
Hari ini adalah hari terakhir pepemaru, Azzalia yang semalam begadang bersama teman-teman, dan dia merasakan badannya terasa lelah, sehingga agak sulit untuk dibangunkan.
"Astaghfirullah...Azza, Rere, kalian kok belum bangun sih? Udah siang ini, kalian belum subuh kan ya? Za, bangun Za, subuh. Re, bangun Re." kata Nadia menggoyang-goyangkan tubuh Azzalia dan Renata bergantian untuk segera bangun, menunaikan sholat subuh.
"Entar ah, masih ngantuk." kata Azzalia dengan suara serak.
"Ih...Za. Itu matahari udah terang, bangun ah." paksa Nadia.
Azzaliapun terpaksa bangun dengan muka dan jilbab yang sudah tidak beraturan. Sedangkan Renata masih merem, dan tak bergeming dari tidur cantiknya.
"Re, bangun Re! Subuh." kata Nadia menggoyang tubuh Renata untuk bangun.
"Bangun lo Re, ayo subuh bareng Re." kata Azzalia dengan suara serak nya, meski matanya masih merem juga.
"Sana, cepetan ke masjid, sholat subuh." kata Nadia mendorong tubuh Azzalia.
"Iya iya. Ih, bawel lo ah." gerutu Azzalia dengan terpaksa akhirnya berdiri juga dan melangkah keluar dari tenda. Azzalia dan Renata berjalan bersama menuju masjid untuk menunaikan sholat subuh. Setelah sholat, mereka lanjut mandi, karena hari sudah siang, sehingga tidak memungkinkan jika mereka mandi dulu bari sholat subuh.
Pagi itu para peserta apel pagi, senam bersama dan fun game. Karena hari ini adalah hari terakhir berkegiatan, dan ba'da dzuhur, mereka akan kembali pulang ke kampus.
Di waktu senggang itu, kelompok Mawar merah yang sudah merencanakan untuk pesta rujak, langsung menyiapkan bahan-bahan untuk rujak. Azzalia mengupas buah-buahan seperti bengkuang, timun dan nanas. Sedangkan teman yang lain menyiapkan bumbu dan makan siang.
"Wah, kayaknya ada yang mau pesta rujak nih." kata Opik yang tiba-tiba muncul di depan tenda Mawar Merah.
"Eh, kang Opik. Iya nih kang, ayo kang, ikutan gabung. Kak Seem juga boleh ikutan lho." kata Nadia yang sangat antusias melihat ada Seem di dekat Opik. Memang Opik dan Seem seperti upin ipin yang tak pernah saling berjauhan, hehehe.
"Iya kak Opik, sini kak. Syaqila siapin ya buat kak Opik." kata Syaqila antusias dengan semangat 45 dan langsung nyomot buah yang sedang dikupas Azzalia, dan siap dia potong-potong untuk Opik.
"Eh, sembarangan ambil aja lo Sya, belum selesai juga." omel Azzalia yang tangan kirinya menampik tangan Syaqila.
"Eh, belum selesai yaa?" kata Syaqila salah tingkah.
"Ha udah, Syaqil ambilin yang ini dulu deh, buat kak Opik." kata Syaqila sambil mengambil potongan mentimun yang sudah dipotong-potong Azkya.
"Ini dulu ya kak. Oya kak, makasih banget lho kak, semalem udah nganterin Syaqil sama Azzalia sampe tenda, coba ga ada kak Opik, ga tau deh nasib kita bagaimana, bisa jadi kita dibawa makhluk halus di hutan ini." kata Syaqila lebay.
"Idih, lebay banget sih lo Sya, biasa aja kali." sewot Azzalia.
__ADS_1
"Emang semalem kalian kenapa, sampe dianterin kang Opik?" tanya Nadia yang juga membuat Seem juga memfokuskan pendengaran nya, meski matanya mencari-cari objek yang pas untuk difoto.
"Semalem tu, kak Opik bagaikan pangeran yang menolong dua princess yang ga bawa senter. Kita jalan di tengah kegelapan, karena senter gue elo pinjem." gerutu Syaqila di akhir kalimatnya.
"Eh, iya kah Za?" tanya Nadia merasa bersalah.
"Ya, gitu dehm Tapi gapapa, itung-itung uji nyali, hehehe." jawab Azzalia sambil bercanda, dan membuat Seem menoleh ke arah Azzalia.
"Uji nyali? Apa malam itu dia juga bermaksud uji nyali juga, sampe dia ke toilet seorang diri tanpa seorang teman?" batin Seem sedikit kesal atas kecerobohan gadis menyebalkan itu.
"Ya, semalem cuma kebetulan aja, pas mau kembali ke tenda, melihat dua gadis jalan ditengah kegelapan, apa ga takut kalau ada binatang melata yang mengganggu? Jadilah saya ikuti dari belakang." jawab Opik.
