
Malam itu, setelah Dzen dan Mutiara berpamitan, Seem dan Azzalia melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Azzalia berkutat dengan leptopnya untuk mengerjakan tugas yang beberapa hari kemarin dia ijin karena berduka. Sedangkan Seem juga sibuk dengan edit foto hasil karyanya yang akan segera dia kirimkan kepada client nya. Hingga tak terasa jam menunjukkan pukul sebelas malam, Seem melihat Azzalia masih berkutat dengan leptopnya. Seempun menutup leptop nya lalu berjalan ke arah meja belajar tempat di mana Azzalia menyelesaikan tugasnya.
"Udah malam." kata Seem menegur Azzalia. Seketika Azzalia melihat jam digital di leptop nya.
"Astaga, udah jam sebelas ya ternyata?" gumam Azzalia.
"Kita istirahat dulu yuk." ajak Seem.
"Okey." kata Azzalia sambil men-save pekerjaannya, lalu menutup leptopnya.
Seem tampak sudah keluar dari kamar mandi, setelah BAK dan menggosok gigi dan wudlu. Seem keluar dengan wajah yang basah, menyisakan buliran-buliran air di wajah nya yang putih dengan hidungnya yang mancung. Hal itu berhasil membuat Azzalia terkesima dengan wajah suaminya, bahkan Azzalia tidak berkedip dibuatnya.
"Kenapa?" tanya Seem heran.
"Ga, gapapa. Aku masuk kamar mandi genti ya." kata Azzalia segera berlari, menutup wajahnya yang merona. Seem melihat Azzalia yang berlari ke kamar mandi dengan gugup, membuatnya semakin gemas geleng-geleng kepala sendiri.
Setelah membersihkan diri, Azzalia berbaring di ranjang, bersebelahan dengan Seem yang juga sudah berbaring di sana sambil memainkan ponselnya. Azzaliapun merebahkan tubuhnya, dengan memandang langit-langit kamarnya, cukup lama.
"Kamu kenapa?" tanya Seem yang ternyata memperhatikan Azzalia yang tampak diam dan tidak segera tidur.
"Gapapa." jawab Azzalia dengan tanpa menoleh ke arah Seem.
"Tapi, kamu kaya lagi mikirin sesuatu." duga Seem.
"Oya? Biasa aja tuh." kilah Azzalia.
"Ehm, sepertinya aku ga percaya." debat Seem.
Azzaliapun menoleh ke arah Seem yang ternyata sedari tadi memperhatikan Azzalia.
Blush
Seketika Azzalia merasa jadi salah tingkah ditatap Seem seperti itu.
"Ehm...aku...aku tu lagi mikirin kamu. Emang ga boleh?" jujur Azzalia akhirnya.
"Mikirin aku? Boleh dong, boleh banget malah." jawab Seem dengan senyum teduhnya, yang seketika membuat hati Azzalia berbunga-bunga, degup jantung Azzalia berdetak semakin tak beraturan.
"Aku juga lagi mikirin kamu." lanjut Seem.
"Oya? Tapi tadi mainan HP." protes Azzalia.
"Oh, tadi aku membuka galeri, melihat sosok malaikat tak bersayapku. Ternyata, dia cantik juga, dan aslinya sungguh sangat dan lebih cantik daripada fotonya." kata Seem.
"Malaikat tak Bersayap? Maksud kamu?" tanya Azzalia.
"Bukannya tadi kamu udah lihat leptopku?" tanya Seem.
Lagi-lagi wajah Azzalia berubah merona karena malu.
"Sejak kapan kamu nyimpenin foto aku?" tanya Azzalia.
"Sejak ketemu di kampus." jawab Seem.
"Ih, lebay banget sih, main nyuri foto orang tanpa ijin." omel Azzalia.
__ADS_1
"Ya, karena aku suka sama objeknya." jawab Seem.
"Maksudnya?"
"Ah, sudahlah. Lupakan." kata Seem kemudian.
"Ih, ditanya serius juga." gerutu Azzalia.
"Oya, ehm...tadi aku dengar, kata tante Tiara dan om Dzen, kita suruh bikin panggilan spesial untuk kita ya?"
"Kamu mendengarnya?"
"Ya, sedikit."
"Ya itu, yang aku lagi bingung saat ini, aku tuh bingung, mau manggil kamu apa, gitu." kata Azzalia dengan sok serius sambil memangku bantal nya dengan posisi duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Kenapa bingung?" tanya Seem.
"Ya, seperti waktu itu, awalnya aku tuh manggil kamu kan 'kak Seem', ternyata pas kita ke Bogor waktu itu, kamu minta aku agar aku manggil kamu dengan panggilan 'Seem' aja, ga usah pake 'kak', karena katamu, kamu ga suka. Nah, sekarang aku jadi bingung kan, aku harus panggil kamu apa?" kata Azzalia.
"Sayang?" usul Seem.
"Apa?" tanya Azzalia spontan menoleh ke arah Seem. Azzalia sangat tidak percaya, suaminya mengusulkan panggilan untuk Seem, dengan panggilan 'sayang'.
"Kenapa?" tanya Seem.
"Ya, gapapa. Tapi...masa' panggilan itu sih? Ga terlalu lebay tuh?" tawar Azzalia.
"Tidak." jawab Seem.
"Ehm..."
