
"Oh ya, sudahlah. Setelah pelajaran saya, kamu kan ada jam pelajaran kosong. Nah, jam pelajaran kosong itu kamu tolong gantikan sayabkasih tugas di kelasnya Arkan. Karenabsaya ada urusan mendadak, kamubcuman ngasih tugas aja sambil liatin
mereka. Itu kan kelas paling nakal, jadi kamu lihatin deh mereka ngerjain tugas atau enggak. Tolong ya Kamila, nanti saya bilang sama pak Yusuf juga deh, Tapi kan pak Yusuf ngajar, jadi kamu tolong saya dulu," kata Bu Aryati.
"Saya Bu? Emang nggak apa-apa ?"
"Ya nggak apa-apa, kan habis jam pelajaran saya itu jam kamu kosong.Jadi, kamu isi aja di kelasnya si Arkan tuh, suruh mereka mengerjakan tugas dari saya yang kamu catat di papan tulis." Kamila nampak berpikir.
"Tapi Bu saya merasa belum pantas," ujar Kamila.
"Kamu pintar Kamila, jangan merendah begitu!"
Kamila menghela nafasnya.
"Iya Bu. Baik kalo begitu."
Bu Aryati tersenyum.
"Ya sudah ayo ke kelasnya Arkan, biar Ibu yang bilang sama mereka!"
Kamila pun menganggukkan kepalanya.
Mereka berjalan beriringan sambil sesekali membahas pelajaran.
Tok... Tok.
Bu Aryati mengetuk pintu kelas Arkan membuat semua yang berada di sana melihat ke arah pintu. Kamila terlihat gugup.
"Anak-anak karena hari ini saya kebetulan ada urusan mendadak, jadi kalian kerjakan tugas yang akan ditulis oleh Kamila di depan kelas, ya. Terus kalian jangan sampai berisik, kerjakan tugasnya nanti kumpulkan kepada Kamila jika ada yang tidak mengerti tanya saja kepada Kamila
yah," kata Bu Aryati.
"Baik Bu!" jawab semuanya serempak.
"Ya sudah Ibu ijin yah, Kamila bu titip kelas!"
Kamila menganggukan kepalanya.
"Iyah Bu, hati-hati!"
Bu Aryati menepuk bahu Kamila. Setelah itu Bu Aryati pun langsung melangkah dengan terburu-buru keluar kelas.
Dan setelah Bu Aryati keluar, suit-suit iseng pun mulai terdengar.
"Cie si Arkan bininya dijadin pawang di kelas ini, nggak bisa ribut dong kita," kata Kean.
"Alah, si Arkan mah bandel mau ada guru mau nggak juga dia mah tetap bandel. Apa lagi ini bininya sendiri."
Kali ini Bastian yang menyaut.
Arkan hanya cengar-cengir saja melihat Kamila yang berada di depan kelas. Dalam hati ia merasa bangga karena memiliki kekasih seperti Kamila yang sangat pintar.
Tetapi memang dasar Arkan bandel, mumpung tidak ada guru ia pun langsung mengeluarkan rokoknya dan menyulut satu batang. Melihat hal itu Kamila pun langsung melotot dan menghampiri bangku Arkan.
__ADS_1
"Matiin gak! Gue di sini bantu Bu Aryati nanti gue yang kena marah," kata Kamila dengan galak.
"Yaelah Mil, satu aja mumpung gak ada guru," kata Arkan.
Tetapi Kamila langsung menggelengkan kepalanya sambil melotot sadis.
"Matiin gak! Gue laporin ke guru yah," kata Kamila dengan nada mengancam.
Mendengar hal itu, Arkan pun dengan sangat terpaksa langsung mematikan rokoknya.
"Cuman Kamila yang bisa buat Arkan nurut guys!" saut Kean menggoda.
Hal itu membuat teman-temannya tertawa
terbahak-bahak.
"Ya iyalah sama bininya sendiri!" jawab Daren membuat Arkan tertawa geli.
Sedangkan Kamila sudah menahan degup jantungnya, ternyata semuanya sudah tau jika Kamila dan Arkan memang sudah memiliki hubungan.
***
"KAMILA?!"
Kamila yang sedang berada di kamar terkejut saat mendengarnya Reynald berteriak memanggilnya. la pun segera turun ke bawah dengan tergesa-gesa. Tidak seperti biasanya Reynaldd memanggilnya seperti itu.
"Papah panggil Mila? Ada apa, Pah?" tanya Kamila.
