
Karena Azzalia dan keluarga Dzen pergi ke Tawangmangu dalam satu mobil, maka merekapun ikut ke rumah sakit juga untuk menjenguk sahabat Azzalia. Dzen dan Mutiara mengikuti langkah kedua keponakan yang sudah dianggap anak sendiri, sedangkan Aziz memilih untuk menunggu di luar.
"Assalamualaikum. Maaf, apa benar ini dengan keluarganya Syaqila?" tanya Azzalia sopan.
"Wa"alaikumussalam. Iya, benar. Saya kakaknya." jawab Sarah.
"Saya Azzalia kak, saya sahabatnya Syaqila yang tadi menelpon anda." kata Azzalia.
"Oh, ya. Terimakasih sudah berkenan menjenguk adik saya." jawab Sarah.
"Bolehkah saya menjenguk Syaqila ke dalam?" tanya Azzalia.
"Di dalam ada umi, silakan." kata Sarah mempersilakan.
Saat Azzalia melangkah masuk ke ruang ICU setelah meminta persetujuan Seem dan Mutiara, datang seorang wanita berpakaian dokter menghampiri Sarah.
"Sarah, kamu di luar? Syaqil sama siapa?" tanya Lisa yang baru datang dari ruangannya.
"Sama umi tante, kebetulan ini tadi juga ada sahabatnya yang datang menjenguk." jawab Sarah.
Saat Lisa sedang berbincang dengan Sarah, tak sengaja Lisa melihat orang-orang baru yang ada di ruangan itu. Dan sudah pasti mereka bukan bagian dari keluarga Syaqila, namun, Lisa terkejut saat melihat pada sosok seorang laki-laki yang sedikit beruban, dengan tubuh yang sedikit lebih gemuk dari yang terakhir dilihatnya. Lisa, memberanikan diri menyapanya dengan harapan dugaannya itu benar.
"Ehm, Maaf, Dzen?" sapa Lisa dengan wajah yang sedikit condong melihat sosok pria paruh baya itu.
Dzen yang awalnya fokus membaca tulisan pada sebuah papan di rumah sakit itu, seketika menoleh ke sumber suara. Tampak oleh Dzen sosok wanita paruh baya, yang tampak masih cantik dengan rambut di gelung dan pakaian dokter yang selalu menjadi ciri khasnya, membuat Dzen mencoba mengingat-ingat sosok yang membuatnya pangling saat itu.
"Lisa, aku Lisa, Dzen." sapa Lisa.
"Oh, ya. Lisa. MaasyaaAllah, kita bertemu lagi di sini. Kamu, praktek di sini?" tanya Dzen.
"Iya Dzen. Kamu sendiri, masih tetap praktek di tempat yang dulu?" tanya Lisa.
"Iya." jawab Dzen.
"Oya, kenalin, ini istri saya." kata Dzen memperkenalkan Mutiara.
"Ya, dia kan wanita yang dulu pernah kamu kenalkan padaku waktu kalian belum menikah waktu itu. Dia tetap cantik, dan awet muda." kata Lisa memuji.
"Kamu bisa saja, jelas dia awet muda, karena dia selalu membersamai anak PAUD." jawab Dzen, yang membuat Mutiara mencubit pinggangnya.
__ADS_1
Lisa tersenyum canggung melihat keromantisan mantan kekasihnya dengan pasangan halalnya. Saat itu juga, tampak Surya datang dari arah luar sambil membawa paper bag.
"Lisa, bagaimana keadaan Syaqil?" tanya Surya.
"Aku belum memeriksanya mas, ini baru mau aku periksa." jawab Lisa.
Disaat bersamaan, Dzen melihat sosok Surya, sosok kakak Lisa yang dulu sangat tidak menyukai Dzen, karena latar belakang Dzen.
"Mas Surya?" sapa Dzen sopan.
Surya menoleh ke sumber suara, dan betapa Surya sangat terkejut, melihat mantan kekasih adiknya yang dulu pernah dia hina dan dia tolak hubungannya dengan sang adik, kini tampak berdiri tegap di hadapannya dengan tubuh yang segar bugar dan tampak muda.
"Dzen?" gumam Surya yang tetap terdengar oleh Dzen dan Lisa.
"Iya mas, dia Dzen." jawab Lisa.
"A-apa kabar Dzen?" sapa Surya canggung sambil menyalami Dzen.
"Baik mas. Alhamdulillah."
"Ini, istrimu?" tanya Surya menoleh ke arah wanita berjilbab lebar dengan gamis menjuntai menambah keanggunan wanitanya Dzen.