"Eh, aku belum menjawab 'iya' atau 'tidak' ya." protes Azzalia.
"Kalau kata pak Ustadz, apa kata suami itu, istri harus nurut." kata Seem mengeluarkan jurus andalannya.
"Gitu ya? Hem...baiklah." jawab Azzalia pada akhirnya.
"Coba praktekin!" perintah Seem sambil memiringkan badannya menghadap Azzalia dengan posisi tirudan.
"Ih, apaan sih? Pake praktek-praktek segala." protes Azzalia yang masih sibuk menata hatinya yang sedang gugup.
"Ayo, praktekin. Bisa 'kan, sayang?" tanya Seem yang sudah lebih dahulu memulai praktek memanggil kata 'sayang'. Dan berhasil membuat Azzalia langsung merona, dengan jantung yang semakin tidak beraturan.
"Ha? Ehm... okey... sayang." kata Azzalia dengan memberikan penekanan pada kata 'sayang'.
"Hem...kurang sesuai." protes Seem.
"Kurang sesuai bagaimana?" protes Azzalia juga.
"Wanita itu, pada dasarnya lemah lembut, bisa 'kan menyebut kata 'sayang' itu dengan lemah lembut, penuh penghayatan dan tataplah orang yang kamu sebut sayang itu." kata Seem mengarahkan.
"Hem...iya, iya. Percaya...yang fotografer Pengantin, yang terbiasa mengarahkan adegan-adegan romantis, jadinya begitu deh..." kata Azzalia.
"Bisa kan?" tanya Seem lagi yang ternyata sudah semakin dekat duduknya dengan Azzalia.
__ADS_1
"Eh, kok kamu makin ke sini sih?" tanya Azzalia sambil menarik selimutnya menutupi dadanya.
"Kenapa?"
"Ehm..."
Cup
Kecupan kedua setelah ijab qobul kemarin bagi Seem kepada Azzalia, berhasil mendarat dengan baik di kening Azzalia dan berhasil membuat Azzalia panas dingin dan bergetar hatinya.
"Ayo coba lagi!" perintah Seem dengan suara sangat lembut.
"Eh, kamu kok berubah sih? Jadi genit gitu?" protes Azzalia lagi, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ya, karena aku menunggu kata-katamu." kata Seem sambil terus menatap Azzalia.
"Ehm...E... okey."
"Huh..."
Azzalia menarik napas dalam dan mengeluarkan nya perlahan, untuk berusaha menetralisir jantungnya yang terus berdetak tak beraturan. Karena memang, ini kali pertama Azzalia bermain perasaan dengan seorang lak-laki, meskipun sering dia berinteraksi dengan laki-laki, tetapi dia seringnya berbincang santai dan penuh canda tawa. Bahkan terkadang, Azzalia akan berubah ganas menjadi singa, ketika teman laki-lakinya mulai membuatnya tidak nyaman.
"Ehm... ya udah...ayo tidur...Sayang..." kata Azzalia terputus-putus, dengan penekanan pada kata Sayang yang di ucapkan dengan penuh perasaan dan penghayatan dan lemah lembut.
"Aku kelonin ya." tawar Seem dengan meletakkan lengannya di atas tubuh Azzalia yang tertutup selimut, dan wajah yang di tempelkan di kepala Azzalia.
"Eh, kamu kok..."
"Aku udah dikasih tau caranya sama om Dzen, bagaimana berhubungan supaya tidak menghasilkan benih di rahim." kata Seem dengan suara serak dan mata yang mulai sayu karena menahan hasratnya.
"M-mak-maksudmu? Ka-kamu..."
"Aku mencintaimu, sayangku." kata Seem.
Blush
Azzalia semakin deg-degan di buatnya. Azzalia menundukkan kepalanya semakin dalam, karena menahan rasa malu.
"Ehm...a-aku juga." jawab Azzalia.
Kemudian Seem segera menapaki wajah Azzalia, hingga menyentuh bibir ranumnya. Azzalia menikmati sentuhan-sentuhan lembut itu dengan memejamkan matanya. Hingga tangan Seem semakin bergerilya ke tempat yang lain, dan semakin memanas. Hingga akhirnya, hasrat mereka tercurahkan dengan penuh cinta. Seem memainkannya dengan sangat lembut dna hati-hati, karena milik Azzalia masih sulit untuk di tembus. Namun, sayangnya, milik Seem sudah lebih dulu keluar, hingga membasahi seprei nya.
"Sayang..." kata Seem dengan lemah karena tenaganya sudah terkuras, berusaha membobol pertahanan Azzalia, namun belum berhasil.
"Sakit ya?" tanya Azzalia mengelus kepala Seem.
"Aku belum berhasil." keluh Seem.
"Gapapa, besok bisa dicoba lagi." kata Azzali a berusaha menenangkan.
"Besok? Ga bisa malam ini?" tawar Seem.
"What?" Azzalia terbelalak di buatnya, oleh penawaran Seem. Dan kali ini, terpaksa Azzalia menolaknya, karena dia merasa kasihan melihat Seem yang sudah tampak lelah dan kesakitan.
Seem hanya tersenyum menatap istrinya, lalu mengusap kepala Azzalia, lalu mencium pucuk kepala Azzalia.
__ADS_1
"Tidurlah sayang. Terimakasih untuk malam ini." kata Seem sambil mencium tangan kanan Azzalia.