kamila menurut saja dia bermain ponsel sambil bersandar di pundak Arkan.


"Sayang, udah mau jam dua tidur atau gak mau tidur lagi?" tanya Arkan.


Dia melihat Kamila yang fokus bermain ponsel.


"Enggak deh, gue suka susah tidur lagi kalo udah kebangun," jawab Kamila.


Arkan menghela nafasnya dia membuka ponselnya, Kamila mengintip Arkan sedang apa.


"Mau liat?" tanya Arkan membuat Kamila tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Arkan merangkul Kamila, Kamila memeluk Arkan dari samping.


"Main game gak pusing?" tanya Kamila.


"Enggak, kalo lagi stres main game bisa balikin mood, sini gue ajarin." Arkan memberikan ponselnya


kepada Kamila, Kamila memegangnya. Arkan memberi intruksi kepada Kamila bagaimana bermain game itu.


"Yang itu di push dulu jangan ke minonnya," kata Arkan menunjuk ponselnya.


"Ini gemoy Ar, mau gue bunuhin aja!" Arkan menepuk dahinya.


"Sayang bukan gitu mainnya, nanti kalah!"


'Defeat'


Kamila membelakan matanya sedangkan Arkan melepas rangkulannya pada Kamila. Dia lalu bersidekap dada.


Kamila menampilkan cengiran khasnya sambil tertawa kecil.


"Kan tadi udah dibilang apa? Gak mau dengerkan!"


"Hehehe, maaf. Abisnya itu musuhnya rese kan, emang dasar gamenya bukan gue yang gak bisa!" jawab Kamila sambil memegang tangan Arkan.


"Ayo sini gue ajarin lagi!" Arkan merangkul Kamila lagi.


Cukup lama perdebatan mereka, setelah itu keduanya pun malah asik bermain game. Dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi.

__ADS_1


Kamila sudah menguap, Arkan menutup mulut Kamila dengan tangannya. Kamila memberikan ponselnya pada Arkan dia memneluk Arkan dan menduselkan kepalanya ke dada bidang pemuda itu.


"Mau tidur?" tanya Arkan.


"Tidur dulu bentar, nanti jam setengah enam bangun," kata Kamila.


Arkan mengusap kepala Kamila dengan lembut.


"Yaudah tidur, gue mau ke basecamp dulu ambil seragam, nanti jam enam atau setengah tujuh gue jemput," kata Arkan.


"Hati-hati," ujar Kamila.


Arkan bangkit dari sofa dia menganggukan kepalanya.


"Iyah Sayang!"


Dengan cepat, Arkan keluar dari kamar Kamila, Arkan pun turun dari balkon kamar Kamila dan menuju ke base campnya. Di base camp memang ada baju-baju milik Arkan. Karena dulu dia sering tidak pulang dan menginap, jadi ada beberapa baju ganti di sana.


Sampai di base camp Arkan pun berbaring di sofa sebentar. Tentu saja ia sudah menyalakan alarm supaya tidak bangun kesiangan.


Dan tepat pukul enam lewat lima belas, pemuda itu pun bangun dan bergegas mandi kemudian menjemput Kamila.


Arkan dan Kamila berangkat bersama ke sekolah. Dan saat mereka berjalan beriringan Arkan dan Kamila menguap bersamaan dan itu membuat keduanya tertawa.


"Ikutan aja sih, orang nguap ikut nguap," kata Kamila sambil tertawa.


"Ya gimana, orang ngantuk," jawab Arkan sambil ikut tertawa menutup mulutnya.


Kamila hanya terkekeh kecil. Melihat kedua pasangan itu melangkah dengan mata merah tentu membuat naluri jabhil kawan-kawan Arkan kumat.


"Mata lo berdua kenapa?" tanya Daren.


"Ah, curiga gue kalian malam abis ngapain? Kenapa dua-duanya mata merah trus nguap bareng? Gue curiga, kalian abis ehem-ehem ya?" tuduh Kean dengan asal.


"Heh, apa itu ehem-ehem?" kata Kamila.


"Anu, Mil, anu," jawab Bastian ambigu.


Kamila yang memang polos hanya mengerutkan dahinya.


"Ga usah di dengerin, anak-anak lagi error, gih sana ke kelas" kata Arkan kepada Kamila.


"Masa lo ga tau anu, Mil?" kata Kean iseng.


"Apa sih gak jelas lo semua!" celetuk Kamila.


"Ituloh Mil.."


Bastian langsung memeragakan gaya orang berciuman dengan menggunakan kedua tangannya.


"Kok kok petok," kata Bastian.


Kamil mengerutkan dahinya bingung, sesaat kemudian dia tersadar.

__ADS_1


Plak..


"Sialan!" maki Kamila.


Kamila memukul lengan bastian kesal.


"Ngeres aja kalian ya. Gue sama Arkan maen game, kotor banget otak lo semua!" omel Kamila.


Tawa merekan pun meledak seketika. Kemudian, Arkan pun mendorong teman-temannya untuk masuk ke dalam kelas.


"Udah masuk-masuk lo semua, jangan racunin otak bini gue," kata Arkan.


"Gue masuk yah!" Arkan mengusap kepala Kamila sekilas sebelum mereka berpisah, lalu masuk ke dalam kelasnya sendiri.


Teman-temannya Arkan masih tertawa saja mereka memang ketularan Arkan untuk menjahili Kamila.


"Oiya Ar Tante Alisha tadi pagi bingung nyariin lo," kata Kean.


"Terus, lo bilang apa?" tanya Arkan kepada Kean.


"Gue bilang gak tau. Lo mau sampe kapan ngambek? Ntar balik ke rumah gak? Gue sama Sean gak enak kalo lo gak balik masa kita balik ke rumah lo," katanya.


Arkan menggelengkan kepalanya.


"Kalo nyokap sama bokap gue tanya, kalian bilang aja gue ga ada di sekolah. Ga ada juga di base camp. Pokoknya lo bilang aja ga tau. Tapi, lo sama Sean tetep aja balik ke rumah gue. Lo berdua jagain bunda sama Kay. Sekalian lapor sama gue ada apa aja di rumah," kata Arkan kepada Kean.


"Jangan bilang gue semalem di rumah Kamila," lanjutnya.


Pemuda itu pun mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya dan emberikan kepada Kean.


"Nih, buat nyebat," katanya.


"Uang sogokan ni ceritanya?" kata Kean.


"Ya, bisa dibilang gitu," kekeh Arkan.


Kean pun hanya bisa menurut.


"Anak sultan mah bebas," ujarnya.


Bell sekolah berbunyi mereka langsung duduk di tempat masing-masing. Selama jam pelajaran baik Arkan maupun Kamila sama-sama sering menguap. Hal itu membuat Naya kebingungan. Tidak biasanya Kamila seperti itu.


"Lo kenapa, Mil? Kayaknya ngantuk banget," ujar Naya.


"Hmm... gue kurang tidur. Jadinya ngantuk, Nay." jawab Kamila.


"Lo belajar?" tanya Naya.


"Main game!"


Untung saja pelajaran hari ini tidak ada pelajaran yang memerlukan fokus tinggi seperti fisika, matematika atau Kimia sehingga Kamila masih dapat belajar dengan baik.


Hanya saja, ia merasa seperti dinina bobokan ketika Bu Silvia menerangkan pelajaran sejarah.

__ADS_1


Berkali-kali mata Kamil terpejam dengan sendirinya sehingga Naya menyenggolnya.


Dan saat bell berbunyi, Kamila merasa sangat lega.


__ADS_2