
"Jadi, gimana mas?" tanya Azzalia saat masih di perjalanan pulang.
Selama di rumah bu Hani, Azzalia menemani Farah bermain hingga Farah tidur, sambil menunggu Seem menyelesaikan tugasnya. Saat sudah jam pulang, Seem menggoncengkan Azzalia sedangkan sepeda lipat Azzalia di bawa serta naik motor.
"Ehm, aku rasa, ga usah sayang." jawab Seem.
"Kenapa?" tanya Azzalia meminta penjelasan.
"Nanti aja ya aku jelasin di rumah." jawab Seem.
"Ya mas." jawab Azzalia menurut.
Tak menunggu waktu lama, akhirnya mereka tiba di rumah, lalu mereka membersihkan diri secara bergantian dan dilanjut dengan makan malam. Malam ini, menunya adalah ayam goreng kremes yang mereka bawa dari Rumah Makan Laa Tansa. Seem memang jarang mengijinkan Azzalia memasak, kecuali jika waktu benar-benar longgar. Karena Seem ingin ikut serta membantu memasak, dia tidak ingin memberatkan istrinya dengan tugas dapur.
"Kenapa mas?" tanya Azzalia lagi.
"Nanti ya, dihabiskan dulu makannya." jawab Seem memberi pengertian.
"Okey lah " jawab Azzalia lesu, karena dia sangat penasaran dengan alasan Seem.
Setelah makan malam bersama merekapun ke kamar bersama. Merekapun berbaring di kasur secara berdampingan.
"Sayang..." panggil Seem.
"Hem?" jawab Azzalia yang sudah mulai cemberut, karena Seem selalu menunda penjelasannya terkait penolakan nya terhadap ajakan Azzalia ke Ponorogo menyusul Nadia.
"Apa kamu tau, alasan Nadia pergi?" tanya Seem.
"Engga. Makannya aku pingin nemuin Nadia dan mau tanya, apa alasan dia pergi ga pamit sama kita." kata Azzalia dengan sebel karena suaminya tidak meng-acc permintaannya.
"Tadi kaya ada surat untuk kalian kan?" tanya Seem.
"Iya, tapi ga jelas. Alasannya cuma karena dia ga mau kita melarang dia pergi." jawab Azzalia masih dengan mode kesal.
"Apa kamu ga tau, alasan utamanya dia pergi?" tanya Seem mencoba menelisik tentang sejauh mana Azzalia dekat dengan Nadia.
"Ehm... kalau menurutku sih... dia itu pergi karena kita mas." jawab Azzalia lemas.
"Kita?"
"Ya, karena kita menikah." jawab Azzalia.
"Aku rasa itu mas, karena sebelum kita menikah, Nadia masih hangat sama aku mas, dia masih suka bercengkrama sama aku, curhat bercanda... tapi... setelah aku nikah sama kamu, dia mendadak dingin mas. Agak menjaga jarak dariku, udah ga pernah sharing-sharing lagi mas." lanjut Azzalia mengutarakan prasangka nya.
"Ternyata, argumen kita sama." Kata Seem.
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Azzalia sambil menoleh ke arah Seem.
"Ya, aku juga merasa begitu. Nadia biasanya ramah dan suka tersenyum, lemah lembut dan perhatian. Tetapi, setelah kita menikah, dia lebih bersikap dingin." kata Seem menambahkan.
"Aku rasa...dia suka sama kamu mas." kata Azzalia.
"Terus?"
"Ya... aku ngerasa ga enak aja gitu mas, merasa jadi orang jahat yang merebut cowok sahabatnya." kata Azzalia sendu.
"Kenapa merasa ga enak hati? Sedangkan aku sama dia ga pernah ada hubungan apapun, dan kamu ga merebut apapun dari siapapun " kata Seem.
"Emang kamu sendiri juga ga merasa ga enak hati mas sama almarhum kak Opik?" tanya Azzalia.
"Maksudmu?"
"Aku yakin, mas pernah merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan saat ini, karena aku tau, bahwa kak Opik pasti juga bercerita sama mas, kalau dia menyukaiku, dan justru kamu menikahiku." kata Azzalia yang justru membuat Seem terkejut dibuatnya.
"Gini gini, aku tu sedikit banyak mengeti dengan gelagat seseorang mas. Termasuk gelagat Nadia yang suka sama kamu sejak awal kita ketemu. Dan kamu tau, aku merasa bersalah juga dengan pernikahan kita, karena dengan kita menikah, justru melukai hati orang-orang baik seperti Opik dan Nadia." kata Azzalia.
"Apakah kamu tidak percaya takdir?" tanya Seem.
"Percaya, aku percaya takdir mas."
"Kalau percaya, jangan pernah salahkan pernikahan kita, karena tidak ada yang salah dengan pernikahan kita, yang salah adalah mereka yang sulit memenejemen hatinya, untuk mengikhlaskan dan bersabar. Dan tugas kita itu satu, kita harus kuat untuk mempertahankan pernikahan kita ini. Dengan cara apapun." kata Seem menggenggam erat tangan Azzalia.
