Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Belum Nembak Udah Ditolak


__ADS_3

"Dek, lo serius hari ini mau mulai naik sepeda?" tanya Diego saat mereka sarapan bersama.


"Iya, kenapa?" tanya Azzalia.


"Ga takut item tu nanti kulitnya? Kena terik matahari dan polusi di mana-mana." goda Dian.


"Hahaha, Azzalia takut item, ga mungkin sayang. Dia itu anak turis, paling suka berjemur di tempat yang panas, biar kulitnya makin gosong." kata Diego mengejek.


"Hu, bilang aja ngiri, karena gue punya sepeda sendiri." kata Azzalia.


"Apaan? sepeda yang beliin Om Zio aja bangga." kata Diego.


"Ye...itu pake duit gue sendiri keles. Beberapa hari gue ngelembur, duitnya buat beli sepeda." kata Azzalia masih membela diri.


"Tapi, ada untungnya juga sih dek, jadi kamu ga perlu berlama-lama di jalanan, karena macet." kata Dian.


"Ya emang itu tujuan Azza beli sepeda kak." kata Azzalia.


"Kenapa engga motor aja sekalian sih?" tanya Diego heran.


"Ribet. Musti beli bensin, ganti oli, servis. Ngurus SIM C. Dan yang jelas Tabungan gue belum cukup." jawab Azzalia.


"Ya udah kak, Azza pamit dulu. Dada Gemoy..." pamit Azzalia kepada kakak iparnya dan keponakannya sambil menyambar tas ranselnya.


Tak lupa Azzalia juga menyalimi Diego, sebagai pengganti orang tuanya.


Sepanjang jalan, Azzalia mengayuh sepeda lipatnya dengan semangat sambil mendengarkan siaran radio dengan suara khas orang yang dia sukai. Opik Oman namanya. Suaranya sangat renyah dan benar-benar memberikan semangat untuk menyambut hari. Namun Azzalia masih belum kenal, siapa itu Opik Oman yang sebenarnya, yang jelas, dia ngefans sama orang itu, dan jika nanti dia jadi masuk ke UKM pers dan masuk bidang penyiaran, baru dia akan cari tahu siapa penyiar favorit nya itu.


Sesampainya di kampus, Azzalia langsung memarkirkan sepeda lipat nya di parkiran sepeda. Lalu Azzalia berjalan menuju gedung fakultasnya, dan menaiki tangga menuju kelasnya di lantai empat. Lumayan bikin olahraga kaki juga, karena memang Azzalia tidak suka menaiki lift.


Azzalia langsung masuk kelas, di ruang 4.2. Dia langsung mencari tempat duduk yang masih kosong dengan tetap menyapa teman-teman barunya di kelas baru. Lalu Azzalia langsung mendaratkan bokong nya di kursi kuliah yang kecil itu.


"Hai, gue duduk sini boleh ya." sapa seorang cowok dengan gaya SKSD. Sok Kenal Sok Deket lalu langsung duduk di kursi disebelah kanan Azzalia.


"Eh, Ya, boleh. Silahkan." jawab Azzalia bersikap biasa.


"Oya, gue Al. Lengkapnya Al-Ghozali." kata cowok itu sambil mengulurkan tangan dan tampak tersenyum menampakkan gigi-gigi putihnya.


"Hem. Azzalia." jawab Azzalia sambil menyambut uluran tangan Al.


"Lo, sendirian aja?" tanya Al.


"Engga. Tuh, temennya banyak." jawab Azzalia sambil menunjuk teman-teman sekelasnya.


"Ya elah, bukan itu maksud gue. Elo duduk di sini sendirian aja?" tanya Al lagi.


"Iya lah. Emang ni kursi bisa buat duduk berdua?" tanya Azzalia.

__ADS_1


Al menepuk keningnya sambil geleng-geleng kepala.


"Ish, bukan gitu maksud gue."


"Iya, gue ngerti maksud lo. Gue ga sendiri, kan ada elo, hehehe." jawab Azzalia.


"Cakep!"


"Oya, lo masih inget gue ga?" tanya Al.


Azzalia mencoba menatap cowok itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Cowok berdarah Indo-Arab itu berwajah putih bersih, hidung mancung dan tubuh yang tinggi.


"Elo...cowok yang tampil stand up komedi waktu kemah itu kan?" tanya Azzalia.


