
Siang itu setelah membantu para panitia mengurus kepulangan peserta dan membantu menaikkan barang-barang ke truk, Seem mendapat telepon dari client nya.
"Seem, aku duluan ya." kata Opik berpamitan ikut rombongan panitia untuk pulang.
"Okey." jawab Seem.
Lalu dia melihat ponsel nya, ada panggilan masuk dari client nya.
"Ya, halo." kata Seem sambil menyiapkan beberapa barang yang harus dibawanya serta menyiapkan konsep untuk Client nya.
Seem tampak sibuk dengan client nya, sambil membuat catatan konsep di buku kecilnya, dengan telinga yang dia tempelkan pada pundaknya untuk mengampit ponselnya.
"Oh, okey, siap." kata Seem mengakhiri percakapan mereka.
Saat akan melangkah, tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi, ada panggilan masuk dari cilent nya yang meminta pemotretan pre wedding siang ini di sebuah tempat wisata yang menarik.
"Baik, saya otw." jawab Seem, kemudian dia memasukkan ponselnya ke dalam sling bagnya berwarna hitam. Namun, saat Seem akan mengambil motornya, tiba-tiba dia melihat seorang gadis yang tak asing baginya, berjalan seorang diri di jalan aspal.
"Hem, dia lagi. Pasti dia ceroboh lagi, jadi tertinggal rombongan." batin Seem, lalu dia menunggangi kuda besinya dan melajukannya menyusul gadis malang itu.
"Ya Ampun...apes banget sih gue, cuma gara-gara ni perut ga bisa diajak kompromi, gue jadi ketinggalan rombongan. Terus, gimana gue pulang coba? Gue ga bawa apa-apa lagi. HP, dompet, semua di tas. Sedangkan tas gue di truk." keluh Azzalia meratapi nasibnya.
"Naik!" kata Seem dengan sikap dinginnya yang tiba-tiba muncul di belakang Azzalia, membuat Azzalia kaget.
"Eh, kak Seem?" Seketika Azzalia menyebut nama orang yang memang selalu datang tepat waktu, disaat dia membutuhkan bantuan.
Azzalia menengok ke kanan dan ke kiri, mencoba memastikan bahwa hanya ada dia yang ada di sana, sehingga sudah pasti Seem menyuruh dirinya naik ke motornya.
"Gue? Gue...suruh naik motor kak Seem?" tanya Azzalia memastikan dengan menujuk wajahnya dengan telunjuknya.
"Hem." Seem masih bersikap dingin.
"Beneran nih kak? Yaa Allah, terimakasih yaa Allah, engkau hadirkan malaikat penolong untukku." kata Azzalia dengan menengadahkan kedua tangannya.
"Cepetan, gue buru-buru." kata Seem.
"Oh, Okey, terimakasih banyak kakak ganteng dan baik." jawab Azzalia yang langsung naik ke jok belakang.
Seem melajukan motornya keluar dari daerah bumi perkemahan bogor, namun Seem tidak melewati jalan menuju ke Jakarta, menuju kampus mereka. Namun, Azzalia yang belum mengetahui selul beluk kota Jakarta dan Bogor, tidak menyadari hal itu. Yang dia tau, dia selamat dan mendapat boncengan untuk pulang.
"Gue ada jadwal pemotretan, kita harus ke puncak dulu." kata Seem.
"Ha? Ke Puncak? Tapi gue kan ga bawa helm." kata Azzalia.
Seem tidak menanggapi, dia terus fokus dengan kemudinya, dan saat sampai di suatu tempat, Seem menghentikan motornya.
"Lo tunggu sini." perintah Seem dengan wajah datar.
"Emang mau ngapain kak?" tanya Azzalia. Tetapi tidak dijawab oleh Seem. Azzalia melihat ke sekeliling, ternyata Seem berjalan menuju ruko yang menjual helm.
__ADS_1
"Kak Seem mau beki helm?" gumam Azzalia.
Tak lama kemudian Seem kembali dengan membawa sebuah helm berwarna biru.
"Pake!" kata Seem sambil menyodorkan helm baru itu kepada Azzalia.
"Ha? Buat gue?" tanya Azzalia tak percaya, tetapi terlalu percaya diri.
"Hem." jawab Seem tanpa banyak kata.
Setelah memakai helm baru itu, Azzalia membonceng lagi dna motor Seem melaju sampai di sebuah tempat wisata yang indah. Disana ada sebuah danau dan taman bunga yang indah. Seem mengentikan motornya di pintu masuk, lalu dia merogoh ponselnya di sling bag.
"Sayaa sudah sampai lokasi. Anda dimana?" tanya Seem.
"Oh, baiklah." jawab Seem lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam sling bag.
