
Arkan terkejut, ia tidak menyangka jika pemuda yang berdiri di hadapannya ini adalah kakak kandung Rena. Selama ini dia tidak pernah tahu kalo Rena memiliki akak kandung.
Dia berpikir jika Rena itu anak satu-satunya karena Rena sangat dimanja.
"Kakaknya Rena? Gue pikir Rena gak punya Kakak atau adek, selama ini dari yang gue liat dia-"
"Hahaha, gue emang jarang muncul, gue gak suka ekspos diri, gue lebih suka pacaran sama laptop. Gue cari duit sendiri, ya walaupun nyokap bokap ngasih tapi gue seneng aja, kerjaan gue kayak Daren, pacaran sama Gadget itu seru!" potong Heri.
Arkan lagi-lagi dibuat terkejut, dan benar saja Heri tidak pernah terkekspos maka dari itu Arkan saja bingung saat dia mengatakan itu.
"Gue minta maaf soal foto itu, selama ini gue gak pernah mau ikut campur sama urusan bisnis nyokap sama bokap tapi kali itu gue terpaksa."
Arkan terdiam, ia melihat jika tidak ada dusta di mata pemuda itu. Yang ia lihat pemuda itu seperti dalam posisi tertekan.
"Gue kena amuk nyokap, sampe nyokap gak percaya padahal jelas-jelas gue cintanya cuman sama Kamila." Arkan terkekeh.
"Sorry Ar, gue gak sengaja. Rena udah balik ke US, dia dipaksa sama Papah. Selama ini sebenernya Papah gak suka liat Rena yang selalu maksa lo buat jadi bagian dari hidupnya, Papah pengen Rena buka lembaran baru, "
Arkan mengangguk anggukan kepalanya mengerti, "Turut prihatin yah tentang Rena!"
"Gue mau ngingetin lo, lo hati-hati sama nyokap gue Mamah gak pernah terima masalah hubungan lo sama Rena dia juga mau lo jadi mantunya dia terlalu manjain Rena, Mamah mau buat keluarga lo hancur Ar, Mamah manipulasi data di perusahaan. Gue ngasih tau ke lo kayak gini, gue cape jadi babu kejahatan nyokap!" kata Heri.
Hening, tidak ada yang bicara. Arkan seolah menunggu perkataan Heri selanjutnya.
"Gue tau gue sama nyokap salah, gue sekali lagi minta maaf, Rena juga udah bisa nerima semuanya tapi lagi-lagi Mamah selalu egois dia gak terima. Mamah terus aja belain Rena walaupun Mamah tau Rena salah. Itu yang bikin Rena keras kepala. Rena nganggep semua yang dia mau bisa
dibeli pake uang. Dan lo harus hati-hati. Sasaran Mamah yang sebenarnya itu Kamila. Karena menurut mama, gara-gara Kamila lo ga mau sama Rena. Kamila yang udah merebut lo dari Rena. Itu yang ada di pikiran nyokap gue," kata Heri panjang lebar.
Arkan menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. la merasa
sebenarnya bukan hanya Rena yang harus menjalani pengobatan. Tetapi, Risa juga.
Perlahan, Arkan pun menepuk bahu Heri.
"Gue udah maafin lo, urusan nyokap gue nanti dia juga percaya, gue gak nyangka aja kalo lo mau ngomong jujur dan lo buka semua rahasianya ke gue," kata Arkan.
"Gue gak mau jadi jahat, nyokap gue bisa saja nyulik Kamila, lo hati-hati lo harus selalu ada di deket Kamila. Kasian kan cewe lo yang gak tau apa-apa jadi korban keserakahan dan keegoisan adik sama nyokap gue. Sorry, gue gak bisa bantu banyak," kata Heri sedikit menyesal.
__ADS_1
"Gak masalah, justru gue bersyukur lo mau bantu gue."
"Tetep aja Ar gue salah. Gu-'"
"ARKAN?!"
Ucapan Heri terputus karena seseorang memanggil Arkan dengan kencang. Ternyata Kean yang menghampiri mereka dengan wajah pucat pasi.
