
"Kamu yakin dengan keputusanmu Nak?" tanya pak Daud meyakinkan Nadia yang kini duduk di hadapannya dengan tertunduk.
"Yakin pakde." jawab Nadia.
"Apakah pakde atau budemu ada salah yang membuatmu memutuskan untuk kembali ke pesantren?" tanya pak Daud lagi.
"Tidak pakde, sungguh. Pakde dan bude sangat baik, Nadia sangat bahagia menjadi bagian dari keluarga ini." jawab Nadia.
"Tapi kenapa kamu harus kembali ke pesantren Nad? Bukankah kuliahmu juga baru saja? Perjalananmu masih panjang." kini giliran Ummah Hani yang angkat bicara untuk menginterogasi Nadia.
"Seperti yang sudah saya sampaikan di awal bude. Selama satu tahun ini, saya sudah mencoba untuk beradaptasi, tetapi rasanya, saya lebih nyaman dengan kehidupan saya di pesantren." kata Nadia memberi alasan.
"Sejak bapak meninggal, saya bahkan sudah dititipkan tinggal di pesantren, sejak saya belum mengenal dunia pergaulan di luar, saya sudah lebih dulu dikenalkan pesantren. Dan, setelah lulus Aliyah, saya ingin melanjutkan studi saya di tempat umum, namun ternyata, jiwa saya merasa kurang nyaman bude. Saya ingin kembali ke Zona nyaman saya di pesantren." kata Nadia memperkuat argumennya.
"Ehm, ya ya. Pakde paham nduk, pakde dan budemu hanya berusaha untuk menjadi orang tua yang baik untukmu, sesuai pesan orangtuamu. Tetapi, jika memang itu maumu, pakde tidak bisa berbuat banyak." jawab pak Daud pasrah.
"Setelah Seem pergi karena menikah, lalu disusul Opik yang harus berpulang, kini giliran kamu yang ikut pergi meninggalkan rumah ini Nad?" keluh Ummah Hani sendu.
"Maafkan Nad bude." jawab Nadia lemah.
"Baik. Kapan kamu rencana akan berangkat nduk?" tanya pak Daud.
"InshaaAllah, Sore ini pakde." jawab Nadia.
"Apa kamu sudah mengurus semuanya?" tanya pak Daud.
"Sudah pakde. Nad sudah mengurus surat ijin mutasi dari kampus." jawab Nadia.
"Baiklah. Kalau begitu, ijinkan pakde dan budemu yang akan mengantar kamu ke pesantren. Kami harus memasrahkan secara baik-baik, kamu kepada pak Kyai dan bu Nyai, serta penghuni pesantren lainnya." kata pak Daud.
__ADS_1
"Sungguh pakde? Dengan senang hati pakde." jawab Nadia berbinar.
💕💕💕
Setelah mengerjakan ujian semester, Nadia mulai mantab untuk kembali ke pesantren. Mengingat masa lalunya yang tak pernah lepas dari lantunan ayat suci al-Qur'an di setiap waktunya dan selalu berkegiatan positif dengan teman-temannya, membuat dia rindu dengan suasana pesantren, tempat yang membuatnya tumbuh menjadi dewasa saat ini.
"Kamu hati-hati ya nak, jika nanti di luar kamu merasa sudah tidak nyaman, maka jangan pernah sungkan untuk kembali ke sini. Umi dan semua warga pesantren sangat terbuka untuk menerima mu kembali ke sini." pesan Ummi Husna, istri Kyai Ilham saat Nadia berpamitan untuk melanjutkan studinya di perguruan tinggi dan ikut tinggal bersama pakde dan bude nya.
"Umi...aku kangen." kata Nadia sambil memeluk kitab yang selalu menemaninya selama di rumah pak Daud. Kitab Al-Quran pemberian Umi saat Nadia lulus SD, dan bersamaan dengan lulus Iqro' kala itu.
Mengingat betapa hatinya belum bisa sepenuhnya ikhlas menerima kenyataan bahwa Seem, laki-laki yang membuatnya merasakan rasa cinta, kini telah menjadi suami sahabatnya sendiri, maka Nadia memilih untuk kembali ke pesantren, setelah menyelesaikan urusan kampusnya di semester dua. Maka, setelah ujian, Nadia memutuskan untuk mengurus mutasi nya. Nadia memilih untuk melanjutkan studinya di kampus dekat pesantren tempat dia tinggal.