"Dan, ini ucapan terimakasih kami ya kak." kata Syaqila sambil menuang bumbu rujak diatas potongan buah yang sudah Syaqila siapkan untuk Opik.
"Eh, Sya. Kenapa kang Opik kamu kasih duluan sih? Kita yang kerja aja belum ngerasain juga." protes Nadia.
"Iya nih, Syaqila." omel Renata sambil meletakkan sirup jeruk di depan tenda.
"Lhoh, ada sirup juga?" tanya Opik heran.
"Iya kak. Azzalia yang bawa." jawab Renata.
"Kak Seem, sini gabung." panggil Nadia yang melihat Seem tidak segera ikut serta duduk di tikar.
"Eh, iya kak Seem. Sini kak, ikutan makan rujak. Ga usah jaim-jaim sama kita. Biasa aja kali." kata Azzalia yang berhasil membuat Seem menoleh kearah gadis yang selalu membuatnya kesal.
"Iya Seem, sini. Enak Lho ini rujaknya." kata Opik yang sudah memakan sepotong buah pepaya yang sudah dilumuri bumbu rujak.
Azzalia sangat suka dengan rujak, dia langsung memakan beberapa potong buah dan melumurinya dengan bumbu rujak yang tidak sedikit.
"Za, kira-kira dong lo kalo ambil sambalnya, ga kepedesen lo?" tegur Renata.
"Abisnya enak sih." jawab Azzalia sambil menjilati sambal rujak di jarinya yang tak sengaja menetes.
Seem melihatnya, sudah gatal ingin memotretnya, tetapi dia sungkan.
"Dasar cewek ga punya malu!" Umpat Seem.
__ADS_1
"Eh, pesta rujak nih." sapa seorang panitia putri bersama dua temannya yang tak sengaja lewat tenda Mawar Merah.
"Iya kak, sini kak, bantu abisin. Karena ga mungkin kan kita bawa pulang. hu...hah" kata Azzalia sambil memainkan bibirnya yang memerah karena sudah merasa pedas.
"Boleh minta ya berati?" tanya panitia itu.
"Boleh banget kak." jawab Nadia.
"Silakan kak." tambah Azkya yang menyodorkan potongan buah ke harapan tiga wanita cantik yang menjadi senior mereka.
"Seem, gue cari-cari, elo disini ternyata?" tanya seorang senior cewek yang melihat Seem duduk di pojokan tenda sambil menikmati sepiring rujaknya.
"Hem." jawab Seem.
"Entar, gue nebeng elo ya Seem, elo motoran kan?" tanya gadis itu, yang bernama Kaira.
"Ga bisa." jawab Seem singkat.
"Kenapa?" tanya Kaira yang sebenarnya gadis itu adalah gadis yang menyukai Seem sejak awal kuliah.
"Gue mau kerja." jawab Seem.
"Ya udah, aku ikut." jawab Kaira.
"Ga bisa!" jawab Seem kemudian berdiri dan melangkah pergi.
"Eh, Seem, tungguin aku." teriak Opik sambil menyomot beberapa potong buah yang sudah dilumuri sambal rujak, lalu beranjak mengikuti Opik.
"Oh ya, makasih ya Nadia, dan teman-teman Mawar merah." teriak Opik saat sudah agak jauh dari tenda kelompok Mawar Merah.
Setelah ditinggalkan Seem dan Opik, Ketiga gadis senior itu juga beranjak pergi dengan mencicipi beberapa potong buah. Sedangkan Kelompok Mawar merah merasa lega, akhirnya rujak mereka habis tak tersisa, terutama tersangka utamanya adalah Azzalia.
Waktu perpulangan tiba, semua barang sudah dikemas dengan rapi dan siap di naikkan ke truk pengangkut barang. Dengan dibantu para panitia putra, Kelompok Mawar Merah sudah beres, dan mereka bersiap naik ke truk yang mengangkut peserta. Begitupun Azzalia yang sudah berada di atas truk, namun tiba-tiba perutnya terasa mulas.
"Re, perut gue sakit banget nih." kata Azzalia yang sudah tidak bisa menahan rasa mulas di perutnya. Azzalia tidak melanjutkan kata-katanya, dan langsung nyelonong turun dari truk dan berlari menuju toilet tanpa ijin dulu pada panitia. Hingga akhirnya, truk sudah mulai jalan, karena di rasa semua peserta sudah naik.
Sedangkan Azzalia di dalam toilet tak menyadari bahwa truk yang akan membawanya kembali ke kampus sudah jalan. Azzalia masih fokus pada perut nya yang mulas, dan BABnya yang terbilang diare, karena kebanyakan makan sambal.
__ADS_1
πππ
Ups, apa yang akan terjadi nantinya ya? Apakah Azzalia bisa kembali pulang? Yuk, ikuti terus cerita Bayangan Cinta Pantulan Asa ini nya dearsπ