Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
Menghadiri Wisuda


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, Opik jadi jarang ke kampus dan misalpun kekampus, Opik tak seramah dulu lagi kepada Azzalia. Tetapi Opik berusaha tetap ramah dengan Mawar Merah, karena sepupunya ada di sana. Nadia juga sudah mengetahui apa yang sudah terjadi, begitupun dengan Seem.


Waktu wisuda Opik telah tiba, Opik sudah siap dengan baju kebesarannya dengan hiasan dasi kupu-kupu di lehernya.


"MaasyaaAllah, kangmasku ini ganteng banget sih... kalau bukan kakak sepupu, mungkin Nad udah klepek-klepek jatuh cinta sama kang Opik." puji Nadia.


"Emang aku ini ganteng kali Nad, baru nyadar?" kata Opik narsis.


"Engga sih, sadar nya udah lama. Tapi gantengnya kang Opik kali ini berlipat-lipat." kata Nadia lagi.


"Lebay." jawab Opik.


"Udah...ayo berangkat, keburu telat." ajak Umma.


Opik dan keluarganya berangkat dengan mengendarai mobil keluarga. Sedangkan Seem tidak ikut rombongan, Seem sudah berangkat lebih awal dengan mengendarai motornya. Seem masuk dalam kepanitiaan Wisuda sebagai devisi Dokumentasi.


Sesampainya di lokasi, Opik segera bersiap memasuki barisan para wisudawan wisudawati yang siap memasuki ruang wisuda. Setelah semua wisudawan wisudawati masuk, Azzalia baru datang dan turut bergabung dengan Kelompok Mawar Merahnya.


Acara penyematan tanda kelulusan telas selesai di laksanakan, tinggal do'a penutup saja, Seem yang melihat sosok gadis yang berdiri dengan raut wajah cemas di balik jendela. Seem segera berlari menghampiri gadis itu.


"Tio, bawa ini. Gue tinggal dulu." kata Seem sambil menyerahkan kameranya kepada Tio, salah satu rekan devusi nya.


Disisi lain, Azzalia yang awalnya tampak fokus menatap Para wisudawan wisudawati yang disematkan, kemudian beralih pada ponselnya yang berdering, tanda ada panggilan masuk.


"Halo, assalamualaikum, ada apa kak?" tanya Azzalia.


"Wa'alaikumussalam. Za, kamu ke rumah sakit Citra Medika sekarang ya. Please. Kak Dian belum bisa ninggalin Zoya soalnya." kata Dian.


"Lhoh, emang siapa yang sakit kak?" tanya Azzalia cemas.


"Mas Diego Za."


"Apa? Emang mas Digi kenapa kak?" tanya Azzalia.


"Kak Dian juga ga tau, barusan pihak kantor telepon kak Dian katanya mas Diego kecelakaan di lokasi proyek, dan keadaannya cukup parah." kata Dian cemas.


"Ya kak, Azza segera ke sana sekarang. Kak Dian jangan panik ya, biar Zoya ga rewel." kata Azzalia.


"Iya Za. Tolong ya Za."


"Ya kak." kata Azzalia lalu menutup ponselnya.


"Girls, sorry, gue harus ke RS sekarang. Kakak gue kecelakaan." pamit Azzalia pada teman-temannya.

__ADS_1


"Eh, ya Za, kamu pergi sendiri?" tanya Nadia ikut cemas.


"Iya. Gue titip salam aja ya buat kak Opik. Dah, gue pamit. Assalamualaikum." Salaam Azzalia sambil berlari pergi meninggalkan teman-temannya.


Sesampainya di parkiran, saat akan mengambil mobilnya, Tangan Azzalia di tarik seseorang.


"Apa yang terjadi?" tanya Seem.


"Seem? Elo...?" Azzalia terkejut dengan tangannya yang tiba-tiba di genggam seseorang dari belakang.


"Sorry, dari tadi gue manggilin elo, tapi elo ga denger, kayaknya elo lagi buru-buru." kata Seem.


"Kakak gue kecelakaan. Gue harus ke RS sekarang." kata Azzalia sambil berbalik badan akan berlari ke mobilnya lagi sambil memegang kunci mobilnya.


"Gue anter." kata Seem sambil menarik lengan Azzalia menuju parkiran motornya.


"Tapi Seem..." tolak Azzalia sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Seem, tetapi tidak bisa, karena Seem dengan tidak melepaskannya.


"Akan terlalu lama kalo elo naik mobil, sekarang juga gue bonceng motor biar cepet." kata Seem.


