Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Hadiah Terakhir


__ADS_3

"Nad." panggil Opik suatu malam, saat Nadia sedang fokus belajar.


"Kang? Tumben malem-malem gini nyariin Nad?" tanya Nadia.


"Hem...Aku ganggu ga?" tanya Opik.


"Engga kang, aku cuma baca-baca aja, kenapa kang?" tanya Nadia yang kini duduk menghadap kangmasnya.


"Ehm...Nad. Aku mau nitip ini ya buat temen-temen Mawar Merah." kata Opik sambil memberikan sebuah bungkusan yang dibalut dengan kertas kado.


"Ini apa kang?" tanya Nadia sambil menerima kado itu.


"Sebenernya, aku sudah berjanji kepada Mawar Merah, kalau nanti aku wisuda, aku akan mentraktir mereka. Tapi, qodarullah, disaat aku wisuda, Azzalia mengalami musibah, dimana kakaknya meninggal. Setelah itu, Azzalia menikah, dan... rasanya kurang etis, jika aku mentraktir mawar merah, yang salah satunya sudah bersuami, meskipun suaminya adalah sahabatku sendiri." kata Opik.


"Oh, gitu ya kang?" tanya Nadia.


"Ya, jadi ini sebagai gantinya ya, semoga kalian berkenan dengan hadiah sederhana dariku." kata Opik.


"Kenapa ga kang Opik kasih sendiri aja sih, pas ke kampus gitu?" tawar Nadia.


"Aku ga bisa Nad, rencananya besok aku harus mendampingi Ustadz Syamsul untuk taisiyah, dan aku diminta sebagai moderatornya. Setelah itu, aku harus bantu ummah nyiapin perlengkapan yang akan dibawa untuk acara khitbah besok sore." jawab Opik.


"Khitbah? Siapa yang mau mengkhitbah kang! Knag Opik?" tanya Nadia tak percaya.


"Iya." jawab Opik dengan raut wajah datar.


"Kok, kaya ga seneng gitu sih kang?" tanya Nadia sambil memperhatikan wajah Opik.


"Hatiku kok belum sreg sama dia ya Nad?" tanya Opik.


"Yah kang, namanya juga di jodohin. Saat ini, mungkin kang Opik belum cinta, tapi Nad yakin, rasa cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu kang." kata Nadia menyemangati.


"Bukan itu maksudku." jawab Opik.


"Kenapa kang?"


"Aku kok ga yakin ya, acara besok bisa berjalan lancar?" tanya Opik pesimis.


"Bisa kang, yakin kang, pasti bisa." jawab Nadia memotivasi.


"Hem... Bismillah. Do'akan ya Nad." kata Opik.


"InshaaAllah, pasti, do'a terbaik untukmu kang." jawab Nadia.


💕💕💕


Hari ini Nadia sudah mulai masuk kuliah, dia kini telah duduk di kursi pengunjung Kopma bersama keempat sahabatnya.


"Ada apa Nad?" tanya Syaqila.

__ADS_1


"Ini." kata Nadia meletakkan bingkisan itu di atas meja.


"Itu apa?" kini giliran Azkya yang bertanya.


"Malam sebelum kak Opik pergi, dia menitipkan ini padaku untuk kita." jawab Nadia.


"Emang isinya apa Nad?" kini giliran Azzalia yang penasaran.


"Aku juga belum tau Za, tapi yang jelas, ini adalah hadiah terakhir dari kang Opik untuk kita. Dia sangat bahagia bisa mengenal kita." jawab Nadia.


"Katanya, kang Opik pernah berjanji sama kita, kalau nanti dia wisuda, dia akan mentraktir kita. Tetapi, saat acara wisuda, Azzalia mengalami musibah, sampai akhirnya, giliran kang Opik yang mengalami musibah. Dia belum sempat mentraktir kita, Azza justru sudah berganti status menjadi istri Seem, jadi kang Opik merasa ga enak kalau mau ngajak kita makan bareng. Akhirnya, kang Opik memutuskan untuk memberikan hadiah ini sebagai gantinya." lanjut Nadia.


"Boleh di buka?" tanya Renata yang sudah tidak sabar.


"Boleh." jawab Nadia.


Renata pun membuka bingkisan itu perlahan, hingga nampak isi dari bingkisan itu.


"Jilbab?" gumam Renata sambil membuka sebuah jilbab yang dipegangnya dalam kondisi terlipat.


"Ya ampun gede banget." komentar Renata saat melihat isinya.


"Eh, ada suratnya." kata Azkya yang menemukan sepucuk surat di dalam bingkisan itu.


