Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Kenapa?


__ADS_3

"Iya Tiara." jawab Meylani.


"Oya, kenapa kamu di sini?" lanjut Meylani.


"Aku ingin menjenguk keponakanku mbak, Seem." jawab Mutiara.


"Keponakan?" tanya Meylani mengernyit tak mengerti.


"Ya, Seem itu kan sudah menikah dengan keponakanku mbak, jadi aku menganggap Seem sebagai keponakanku." jawab Mutiara yang masih belum sadar, bahwa kedua orang tua kandung Seem belum mengetahui tentang pernikahan Seem dan Azzalia.


"What? Nikah? Kapan?" tanya Meylani tak percaya.


Mutiara baru sadar setelah Meylani tampak shok mendengar jawaban Mutiara.


"Ehm. Nanti aku ceritain mbak." kata Mutiara lagi.


Meylani menoleh ke arah Fathan, seolah Meylani menuntut cerita dan penjelasan dari mantan suaminya itu.


"Kenapa?" tanya Fathan.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Meylani dengan nada menginterogasi.


"Apa maksudmu?" tanya Fathan.


"Sebaiknya kalian bicara di luar dulu, berdua. Rasanya tidak etis jika kalian berbincang di sini perihal privasi. Biarkan Seem kami yang menjaganya." kata Zio.


"Tiara, kamu bisa ikut kami?" tanya Meylani.


"Saya?" tanya Mutiara tidak menyangka.


"Ya." jawab Fathan.


Mutiara menoleh ke arah Dzen dan Zio yang sudah memberikan isyarat memperbolehkan.


"Tapi...saya bersama suami saya, boleh?" tanya Mutiara yang melirik kearah suaminya, Dzen.


"Ya." jawab Fathan tanpa meminta persetujuan Meylani.


"Mbak Meylani?" tanya Mutiaran.


"Baiklah." jawab Meylani.

__ADS_1


"Kami titip Seem ya pak Zio." kata Meylani.


"Ya." jawab Zio dingin.


โ€‚Mutiara dan Dzenpun pergi bersama Fathan dan Meylani.


๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•


"Apa? Kalian bercerai? Kenapa?" tanya Mutiara yang kaget atas pernyataan Fathan dan Meylani.


"Karena keegoisan kami." jawab Fathan jujur sambil menunduk malu.


"Terkadang, kita memang mengedepankan emosi kita, tanpa kita menoleh ke samping, di mana anak kita juga butuh kita. Hal yang wajar memang, ketika Seem memilih pergi meninggalkan rumah, ketika kalian bercerai. Karen di rumahnya, dia sudah tidak nyaman dengan adanya percekcokan kalian. Dan ketika putusan itu sudah diputuskan, Seem bingung harus memilih siapa, sehingga dia memilih untuk pergi." kata Mutiara memberikan komentar.


"Iya, Ra. Jujur, aku malu banget sama kamu, Ra. Karena hancurnya keluargaku ini, diketahui sama kamu." kata Fathan.


"Iya, Ra." kini Meylani yang berbicara.


"Aku tau, kalian itu orang baik, dulu aku mengenal kalian sebagai aktivis kampus dengan kecerdasan yang luar biasa. Kalian sama-sama memiliki argumen, dan semuanya bagus. Aku yakin, kalian sebenarnya hanya miscomunikasi saja, sehingga terjadi hal yang tak diinginkan seperti ini." kata Mutiara.


"Ehm, Ra. Kalau kami boleh tau, bagaimana ceritanya anakku bisa menikah dengan keponkanmu?" tanya Meylani.


"Apa maksudmu? Sungguh aku juga baru tau kalau Seem sudah menikah dari pak Zio tadi. Aku mendapat kabar bahwa Seem kecelakaan, karena menurut informan, mereka mengambil KTP Seem, dan mencari alamat yang dimaksud, yaitu alamat rumahku. Wajar kan kalau aku tau?" sanggah Fathan.


"Jadi, kamu juga baru tau?" Tanya Meylani heran.


"Iya. Puas?" tanya Fathan ketus.


"Mas Fathan, mohon dikontrol emosinya." kata Dzen mengingatkan sambil mengelus pundak Fathan.


"Maaf dok." jawab Fathan.


"Dia selalu curiga sama saya dok." lanjut Fathan.


Meylani tertunduk malu, karena Fathan mengadukan permasalahan mereka kepada orang lain.


