Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Galau


__ADS_3

Malam itu, Opik berdiri di atas balkon kamarnya. Menatap sang rembulan yang memang kebetulan sedang bulat-bulatnya. Opik merasakan sentuhan lembut angin malam, dan mencoba memejamkan matanya sambil memutar memori saat dia berbincang dengan Azzalia sore tadi.


"Engga." jawaban Azzalia sangat menohok di hatinya, Opik merasa putus asa dengan cintanya. Sedangkan umi dan abinya sudah memojokkannya tentang jodoh, Perjanjiannya dengan kedua orang tuanya adalah, ketika Opik lulus kuliah, dia akan segera menikah. Jika Opik belum menemukan gadis pilihannya, maka abi dan uminya yang akan mencarikan jodoh untuknya.


"Ehem." deheman seseorang berhasil membuyarkan lamunan Opik, tampak Seem berjalan ke arahnya dan berdiri mensejajarinya di balkon sambil memegang pagar beton.


"Eh, kamu Seem, kirain abi." kata Opik.


"Ngelamun lo?" tanya Seem yang heran akan perubahan sikap Opik.


"Engga." jawab Opik berbohong.


"Ada yang dipikirin?" tanya Seem lagi.


Opik tak segera menjawab, dia menerawang menatap langit yang gelap.


"Kayaknya, gue pasrah aja deh Seem." kata Opik lesu.


"Pasrah? Maksudnya?" tanya Seem.


"Seperti yang udah pernah ku bilang, kalau Azza mau nikah muda, aku akan segera memperkenalkan Azza dengan abi dan umi sebagai pilihanku. Tapi..." kata Opik terputus.


"Dia menolak?" tanya Seem.


"Ehm, engga sih... tapi... dia ga mau nikah diusia muda. Dia masih pingin selesaikan kulihanya dulu dan masih ingin berkarir setelah itu." kata Opik.


Seketika ada kelegaan di hati Seem, entah kenapa, Seem juga tidak tau.


"Emang...elo udah nembak dia?" tanya Seem.


"Nembak?" tanya Opik tak mengerti.


"Ehm, maksud gue...emang elo udah nanya dia, dia mau nikah sama elo engga, gitu?" jelas Seem.


"Kalau nanya to the poin gitu, belum sih." jawab Opik.


"Terus, darimana elo tau kalau Azza ga mau nikah sama elo?" tanya Seem.


"Ya...kan elo tau sendiri, umi sama abi memintaku untuk segera menikah setelah lulus kuliah. Sedangkan Azza kan baru semester dua, makannya aku nanya dia dulu kan, dia mau nikah muda apa engga. Jawabnya engga." kata Opik.

__ADS_1


"Lhoh, itu kan pertanyaan masih bersifat umum bro, kan belum jelas siapa yang akan menikahinya. Kalau tau yang akan menikahinya itu elo, ya siapa tau kan dia berubah pikiran?" kata Seem berusaha menghibur Opik, meski sebenarnya di relung hatinya yang terdalam dia merasakan rasa sakit yang tak dirasakan.


"Emang apa pengaruhnya?" tanya Opik tak mengerti.


"Ya...ada. Bisa karena seholihan elo, pekerjaan elo, budi pekerti elo, dan lainnya." jawab Seem.


"Apa gue harus to the poin?" tanya Opik ragu.


"Harus." jawab Seem.


"Kalau nanti dia malah ilfeel sama aku gimana?" tanya Opik khawatir.


"Engga, gue yakin engga. Karena yang jelas, elo harus berani menyampaikan perasaan elo ke dia, biar lega." kata Seem.


"Gitu ya?"


"Iya. Ayo, gue dukung lo." kata Seem menyemangati.


"Okey, kapan waktu akan aku coba." kata Opik.


Setelah itu, mereka mengobrol santai hingga akhirnya mereka langsung beristirahat di kasur mereka masing-masing.


Suatu hari, di hari sabtu, malam minggu, Azzalia sudah janjian dengan teman Mawar Merahnya, untuk dinner di sebuah kafe yang berada di pusat kota. Karena cukup jauh, dan waktunya malam, Azzalua memutuskan untuk membawa mobilnya.


"Hai Za." sapa Azkya yang hari ini sedang berulang tahun saat Azzalia baru datang, sedangkan ketiga temannya sudah duduk manis di kursi sambil berpose cantik.


