
Di suatu tempat, Seorang gadis sedang panik mencari sesuatu di tasnya yang kini sudah berantakan, juga di kasur dan meja yang sudah seperti kapal pecah.
Gadis itu memegang dada kirinya, menahan rasa sakit yang membuat keringat dinginnya bercucuran.
"Astaghfirullah, dimana obatnya?" gumam Syaqila sambil terus berusaha mencari obatnya yang entah dimana dia sendiri lupa menaruhnya.
Sedangkan di luar rumah, Lisa baru pulang dari praktiknya di rumah sakit.
"Selamat sore bu." sapa ART Lisa.
"Sore bi, Syaqila di rumah apa keluar bi?" tanya Lisa.
"Di rumah bu. Oya bu, saya barusan menemukan ini di dekat kolam ikan, saat saya sedang menyapu." kata ART Lisa sambil menyerahkan sebungkus obat yang sangat dikenal Lisa.
"Astaga, ini kan obatnya Syaqil." cuman Lisa panik.
"Syaqil di mana bi?" tanya Lisa.
"Di kamarnya bu." jawab ART Lisa.
"Baik. Makasih." kata Lisa sambil berlari menuju lantai dua untuk segera masuk ke kamar tempat Syaqila istirahat. Dan benar saja dugaannya, tampak keponakan tersayang nya telah tamak pucat dengan keringat dingin bercucuran di dahinya. Lisa segera mengambil air putih di botol yang tergeletak di bawah karena tadi sempat tersenggol Syaqila, lalu memangku Syaqila dan memberinya obat.
"Syaqil, bertahan sayang, ini obatmu, kamu nyaiin ini kan?" kata Lisa sambil membuka bungkus pil itu lalu memberinya minum. Segera Syaqila menelan obat pereda nyeri itu, lalu menggelontorkannya dengan air putih yang ada dalam botol.
"Gimana? Sudah lebih baik?" tanya Lisa.
"Terimakasih tante." kata Syaqila yang merasa sudah lebih baik, sambil tetap memegang dada kirinya.
"Sya, mau sampai kapan kamu menyembunyikan penyakitmu ini dari keluargamu?" tanya Lisa iba.
"Sampai tiba saatnya tante." jawab Syaqila sambil tersenyum.
"Apa maksudmu?" tanya Lisa.
"Usiaku tak akan lama kan tante? Dokter sudah memvonisku, dan biarkan mereka tau setelah aku tiada." kata Syaqila.
"Ga Sya, kamu jangan bicara seperti itu, setiap penyakit, pasti ada obatnya." kata Lisa.
"Ya, memang, tapi tidak untuk sakit ku tante." jawab Syaqila.
"Abi dan umimu tetap harus mengetahuinya Sya." kata Lisa.
__ADS_1
"Ga tante, mereka ga boleh tau." jawab Syaqila keras kepala.
"Kenapa Sya?"
"Biarkan abi dan umi tetap peduli dan perhatian pada kak Sarah saja." kata Syaqila yang merasa terasing oleh keluarganya sendiri.
"Ga Sya, mereka ga mungkin begitu, mereka juga sayang sama kamu Sya." bujuk Lisa.
"Abi dan Umi bahkan tidak memperdulikanku yang sedang liburan ke rumah tante. Karena di dalam benak mereka, hanya ada kak Sarah yang selalu menjadi anak mereka." kata Syaqila.
"Jangan bicara begitu Sya, setiap orang tua pasti menginginkan kebahagiaan untuk anak-anaknya. Setiap orang tua tak kan membedakan kasih sayang dan cinta kepada anak-anaknya." tegur Lisa.
"Tante, Apa aku ga pantes untuk dicintai?" gumam Syaqila sambil mengusap air matanya yang berhasil lolos dari kedua muaranya.
"Setiap manusia yang terlahir ke dunia, mereka sangat pantas untuk di cintai Sya, termasuk kamu." jawab Lisa sambil mengusap punggung Syaqila.
"Tapi... kenapa aku seolah ga pernah ada yang peduli tante? Ga ada orang yang cinta sama aku." protes Syaqila.
"Apa maksudmu Sya?" tanya Lisa.
"Aku terlalu buruk tante, aku ini penyakitan, sehingga ga ada yang mau sama aku." keluh Syaqila.
"Tidak sayang, kamu sangat cantik dan baik. Kamu berhak mencintai dan dicintai." sanggah Lisa.
