
Malam harinya, semua anggota baru LPM diminta untuk berkumpul di pendopo dan mengikuti serangkaian kegiatan pengakraban. Banyak fun game yang di lakukan oleh para Panitia, dan seperti biasa, Seem lebih asyik bermain dengan kamera analognya sambil jepret sana jepret sini.
Diam-diam Azzalia selalu menjadi background samar disetiap jepretannya. Sedangkan sepasang mata takjub melihat kecantikan Azzalia yang mengenakan kaos lengan panjang berwarna ungu muda, celana jins hitam dan dipadukan jibab bunga berwarna merah muda pemberian Al beberapa waktu lalu.
Malam itu diisi dengan sarasehan, salah satunya dengan menampilkan beberapa penampilan dari beberapa anggota baru, salah satu diantaranya adalah penampilan Al dengan gitar kesayangan nya yang selalu dibawanya kemana-mana.
Al memetik senar gitarnya, dan menyanyikan lagu romantis dari salah saru band ternama di negeri ini. Al memetik gitarnya dengan sesekali melirik gadis pujaan hatinya, yang masih belum memberikan tanda-tanda rasa yang sama dengan dirinya. Gadis itu ikut bertepuk tangan dan tersenyum lebar seperti hal nya peserta yang lain. Namun, meski begitu, senyuman lebar gadis itu sedikit membangun rasa percaya diri Al saat itu.
Lagu kutitipkan rindu telah selesai dinyanyikannya, lalu Al kembali duduk, banyak anggota baru dari kaum hawa yang begitu mengagumi sosok Al, yang begitu ganteng dan suaranya yang merdu, membuat hati para wanita di tempat itu terhipnotis olehnya, tak terkecuali dengan Azkya, gadis berjilbab itu diam-diam mengagumi sosok AlGhozali.
Acra berjalan lancar, malam itu, setelah berkegiatan, Azzalia tidak langsung tidur. Di kamar nya dia langsung membuka leptopnya. Ada beberapa laporan dari tim kreatif yang harus dia teliti dan mengedit beberapa desain yang distorkan padanya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas, sedangkan matanya sudah pedas mengajak tidur, tetapi pekerjaannya masih belum selesai, dan besok pagi sudah harus dikirimkan kepada om nya. Azzaliapun memutuskan untuk membuat kopi hitam ke dapur.
"Hem...wangi sekali ini aroma kopinya." sapa seorang pria dari pintu dapur.
"Eh, Al, lo belum tidur?" tanya Azzalia.
"Belum. Gue tergoda dengan aroma kopi ini. Mau dong, gue sekalian dibikinin." kata Al sambil menerobos masuk ke dapur dan berdiri di belakang Azzalia.
"Okey. Mau pait, apa manis?" tanya Azzalia yang tadinya hendak menoleh ke arah Al di mulut pintu, tetapi ternyata di sudah berada di sebelah kanannya, Tak sengaja manik mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat.
Al menatap Azzalia dengan sangat intens, Al mencoba mendalami mata gadis itu dan mencoba mencari cinta di sana, jantungnya berdegup tak beraturan. Begitupun dengan Azzalia yang jantungnya berdegup sangat kencang, membuat dirinya mematung beberapa saat.
"Kenapa? Baru sadar ya kalau gue ganteng?" tanya Al yang membuat Azzalia tersadar lalu membuang muka dan menjauhkan diri dari Al.
"Ish, apaan? Ga usah kepedean deh." ketus Azzalia.
"Kamu cantik banget malam ini, makasih ya udah mau make jilbab dariku." puji Al.
Azzalia memutar bola matanya, jengah.
"Dan elo juga baru nyadar ya, kalau sebenarnya gue ini juga udah cantik dari lahir." kata Azzalia.
"Yup, memang kamu cantik, dan aku sadar itu. Dan malam ini, kecantikan mu itu tambah berkali lipat, karena kamu make jilbab dariku. Makannya aku suka sama kamu." kata Al lagi.
"Lo mulai lagi, gue kasih bogem mentah mau?" kata Azzalia sambil menyodorkan genggaman tangan kanannya di depan Al.
"Hahaha, slow aja lah Za. Sekali-kali Bersikaplah lembut sama gue, karena sungguh gue bener-bener mengagumi mu Za." kata Al dengan mata berbinar.
"Serah lo dah. Nih, kopi pait ya. Ga gue kasih gula. Permisi, gue sibuk." kata Azzalia sambil menyerahkan secangkir kopi hitam tanpa gula kepada Al.
"Gapapa Za, yang bikinin udah manis kok, jadi InshaaAllah udah cukup, biar ga diabetes." goda Al lagi.
"Hah...udah ah, capek gue dengerin gombalan elo Al." keluh Azzalia sambil pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya.
Saat Azzalia akan masuk kamar, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
__ADS_1
"Azza." panggil Opik.
Azzalia menoleh, dan melihat Opik yang tersenyum manis padanya.
"Haduh kak Opik, please, jangan senyum gitu dong sama Azza. Azza jadi lemes karena diabetes ini." batin Azzalia yang sejak awal memang terpesona oleh sosok Opik.
"Belum tidur?" tanya Opik.
"Belum kak, ini Azza bikin kopi, soalnya Azza masih ada banyak tugas." kata Azzalia.
"TugasK kerjaan?" tanya Opik.
"Iya kak."
"Ehm, gimana kalau leptopnya kamu bawa keluar aja, mungkin saya bisa bantu? Setidaknya, kamu ga sendirian ngerjain di kamar." kata Opik.
