
"Dek, itu barang yang mau lo bawa?" tanya Diego saat melihat banyak barang yang sudah siap di teras. Mulai dari ransel, tas tenda, kompor gas camping, wajan, panci dan lainnya.
"Iya mas." jawab Azzalia sambil menikmati sarapan nasi goreng buatan Dian.
"Elo mau camping apa mau pindahan sih dek? Banyak bener bawaannya?" tanya Diego sambil membenahi dasinya.
"Dua-duanya. Ya camping ya pindahan." jawab Azzalia cuek.
"Maksud lo?" tanya Diego.
"Hem...lola! Ya kan gue mau pindah tidur, pindah makan, pindah mandi, pindah masak, jadi ya bisa dibilang, pindahan, gitu." jawab Azzalia.
"Oh...gitu?"
"Hem." jawab Azzalia.
"Mau berangkat jam berapa dek?" tanya Diego lagi sambil ikut duduk di barisan kursi makan.
"Ini mau berangkat." jawab Azzalia.
"Elo jadi naik mobil sendiri?" tanya Diego memastikan.
"Iya." jawab Azzalia.
"Emang ada parkiran yang aman?" tanya Diego.
"Ada." jawab Azzalia.
"Hem, okey. Yang penting hati-hati." kata Diego.
"Iya." Jawab Azzalia sambil beranjak dari duduknya lalu memakai sweater nya berwarna coklat tua, Azzalia berpamitan pada Dian dan Diego.
"Hati-hati lo, jangan suka ceroboh!" pesan Diego.
"Iya, bawel." jawab Azzalia.
"Elo tu kalo dibilangin nurut dikit napa sih dek?" tanya Diego sewot.
"Hem, ya ya ya. Azzalia kan selalu nurut. Kurang nurut apa sih gue sama elo mas." protes Azzalia.
"Hah... ya udah lah. Sana, hati-hati. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan langsung hubungi kami. Okey?" kata Diego.
"Siap." jawab Azzalia sambil mencium kening dan kedua pipi Zoya.
__ADS_1
"Aunti berangkat dulu ya Mbul, bye." kata Azzalia kepada Zoya, tampak Zoya tertawa bahagia.
Azzaliapun memasukkan semua barangnya ke dalam bagasi, dibantu pak Ipung, tukang kebun di rumah Diego. Lalu Azzalia segera melajukan mobilnya menuju kampusnya, tak lupa dia menyetel radio kampusnya, kali ini penyiarnya bukan penyiar yang dia sukai, tetapi cukup menghibur lah isian lagu-lagunya.
Sesampainya di kampus, Azzalua melihat ada beberapa panitia yang mengarahkan parkir.
"Kak, mau nurunin barang nih, parkir di sini, apa masuk ke halaman?" tanya Azzalia kepada seorang panitia berjas biru dengan peluit di mulutnya.
"Oh, turunin disini aja barangnya, nanti mobilnya langsung di parkir apa mau dibawa pulang?" tanya panitia itu.
"Mau nginep " jawab Azzalia.
"Oh, ya sudah barangnya turunin disini aja, nanti mobilnya biar saya parkir kan ke baseman." kata panitia itu.
"Oh, okey kak. Thank's." jawab Azzalia yang kemudian keluar dari mobilnya, lalu berjalan ke belakang untuk membuka bagasinya. Saat Azzalia mencoba untuk menurunkan barang-barangnya, tiba-tiba ada sebuah bayangan di belakangnya.
"Ehem, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang laki-laki yang sudah tidak asing bagi Azzalia.
"Eh, kak Opik. Ada kak, ada. Hehe." kata Azzalia sambil menunjuk barang-barang yang ada di dalam bagasi.
"Okey, saya bantu ya." kata Opik, lalu Opik mengambil beberapa barang yang ada di bagasi. Setelah selesai, Azzalia menutup pintu bagasi.
"Makasih banyak ya kak Opik." kata Azzalia dengan senyum tulusnya.
"Iya, sama-sama." jawab Opik.
"Menginap kak." kata Azzalia.
"Oh, ya sudah, biar diparkirkan di baseman aja." kata Opik, lalu Opik meminta seorang panitia yang bertugas mengatur parkir untuk membawa mobil Azzalia ke baseman.
"Tunggu sini ya kak." kata si panitia.
"Okey kak." jawab Azzalia, yang masih berdiri bersama Opik.