Azzalia yang sejak tadi sudah turun dari motor, langsung menikmati suasana ditempat itu. Dia tidak terlalu peduli dengan urusan Seem, dan tidak mau tau apa yang akan dilakukan Seem di tempat itu.
Seem melihat Azzalia yang merentangkan kedua tangannya di sebuah bukit, dan ujung jilbabnya berkibar terkena angin, membuat jiwa fotografer nya muncul. Seem mencuri gambar Azzalia saat itu.
"Cantik." gumam Seem sambil tersenyum saat melihat hasil jerpetannya.
Saat sebuah mobil sudah tiba di lokas, Seem berjalan ke arah Azzalia.
"Gue tinggal dulu." pamit Seem sambil menunjuk sepasang kekasih dengan busana prewed nya.
Selama pemotretan, diam-diam dari kejauhan, Azzalia melihat Seem yang begitu energik dalam mengarahkan kedua pasang calon pengantin itu. Dengan sesekali membungkuk, dengan kamera di depan matanya, membuat Azzalia merasakan sesuatu yang aneh hadir dalam jiwanya.
"Opa korea ga punya kamus bahasa, kalau diperhatiin, ganteng juga. Baik pula. Meski nyebelin sih." gumam Azzalia sambil menikmati suasana sejuk daerah puncak.
Sekitar satu jam, akhirnya acara pemotretan berjalan dengan lancar. Seem kembali menghampiri Azzalia.
"Ayo pulang." ajak Seem yang sudah berjalan ke arah Azzalia yang sejak tadi duduk disebuah gelondong kayu yang didesain menjadi meja kursi santai.
"Ehm, sekarang?" tanya Azzalia.
"Iya lah. Emang elo belum puas?" tanya Seem.
"Udah sih, tapi..." kata Azzalia yang ragu untuk mengatakan sesuatu kepada Seem.
"Tapi apa?" kata-kata menggantung Azzalia berhasil membuat cowok sedingin es itu kepo juga.
"Aku haus, boleh minjem duitnya dulu ga buat beli minum?" tanya Azzalia dengan gaya nyengir kuda.
"Astaga, gue udah nyiksa anak orang. Gue lupa kalau gue bawa anak orang yang ga bawa apa-apa." batin Seem merutuki kebodohannya.
"Oh, okey. Ayo naik." kata Seem yang sudah berjalan menuju motornya dan menaikinya.
"Okey kak." jawab Azzalia yang langsung meloncat duduk di jok belakang.
__ADS_1
Seem mencari warung makan, dan dia akhirnya menemukan warung bakso dan mie ayam, Seem berhenti di tempat itu, lalu memesankan dua porsi bakso dan dua porsi es jeruk.
"Lho, kenapa sama makan kak?" tanya Azzalia saat sudah melihat bakso didepannya.
"Biar kenyang." jawab Seem.
"Iya, gue juga tau. Kalau makan biar kenyang." kata Azzalia agak sebel.
Saat mereka sedang makan, Seem memperhatikan Azzalia yang makan dengan lahapnya.
"Elo laper apa doyan?" tanya Seem heran.
"Dua-duanya." jawab Azzalia dengan masih mengunyah potongan bakso dimulutnya.
"Entar, kalau udah sampe kampus, tinggal totalan aja ya kak. Harga helm nya tadi berapa, tarif motornya berapa dan bakso beserta minumannya berapa. Nanti gue ganti." kata Azzalia.
"Ga usah." jawab Seem.
"Ha? Kenapa? Gue ga mau punya hutang sama orang." kata Azzalia.
"Lo ga hutang." jawab Seem lagi. Yang akhirnya jawaban Seem membuat Azzalia menatap cowok tampan dihadapannya.
"Kak Seem serius?" tanya Azzalia.
"Hem." jawab Seem.
"Oh ya, boleh gue nanya sesuatu?" tanya Seem.
"Boleh." jawab Azzalia.
"Elo asli mana?" tanya Seem.
"Semarang." jawab Azzalia.
"Semarangnya mana?" tanya Seem lagi.
"Semarang kota." jawab Azzalia tanpa rasa curiga. Namun jawaban Azzalia justru membuat Seem menghentikan tangannya untuk menyendok bakso. Azzalia yang menyadari itu, menoleh ke arah Seem.
"Kenapa?" tanya Azzalia.
"Ehm...apa...elo dulu pernah nolongin orang mabuk di tengah malam?" tanya Seem.
Azzalia tampak berfikir, mencoba mengingat-ingat masa lalunya.
"Oh, itu? Iya, pernah. Kenapa?" tanya Azzalia.
Seem tak bergeming untuk beberapa saat.
"Jadi bener dugaan gue selama ini, dia ini cewek itu, malaikat tak bersayap itu, gadis yang membuatku berubah, dan gadis yang selama ini kucari, ternyata dia ada di hadapanku?" batin Seem.
__ADS_1