"Gitu ya kak?"
"Yup. Masih banyak?" tanya Opik.
"Lumayan sih kak."
"Bawa aja keluar. Kita coba kerjain bareng-bareng. Ya...sekalian saya juga pingin belajar." kata Opik.
"Baik kak. Sebentar ya. Ehm...saya nitip kopi saya ya kak." kata Azzalia sambil meletakkan kopinya di meja makan.
Azzaliapun masuk kamar, dan tak berapa lama, dia sudah kembali dengan leptopnya. Dan Azzalia mengerjakan tugas kantornya dengan ditemani Opik. Tengah malam itu, Azzalia berdua mengerjakan tugasnya dari Kantor Zio, dan ternyata Opik sedikit-sedikit bisa membantunya.
Ternyata, sepasang mata sedang memperhatikan keduanya, ada rasa sakit yang muncul di hatinya, melihat kedekatan Azzalia dengan Opik, tetapi perlahan dia pupus, karena dia tau, bahwa sahabatnya memang mengagumi sosok Azzalia dan menginginkan Azzalia menjadi bagian dari hidupnya
"Done!" kata Azzalia sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Alhamdulillah, kamu luar biasa sekali Za, bisa-bisanya kamu mengerjakan pekerjaan seperti ini, di usiamu yang masih terbilang muda." puji Opik.
"Karena saya sudah terbiasa kak. Om saya yabg mrivat saya sejak dulu, sampe saya mahir." kata Azzalua.
"Kamu sering ngelembur begini?" tanya Opik.
"Yah, begitulah." jawab Azzalia yang sudah mulai menguap.
"Sepertinya kamu sudah mengantuk ya, istirahat lah, besok masih banyak kegiatan." kata Opik.
"Siap kak. Sekali lagi, makasih banget ya kak, udah dibantuin dan ditemenin." kata Azzalia.
"Santai aja." kata Opik.
__ADS_1
Merekapun pergi ke kamar masing-masing.
Dan keesokan harinya, Saat akan berolahraga pagi, Azzalia mendapati sekuntum bunga mawar di sepatu ket nya yang di letakkan di rak sepatunya.
"Bunga?" gumam Azzalia sambil mengambil sekuntum mawar merah yang masih segar dan wanginya semerbak harum.
"Cie...pagi-pagi udah dapet mawar merah aja nih, dari siapa sih Za?" tanya Renata yang sudah datang lebih dulu.
"Ga tau nih. Ada di sepatu gue." kata Azzalia.
"Jangan-jangan emang ada pengagum rahasiamu Za." kata Syaqila.
"Ah, ga mungkin. Palingan ini ada orang metik bunga di taman, terus mau lepas sepatu, bunganya di taruh di sepatuku." kata Azzalia sambil meletakkan kembali sekuntum mawar merah itu di rak sepatu.
"Ya udha yuk, segera gabung ke halaman, keburu di semprit sama panitia." ajak Nadia.
"Yuk."
Pagi itu acaranya adalah olahraga pagi, dengan berlari pagi, dan senam pagi.
Setelah berolahraga, beberapa peserta langsung masuk vila untuk membersihkan tubuh mereka dari keringat. Begitupun dengan teman-teman Azzalia. Namun, tidak dengan Azzalia yang memilih untuk beristirahat sejenak di bawah pohon yang tak jauh dari halaman.
"Sejak kapan kamu ga suka bunga mawar Merah?" tanya seseorang yang mengagetkan Azzalia, Azzalia menoleh ke sumber suara.
"Aziz?" gumam Azzalia.
Aziz berjalan dan duduk didekat Azzalia.
"Perasaan, waktu kecil, kamu suka banget sama sekuntum mawar merah, kenapa tadi ga kamu ambil?" tanya Aziz.
"Lhoh. itu tadi dari elo? Dan...bentar, sejak kapan elo disini? Perasaan semalem ga ada." kata Azzalia heran.
"Menurutmu? Dari siapa? Oh.. jangan-jangan kamu mengharapkan bunga itu dari orang lain ya?" goda Aziz.
"Ish, apaan sih Ziz, engga lah. Malah gue pikir, itu tadi bunga ga sengaja ditaruh di sana, karena si pemilik bunga lagi make sepatu, terus lupa." kata Azzalia.
"Oh, gitu? Ya udah, entar bunga diambil ya. Tadi abis sholat subuh di masjid, aku ngelihat ada banyak bunga mawar merah yang merekah, dan kebetulan aku ngobrol sama pemilik tanaman itu, ya udah aku minta satu, buat kamu. Aku inget banget, kalau kamu suka banget sama mawar merah." kata Aziz.
"Ya ampun Ziz...so sweet banget sih lo. Thank's banget ya." kata Azzalia.
"Yup. Ya udah sana, ambil bunganya terus mandi, biar cantik." kata Aziz.
"Emang ini gue ga cantik?" tanya Azzala.
"Ya cantik, tapi lebih cantik kalau abis mandi, ga bau keringet kaya gini." kata Aziz sambil memencet hidungnya lalu menjauh pergi meninggalkan Azzalia.
__ADS_1
"Idih elo tu yang bau kecut!" kata Azzalia sambil melempar daun kering ke punggung Aziz. Lalu Azzalia menyusul Aziz masuk menuju Vila. Azizpun menceritakan kalau dia semalam baru menyusul kegiatan, karena kemarin dia ijin, harus pulang ke Semarang dulu, karena neneknya meninggal dunia.