Renatapun membagikan jilbab yang sama warnanya itu kepada sahabat-sahabatnya. Sedangkan Syaqila dan Azzalia hanya diam tak bergeming, mengingat sosok pria tampan dan baik itu ternyata sudah tidak bisa mereka temui lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Teruntuk teman-teman sholihahku Mawar Merah


Taukah kalian, sesungguhnya sebaik-baik perhiasan itu adalah wanita Sholihah. Dan, dengan Kakak mendampingi sepupu kakak, Nadia, kakak jadi bisa mengenal kalian, bahwa kalian adalah para wanita hebat dan luar biasa. Tetaplah semangat menggapai mimpi kalian.


Hadiah ini, kakak berikan untuk kalian, dengan harapan bisa bermanfaat untuk kalian nanti di masa depan. Karena kakak selalu berdoa supaya kalian bisa menjadi wanita tangguh dan Sholihah. Dan sesungguhnya, kita lahir di dunia ini, tugasnya hanyalah beribadah kepada Allah, sedangkan wanita, salah satu ibadah wajibnya adalah menutup aurat. Maka, dengan jilbab syar'i ini, kakak berharap, kalian bisa berhijrah menjadi sosok wanita yang pandai menutup aurat, demi keselamatan ayah maupun suami kalian kelak.


Mohon dipakai ya, semoga bermanfaat.


Salam


Ahmad Taufiqurrahman


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah Azkya membacakan surat itu, Azkya melihat semua temannya telah terisak dalam kepiluan masing-masing. Tak terkecuali dirinya sendiri.


"Girls, beliau menginginkan kebaikan untuk kita. Beliau ingin, kita berhijrah." kata Nadia.


"Iya." jawab Azkya yang paham.


"Aku harap, kalian tidak keberatan untuk melakukannya." kata Nadia yang sebenarnya Nadialah satu-satunya gadis yang paling syar'i style nya dibandingkan dengan keempat temannya.

__ADS_1


"Apa gue bisa?" tanya Renata ragu.


"InshaaAllah, selama ada kemauan dan niat, InshaaAllah bisa." jawab Nadia menguatkan.


Nadia menatap nanar keempat sahabatnya, tampak Syaqila masih tergugu dalam tangisan nya sambil memeluk jilbab pemberian Opik. Lalu matanya beralih pada Azzalia yang juga menangis dengan tanpa memegang jilbab itu.


"Kita do'akan, untuk keselamatan bagi kang Opik di sana. Kita ikhlaskan dia, agar dia tidak sakit di sana karena air mata kita." kata Nadia menasehati teman-temannya.


"Kalau saja beliau masih ada, aku ingin mengucapkan terimakasih padanya." kata Azkya.


"Sama." kata Renata.


"Kita bisa sampaikan ucapan terimakasih kita melalui kiriman do'a untuknya ya. Kita baca Alfatihah untuk beliau." kata Nadia memimpin do'a.


Kelima gadis itupun menunduk menengadahkan tangan untuk membaca surat Alfatihah dikhususkan untuk Opik.


💕💕💕


Setelah dari kopma, Azzalia kembali ke kelasnya untuk mengikuti mata kuliah terakhir. Setelah perkuliahan jam terkahir usai, Azzalia hendak berdiri untuk meninggalkan kelas, namun langkahnya terhenti tatkala Al berdiri dihadapannya.


"Za, lo pulang sama gue ya." tawar Al.


"Ga Al, gue ga bisa."


"Kenapa? Gue liat beberapa hari ini elo selalu boncengan sama Seem, kenapa sama gue elo ga mau? Apa jangan-jangan, elo sama Seem ada hubungan khusus?" tanya Al.


"Kalo iya kenapa?" tanya Azzalia.


"Kalian pacaran?" tanya Al.


"Bukan urusan elo. Dah minggir, gue mau pulang." jawab Azzalia sambil menggeser tubuh Al dengan tumpukan bukunya.


"Tunggu Za, elo harus jelasin sama gue ada hubungan apa elo sama Seem?" tanya Al.


"Kenapa elo mau diboncengin Seem sedangkan gue yang udah nawarin elo boncengan tiap hari ga pernah elo terima?"protes Al.


"Kenapa? Karena Seem itu suami gue! Jelas?" jawab Azzalia sambil berjalan meninggalkan Al.


"Apa? Suami? Za, tunggu. Gue ga percaya." kata Al yang kemudian berlari menyusul Azzalia.


"Za, tunggu!" kata Al sambil meraih tangan Azzalia, tetapi seketika Azzalia mengibaskan tangannya melepaskan pegangan Al.


"Apaan sih lo Al?" protes Azzalia dengan emosi.


"Elo jelasin dulu sama gue. Gue ga percaya elo udha nikah sama Seem. Mana buktinya kalau dia suami elo?" tanya Al belum percaya.


"Gue buktinya." jawab Seem yang tiba-tiba muncul dari belakang Al. Seketika Al menoleh ke sumber suara.


"Seem?" gumam Al.

__ADS_1


__ADS_2