Seketika Al langsung menjentikkan jari nya,


"Seratus!" jawab Al.


"Selain itu? Elo inget gue ga, kalau elo pernah melakukan sesuatu sama gue?" tanya Al.


"Ha? Ngelakuin apa? Sumpah, gue ga pernah ngelakuin apa-apa sama elo." jawab Azzalia bergidik, Azzalia membayangkan kata 'melakukan sesuatu' itu adalah hal yang melanggar etika.


"Elo beneran ga inget gue?"


"Udah gue bilang kan, gue inget, tapi cuma pas di api unggun itu aja." jawab Azzalia.


"Engga." jawab Azzalia polos.


"Tapi lo inget kan, pernah nolongin cowok ganteng yang tersengat kalajengking?" tanya Al.


"Ehm...Iya? Tapi gue ga tau dia ganteng apa engga." jawab Azzalia sambil berfikir.


"Nah, itu. Itu gue." kata Al sambil memukul meja dengan telapak tangannya.


"Astaga. Bikin kaget aja lo." secara spontan tangan kanan Azzalia memukul lengan Al.


"Aw. Sorry. "


"Oh. Jadi itu elo? Kenapa? Elo baik-baik aja kan? Apa elo minta ganti rugi, karena salah obat atau gimana?" tanya Azzalia khawatir.


"Emang elo ga liat wajah gue pas lo ngobati waktu itu?" tanya Al.


"Engga." jawab Azzalia singkat.


"Kenapa? Takut naksir ya?" goda Al.


"Idih... Engga lah." jawab Azzalia.

__ADS_1


"Eh, elo udah punya pacar belum sih?" tanya Al dengan menarik turunkan alisnya.


Azzalia mengubah posisi nya menghadap Al,


"Emang, kalau gue belum punya pacar kenapa? Elo mau nembak gue? Sorry, gue ga nerima!" jawab Azzalia to the poin.


"Yah, kok gitu sih? Nembak aja belum, udah ditolak." kata Al sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Udah ih, tu dosen dah masuk." kata Azzalia.


Saat dosen masuk, Azzalia fokus memperhatikan dosen itu. Namun, tidak dengan Al yang justru terus menatap Azzalia dengan penuh kekaguman.


"Cantik, meski kulitannya ga sebening cewek-cewek cantik pada umumnya sih, tapi dia manis. Unik, dan...kenapa gue jadi pingin berlama-lama sama dia?" batin Al.


"Ehem, maaf. Anda bisa jelaskan, apa itu arti penyiaran islam?" tanya sang dosen pada Al. Dan seketika Al tergagap.


"A...anu...itu...a...apa sih? Lupa bu." jawab Al sekenanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hem... kamu naksir ya sama nona ini? Bilang saja, nanti saya comblangin." kata dosen perempuan yang masih muda itu sambil menunjuk Azzalia.


"Ha? Gue?" gumam Azzalia.


"Hehe, tau aja bu." jawab Al sambil cengengesan.


"Cie cie..."


"Huuu..."


"Ehem ehem..."


Suara riuh di kelas jelas terdengar, membuat Azzalia risih dibuatnya, tetapi dia berusaha untuk tidak nervous dan berusaha tetap enjoy dan have fun.


"Nona, dia sepertinya suka dengan anda, bisakah anda menerima cintanya?" tanya dosen itu kepada Azzalia.


"Hah? Apa? Cinta? Engga, engga. Enak aja. Saya ga bisa nerima cintanya bu." jawab Azzalia to the Point.


"Kenapa?" tanya dosen itu lagi.


"Karena ga suka. Udah. Titik." jawab Azzalia.


"Entar nyesel lho... ganteng lho mas nya " kata dosen itu berusaha meyakinkah hati Azzalia untuk Al.


"Masih gantengan nabi Muhammad bu." jawab Azzalia.


"Ya iyalah...Nabi Muhammad itu manusia paling sempurna di penjuru bumi." jawab Al.


"Nah, itu tau." jawab Azzalia.

__ADS_1


"Sudah-sudah. Ya sudah, dramanya diakhiri dulu ya. Karena waktu sudah habis, pertemuan berikutnya kita akan lanjutkan di bab selanjutnya." jawab dosen itu lalu merekapun melanjutkan pelajaran mereka.


__ADS_2