"Saya mengerti, tetapi sebagai seorang kepala keluarga, harusnya kita tetap tenang menghadapi setiap masalah. Kita musyawarah kan setiap ada masalah, jangan mengedepankan emosi, karena dengan mengedepankan emosi, maka suasana juga semakin kacau, tidak akan menyelesaikan masalah." kata Dzen.


"Baik, saya yang akan menjawab pertanyaan Mbak Meylani." kata Dzen angkat bicara.


"Saya memang bukan siapa-siapa Seem, tetapi Seem sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Dia sudah banyak bercerita tentang masa lalunya kepada saya, semenjak dia menikah dengan Azzalia, keponakan pak Zio yang juga sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri." kata Dzen.

__ADS_1


"Seem menikah dengan Azzalia juga mendadak, karena atas permintaan dari pak Zio dan saya. Karena di saat itu, keponakan kami, Azzalia baru saja ditinggal mati kakaknya, setelah kedua orang tua dan neneknya. Sehingga Azzalia hidup sebatang kara, sedangkan pak Zio harus fokus dengan bisnis dan mengajar nya di Semarang, sehingga Azzalia tidak ada yang mengawasi, maka, kami melihat sosok Seem yang begitu care dan menyayangi Azzalia, kamipun memintanya menikahi Azzalia." jelas Dzen.


"Jadi, Seem menikah mendadak itu, bukan karena ulah nya yang urakan bukan?" tanya Fathan yang sempat berfikir negatif tentang Seem.


"Bukan mas, sama sekali bukan. Justru, karena sikap Seem yang baik itulah, kami memintanya menjadi suami Azzalia." kata Dzen.


"Lagian kamu kenapa sih, dari dulu selalu aja berfikir negatif tentang Seem?" protes Meylani yang sejak kecil selalu membela Seem dan menentang semua aturan Fathan.


"Kamu ga inget? Seem hampir mati karena Sakau, terus dia juga hampir mati karena kecelakaan saat mabuk, ya wajar dong kalau aku ngira dia masih anak urakan?" bela Fathan.


"Tapi setidaknya, Seem masih punya hati nurani anak yang baik." sanggah Meylani.


"Iya, iya. Cukup ya mbak, kak. Yang jelas sekarang, kondisi Seem sedang butuh motivasi. Dia sedang kritis, jadi saya mohon, kalian bisa menjadi orang tua yang baik untuk Seem, demi kesembuhan Seem." kata Mutiara.


Fathan dan Meylani saling pandang.


"Baiklah." jawab Meylani.


Akhirnya mereka menyudahi obrolan itu, lalu mereka kembali ke ruang ICU untuk melihat perkembangan Seem.


"Dokter sudah memeriksanya, alhamdulillah keadaan Seem sudah melewati masa kritisnya. Tindakan transfusi darah yang dilakukan bu Meylani berhasil membawa Seem kembali sadar." kata Zio yang tadi mendapat penjelasan dari dokter.


"Syukurlah. Bolehkah aku menjenguknya pak?" tanya Meylani.


"Tentu." jawab Zio.


Meylani dna Fathan masuk bersama ke rumah dimana Seem di rawat. Mereka melihat ke adaan Seem yang menyedihkan, dan keduanya memeluk tubuh Seem dan meminta maaf.


"Maafkan mama Sayang." kata Meylani dengan terus terisak karena air mata yang tak dapat di bendung lagi.


"Maafkan papa juga Seem." kata Fathan.


Seem tampak tersenyum melihat kedua orang tuanya bisa berada di ruangan dimana dia berbaring lemah. Tangan kanan Seem menggenggam tangan Meylani dan yang kiri mengambil tangan Fathan, lalu kedua tangan itu diletakkannya di atas perutnya.


"Seem sayang papa dan mama."


"Jangan kalian berpisah lagi." kata Seem sangat pelan dengan mulut yang masih tertutup selang oksigen.


Meylani dan Fathan saling pandang, tak terasa bulir bening lolos dari pelupuk mata mereka. Dan Meylani akui, bahwa sejak perceraian mereka, Meylani menikah dengan pilihannya, tetapi ternyata pria pilihannya memang bukan laki-laki baik-baik, sehingga dia dicampakkan begitu saja, karena pengkhianatan. Begitupun dengan Fathan, yang juga di ploroti oleh sang istri keduanya, hingga akhirnya Fathan bangkrut, dan istri kedua memilih pisah.


Merekapun menyadari, bahwa mereka sebenarnya masih saling mencintai, lalu keduanya pun mengangguk di hadapan Seem.

__ADS_1


__ADS_2