"Kamu duduk dulu sebentar, Papah mau bicara," kata Reynald.
"Ada apa, Pah?" tanya Kamila kepada Reynald.
"Mila, kamu kan tau kalo saat ini perusahaan ada di tangan keluarga Arkan karena hacker yang sudah menghilangkan data-data perusahaan Papah. Papah gak mau kalo nantinya kita akan kehilangan perusahaan itu. Memang betul kita masih pemiliknya, tetapi akan lebih baik kalau semua aset itu tetap menjadi milik kita dan
kamu harus bisa membantu Papah dalam hal ini."
Kamila mengerutkan dahinya kemudian menatap Reynald dengan serius.
"Kamila bantu ... maksud Papah bagaimana? Apa yang harus Kamila
bantu?"
"Kamu harus mau menikah dengan Arkan!"
Kamila membelakan matanya.
"Me-menikah?"
"Iyah karena kamu pacarnya Arkan jadi kamu bisa minta nikah muda dengan Arkan, setelah itu aset perusahaan kita tidak akan lari ke mana pun. Tetap akan menjadi milik kita, dan itu dengan cara kamu menjadi istrinya Arkan. Dengan
begitu Arkan akan membiarkan kamu
mengelola perusahaan. Bukankah dia
__ADS_1
juga punya perusahaan sendiri?" kata
Reynald.
"Menikah, maksud Papah Kamila harus menikah dengan Arkan? Kamila kan masih sekolah, gimana ceritanya mau nikah, Pah? Kamila masih mau lanjut kuliah, kerja baru mikirin nikah. Sekarang ini Kamila masih muda juga," kata Kamila.
"Masalah itu gampang Kamila, segala sesuatu bisa diurus kalau ada uang. Yang penting, kamu harus mau dulu pokoknya. Mau nggak mau kamu harus menikah dengan Arkan dalam waktu dekat."
"Kamila gak mau Pah, Kamila masih terlalu muda?!"
"Berani kamu menolak permintaan Papah, mau jadi anak durhaka kamu? Selama ini siapa yang mengurusi kamu? Hah?! Papah minta satu hal saja kamu gak mau?!" bentak Reynald.
Kamila terdiam menatap ayahnya, dia sama sekali tidak menyangka jika Renald bisa mengeluarkan suara tinggi seperti itu kepadanya.
"Tapi, Pah-"
"Diam kamu," tunjuk Reynald kepada Kamila dengan emosi.
"Kamila gak mau Pah, Arkan juga masih muda, aku dan Arkan masih harus banyak belajar!"
"Ak-aku-"
"TURUTI SAJA KAMILA?!"
Tangan Reynaldd sudah naik ke atas hendak memukul Kamila. Kamila menutup matanya karena ia takut. Tetapi beberapa saat kemudian la membuka mata dan tampak Laras sedang memegangi tangan Reynald.
Kamila sangat yakin jika ini adalah pekerjaannya Laras, ia menatap kecewa kepada sang ayah.
"Mila kecewa sama Papah!" teriaknya.
Air mata Kamila mengalir, Kamila pun langsung berlari keluar rumah. Dia tidak tahu mau ke mana. la tidak sempat membawa dompet ataupun ponsel. Ia hanya berlari mengikuti ke mana kakinya.
Deg....
Jantung Arkan tiba-tiba saja berdetak sangat cepat. Dia merogoh saku celananya mencari ponsel.
Arkan berulang kali menelpon Kamila. Tetapi tidak ada jawaban.
Tiba-tiba saja, perasaan pemuda itu tidak tenang. Saat ini ia sedang berada di basecamp-nya bersama dengan anak-anak Gravendal yang lain.
"Lo mau ke mana Ar?" tanya Daren saat melihat Arkan mengambil jaketnya dan meraih kunci motornya.
"Gue mau ke rumah Kamila, perasaan gue nggak tenang, " jawab Arkan.
"Cie yang punya pacar. Sekarang mikirin pacar," ledek Bastian.
Arkan hanya tertawa, kemudian ia pun langsung bergegas untukbmenuju ke rumah Kamila.
Tidak berapa lama Arkan pun sampai. Dan
ia langsung mengetuk pintu rumah Kamila, dan ternyata Livia yang membuka pintu.
"Lo nyari Kamila ya? Kamila nggak ada tuh, tapi Papah ada di dalem," kata Livia.
__ADS_1
"Pah ada Arkan!"