"Apa kamu siap untuk berbagi cinta? Jika kamu siap, aku yang ga siap untuk membaginya, karena aku tak sebaik dan seadil Rasulullah, maka aku tak ingin menduakanmu, cukup kamu, dan hanya kamu." kata Seem mengecup punggung tangan Azzalia dengan mesra.
Azzalia tercengang dengan apa yang disampaikan Seem.
"Aku ga ngerti maksudmu mas." keluh Azzalia.
"Kalau kamu memintaku mengantarmu ke Ponorogo, menyusul Nadia, maka kamu juga harus siap, ketika Nadia memintamu berbagi cinta. Ketika kamu tanya alasan Nadia, lalu Nadia menjawab dengan jujur, bahwa dia ingin menjadi istriku juga, apa kamu siap? Engga kan? Itulah kenapa aku menolak permintaanmu. Biarlah, Nadia menenangkan diri di sana dulu, jauh dari teman-temannya, melupakan semua yang telah mengusik hatinya. Biarlah Nadia di pesantren, supaya dia belajar ikhlas menerima takdir, dan tidak lagi berharap lebih terhadap sesuatu yang sudah tidak mungkin untuk dia dapatkan." kata Seem panjang lebar, membuat Azzalia menatap lekat manik suaminya. Azzalia sungguh tidak menyangka, suaminya berfikir sampai sejauh itu. Seketika Azzalia menghambur ke dalam pelukan Seem, dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Seem.
"Maafin aku ya mas, dan terimakasih atas alasan mu yang menolak permintaanku." kata Azzalia masih dalam pelukan Seem.
"Tidak masalah sayangku, aku hanya tidak ingin kamu bersedih, aku ga mau kamu sakit hati, dan aku hanya ingin menjaga keluarga kita dari pihak ketiga yang akan berdampak buruk pada kelangsungan bahtera rumah tangga kita." jawab Seem.
"Sungguh, aku ga terfikir sampai ke situ mas." kata Azzalia.
"Iya, karena itulah aku mencintaimu sayang, hatimu terlalu polos dan bersih, membuat kamu bahkan tidak memikirkan perasaanmu sendiri, sedangkan kamu terlalu memikirkan perasaan orang lain." kata Seem yang berhasil membuat wajah Azzalia merona karena malu.
"Ah, kamu nih mas..." kata Azzalia manja sambil memukul dada bidang suaminya.
"Aku mencintaimu sayang." kata Seem.
__ADS_1
"Emang, kamu ga pernah ada rasa gitu sama Nadia? Kan dia pinter, cantik, sholihah, lemah lem..."
"Engga." jawab Seem sebelum Azzalia melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa?"
"Karena kamu." jawab Seem lagi.
"Maksudnya?" Azzalia pura-pura tidak mengerti meski sebenarnya dia mengerti, hanya saja dia ingin menjajaki sejauh mana suaminya bisa berkata manis kepadanya.
"Karena aku hanya mencintaimu, hanya menginginkan mu." jawab Seem.
"Sejak kapan?" tanya Azzalia.
"Sejak kamu masih SMA. Saat kamu menolongku waktu itu, aku sudah mencintaimu." kata Seem.
"What? Tapi, kenapa kamu nyebelin banget waktu aku Ospek?" protes Azzalia.
"Karena aku ingin dekat denganmu." jawab Seem.
"Apakah aku menawarimu boncengan untuk pulang, saat kamu ketinggalan armada itu juga nyebelin?" tanya Seem dengan wajah menggoda.
"Ah, engga. Engga nyebelin kok, malah.. nyenengin. Hehehe, jujur, aku jadi speachles tau mas." jujur Azzalia.
"Ehm, tapi, kenapa kamu dingin banget sih mas? Nyebelin tau, kalau ngomong ngirit banget." protes Azzalia.
"Karena aku ga suka ngomong."
"Kenapa sekarang jadi cerewet?" tanya Azzalia.
"Karena aku ga mau istriku sebel sama aku. Tapi aku hanya ingin membuatmu cinta, kangen dan selalu merasa nyaman bersamaku." kata Seem sambil mengeratkan pelukannya kepada Azzalia.
"Eh, dasar opa korea ga punya kamus bahasa, ternyata bisa lebay juga ya, bisa bucin juga." goda Azzalia sambil menoel hidung mancung Seem.
"Opa korea ga punya kamus bahasa juga manusia biasa, dan laki-laki normal." jawab Seem lagi.
"Eh, kok tatapan matamu berubah gitu sih mas?' tanya Azzalia yang mulai bergidik dengan sikap Seem yang tampak agresif.
"Kamu lupa? Aku tadi pagi harus menahannya karena ada telpon dari client, dan sekarang saatnya, aku minta jatah." kata Seem yang suaranya mulai parau.
"Ya ampun mas...kamu nih...mesum terus pikirannya."
"Mesum sama istri sendiri, ibadah bukan?" tanya Seem sambil menelusupkan tangan nya ke dalam pakaian Azzalia.
"Terserah kamu lah." kata Azzalia pasrah.
__ADS_1
Akhirnya, malam itu dihabiskan dua insan yang di mabuk cinta itu dengan bercinta dalam penyatuan.