
"Mas?" gumam Azzalia terkejut atas kedatangan Seem.
"Gue, suami sah Azzalia." jawab Seem dingin.
"Ga, ga mungkin. Kalian sekongkol kan? Mana mungkin kalian menikah, tidak ada kabar apapun, bahkan Renata sahabat elo sendiri juga ga tau kalau elo udah nikah?" tanya Al masih tidak percaya.
"Ya, karena kami tidak mengumumkannya." jawab Seem lagi sambil memegang tangan Azzalia, Azzalia yang sempat terkejut, akhirnya membalas genggaman tangan pacar halalnya itu.
"Dan kami juga tidak menyembunyikan nya. Rere sudah mengetahuinya kok. Tapi memang belum lama." lanjut Azzalia.
Al tampak gelagapan, dia membuang mukanya secara kasar. Sakit di hatinya semakin menganga, lantaran gadis yang berhasil mengisi hatinya harus bersanding dengan laki-laki lain.
"Gue harap, lo ga ganggu gue lagi Al. Bukalah hati lo untuk orang yang benar-benar mencintai lo, belajarlah untuk mencintainya. InshaaAllah, kamu akan menemukan kebahagiaan." kata Azzalia yang melihat raut wajah Al yang sudah frustasi.
"Okey, makasih Za. Dan... selamat ya, atas pernikahan kalian, semoga, kalian bahagia selalu." kata Al kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Azzalia bersama Seem. Azzalia dan Seem memandang Al yang semakin menjauh dari mereka.
"Oya sayang, hari ini kita diminta ke rumah pak Daud, pulang dari kampus, langsung ke sana, gapapa kan? Apa harus pulang dulu?" tanya Seem.
"Lhoh, kenapa ga bilang dari tadi pas di rumah sih mas?" Protes Azzalia.
"Aku lupa. Maaf." jawab Seem.
"Ya pulang dulu lah mas, badanku lengket banget begini, bajuku juga udah ga enak baunya. Emang ke rumah pak Daud ada acara apa mas?" tanya Azzalia.
"Do'a bersama untuk Opik." jawab Seem.
"Oh, ya udah ayuk, segera pulang aja deh, nanti baru ke rumah pak Daud." kata Azzalia.
"Tapi aku harus nganterin foto dulu, waktunya ga cukup kalau kita harus pulang dulu, belum nanti kalau macet." kata Opik lagi.
"Hhhh...kenapa ga bilang dari pagi tadi sih?" keluh Azzalia dengan wajah cemberut.
"Sekali lagi, maaf." kata Seem dengan wajah sendu.
"Hm...ya udah, terserah kamu aja lah mas." kata Azzalia pada akhirnya.
Azzalia dan Seem segera pergi berboncengan untuk mengantarkan hasil jepretan Seem kepada client nya. Saat adzan maghrib berkumandang, mereka mampir sebentar di masjid untuk menunaikan sholat maghrib. Baru setelah itu mereka melaju ke rumah pak Daud.
Saat mereka tiba di halaman rumah pak Daud, seketika Azzalia mendapat teriakan dari temannya.
"Azzalia!" teriak Azkya dan Renata yang langsung berlari ke arah Azzalia.
__ADS_1
"Lhoh? Kalian di sini juga?" tanya Azzalia heran.
"Iya Za. Tadi Nadia yang kasih kita kabar, kalau hari ini kita diundang untuk mengikuti acara doa bersama untuk kak Opik." kata Azkya.
Azzalia tampak menoleh ke arah Nadia, yang berdiri di teras menatap Azzalia dengan tatapan datar.
"Kenapa Nadia ga kasih kabar aku?" batin Azzalia.
"Aku langsung masuk dulu ya." kata Seem setelah melepas helmnya.
"Oh, ya mas." jawab Azzalia yang baru sadar dari pikirannya sendiri.
"Ya udah, ayo Za, masuk. Lo pasti belum mandi kan? Pakaian lo aja masih sama. Elo mandi dulu aja, nanti lo bisa pake bajunya Nadia, gapapa kan Nad?" tanya Azkya yang berhasil membuat Nadia terkejut atas perkataan Azkya.
"Eh, eeehhh... iya." jawab Nadia kikuk.
"Ya udah, ayo Za, keburu acaranya di mulai." ajak Renata.
Azzaliapun segera mengikuti langkah teman-temannya menuju kamar Nadia. Lalu Azzalia mengguyur tubuhnya di kamar mandi, dan setelah itu Azzalia dipinjami gamis milik Nadia. Dan melihat ketiga sahabatnya memakai jilbab yang sama, membuat Azzalia akhirnya juga membuka jilbab yang masih berbau baru itu, lalu dipakainya juga.
Azzalia yang memang selalu membawa bedak dan lipsbam, membuatnya memnataskan diri dengan memoles wajahnya sedikit dengan barang bawaannya itu. Setelah itu, barulah dia keluar, ikut serta berkumpul dengan teman-temannya.