"Ehm, barangnya banyak banget, ini... mau camping apa pindahan?" tanya Opik.
"Hahaha, dua-duanya kak. Ya camping, ya pindahan." jawab Azzalia.
"Hahaha, gitu ya? Ehm, emang ga dibagi tugas?" tanya Opik lagi.
"Udah dibagi tugas kok kak, dan ini tugas saya. Hehehe." kata Azzalia sambil meringis.
"Sebanyak ini?" tanya Opik tak percaya.
__ADS_1
"Iya kak. Mereka anak kost kak, ga ada yang punya barang-barang beginian. Kebetulan saya punya alat camping lengkap. Jadi ya saya bawa semua aja." kata Azzalia yang memang sejak SMA suka camping, traveling dan Climbing.
"Oh...kamu anak pecinta alam ya?" tanya Opik.
"Ya...bisa dibilang begitu." jawab Azzalia.
Saat Azzalia dan Opik sedang mengobrol, panitia yang tadi memarkirkan mobil Azzalia sudah kembali dengan membawa kunci mobil Azzalia. Tiba-tiba terdengar panggilan suara perempuan memanggil namanya.
"Azzalia!" panggil teman-teman Azzalia.
Azzalia dan Opik menoleh ke sumber suara, dan tampak empat sekawan teman Azzalia.
"Eh, ada kang Opik?" tanya Nadia.
"Eh Nad, kamu sekelompok sama Azzalia?" tanya Opik.
"Iya kang."
"Kamu tega bener sih, ngebiarin Azzalia bawa barang sebanyak ini?" protes Opik pada Nadia.
"Hehehe, yang jelas kalo Nadia kan ga bisa bawanya kang. Lagipula Azzalia udah punya lengkap kok, ya sekalian aja lah." jawab Nadia.
"Oh, gitu? Tapi ya ga gini juga, kasian kan Azzalia bawa barang segini banyak?" kata Opik.
"Gapapa kok kak, lagipula saya bawa mobil, jadi ga ribet bawanya." kata Azzalia.
"Pik, sini!" panggil seorang panitia berjas biru memanggil Opik.
"Oh, ya, aku ke sana dulu ya." kata Opik berpamitan.
"Ya kak." jawab grup mawar merah bersamaan.
Setelah truk datang, barang bawaan semua panitia dan peserta dimasukkan dalam bak truk, kemudian semua peserta naik di truk yang membawa peserta sedangkan beberapa panitia mengendarai motor menuju bumi perkemahan di Bogor.
"Zan, gue naik motor ya. Siang ini gue ada jadwal pemotretan resepsi. Lusa gue juga ada job pemotretan lagi di daerah Bogor." kata Seem berpamitan kepada Fauzan.
"Oh, ya Seem. Pemotretan apa Seem? Jam berapa? Elo masih bisa bertugas moto-moto kan di perkemahan?" tanya Faizan memastikan.
"Iya, masih kok Zan. Santai aja." jawab Seem.
"Okeylah, good luck ya." kata Faizan.
Setelah semua peserta dan panitia naik truk dan pergi meninggalkan kampus, Seem segera mengambil motor Supra 125nya menuju gedung tempat resepsi yang dimaksud. Dia harus melakukan pemotretan pada acara penikahan client nya.
__ADS_1
Seem adalah seorang fotografer panggilan, sehingga dia sering meluangkan waktu untuk bekerja. Dia memang sangat mencintai dunia fotografi sejak masih SMA, tetapi sayangnya, kehidupannya saat bersama keluarganya terasa kurang nyaman, semenjak kedua orangtuanya bercerai, sehingga Seem memilih pergi dari rumahnya. Dan dengan membawa kamera analog kesayangannya, hasil tabungannya beberapa bulan. Itu adalah kamera kesayangannya hingga saat ini, kamera itu menjadi mata pencahariannya.
Selain menjadi karyawan di rumah makan ayam kampung Latansa, Seem juga menerima beberapa job pemotretan di beberapa tempat yang terjangkau. Dan hal itu juga di dukung boleh keluarga Opik, karena keluarga Opik memang tidak berniat menjadikan Opik sebagai karyawan, tetapi menjadikan Opik sebagai bagian dari keluarganya. Opik sudah menganggap Seem sebagai adiknya sendiri, sehingga mereka tidak mempermasalahkan jika Seem bekerja diluar rumah makan.