Badboy Yang Menyebalkan

Badboy Yang Menyebalkan
73. Perjanjian Perusahaan


__ADS_3

"Arkan, orang tua marah itu wajar kalo anak nya salah jalan, Ayah juga udah nyesel marah sama kamu. Kamu juga sebagai anak gak boleh begitu sama orang tua, sekarang pulang yah. Bunda jamin Ayah udah gak marah sama kamu," pinta Alisha dengan lemah lembut.


"Ah, Bunda mah pasti bohong," kata Arkan lagi.


"Enggak! Ayo pulang nanti Bunda aduin kamu ke Kamila gak mau nurut sama Bunda!" ancam Alisha.


"Kamila takut sama aku kok Bund," jawab Arkan.


"Yaudah, kalo gak mau pulang nanti Kamila Bunda jodohin sama orang lain, orang yang Sayang sama ibunya ganteng kaya!"


"Aku dong Bund, aku kan Sayang Bunda, aku ganteng, aku juga kaya!" jawab Arkan.


"Pulang atau Bunda cabut restu Bunda buat kamu sama Kamila!" ancam Alisha lebih lagi.


"Bund tap-"


"Pulang Abang!" potong Alisha.


Arkan menghela nafasnya, "Oke!"


Akhirnya Arkan ikut pulang setelah Alisha merayu dan sedikit memberikan ancaman. Karena Alisha menggunakan mobil maka, Arkan mengikutinya dari belakang. Tetapi,


Arkan masih merasa jika tidak mungkin Ayahnya akan menyetujui rencananya.


Alisha senang bisa bertemu dengan anaknya yang nakal itu. Saat mereka sampai di rumah, Alisha membuka pintu dan langsung memanggil suaminya.


"Ayah!"


"Ayah turun ih lama!"


Terlihat Marvin menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


"Ada apa sih Bund teriak-teriak!"


"Loh-"


Marvin terkejut saat melihat Arkan dia melihat putranya itu, di saat seperti ini kenapa wajahnya sangat mirip tidak ada yang berbeda dengan dirinya.


Marvin mendekati Arkan. Arkan menutup matanya saat Marvin mengangkat tangannya. la siap menerima pukulan jika memang Ayahnya akan marah. Tapi, ternyata Marvin memeluk Arkan.


"Ayah minta maaf udah bawa-bawa hubungan kamu sama Kamila, dulu juga Ayah sempet pisah sama Bunda dan rasanya hampir gila. Maafin Ayah Arkan," kata Arkan.


Senyuman Arkan pun mengembang seketika, dia membalas pelukan sang Ayah.


"Arkan juga minta maaf gak ijin sama Ayah tentang rencana itu tapi sampe sekarang Arkan masih akan terus menjalankan rencananya," ujar Arkan.


"Terserah kamu Arkan!"


Arkan melepas pelukannya, "Jadi Ayah setuju sama rencana aku?"

__ADS_1


"Iya, Ayah akan bantu kamu. Tenang aja," jawab Marvin.


Senyum Arkan semakin mengembang dia kembali memelukbAyahnya itu.


"Terima kasih Ayah!"


Melihat hal itu Alisha pun merasa senang. Ia tidak bisa membayangkan jika dua lelaki terkasihnya itu saling adu argumen terus menerus.


Keesokan harinya, Arkan sudah siap dengan jasnya dia akan ke kantor rapat dengan Reynald dan menandatangani surat perjanjian.


Arkan sangat senang sekali selangkah lagi aset itu akan jatuh ke tangannya. Arkan dan Marvin ke kantor dia masuk ke ruang meeting, di sana sudah ada Reynald.


"Selamat pagi, Pak Reynald."


Marvin dan Arkan menyalami tangan Reynald layaknya partner bisnis.


"Pagi Pak Marvin, Nak Arkan!"


Marvin dan Arkan duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Kita langsung saja ke masalah bisnis ya. Tapi, sebelumnya saya mau menegaskan. Jika ini adalah murni bisnis. Tidak ada hubungannya dengan hubungan kedua anak kita. Saya mau bisnis yang profesional saja " kata Marvin.


Reynald terkejut karena pernyataan Arkan.


"Maksudnya?"


"Saya tidak mau ada embel-embel di kermudian hari tentang hubungan keduanya. Jika nanti anak kita tidak berjodoh bisnis ini akan tetap berjalan," kata Marvin.