Dan benar saja, Seem langsung mengantarkan Azzalia sampai di rumah sakit, Azzalia mencari tau keberadaan Diego ke pusat informasi, dan kemudian berlari menuju ruang ICU di lantai tiga.


"Elo balik aja Seem, elo harus ada di acara wisuda Kak Opik." kata Azzalia saat menyadari Seem terus mengikutinya.


Azzalia yang awalnya terus berjalan menuju ruang ICU, seketika berbalik badan dan menoleh ke arah Seem.


"Tapi Seem..."


"Itu ruang ICU, ayo ke sana." ajak Seem mengalihkan pembicaraan.


Sesampainya di rumah ICU, Azzalia bertanya pada perawat, dan tampak beberapa orang di sana.


"Anda siapa?" tanya seorang laki-laki berkumis.


"Sa...saya adiknya mas Diego" jawab Azzalia.


"Istrinya?" tanya orang itu lagi.


"Istrinya belum bisa ke sini, karena anaknya belum bisa ditinggal." jawab Azzalia.


Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang ICU.


"Keluarga bapak Diego?" tanya dokter.

__ADS_1


"Saya adiknya dok, bagaimana keadaan kakak saya?" tanya Azzalia panik dan cemas.


"Ehm... kami hanya berusaha, tetapi, Tuhan yang berkehendak. Maaf, Kakak anda...telah berpulang." kata dokter yang singkat namun berhasil menghujam jantungnya.


"Apa? Apa maksud dokter? Ga...ga mungkin. Mas Diego ga mungkin meninggal. Ga mungkin. Mas Diego." panggil Azzalia histeris sambil berlari ke tubuh kaku kakaknya yang terbaring diatas bed hospital.


"Azza." panggil Seem yang kemudian menyusul Azzalia masuk ruang ICU.


"Mas...bangun mas! Bangun. Ini Azza mas. Bangun mas... bangun!" rintih Azzalia sambil memegang pundak kakaknya dengan pilu.


Seem melihat Azzalia yang begitu histeris, Seem tak mampu membendung air matanya melihat gadis yang dia cintai menangis pilu tepat dihadapannya.


"Za...Sabar. Kita ikhlaskan dia." kata Seem mencoba menenangkan Azzalia sambil meraih pundak Azzalia dan di bangun kan nya dengan memegang kedua lengan atasnya.


Seem menarik tubuh Azzalia ke dalam pelukannya, Azzalia yang masih terpukul, menerima pelukan itu, dia tumpahkan air matanya di dada bidang Seem.


"Gue nanti sama siapa mas? Gue udah ga punya siapa-siapa lagi. Papa mama udah pergi, dan sekarang elo juga pergi mas. Gue sama siapa mas." kata Azzalia pilu sambil memukul-mukul dada bidang Seem.


"Ada aku disini. Jangan takut." kata Seem lembut sambil mengelus kepala Azzalia.


Tak lama kemudian, Tubuh Azzalia melemas, diapun tak sadarkan diri di dalam pelukan Seem. Seem segera mengamankan Azzalia keluar ruang ICU. Dokter dan para ahli medis melepas selang-selang medis yang menancap di tubuh Diego.


💕💕💕


Setelah beberapa saat, Azzalia tersadar dari pingsannya, dilihatnya orang pertama yang ada di ruangan itu, sosok seorang laki-laki berparas tampan, yang tak lain Opa korea ga punya kamus bahasa.


"Za, elo udah sadar?" tanya Seem. Yang kemudian beberapa orang di sekelilingnya mendekati Azzalia.


"Za..." panggil teman-teman Azzalia.


"Gue dimana? Mas...Mas Diego...Mas Diego mana? Gue harus ketemu mas Diego." kata Azzalia berusaha pergi dari tempat itu.


"Za, tenang Za. Tenanglah dulu. Mas Diego baik-baik aja." kata Nadia mencoba menenangkan.


"Baik gimana Nad? Dia tega ninggalin gue sendirian di sini." protes Azzalia.


"Elo ga sendirian Za. Ada kita di sini." kata Renata.


"Gue harus ketemu kak Dian." kata Azzalia.


"Kita pulang sekarang. Karena kakakmu sudah dibawa pulang." kata Seem.


"Apa?" tanya Azzalia menatap Seem.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Seem mengajak Azzalia pulang dengan mengendarai mobil Azzalia yang tadi sempat dibawa oleh Renata. Sedangkan Nadia dan Azkya menaiki motor menuju rumah duka.


__ADS_2