"Hem, ya. Salam kenal. Saya kakaknya Lisa." kata Surya sambil menelungkupkan tangannya saat bertatapan dengan Mutiara. Mutiara membalas dengan anggukan dan senyuman tulusnya.
"Tiara." jawab Mutiara.
"Kamu, ada perlu apa di sini Dzen? Ini, anakmu?" tanya Surya menunjuk Seem.
"Bukan mas, dia suami dari keponakan saya Kebetulan, pasien di dalam itu, sahabat dari keponakan saya. Kami ke sini hanya mengantar." jawab Dzen.
"Oh, siapa nama keponakanmu Dzen?" tanya Surya.
"Azzalia." jawab Dzen.
"Oh, ya. Jadi Azzalia itu keponakanmu Dzen?" tanya Lisa.
"Iya Sa." jawab Dzen.
Saat akan melanjutkan obrolannya, tiba-tiba Azzalia keluar sambil tergopoh-gopoh.
__ADS_1
"Dokter, tolong Syaqila dok!" kata Azzalia.
💕💕💕
Di ruang ICU, Syqila terbaring lemah dengan banyak selang infus menghiasi setiap inci tubuhnya. Azzalia memasuki ruangan itu dan mohon iijin kepada umi nya Syaqila untuk mengajak berbicara.
"Sya, ini aku Sya, Azzalia." panggil Azzalia pada sahabatnya yang masih menutup mata dalam baringannya.
"Sya, aku minta maaf ya, kalau selama ini aku ada salah, tadi temen-temen juga nitip salam, maaf sama kamu. Dan kami juga berharap kamu bisa bangkit lagi, dan membersamai kalian lagi.
"Sya, bangun dong, kita kangen kamu, kita udah janji kan, mau ketemuan?"
"Syaa, kenapa kamu ga bilang sama kita, kalau sebenarnya kamu lagi ga baik-baik saja?"
Dan masih banyak lagi yang diucapkan Azzalia kepada Syaqila yang masih tertutup matanya dengan banyak selang medis di tubuhnya, hingga akhirnya suara komputer nyaring terdengar membuat Azzalia dan Fina panik dibuatnya.
"Tolong kamu panggilkan dokter!" kata Fina kepada Azzalia.
"Baik tante."
Azzaliapun berlari ke luar memanggil dokter yang ternyata sang dokter sudah berada di sana bersama yang lain. Lisa segera masuk ke dalam ruangan dan melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter. Sedangkan Fina di tuntun seorang perawat untuk keluar agar dokter leluasa memeriksa keadaan Syaqila.
"Apa yang terjadi dengan Syaqila?" tanya Sarah kepada Azzalia.
"Saya ga tau kak, tapi suara komputer berbunyi nyaring, yang membuat kami panik. Dan keadaan Syaqila yang berubah menjadi kaku kak, seperti kejang." jawab Azzalia dengan linangan air mata. Seem segera memberikan perlindungan padanya, memberikan sandaran pada Azzalia agar istrinya merasa tenang.
"Syaqila..." tangis Sarah yang sudah dalam pelukan abisnya, Surya. Sedangkan Fina, dipeluk oleh Mutiara, karena Fina benar-benar lemas tak kuat untuk berdiri.
Tak lama kemudian, seorang perawat keluar bersama dokter Lisa yang sudah lemas.
"Maaf, kepada keluarga Syaqila, kami berharap untuk bersabar." kata sang perawat.
"Apa yang terjadi dengan putri kami sus? Lisa? Apa yang terjadi dengan Syaqila Sa?" tanya Surya.
"Maafin Lisa mas... Lisa gagal." kata Lisa sambil tergugu dalam tangisan pilunya. Lisa di tuntun oleh perawat dan kemudian Dzen turun tangan untuk masuk ke dalam, memastikan keadaan Syaqila, dan diikuti Surya dan Azzalia.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun." gumam Dzen sambil menutup seluruh tubuh Syaqila dengan selimut rumah sakit. Sedangkan yang lain, langsung ambruk di tempat, tak kuat menopang tubuh mereka yang terasa semakin lemas.
Fina pingsan, begitupun dengan Sarah. Surya berusaha menguatkan dirinya agar tidak tumbang, sedangkan Lisa sudah diamankan perawat ke ruangan yang aman. kemudian Dzen disusul oleh dokter jaga yang lain untuk mengurus jenazah Syaqila.
__ADS_1
"Selamat Tinggal Syaqila, semoga kamu tenang di sana." gumam Azzalia mengelus kepala Syaqila yang sudah mulai dingin. Azzalia mencium kening jenazah sahabatnya dengan di dampingi Seem tentunya.