" Saya kira Pak Marvin akan langsung


menikahkan anak-anak kita," kata Reynald dengan nada bercanda.


Tetapi Marvin tertawa kecil, " Saya memang menyukai anak Anda dan setuju jika putra saya bersama dengan Kamila. Tapi, mereka masih sangat muda. Biarkan saja, jika memang jodoh tidak akan ke mana." jawab Marvin dengan tegas.


"Baik Pak Marvin!"


"Sudah deal, saya akan bacakan perjanjian-perjanjiannya!" saut Arkan.


"Poin ke satu sistem kerja sama tidak ada kaitannya dengan masalah pribadi dan keluarga!"


"Poin ke dua, pihak satu dibolehkan meminta ganti rugi dana jika pihak ke dua membatalkan kerja sama sebelah pihak, apabila pihak ke satu merasa sangat dirugikan!"


Arkan membahas poin-poin kerja sama, beberapa kali Reynald dibuat terkejut dengan peraturan Arkan tapi mau bagaimana lagi dia sangat butuh uang.


Arkan tau kerja sama akan ini sangat menguntungkan bagi dirinya. Arkan tersenyum dengan smirknya dan dia memberikan map perjanjian itu.


"Ini Om Reynald silahkan dibaca ulang lalu ditanda tangani!" ujar Arkan.


Reynald menerima map itu dia langsung mengambil pulpen.

__ADS_1


"Tunggu, Apa gak mau dibaca ulang, takut ada poin yang terlewat Om?" tawar Arkan saat Reynald


hendak menanda tangani surat itu.


"Gak usah, gak apa-apa saya percaya sama calon menantu." kata


Reynald sambil tertawa. Dan ia pun. menandatangani surat perjanjian itu.


Di dalam ruangan ada pengacara keluarga Arkan juga yang menjadi saksi. Sehingga kerjasama itu sah secara hukum.


Lagi-lagi Arkan tersenyum licik. Marvin yang melihat Arkan seperti itu merasa bangga putranya itu sudah memiliki jiwa pemimpin dan Marvin tidak akan ragu setelah lulus SMA Arkan akan langsung memegang kendali perusahaannya.


Marvin tau Arkan pasti bukan sembarangan membuat perjanjian yang akan mengakibatkan perusahaan miliknya mengalami kerugian.


"Kamu licik Arkan!" bisik Marvin.


"Enggak Ayah, aku cuman mau ambil balik hak Kamila!" kata Arkan.


Setelah perjanjian selesai, Arkan kembali ke ruangannya Marvin. Arkan kali ini sedang membaca beberapa berkas, dia sedang belajar. Dan hari ini dia tidak masuk sekolah dia juga sudah bilang kepada Kamila.


Saat pulang sekolah Kamila datang ke kantor Arkan. Dia melihat perusahaan kekasihnya ini besar sekali pantas saja Ayahnya ingin bekerja sama.


Gadis itu pun segera menghampiri meja resepsionis.


"Siang, Dek. Mau cari siapa?" tanya sang resepsionis kepada Kamila.


"Siang, Mbak. Saya mau cari Arkan. Saya-"


"Kamila!"


Belum sempat Kamila meneruskan kalimatnya, Arkan ternyata sudah berdiri di belakang Kamila.


"Eh itu ada orangnya, Mbak. Makasih ya," kata Kamila dengan senang kepada resepsionis.


Dengan gembira ia pun menghampiri Arkan.


"Ngapain ke sini? Kan tadi udah dibilang nanti malem keluar cari makan," kata Arkan sambil merapikan rambut Kamila.


"Ke sini sama siapa?" tanya Arkan.


"Daren, tuh orangnya!" Arkan melihat keluar benar saja ada Daren di sana, Arkan mengacungkan jempolnya.


Atensi Arkan kembali berpindah pada Kamila, dia lalu bersidekap dada.


"Jadi Nyonya, ada tujuan apa dateng ke sini hm?"


"Kangen," bisiknya, Kamila langsung tersipu malu.


"Hah? Apaan? Gue gak denger," kata Arkan berpura-pura. la memang sengaja ingin mempermainkan Kamila.

__ADS_1


"Ish Arkan, malu bilangnya," kata Kamila. Dia melihat ada beberapa yang curi-curi pandang kepada Arkan dan Kamila.


"Iya, tapi gue gak denger," jawab Arkan.


__ADS_2