
Seusai jam perkuliahan, Azzalia pulang bersama Seem mengendarai motor. Sesampainya di rumah, Azzalia dan Seem segera membersihkan diri. Azzalia segera ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sedangkan Seem berkutat dengan leptopnya di ruang keluarga. Ada beberapa pekerjaan yang harus segera dia selesaikan.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk, Azzalia yang mendengar suara pintu utama diketuk segera menuju ke sana, dan membukakan pintu itu.
"Eh, om Dzen, tante Tiara? Masuk om, Tante!" ajak Azzalia sopan.
Mutiara dan Dzen segera memasuki rumah itu, lalu duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu. Sedangkan Seem yang mendengar bahwa Dzen dan Mutiara tamunya, segera meninggalkan leptopnya dengan masih menyala monitor nya.
"Eh, om Dzen, tante Tiara. Silakan duduk tante, om." sapa Seem sambil mencium punggung tangan Dzen dan Mutiara bergantian.
"Seem, gue ke belakang dulu ya, temenin mereka dulu." kata Azzalia. Seem hanya mengangguk untuk memberikan jawabannya.
Azzalia membuat minuman di dapur untuk Mutiara dan Dzen, tak lupa pula camilan yang dia siapkan di dalam toples dan diletakkannya di nampan. Saat akan ke ruang tamu sambil membawa nampan, tak sengaja Azzalia menoleh ke arah leptop Seem yang masih menyala. Niat hati Azzalia ingin menutupnya, tetapi saat semakin dekan dengan monitor, dia melihat dengan jelas ada banyak foto wanita berjilbab di sana, yang tak lain adalah dirinya sendiri.
"What? Apa ini? Sejak kapan Seem punya foto-foto ini? Ini kan... waktu ospek dan kemah." gumam Azzalia yang akhirnya tertarik untuk melihatnya lebih lama lagi, dan melihat nama file itu.
'Malaikat Tak Bersayap'
"Apa? Lebay banget sih ni orang?" komentar Azzalia saat mengetahui Seem memberikan nama file pada foto-fotonya dengan nama itu. Azzalia semakin penasaran dan menscroll file itu, dan benar saja, tidak ada foto lain di sana kecuali foto-foto dirinya.
"Ehem." deheman Seem membuat Azzalia seketika terjingkat karena kaget.
"Ya ampun Seem, elo tu ya, ngagetin aja." protes Azzalia.
Lo ngapain liat-liat leptop gue?" tanya Seem.
"Hehe, ga sengaja liat Seem. Eh, ternyata disitu ada foto gue ya? Sejak kapan lo nyimpenin foto gue?" tanya Azzalia heran.
"Entar gue ceritain. Yang penting sekarang lo bawa ni minuman ke luar, tante Tiara sama om Dzen udah nungguin." kata Seem mengingatkan.
"Astagfirullah. Iya, gue lupa. Oke, oke, gue segera ke sana." kata Azzalia sambil mengambil nampannya dan membawa ke ruang tamu.
"Eh, maaf tante, om. Agak lama ya nunggunya?" kata Azzalia sambil meletakkan dua cangkin teh hangat sebagai suguhan andalan ala orang Indonesia ketika menjamu tamu.
"Ya, gapapa sayang. Santai aja, malah kami yang minta maaf, datang bertamu pas sore-sore, yang harus nya kamu lagi beres-beres mungkin." kata Mutiara.
__ADS_1
"Ya begitulah tante, kebetulan ART di rumah ini kan pamit tante, setelah mas Diego meninggal, dan kami belum punya penggantinya." kata Azzalia.
"Silakan di minum om, tante. Maaf cuma air aja." kata Azzalia.
"Ish, kamu nih, ga usah repot-repot gitu lah." kata Mutiara. Saat itu juga Seem sudah kembali ke ruang tamu, setelah tadi sempat menutup lepotpnya.
"Azza, Seem. Kalian baik-baik saja kan?" tanya Mutiara memastikan.
"Baik tante. Emang kenapa tante?" tanya Azzalia heran.
"Engga... maksud tante, pernikahan ini, bukan karena keterpaksaan kan? Yang membuat kalian tidak nyaman?" tanya Mutiara lagi.
"Alhamdulillah, kami nyaman tante." jawab Seem sambil menatap Azzalia.
"Syukurlah kalau begitu, tante cuma ga mau, keponakan tante ini ga bahagia setelah menikah, karena kami salah memilihkan suami untuk nya." kata Mutiara.
"Alhamdulillah, aman tante, Azza bahagia kok." jawab Azzalia dengan wajah berbinar dan pipi kemerahan karena malu.
