Bayangan Cinta Pantulan Asa

Bayangan Cinta Pantulan Asa
DiMahromkan


__ADS_3

📨Samuel


Seem. Lo sibuk ga?


Azzalia mengirim pesan ke Seem sore ini, karena dia harus ngobrol dengan Seem sebelum keputusan diputuskan.


Tak menunggu waktu lama, Seem membalas.


📩Samuel


Ga


📨Samuel


Gue mau telpon, bisa?


Tak menunggu waktu lama, bukannya membalas pesan, justru Seem sudah menelpon Azzalia.


"Lhoh, kok dia yang nelpon gue sih?" gumam Azzalia yang kemudian menekan tombol hijau pada layar ponsel.


"Ha-halo." sapa Azzalia masih mode gugup


"Assalamualaikum. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Seem tiba-tiba dengan suara cemas nya.


"Eh, Wa-Wa'alaikumussalam. So-sorry Seem gue lupa ga ucap salam." kata Azzalia.


"Lo kenapa? Ada masalah? Lo dimana?" pertanyaan beruntun dari Seem membuat pipi Azzalia merona merah, karena mendapat perhatian lebih.


"Ehm...lo tenang aja. Gue gapapa. Ini gue di rumah kok." jawab Azzalia.


"Oh...syukurlah." jawab Seem dengan nada lega.


"Seem?"


"Hem?"


"Lo beneran ga sibuk?"


"Engga. Abis sholat maghrib, gue longgar. Kenapa?" tanya Seem.


"Ehm...anu... ehm...gue... gue mau kasih tau elo aja, kalau besok elo longgar, elo diminta untuk ketemuan sama om gue." kata Azzalia.


"Om?"


"Iya."


"Kenapa emangnya? Apa gue ada salah?" tanya Seem.


"Engga. Bukan, buka begitu. Anu... om gue cuma pingin ngobrol aja sama elo katanya." jawab Azzalia berusaha meluruskan agar Seem tidak berfikir macam-macam.


"Besok gue ga ada jadwal apapun pagi jam delapan sampai jam sepuluh." jawab Seem.


"Okey. Entar gue bilang sama om gue. Untuk tempatnya, biar om gue yang menentukan ya."


"Ok."


"Ya udah, gitu aja, thanks, sorry udah ganggu." kata Azzalia sungkan.


"Ok."


"Ya udah, assalamualaikum." salam Azzalia.


"Wa'alaikumussalam." jawab Seem.


"Eh Seem tunggu, jangan dimatiin dulu." kata Azzalia buru-buru sebelum Seem memutuskan panggilan.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Ehm... med rehat ya. Night." kata Azzalia dengan wajah bersemu merah.


"Oh, kirain. Okey." jawab Seem.


Azzalia segera menekan tombol merah pada layar ponselnya. Entah mengapa, setelah Om nya mengatakan perihal pernikahan, Azzalia merasa sangat deg-degan. Setelah sholat isya' Azzalia kembali menemui Zio yang sedang berkutat dengan leptopnya di meja tamu.


"Permisi om, maaf, apa Azza ganggu?" tanya Azzalia.


"Oh, Za. Engga. Ada apa?" tanya Zio yang menutup leptopnya kemudian menghadap Azzalia dan menatap wajah keponakannya.


"Ehm...om... apakah, Azza harus menikah dalam waktu dekat? Tak bisakah menunggu Azza lulus dulu gitu?" tanya Azzalia mencoba memberanikan diri.


"Oh... Azza...om sudah memikirkan hal ini matang-matang, dan jawabannya tetap sama. Kamu harus menikah." jawab Zio.


"Ta...tapi...kenapa om?" tanya Azzalia.


"Karena kamu sudah tidak ada mahrom sayang. Kakak laki-lakimu sudah tiada, ayahmu juga tiada. Pihak keluarga papamu, juga sudah tidak ada yang peduli denganmu, sedangkan om kamu, hanya bisa mendampingi mu dari jauh, tidak bisa selalu membersamaimu. Sedangkan ancaman dari keluarga Roy, juga sangat perlu kita waspadai." jawab Shanum yang tiba-tiba muncul membawakna camilan dan secangkir kopi untuk suaminya. Sedangkan Mutiara dan Dzen, sudah kembali ke Solo sejak siang tadi. Begitupun dengan Aziz yang juga sudah kembali ke rumahnya sendiri di Jakarta.


"Ehm... gitu ya? Tapi kan...Azza masih ada sahabat setia Azza tante, masih ada Aziz." jawab Azzalia.


"Aziz?" gumam Zio.


"Iya om."


"Apa kamu menyukainya?" tanya Zio.


"Ah, tidak om, Azza ga pernah ada rasa sama Aziz, kami hanya bersahabat, tidak lebih " jawab Azzalia seketika langsung menggelengkan kepalanya.


"Kalian bukan mahrom, sekalipun kalian sangat akrab dan dekat." Jawab Zio.


"Ehm...gitu ya?" gumam Azzalia.


"Apa perlu kalian dimahromkan?" tanya Zio.


"Hah? Dimahromkan? Maksud Om?" tanya Azzalia bingung.


"Ga, engga om. Azza ga mau. Lagian Aziz udah punya cinta sendiri kok, ga mungkinlah dia mau sama Azza." keluh Azzalia.


"Oh ya? Siapa?" tanya Shanum.