Pagi itu, setelah melakukan beberapa jam perjalanan menuju pesantren tempat tinggal Nadia di Jawa Timur, mereka akhirnya tiba di lokasi Pada waktu pagi hari. Mereka mengambil waktu malam sebagai teman perjalanan, karena untuk menghindari cuaca yang panas dan macet.
Nadia bersama kedua orang tua pengganti nya disambut hangat oleh keluarga pesantren.
"Baik pak Daud, kami sangat tersanjung dengan sikap bapak yang berkenan mengantarkan nak Nadia kembali ke pesantren ini. Jujur, kami sangat bahagia atas kedatangan Nak Nadia kembali ke sini, karena kami sudah menganggap Nak Nadia seperti putri kami sendiri." kata Kyai Ilham.
"Iya pak Kyai. Ini juga atas kemauan Nadia sendiri, dia bilang, bahwa dia ingin kembali ke zona nyamannya, yaitu pesantren. Karena sejak kecil, dia tumbuh dan berkembang di lingkuan pesantren." jawab pak Daud.
"Lalu, bagaimana dengan kuliahmu nak?" tanya Kyai Ilham.
"InshaaAllah, Nadia akan melanjutkan di dekat sini abah, Nadia sudah mengurus surat pindah nya dari kampus." jawab Nadia.
"Baiklah kalau begitu nak."
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya pak Daud dan Ummah Hani pamit pulang, mereka diantar oleh Key, karyawan kepercayaan ummah Hani.
"Kamu hati-hati ya nduk. Jaga diri kamu baik-baik di sini." pesan Ummah Hani.
__ADS_1
"Mbak Nadia, kalau nanti Farah kangen, Farah boleh main ke sini kan?" tanya Farah polos.
"Tentu sayang. Kalau Farah kangen, Farah bisa juga kok Video Call sama mbak Nadia." kata Nadia lembut.
"Hore!" teriak Farah kegirangan.
Saat mereka akan kembali, Key kembali menoleh ke arah Nadia dan mengangguk sebagai tanda pamit kepada gadis lemah lembut yang beberapa waktu lalu membuat Key sering semangat bekerja. Anggukan Nadia dan senyuman Nadia membuat Key kembali melangkah dan siap mengantarkan keluarga bos nya kembali pulang.
Sepeninggal keluarga pak Daud, Nadia digiring Umi Husna menuju tempat istirahatnya.
"Nak, Umi sengaja menyiapkan kamar ini untukmu, mengingat kamu pernah bilang, bahwa kamu sangat suka tinggal di asrama bersama para santri. Tetapi, Umi siapkan kamar khusus untukmu, agar kamu merasa nyaman." kata Umi Husna.
"MaasyaaAllah umi, harusnya tidak perlu berlebihan seperti ini." kata Nadia merasa tak enak hati.
"Santai aja sayangku, Umi dan warga pesantren sangat bahagia kamu kembali ke sini." kaga Umi Husna.
"Ya sudah, sekarang, kamu segera mandi gih, pasti gerah ya, setelah melakukan perjalanan jauh." perintah Umi Husna kepada Nadia.
"Baik umi." jawab Nadia menurut.
Setelah kepergian Umi Husna, Nadia segera membersihkan dirinya lalu,setelah itu Nadia hendak kembali keluar menuju dapur umum untuk mencari kegiatan sebelum dia mengajar dan mulai berkuliah lagi.
Saat Nadia berjalan di koridor menuju dapur, tiba-tiba tak sengaja Nadia menabrak seseorang, karena netra Nadia sibuk melihat keadaan pesantren yang sudah satu tahun inj dia tinggalkan, seolah dia membayangkan, bahwa dia masih menjadi santri di beberapa titik yang menjadi tempat favorit nya.
Bugh
"Eh, maaf." kata Nadia sambil menunduk. Dia tak berani menatap sosok laki-laki yang telah ditabrak nya.
"Nadia?" sapa seseorang yang membuat hati Nadia terjingkat, karena suara itu tak asing bagi Nadia.
__ADS_1