"MaasyaaAllah, Za. Elo cantik banget?" seru Renata yang melihat penampilan Azzalia.
Di teras, keempat gadis itu ternyata masih menunggu seorang teman lagi, yaitu Syaqila.
"Mana sih tu bocah? Udah mau isya' ini, kenapa belum nongol juga sih?" gerutu Azkya sambil melihat jam tangannya.
"Sabar. Ya udah yuk, bantuin bude untuk nyiapin snack aja." ajak Nadia.
"Yuk." jawab mereka bersama.
💕💕💕
"Seem." panggil ummah Hani.
"Ya bu?" jawab Seem yang sedang duduk sendiri setelah ditinggalkan abah Daud ke masjid untuk mengumandangkan adzan.
"Ibu mau bicara sebentar, bisa?" tanya ummah Hani.
"Bisa bu." jawab Seem santun. Lalu ummah Hani mengambil duduk di samping Seem.
__ADS_1
"Seem, apa Opik pernah curhat padamu tentang gadis yang dia cintai?" tanya Ummah Hani.
"Ehm, iya bu." jawab Seem.
Ummah Hani tampak menarik napas dalam, dam mengeluarkan nya perlahan.
"Apa benar, gadis itu...adalah...istrimu?" tanya ummah Hani.
Seem tampak diam sejenak, kemudian dia baru mencoba untuk menjawab.
"Iya bu." jawab Seem.
Seketika air mata Ummah Hani tumpah, entah apa yang dipikirkannya, Seem hanya mampu diam, tak berani berkomentar lagi.
"Ibu menemukan ini di kamarnya. Dari buku ini, ibu baru tau, kalau...ternyata anak ibu bisa jatuh cinta. Namun...kenapa yang dia cintai itu...istrimu?" kata ummah Hani dalam tangisan nya.
"Maaf bu, Opik... memang sudah mencintai Azzalia sejak sebelum mereka bertemu di kampus. Tepatnya, saat Azzalia menolong Farah, yang saat itu sempat hilang. Pada saat itu, Azzalia belum berjilbab, namun, Opik sudah menaruh hati pada Azzalia. Tetapi sayangnya, Opik harus merasakan patah hati bu, karena Azzalia tidak bisa menerimanya." jelas Seem menceritakan semua apa yang pernah Opik ceritakan kepadanya.
"Kenapa?" tanya Ummah Hani menatap Seem.
"Karena Azzalia mencintaimu?" tanya Ummah Hani.
"Kalau untuk alasannya, maaf bu, saya kurang tau. Tetapi yang jelas, menurut penyataan Azzalia, dia menganggap Opik hanya sebatas kakak adik." jawab Seem.
"Oh...gitu ya?" gumam ummah Hani.
Saat sedang bercakap, Azzalia dan ketiga sahabatnya tampak masuk rumah.
"Ya sudah Seem, terimakasih ya atas jawabanmu. Ibu jadi mengerti sekarang." kata ummah Hani.
"Maafkan saya bu, saya seperti orang yang tidak tau terimakasih, sudah ditolong Opik, tapi saya justru menikahi gadis yang dicintainya." kata Seem sendu.
Seketika ummah Hani menggeleng, dan tangan kanannya menepuk pundak Seem.
"Tidak Seem, kamu ga salah. Justru, dengan kamu menikahi Azzalia, Opik akan tenang di sana. Karena gadis yang dia cintai, telah bersama orang yang tepat, orang baik yang sudah dianggap Opik seperti saudara sendiri." kata Ummah Hani.
"Terimakasih Ummah."
"Dibalik kepergian Opik, ada bayangan Cinta yang tak dapat kita sentuh, tetapi dia selalu memantulkan Asa, agar orang-orang yang dia cintai selalu dalam pencahayaan Allah. Opik selalu bercerita pada ibu, bahwa dia sangat bahagia bisa menemanimu menjalani islam, dia juga berharap, bisa menjadi penghantar teman-teman wanitanya berhijrah dengan pakaian syar'inya." kata Ummah Hani sambil menatap keempat gadis yang mengenakan jilbab senada dengan ukuran yang lebar. Mereka tampak lebih anggun dengan balutan busana syar'i itu. Ummah Halimah tampak bahagia, dia tampak puas dengan pilihannya yang menuruti kemauan terakhir Opik, saat Opik meminta ummahnya memilihkan hadiah terbaik untuk teman-teman Mawar Merah.
Saat Ummah Hani sedang ayik melihat kenaggunan para gadis Mawar Merah yang sedang membantu karyawan warung makannya menata snack, Tiba-tiba Ummah Hani dikejutkan dengan ucapan salam dari pintu utama.
__ADS_1
"Assalamualaikum." salam seorang wanita dari luar.