"Aku... aku... aku jatuh cinta tante." kata Syaqila lirih, dan buliran bening lolos dari kedua pelupuk matanya
"Syukurlah, sama siapa Sya? Perlu bantuan? Tante akan siap mendengarkannya." kata Lisa.
"Ehm... "Syaqila mengehla napas panjang.
"Sayangnya, dia lebih di cintai Allah tante." lanjut Syaqila.
"Apa maksudmu?" tanya Lisa.
"Ya tante, orang yang aku cintai itu... telah berpulang." jawab Syaqila, yang seketika membuat mulut Lisa terbuka, lalu ditutupi dengan telapak tangannya.
"Maksudmu, dia sudah meninggal?" tegas Lisa.
Syaqila mengangguk.
"Aku sangat mencintainya tante, meski aku tau, dia tak pernah mencintaiku. Tapi kenapa? Kenapa secepat itu Allah memanggilnya, sedangkan aku masih ingin selalu mendengar suaranya, dan melihat wajahnya?" protes Syaqila yang sesekali dia memang suka sharing dengan almarhum Opik.
__ADS_1
"Tuhan lebih tau, apa yang terbaik untukmu Sya." kata Lisa lembut.
"Rasanya aku ingin segera mengakhiri hidupku tante." rintih Syaqila sambil tergugu. Lalu Lisa dengan lembut menarik tubuh Syaqila ke dalam pelukannya, dan di elusnya tubuh gadis yang penuh menurutnya sangat kuat dan tangguh.
"Ssssttt. Ga boleh bilang begitu. Di sini, masih ada tante yang siap selalu menemanimu sayang. Kami butuh apapun, jangan sungkan temui tante, cerita sama tante. Jangan pernah kamu merasa sendiri, jangan pernah kamu merasa tak dicintai, karena tante, sangat mencintaimu Sya." kata Lisa sambil menciumi kepala Syaqila.
"Aku capek tante." kata Syaqila yang mulai meracau, jantungnya mulai terasa sakit lagi.
"Sya, please. Kontrol emosi mu sayang." pinta Lisa yang khawatir dengan kondisi Jantung Syaqila.
Syaqila merasakan jantungnya kembali sakit, dadanya terasa sesak, perlahan pandangannya kabur, dan akhirnya, diapun tumbang di dalam pelukan Lisa.
"Sya, Syaqila." panggil Lisa sambil menggoyangkan tubuh Syaqila yang tersadar bahwa gadis itu sudah tak sadarkan diri. Lisa segera mengecek nadi Syaqila yang semakin lemah, lalu segera mengambil ponselnya untuk menghubungi ambulance.
Sesampainya di rumah sakit, Lisa segera menghubungi rekan dokternya, karena saat Lisa memeriksa keadaan Syaqila, keadaannya semakin lemah.
Setelah beberapa waktu Lisa menangani Syaqila, Lisa ke luar ruangan, sudah tampak putrinya berdiri di luar ruangan.
"Ma, gimana keadaan Syaqil?" tanya Jelita.
"Kamu sudah menghubungi tante Fina?" tanya Lisa.
"Udah ma, tante Fina udah otw ke Solo." jawab Jelita.
"Okey." jawab Lisa dengan wajah dinginnya.
"Ma, apakah Syaqil baik-baik saja?" tanya Jelita khawatir, saat melihat raut wajah mamanya yang dingin.
"Kita doakan yang terbaik untuknya." jawab Lisa sambil mengelus pucuk kepala putrinya.
💕💕💕
Setelah beberapa saat, abi dan uminya Syaqila sudah tiba di rumah sakit tempat Lisa praktek.
Ada yang masih ingat Lisa? Lisa adalah mantan kekasihnya Dzen, yang kuliah satu kampus dengan Dzen. Dan Jelita, adalah anak kecil yang waktu masa balitanya mengalami masalah pada paru-paru nya, sehingga harus menjalani pemeriksaan secara rutin pada dokter paru terkenal, papa dari mantannya Dzen.
"Lisa, gimana keadaan Syaqil?' tanya bu Fina khawatir.
"Aku harus bicara denganmu mbak. Dimana mas Surya?" tanya Lisa mencari sosok kakaknya.
"Aku di sini." jawab Pak Surya tiba-tiba.
__ADS_1
"Kalian, ikut aku." kata Lisa.
Lisa mengajak kedua kakaknya menuju ruang kerjanya, dan menjelaskan tentang kondisi Syaqila yang sebenarnya.