"Syukurlah. Alhamdulillah." jawab Dzen.
"Ehm, jadi begini Seem, Azza. Om dan tante datang ke sini itu, niat kami... kami mau berpamitan pada kalian. Malam ini juga kami harus kembali ke Solo." lanjut Dzen.
"Engga kok Za, nanti sekitar abis isya' saja, kami memilih perjalanan malam saja, biar ga macet dan panas." kata Dzen.
"Oh, ya om. Berarti lebih baik, om sama tante makan malam dulu aja di sini ya." kata Azzalia.
"Memang Azza udah nyiapin makan malamnya?" goda Mutiara.
"Udah dong tante, tapi ya...seadanya dan rasanya se rasa-rasanya tante. Hehe." kata Azzalia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah." jawab Mutiara.
Saat mereka sedang berbincang ringan, tiba-tiba ponsel Seem berbunyi, tanda ada panggilan masuk.
"Seem, kayaknya itu Ponsel elo deh, ada telpon dari client elo kali, coba angkat gih!" perintah Azzalia kepada Seem.
"Maaf om, tante, saya ijin angkat telpon dulu ya." kata Seem sambil undur diri dari ruang tamu.
__ADS_1
"Ya Seem, silakan." jawab Mutiara.
Setelah kepergian Seem, Mutiara menatap Azzalia dengan seksama.
"Azza..."
"Ya tante?"
"Bagaimana kamu memanggil suamimu tadi?" tanya Mutiara lembut.
"Emang...kenapa tante?" tanya Azzalia heran.
"Azzalia... kamu dan Seem memang berteman, kalian mungkin sangat akrab, namun... alangkah lebih baiknya jika bahasa sehari-hari kalian bisa di perhalus lagi ya nak." kata Dzen lembut.
"Maksudnya om.?" tanya Azzali ayang masih belum 'Ngeh'.
"Kalau orang jawa bilang 'Ajining Diri Ono Ing Lathi', itu artinya, kebaikan seseorang itu, bisa dilihat dari cara bicaranya. Nah, kamu dan Seem kan sudah menjadi suami istri, alangkha indahnya jika kalian memanggil satu sama lainnya itu dengan panggilan yang lebih halus, seperti 'sayang' misalnya, atau 'mas' gitu, kalian kan asli Semarang." jelas Mutiara dengan lembut, khawatir menyinggung Azzalia.
"Oh, gitu ya tante?" tanya Azzalia mulai paham.
"Maaf om, tante, tadi terjeda telpon dari client." kata Seem yang tiba-tiba sudah muncul lagi.
"Iya Seem, tidak masalah bagi kami." jawab Dzen ramah.
"Ehm, oya Seem. Om hanya ingin mengingatkan saja, bukan berarti om menagihmu. Tapi, om sebagai pengganti orang tua Azzalia, kami juga ingin berkenalan dengan keluarga kandungmu, bisa tidak ya Seem? Karena informasi yang kami dapat, kemarin itu yang datang ke acara ada kalian bukan keluarga kandungmu ya?" tanya Dzen.
"Iya om, bukan. Mereka adalah orangtua angkat saya." jawab Seem menunduk.
"Ya ya, om paham. Kenapa kamu melakukan itu. Kalau kamu berada di posisi wanita, kamu tetap harus mencari walimu, tetapi, karena kamu laki-laki, hal itu tidak mempengaruhi sarat sahnya pernikahan. Tetapi, alangkah lebih baiknya, Seem memberi kabar baik ini kepada keluarga Seem yang Seem tinggalkan. Ya, ga harus sekarang, ga harus dalam waktu dekat ini, karena kamu saat ini mengubah statusmu dua kali, dan om yakin, kamu membutuhkan waktu untuk menata mentalmu ketika berjumpa mereka." kata Dzen.
"Baik om, InshaaAllah nanti jika saya sudah siap, saya akan membawa Azzalia menghadap mereka om." kata Seem.
"Baik Seem, lakukanlah meski berat, karena sesungguhnya, keridhoan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua. Dan murka Allah, itu juga terletak pada murka orang tua." imbuh Mutiara.
"Baik tante."
Setelah obrolan serius itu, Azzalia dan Seem, mengajak Dzen dan Mutiara untuk sholat maghrib bersama kemudian makan malam.
__ADS_1
Setelah makan malam, Mutiara dan Dzen berpamitan untuk pulang ke rumah tempat tinggal Aziz, lalu mereka melakukan perjalanan pulang ke Solo.