"Ehm...bukankah Aziz masih mencintai Zizi?" tanya Azzalia.


Shanum dan Zio tampak saling pandang. Mereka justru tidak tau apapun tentang perasaan putrinya yang kini sedang LDR dengan mereka.


"Tau dari mana kamu?" tanya Zio.


"Zizi sendiri yang cerita." jawab Azzalia menunduk.


Zio dan Shanum menghela napas panjang. Hal yang wajar memang, karena Zizi, Azza dan Aziz adalah teman sepermainan saat mereka masih kecil. Saat bu Suyamti masih sehat, dan keluarga Mutiara masih sering berkunjung kerumah bu Suyamti. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka semakin jarang berjumpa karena kesibukan masing-masing.


"Kalau begitu, kamu mau menikah dengan siapa?" tanya Zio ramah, mencoba agar keponakannya tidak takut terhadapnya.


"Ehm..." Azzalia tampak masih ragu dan bingung.


"Sama Seem aja ya. Dia baik kan orangnya?" tanya Shanum.


Seketika Azzalia terperanjat, kenapa harus Seem yang dipilih? Azzalia memang mulai mengagumi sosok pria itu, tetapi, apakah pria itu menyukainya? Azzalia takut jika kecewa nantinya. Karena dia tidak ingin sakit hati karena cinta untuk kedua kalinya.


"Baik sih.. tapi..." jawab Azzalia bingung.


"Tapi apa?" tanya Zio.


"Apa dia mau sama aku?" tanya Azzalia Kurang percaya diri.


"Biar nanti om yang bicara." kata Zio sambil mengelus kepala Azzalia.


💕💕💕

__ADS_1


Keesokan harinya Azzalia sudah bersiap pergi ke sebuah rumah makan yang dipilih Shanum untuk pertemuan mereka dengan Seem. Setelah siap semua merekapun berangkat ke rumah makan itu, dan Azzalia memberi kabar pada Seem.


Sesampainya di lokasi, ternyata Seem sudah lebih dulu sampai di sana dan sudah duduk manis disebuah tempat yang nyaman, jauh dari hilir mudik pengunjung, dan dekat dengan pemandangan di lantai dua.


"Assalamualaikum." salam Zio.


"Wa'alaikumussalam om." jawab Seem yang langsung mengalami om nya Azzalia dan hendak menyalami Shanum, namun Shanum mennagkupkan kedua tangannya sambil tersenyum ramah.


"Silakan duduk kembali." kata Zio mempersilakan Seem.


"Baik." jawab Seem.


Setelah semua duduk dan memesan minuman, Zio memulai percakapan mereka.


"Nak Seem?"


"Ya om?"


"Kalau boleh tau, anda asli mana?" tanya Zio.


"Semarang om."


"Sekarangnya mana?"


"Muntilan."


"Oh... Siapa nama orangtuamu?" Selidik Zio.


"Ginanjar dan Kartika." jawab Seem.


Zio tampak manggut-manggut.


"Kamu masih kuliah? semester berapa?" tanya Zio.


"Iya om, saya semester enam." jawab Seem.


"Apakah kamu Sudah siap menikah?" tanya Zio to the poin.


"Nikah?" tanya Seem terkejut.


"Ya." jawab Zio.


Seem tampak melirik ke arah Azzalia, mencoba mencari tau apa maksud dari semua ini, karena kemarin Azzalia terdengar aneh saja berbicaranya, membuat Seem curiga.


Seem menelan Saliva nya dengan kasar.


"Jika nak Seem mau menikah meski belum lulus kuliah, saya ingin minta tolong kepada nak Seem, untuk menjaga keponakan saya ini, dengan menikahinya." kata Zio yang tidak suka berbasa basi. Seketika Seem menatap gadis yang kini sedang menunduk malu.


"Ehm... sebelum saya menjawab, saya boleh bertanya dulu om?" tanya Seem.


"Silakan."


"Saya ini... seorang mualaf om. Orangtua saya masih dalam keyakinan mereka, sedangkan saya saat ini sedang tidak bersama mereka bahkan kami tidak saling berkomunikasi. Karena suatu hal yang membuat saya pergi dari rumah, dan membuat saya akhirnya memilih masuk islam. Apakah saya pantas menikahi keponakan om?" tanya Seem.


Zio tampak berfikir, kemudian menoleh ke arah istrinya yang juga menatapnya.


"InshaaAllah kami percaya padamu. Tidak masalah bagi kami, selama kamu bersungguh-sungguh dalam hijrahmu ini." jawab Zio.


Seem tercengang mendengat penuturan Zio, dan menatap Azzalia tang ternyata juga melihat ke arahnya.


"Tuhan, aku tidak tau aku harus bagaiman saat ini, tetapi sepertinya, hatiku memang tak ingin membiarkan gadis ini dalam kesulitan. Ijinkan aku untuk selalu menjaganya seperti janji ku kemarin saat di rumah sakit. Baik, bismillah, aku akan menerimanya." batin Seem.


"Bagaimana nak Seem?" tanya Zio lagi.


"Baik, saya akan menikahinya." jawab Seem menatap Zio, Ziopun tersenyum bahagia, sedangkan Azzalia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Seem?" gumam Azzalia sambil menatap pria dingin yang dia sebut dengan sebutan opa kore ga punya kamus bahasa itu.

__ADS_1


__ADS_2