"Sorry ya Az, gue telat. Biasa lah, macet." keluh Azzalia.


"Iya, gapapa kali Za, santai aja. Ga udah yuk, langsung gabung." ajak Azkya.


"Woi, kenapa kalian foto-foto ga ngajakin gue?" protes Azzalia.


"Hehe, sorry Za, abisnya kita nungguin elo keburu luntur bedak nya." jawab Syaqila.


"Halah, bilang aja, ga pingin ngajakin gue." keluh Azzalia.


"Udah, udah. Ayo foto lagi." ajak Nadia menengahi.


Sambil menunggu pesanan datang, Azzalia dan kawan-kawannya masih anteng sambil menghibah. Hingga terdengar suara sapaan seorang vokalis dari panggung. Azzalia dan keempat sahabatnya menoleh ke sumber suara. Tampak sebuah grup band yang akan mengisi acara di malam minggu itu. Dan mata Azzalia seketika melebar saat melihat sosok tampan seorang pria berwajah Indo-Arab melempar senyum kepada para pengunjung di kafe itu. Cowok itu tampak sangat tampan dengan rambut acaknya, dan kaos oblong berwarna hitam, menambah aura bersih pada wajahnya.

__ADS_1


"Al?" gumam Azzalia.


"Ya ampun, ada Al." heboh Azkya yang sedang berulang tahun.


Seketika Al yang mendengar suara perempuan yang memanggil namanya, langsung menoleh ke sumber suara. Tampak oleh Al, sekumpulan teman kuliahnya yang tak lain adalah grup Mawar Merah. Dan satu yang menjadi titik fokusnya, gadis cantik yang mengenakan jilbab pink yang dia berikan pada gadis itu.


"Dia disini? Memakai jilbab pemberianku lagi?" batin Al.


Lalu, sebuah lagu di nyanyikan oleh Pandawa Band. Al memetik gitar elektrik nya dengan lincah, dan sesekali dia melirik gadis pujaan hatinya. Aura wajahnya tampak lebih semangat, saat dia melihat sosok gadis itu di kafe tempatnya manggung.


Setelah selesai membawakan lagu, Al dan teman-temannya turun panggung dan duduk di kursi yang sudah disediakan oleh menejer kafe.


"Gaes, sorry, gue ke sana dulu ya, ada temen gue." pamit Al kepada teman-teman band nya.


"Okey." jawab mereka.


Al berjalan menuju sekumpulan gadis yang biasa disebut grup mawar merah.


"Hai girls." sapa Al.


"Hai Al." jawab Azkya penuh antusias.


"Wah, suatu kebanggaan buat gue nih, kejutan juga nih buat gue, atas kehadiran kalian disini. Ada acara apa nih, kok kayaknya tumben ke kafe ini?" tanya Al dengan gayanya yang SKSD.


"Iya nih Al, kebetulan ini Azkya ultah, dia pingin syukuran kecil-kecilan di sini, katanya makanannya luamayan enak, dan ada live music nya juga. Ternyata elo ya yang tampil." jawab Azzalia.


"Iya Za, gue Disini udah hampir satu tahun, ngisinya cuma kalau malem minggu doang." jawab Al.


"Oh, berarti kebetulan dong ya Al, pas aku ultah, kamu pas tampil." kata Azkya girang.


"Eh? Az? Elo sehat?" tanya Renata yang kaget dengan perubahan sikap Azkya yang biasanya kalem.


"Eh, ehm....maksud aku... kita mawar merah ini lho...kebetulan bisa ketemu gitu sama Pandawa band." kilah Azkya.


"Heleh, jujur aja lah Az, elo suka kan sama Al?" tebak Azzalia to the poin.


"Eh, apaan sih Za?" Azkya berusaha menutupi kenyataan yang ada.


"Udah deh Az, jujur aja. Mumpung elo ultah, kado nya mas Al ini aja." kata Renata.

__ADS_1


"Hehe, ada ada aja kalian nih. Okey, untuk hadiah ultah elo Azkya, gue akan persembahkan sebuah lagu khusus buat elo." kata Al yang kemudian berjalan ke arah teman grup band nya dan mengajak mereka menyanyikan sebuah lagu.


__ADS_2