"Kenapa lo?" tanya Arkan.
"K-Kamiila...."
Wajah Arkan menegang, "Kenapa Kamila?"
"Gue sama Sean abis cari dia, tapi dia ga ada di mana pun. Tadi, dia pamit mau ke toilet. Ga mungkin dong kalo kita ikut masuk. Tapi, pas kita tunggu dia ga muncul-muncul. Dia ilang," kata Kean.
Belum sempat Arkan mengeluarkan kata-kata, tampak Marvin dan Alisha terlihat berjalan tergesa-gesa ke arah mereka.
"Arkan, Kamila ga sama kamu? Dia gak ada di mana-mana. Kamila hilang mendadak," kata Marvin.
Prang!
"Lo kasih tau di mana Kamila. Kalian pasti sekongkol kan? Gue yakin ini ulah nyokap lo!" teriak Arkan.
"Sumpah, gue gak tau di mana Kamila. Kalo gue niat jahat, ga mungkin gue buka semua yang tadi gue omongin sama lo," kata Heri sambil terus menggelengkan kepalanya.
Arkan tidak melepaskan Heri, tetapi. pemuda itu tidak melawan. Hingga Daren membantu melepaskan cengkraman tangan Arkan.
"Tahan Ar, tahan."
Arkan menatap Heri sinis dia mendorong pemuda itu.
"Kean, telpon anak-anak. Suruh mereka bantu cari di mana Kamila."
Setelah mengatakan itu ponsel Arkan berbunyi ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
'She Died'
__ADS_1
Arkan meremas ponselnya, emosinya sudah naik ke ubun-ubun. Lalu ia pun menatap Daren.
"****... Anjin" lo!"
"Ren lacak nih nomor sekalian gps nya Kamila dia bawa hp kok," kata Arkan.
Daren pun mengangguk, ia segera melacak keberadaan Kamila.
Sedangkan di tempat lain yaitu di tempat Kamila, gadis itu mulai kelelahan karena sudah berteriak-teriak meminta tolong.
"Arkan! Tolong!"
Risa tampak menatap gadis itu dengan penuh kebencian.
"Teriak aja. Kamu pikir bakalan ada yang denger? Arkan aja udah ga peduli lagi sama kamu. Gara-gara kamu anak saya dicap gila dan butuh psikiater!" teriak Risa.
"Siapa anak Tante?"
"Ah, ternyata kamu ini memang polos atau pura-pura polos? Rena itu anak saya! Dan gara-gara kamu dia terpaksa harus kembali berobat ke US. Padahal dia kembali ke Indonesia untuk bertemu cinta sejatinya. Tapi, kamu merebutnya dari Rena. Gara-gara kamu Rena kambuh lagi!"
"Kayaknya bukan cuman Rena yang butuh psikiater, Tante juga butuh, cinta itu gak bisa dipaksain. Arkan cintanya sama saya bukan sama Rena?!" bantah Kamila dengan berani.
PLAK! PLAK!
Risa menampar Kamila dengan keras sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Kamu jangan coba-coba memutar balik fakta! Rena dan Arkan itu hampir bertunangan. Sejak SMP mereka sudah dijodohkan!"
"Tante sadar, Rena dan Arkan gak pernah dijodohkan, kalo Arkan udah dijodohin sama Rena. Gak mungkin Bunda Alisha dan Ayah Marvin nyetujuin hubungan saya. Bahkan mengijinkan saya tinggal satu atap bersama dengan Arkan!" kata Kamila.
Rahang Risa langsung mengetat keras, ia merasa sangat marah sekarang. Benar apa yang dkatakan Kamila.
PLAK!
Risa menampar Kamila hingga sudut bibir gadis itu berdarah, "Sialan kamu dasar gadis pembawa sial. Liat aja, saya bakalan bikin kamu mati secara perlahan biar Arkan jadi gila!" ancam Risa dengan emosinya.
Kamila berdecih sinis, dia menatap Risa sinis.
__ADS_1
"Sebelum Tante bunuh saya, saya yakin. Arkan duluan yang bakalan bunuh Tante demi cintanya kepada saya!"